
"Bukan ilusi? Jadi semua ini nyata?" Mata Reino melebar, Malik mengangguk pasti.
Lelaki tua tapi terlihat muda itu kembali menarik nafas panjang. "Takdir kematian mereka sudah ditentukan, Thomas hanya mencuri momen untuk menjadikan takdir kematian itu sebagai alasan untuk menemukan penggantinya."
"Keluarga itu memang ditakdirkan meninggal dengan cara mengenaskan. Thomas memanfaatkan momen itu untuk membuat salah satu kurir nya dihadapkan pada pilihan terberat dalam hidup. Menjadi seorang penjaga itu tidak mudah. Kau akan hidup bertahun tahun lamanya, bahkan ribuan tahun."
Malik berhenti sejenak, menatap jutaan bintang yang entah kapan ada disana. Reino bahkan tidak mengingat waktu saat ia datang ke tempat itu.
"Sejak awal Ferdian sudah terpilih menjadi Penjaga. Perjanjian darah yang dibuat Ferdian berbeda denganmu. Thomas tidak memilih orang sembarangan Rein, dia bahkan telah memantau Ferdian selama beberapa tahun belakangan."
"Wait, apa dia juga memantauku?" Reino khawatir jika dirinya juga akan dijadikan calon penjaga seperti Ferdian.
"Kamu, entahlah. Apa kau berminat?"
"Me? Big no!"
Malik terkekeh mendengar jawaban Reino. "Tidak akan ada yang sanggup menjadi seorang Penjaga, Rein."
Reino terdiam, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Ferdian selanjutnya. "Ini akan sangat menyakiti mas Ferdi."
"Hhm, pada awalnya memang begitu. Tapi setelah itu terjadi, Ferdian akan menjadi seseorang yang sangat berbeda. Percayalah padaku." Tangan Malik menepuk bahu Reino pelan.
"Pergilah dan temui Agung. Bawa dia menemui ayahnya sesuai dengan permintaan terakhir nya."
Malik pergi dan menghilang begitu saja. Pria Tua itu masih memiliki kemampuan istimewa yang diberikan Thomas. Tak ada pilihan lain bagi Reino untuk tetap menjalankan tugasnya. Ia ingin menemani Agung, bocah malang yang terseret dalam putaran takdir sang ayah.
*
*
*
Ferdian menatap reuni dua roh dengan anak tak berbaktinya itu dengan ekspresi bosan. Ia menjaga ketiganya dan membiarkan mereka berbicara. Ferdian muak saat melihat tangisan di wajah Heri. Bagaimana tidak lelaki bertato itu seperti sedang bersandiwara bagi Ferdian.
__ADS_1
"Fer, bisakah kau memaafkan aku? Aku tahu selama ini aku sudah berlaku tak pantas pada kau dan keluarga mu. Tapi bisakah aku mendapatkan kesempatan kedua?" Heri memohon dengan iba pada Ferdian.
"Apa aku tidak salah dengar? Apa ini hanya pengakuan dosa sesaat karena kau takut pada kematian?" Ferdian menyahut sinis, tak ingin percaya begitu saja dengan pengakuan dosa Heri.
"Aku tahu ini akan sulit tapi bisakah kamu bantu aku untuk bertobat?" pinta heri sekali lagi.
Ucapan Heri membuat Ferdian terkesiap, 'bertobat katanya? Apa kepalanya baru dipukul batu satu ton?'
"Kau yakin?"
"Sangat yakin!" Heri mengulurkan kedua tangannya pada Ferdian. "Bawa aku ke kantor polisi, aku siap bertanggung jawab dan membersihkan nama Agung!"
Ferdian masih menatap tak percaya pada sepupu bertatonya itu.
"Terimakasih karena sudah mempertemukan aku dengan bapak dan ibu. Terimakasih juga sudah memberiku kesempatan berbicara untuk terakhir kalinya pada mereka. Aku ini pendosa, Fer! Dan aku ingin memperbaiki kesalahanku sebelum terlambat."
Ferdian menarik nafas dalam-dalam, ia menoleh ke arah John yang mengangguk samar. "Baiklah, ikut aku menemui seseorang. John bisakah kau menjaga dua roh ini untukku?"
"Tentu, serahkan padaku!" John menjawab dengan suara baritone.
"Apa ini aman Fer?" Wajahnya terlihat pucat pasi.
"Aman untukku, tidak bagimu!" Jawab Ferdian dingin tanpa ekspresi.
"Hei, apa?! Tunggu jangan lakukan … aaaargh!"
Ferdian tak ingin membuang waktu. Agung harus diselamatkan dan dibersihkan namanya. Mereka keluar dari pintu dimensi, Heri berguling kesakitan. Seluruh tubuhnya seperti diserbu ribuan jarum tajam.
Kepalanya sakit dan telinga berdengung, "brengsek, sakit an***g!"
Ferdian tersenyum sinis menanggapi keluhan Heri. Ini kali kedua dia membawa manusia melompati dimensi tapi baru Heri yang kesakitan luar biasa.
"Preman kampung! Baru begitu saja keok!" Ia berjongkok menepuk pipi Heri agar kembali sadar. "Diam disini dan aku akan segera kembali."
__ADS_1
Heri tak merespon, sakit ditubuhnya jauh lebih menyiksa ketimbang hal lain. Ia tak menjawab dan terus mengerang lirih.
Ferdian berjalan mencari Aiman, sosok polisi yang membantunya menangani kasus pak Hadi dan Ilham. Sosok Aiman muncul dengan kemeja putih dan lencana kepolisian menggantung di lehernya.
"Selamat siang mas Aiman!" Ferdian menjabat tangan Aiman.
"Anda ini … kita pernah ketemu kan? Beberapa bulan lalu, betulkan?!" Aiman menebak dengan tepat membuat Ferdian tersenyum.
"Ingatan anda kuat mas, betul sekali. Pak Hadi, Ilham, pembunuhan misterius?" Ferdian mengingatkan.
Aiman menjentikkan jari, "nah tepat sekali! Banyak pertanyaan yang mau saya ajukan sama mas tapi, kenapa saya curiga anda membawa kasus baru?!"
"Ikut saya!"
Ferdian berjalan ke salah satu sudut sepi di gedung timur, tempat dimana Heri masih tergolek dan merintih kesakitan. Aiman terkejut dan menatap Ferdian penuh tanya.
"Siapa dia?"
"Pelaku pembunuhan di jalan Kamboja, satu.keluarga tewas beserta dua asistennya. Namanya Heri, preman kampung yang tega membunuh orang tuanya sendiri dan dua adiknya."
"Apa? Tapi pembunuhnya bukan dia. Kami masih mengejar pembunuhnya, seorang remaja laki-laki."
Ferdian memaksa Heri berdiri, pemuda itu sempoyongan tapi masih sanggup bicara.
"Bawa dia, dan tanyakan semuanya dengan jelas!"
"Tapi, dia …,"
Ferdian menukas cepat, "aku akan mengirimkan bukti yang lain tapi sementara itu amankan dia dalam sel. Dialah pembunuh yang sebenarnya!"
Aiman memegang Tangan Heri kuat, memperhatikan wajahnya sebelum. "Tapi apa kau …,"
Ferdian menghilang begitu saja, Aiman kebingungan. Ia celingukan mencari keberadaan pria misterius itu.
__ADS_1
"Kemana dia, lagi-lagi dia menghilang! Sial, apa dia ghost police?"