
Ferdian duduk termenung di salah satu sudut kafe, memainkan gelas berembun yang ada di tangannya. Meresapi lirik satir dari lagu Dear God milik Avenged Sevenfold.
"Aku merindukanmu Mia," gumamnya lirih saat refrain pertama mengalun meresap ke dalam sel otaknya.
Mematik rindu pada Mia dan Agung. Ferdian merasa kesepian dan berjalan sendiri, menjalani kehidupan dua alam sendiri tanpa seorang pun tahu tentang dirinya. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain menyelesaikan misi.
Tegukan terakhir lolos melewati kerongkongan, satu gelas minuman beralkohol tandas sudah. Sang bartender memberikan segelas lagi.
"Bad day?"
Ferdian menyeringai, dan kembali meminum seteguk, "Apa yang tidak dirasakan seorang kurir kesepian?"
Bartender itu tersenyum, "Satu hadiah untuk kurir malang yang kesepian." ia menyodorkan segelas lagi lengkap dengan camilan.
"Menyedihkan bukan? Hidup berkelana menembus batas dimensi, kesepian, tanpa cinta!"
"Apa itu ratapan seorang kurir?" ejek sang bartender yang sedang mengeringkan gelas minum kristal miliknya.
"Anggap saja begitu," Ferdian tersenyum sinis untuk dirinya sendiri.
"Aku kasih tahu mas, minuman beralkohol tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu." Suara yang tak asing bagi Ferdian menyapa.
Lelaki muda dan tampan itu menarik kursi di sebelah Ferdian. "Boleh aku bergabung?" tanyanya lagi dengan senyuman lebar.
"Kau … Reino?" Ferdian mencoba mengingat pertemuan pertama mereka.
"Lemon juice with honey please!" Reino meminta pada bartender tanpa meninggalkan senyuman.
"Yup, kita ketemu lagi disini mas?" Reino mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan cafe dengan pencahayaan sedang itu.
"Aku pikir para kurir nggak punya tempat hangout, ternyata aku salah." Reino kembali berkata.
Reino meminum jusnya tanpa menoleh pada Ferdian yang masih terheran heran dengan pertemuan mereka. Ia juga ikut menenggak minumannya.
"Apa anak kecil itu selamat?" tanya Reino kemudian setelah beberapa saat mereka diam.
"Ya, tepat waktu. Aku hampir saja kehilangannya dia. Thanks bantuannya." Ferdian mengulang ucapan terima kasihnya kala itu.
__ADS_1
"Gimana sama kamu mas Rein, sukses mengantar Sheeren?" tanya balik Ferdian.
"Secara umum yup, berhasil. Plus satu roh lain, kau tahu … penumpang tambahan?" Reino sedikit memicingkan mata mengingat kepergian Sheeren yang nyatanya membawa serta kekasih hatinya, David.
"Hhm, aku dengar ceritanya dari Louise. Cinta sehidup semati, huh? Ironis sekali." Ferdian berkata sarkas, jarinya memainkan titik air yang mengembun.
"Jadi apa yang membuat mas Ferdi terikat disini?" Reino merubah topik pembicaraan menjadi lebih serius.
"Aku? Terjebak hutang yang mencekik dan hampir kehilangan segalanya. Lalu … satu kesalahan aku buat dengan perjanjian konyol ini." jawab Ferdian penuh sesal.
Satu sisi hatinya menyesal telah menyetujui perjanjian darah sementara sisi lain dirinya bersyukur karena orang yang dicintainya kini dalam keadaan bahagia meski tanpa dirinya.
"Menyesal?"
"Entahlah, aku hanya merasa kesepian. Bahagia tapi juga tersesat di waktu yang sama." Ferdian membuka foto keluarga bersama Mia dan Agung, mengusapnya dengan jari.
"Itu sakit, dan sangat dalam." Reino kembali meminum jusnya.
"Lalu bagaimana denganmu Rein, sepertinya kamu bahagia dengan pilihan menjadi kurir?"
"Aku, sangat bahagia. Yah meskipun harus kehilangan pekerjaan setidaknya bekerja sebagai kurir membuatku … kaya!"
"Itu yang utama awet muda mas, kita bisa berpetualang dan bersenang senang."
Mereka tertawa bersama dan melanjutkan obrolan tentang pengalaman menjadi kurir. Reino dan Ferdian saling berbagi cerita dan mengusir sepi bersama. Thomas belum memberikan keduanya misi dan entah mengapa keduanya juga kembali dipertemukan. Padahal Thomas berkata tanpa seijin Thomas para kurir tidak akan pernah bertemu.
"Apa kau tahu alasan kita bisa bertemu lagi?" Ferdian tiba-tiba saja bertanya pada Reino setelah mereka kembali terdiam untuk beberapa saat.
Reino menggeleng tak tahu dan sang bartender menjawab, "Tidak biasanya para kurir bisa bertemu. biasanya jika kalian dipertemukan itu artinya ada masalah besar."
Ferdian dan Reino saling menatap, intuisi mereka bekerja cepat. bartender itu benar ada sesuatu yang salah sedang terjadi. sesuatu yang berkaitan dengan para roh.
****
"Apa kau yakin membiarkan mereka bersama?" Louise bertanya pada Thomas yang sedari tadi rupanya memperhatikan keduanya.
"Misi kali ini akan cukup sulit. Ferdian dan Reino harus bekerjasama. Ini tidak mungkin dilakukan satu kurir dan aku harap mereka bisa bekerja dengan baik."
__ADS_1
Thomas menerawang jauh ke depan, wajahnya terlihat serius. Louise memperhatikan raut wajah Thomas, "Ada apa, kasus parah?"
Thomas mendesah berat, "Roh penguasa gunung di sisi selatan mencekal beberapa roh yang seharusnya pulang."
"Maksudmu roh jahat?"
"Iya, empat roh seharusnya bisa kembali pada kita tapi entah mengapa mereka bisa terjebak disana. Aku hanya memiliki waktu kurang dari tujuh hari sebelum mereka berubah dan menjadi bagian kegelapan."
"Apa yang mereka lakukan hingga bisa terjebak disana?" Louise heran karena hal ini tak biasa terjadi.
"Kabarnya empat roh itu melanggar pantangan saat pendakian. Entahlah aku juga tidak mengerti kenapa roh penguasa gunung marah. Atau mungkin …," Thomas menggantung kalimatnya, ia mengetuk ngetukkan jari di meja seolah menghitung waktu mundur.
Louise rasakan atmosfer yang cukup menekan dirinya. Ketukan jari Thomas terasa menggema di pikirannya, menulikan telinga, dan membekukan waktu hingga akhirnya pada saat ketukan jari Thomas berhenti, keduanya telah berpindah tempat.
"Oh tidak, ini buruk … sangat buruk!"
Louise menatap nanar peristiwa di depannya. Empat pemuda membunuh dua ekor kijang yang merupakan jelmaan putri roh penguasa gunung.
*****
Ferdian dan Reino masih asik mengobrol saat pin Ferdian dan cincin Reino menghantarkan getaran energi, Thomas memanggil keduanya secara bersamaan. Mereka saling melempar pandang,
"Tugas memanggil." Ferdian menyeringai.
"Waktunya bersenang-senang, huh?" Reino menimpali.
Sang bartender membukakan pintu untuk keduanya, dua kurir tampan itu masuk ke sebuah ruangan di belakang bar. Pintu dimensi telah menanti dan terbuka lebar.
"It's show time!" gumam Reino lirih.
"Selamat datang dua Kurir Kematian, ini adalah tugas untuk kalian berdua. Tugas ini sedikit rumit dan kalian harus bekerja sama."
Thomas menyambut keduanya dengan senyum khas, seperti biasa ia didampingi Louise dan tentu saja ...,
"Mas Reeeiiiin, jej jahara Eike ditinggalin gituuuuh ajaaaah! Jej nackaaaal!"
Mata Ferdian membulat sempurna, ia menoleh takjub pada makhluk serupa lelaki tapi bertingkah kemayu layaknya wanita.
__ADS_1
"Oh my, don't ask me!"