Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Perpisahan?


__ADS_3

Suara ketukan pintu membangunkan Mia yang tertidur di sofa. Ia kelelahan menunggu Agung yang tak kunjung pulang. Sebagai seorang ibu ia bisa merasakan jika sesuatu terjadi pada putranya. Seharian ia mencari Agung tapi tak juga ada menemukan titik terang dimana Agung.


"Siapa?" Mia membuka tirai, memastikan siapa yang datang.


Diluar sana seorang lelaki paruh baya tersenyum seraya mengangkat sedikit topi fedora kesayangannya. Ada dua lelaki berbadan cukup besar layaknya pengawal pribadi dalam film-film Hollywood.


Mia mengernyit, ia baru kali ini melihat pria itu. Mia curiga tapi juga penasaran, ia membuka sedikit celah pintu.


"Selamat malam Bu Mia!"


"Malam, bapak siapa?"


"Perkenalkan, saya Malik. Boleh saya masuk?"


Mia ragu tapi akhirnya ia membuka lebar pintu dan mengizinkan Malik masuk ke dalam.


"Maaf boleh saya tahu, pak Malik ini siapa?" Mia menjaga jarak dari Malik, ia tak nyaman dengan kedatangan lelaki tak dikenal malam-malam.


"Saya utusan tuan Thomas, apa Agung sudah kembali?"


Mia mengernyit, "Dari mana bapak tahu Agung pergi? Bapak tahu dimana dia?"


Malik tak menjawab, ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. "Anda nyaman tinggal disini?"


Wajah Mia muram, kehilangan suami dan kini putranya menghilang, kenapa ia merasa hidupnya tak lebih baik dari dulu. Serba berkecukupan tapi kehilangan orang yang dicintai itu lebih menyedihkan.


"Saya … entahlah." Mia terdiam sejenak lalu bertanya mengungkapkan rasa ingin tahunya.


"Sebenarnya siapa Thomas? Kenapa suami saya bekerja untuknya, dan juga semua ini? Apa maksudnya, rumah, uang, tabungan, jaminan Agung? Tolong jelaskan sama saya ada apa sebenarnya?"


"Maaf tapi saya tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan hal itu. Satu hal yang pasti Thomas telah menolong Ferdian dan juga keluarga anda."


"Bapak benar, menolong tapi juga mengambil nyawa mas Ferdi. Saya belum bisa menerima keadaan ini, apalagi sekarang Agung hilang." Mia tiba-tiba berhenti bicara, satu tebakan aneh terlintas begitu saja. 


"Apa mas Ferdi melakukan perjanjian gaib? Pesugihan? Menumbalkan dirinya sendiri dan Agung?!" Tanyanya beruntun setengah histeris.


Malik menggelengkan kepala, "Tidak, Ferdian tidak melakukan hal itu. Thomas hanya seorang Penjaga dan Ferdian adalah bagian dari barisan pendukungnya. Seorang kurir."


"Kurir?" Maya Mia membulat sempurna, "Ya Tuhan, kurir narkoba? Sudah kuduga!" Ucapnya gemetar


Malik terkekeh geli, "Tentu saja bukan, Thomas tak ada hubungannya dengan hal itu." Malik melirik jam tangannya, ia kemudian lanjut bicara. "Bu Mia sebaiknya berkemas. Saya ditugaskan menjemput anda untuk keselamatan diri anda sendiri."


"Nggak saya nggak mau, gimana kalau Agung pulang? Dia pasti nyariin saya nanti!" Tolaknya tegas.


"Agung menunggu anda salah satu guest house saya. Anda mau ikut dan bertemu dia atau tetap disini dan mati." Pilihan Malik jelas membuat Mia bingung.


"Mati?"

__ADS_1


"Dalam hitungan menit, beberapa orang akan datang kemari menuntut balas. Mereka akan merusak tempat ini dan yang lebih buruk, membunuh anda nyonya!"


Mia menggelengkan kepala, "Atas dasar apa mereka melakukannya? Apa salah saya!"


"Anda melewatkan berita hari ini, Agung dipastikan dalam pengerjaan polisi karena membunuh keluarga pamannya." Ekspresi serius Malik menandakan dirinya tidak main main.


"Bapak salah, nggak mungkin anak saya melakukan hal itu! Agung nggak bakal berani bunuh orang, nyamuk aja dia nggak berani tepuk!" Sanggah Mia tak terima.


"Kemasi barang anda segera, kita nggak punya banyak waktu! Nanti saja pembelaannya!"


Suara tegas Malik membuat Mia tak berani mendebat, ia pasrah dan akhirnya mengikuti Malik menuju tempat yang lebih aman. 


Benar saja sekitar lima belas menit dari kepergian Mia rombongan orang bermotor terlihat beriringan menuju rumah Mia. Mereka tampak tak bersahabat dan menahan amarah. Beberapa diantaranya bahkan membawa senjata tajam. Mereka berteriak meminta Mia dan Agung keluar. Karena tak ada sahutan dari dalam rumah, mereka pun mengamuk. Massa yang terprovokasi akhirnya bertindak anarkis dengan merusak properti milik pribadi.


Mia terguncang, ia tak menyangka jika rumah dan dirinya menjadi sasaran amuk warga. Dari kejauhan ia bisa melihat kepulan asap hitam membumbung tinggi dari kejauhan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Mia bergumam dengan mata basah.


Malik datang tepat waktu, ia memenuhi janjinya pada Ferdian. Dirinya tak menemukan Agung tapi setidaknya Mia selamat. Malik melirik ke arah Mia yang masih tersedu sedan, ia menarik nafas panjang-panjang merasakan sedih yang dilanda wanita sebaya putrinya.


Malik teringat kejadian tiga puluh lima tahun lalu, saat dirinya harus menangani kasus serupa. Ia gagal menyelamatkan seorang wanita yang terkena tuduhan pembunuhan. Malik datang terlambat karena tugasnya sebagai kurir belum usai. Wanita malang itu telah tewas saat Malik datang, mirisnya Malik juga yang harus mengantar dan mewujudkan keinginan terakhirnya. Wanita itu adalah sahabat nya sendiri, Rossie.


Malik berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama, dan kini ia lega meski Malik tak bisa menyelamatkan Agung. Lalu dimana Agung, apa yang terjadi padanya?


Malik tak bisa berbuat banyak dan mencampuri urusan takdir. Ia bukan kurir sekarang dan Agung ada dalam pengawasan Sang Penjaga, Thomas.


Tak ada obrolan sepanjang tiga puluh menit perjalanan, Mia terus menangis meratapi nasib malangnya. Ia merindukan Ferdian juga Agung, andai waktu bisa berputar lagi Mia rela dihujat, dimaki, bahkan babak belur dihajar debt collector asal suami dan putranya ada bersama.


Malik membawa Mia ke rumah peristirahatan miliknya. Rumah mewah di daerah pinggiran kota. 


"Mulai sekarang, anda dalam perlindungan saya. Istirahatlah, kita bicara lagi besok."


"Pak Malik, apa saya bisa ketemu Agung?" 


Malik menghela nafas lalu tersenyum gamang, "Entahlah, doakan saja yang terbaik untuknya."


Mia kecewa, tadinya ia berharap bisa bertemu Agung di rumah Malik tapi harapan hanyalah harapan. Ia duduk termangu di pinggir ranjang meratapi nasib yang menimpa keluarga kecilnya.


"Agung, apa yang terjadi sebenarnya? Mamah nggak yakin kamu melakukannya. Ini pasti bohong kan?"


*


*


*


Rangkaian gerbong berjumlah tiga belas, berhenti di sebuah stasiun. Thomas turun dari salah satu gerbong, merapikan jas putih yang dikenakan. Ia melangkah mantap dengan bantuan tongkat berukiran unik. 

__ADS_1


Di tengah peron ia berhenti, menatap kembali rangkaian gerbong yang masih diam di tempatnya.


"Waktunya kalian memiliki Penjaga baru." 


Senyum Thomas menghiasi wajah awet mudanya. Ingatannya kembali pada awal terpilihnya Thomas sebagai penjaga. Ia masih sangat muda saat itu, hingga akhirnya memutuskan satu kasus yang membuatnya terpilih sebagai 'The Great Keeper'.


Tahun 1634, tahun dimana Thomas kali pertama mendapat tugas dari Leonard, penjaga sebelumnya. Dahulu bukan kereta api yang digunakan tapi kereta kuda yang ditarik tiga belas kuda siluman. Ketika dunia manusia mengenal kereta api uap pertama di tahun 1804, kereta kuda diganti dengan kereta uap.


"Hampir empat abad aku menghabiskan waktu bersamamu, dan kini waktuku telah tiba. Aku ingin berlibur, memancing, berkemah dan sedikit bersenang-senang sebelum memenuhi undangan takdir."


"Kau yakin akan melakukan ini Thomas?" Louise muncul di sebelahnya seperti biasa.


Thomas tersenyum bahagia, "Tentu, aku sudah terlalu lama hidup Louise … aku lelah dan sekali dalam seumur hidup, aku ingin sedikit bersantai. Mengawasi para arwah, merekrut kurir, memberikan misi," Thomas menjeda memberi kesempatan paru-paru tuanya untuk mengisi udara sejenak. 


"Itu … sangat melelahkan."


"Aku akan merindukanmu pak tua?" Louise menyela.


Thomas terkekeh, lagi-lagi ia menarik nafas. "Aku memang sudah sangat tua, Louise. Cukup banyak melihat siklus kehidupan manusia di muka bumi ini."


"Kenapa kau tidak memilih Malik? Dia juga kurir terbaik."


"Malik? Hhmm, andai dia tidak melakukan kesalahan dan mencampuri takdir pasti aku akan memilihnya. Satu satunya kesalahan fatal yang ia buat adalah mencintai Rossie dan berniat menghidupkannya lagi. Dia bahkan melanggar aturan dunia bawah. Seharusnya dia dihukum lebih berat, tapi aku tak tega."


"Setidaknya sekarang dia menyesali hal itu." 


"Kau benar. Setiap kesalahan akan menjadi pembelajaran berharga." 


"Lalu, bagaimana sekarang? Kita mulai pemilihan?" 


"Yes please, tapi … dimana John? Dia akan sangat berperan nantinya. Apa dia melewatkan malam inagurasi?"


Louise tersenyum manis dan menunjuk ke satu arah, "Bagaimana mungkin dia melewatkan malam ini Thom, liat dia. Oh my, siapkan telingamu pak tua!"


"Thomaaaas, jej kelewataaaaaan! Ngapain jugaa pake pensiun! FYI (For Your Information) akika sampeee cari ke lubang hantu buat nemuin ini barang!" Wajah kesal John terlihat jelas saat menyerahkan kotak hadiah berpita emas pada Thomas.


"Wow, gifts? Thanks John and Janny there!"


John mengipasi wajahnya dengan tangan, menahan tangis. Bibirnya bergetar dan matanya mulai mengembun.


"Huuuaa … it's not fair, why Thom, why! Don't stop to be Keeper please!"


"I have been so long to be a Keeper, John. You know that."


John tak kuasa menahan keharuan ia memeluk erat Thomas membuat Louise ikut menitikkan air mata.


"Stop it John, kamu bikin eyeliner ku berantakan."

__ADS_1


"Who cares!"


 


__ADS_2