Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Raja Tampan dari Selatan


__ADS_3

Ferdian berjalan bersisian dengan Reino, mata kedua kurir itu menatap awas sekeliling. Hutan yang mereka masuki tidak terlalu lebat tapi cukup kental aura magisnya. Kabut tipis masih menyelimuti hutan. Sunyi, sepi, bahkan suara burung atau binatang sejenis kumbang yang selalu berbunyi menghiasi hutan pun tak terdengar.


"Mas Ferdi, hutan ini terlalu sunyi. Rasanya sedikit aneh." Reino berbisik dengan mata yang tetap waspada.


"Benar terlalu sunyi, lebih mirip kuburan rasanya."


Reino berhenti di satu titik, ia mengeluarkan kompas dan juga peta yang diberikan Thomas. Reino mencoba mencocokkan lokasi mereka dengan petunjuk Louise. 


"Kita harus berjalan ke Utara, titik yang dimaksud Thomas masih lima ratus meter lagi."


Ferdian berjongkok memperhatikan jejak di tanah lembab. "Aneh, ini bukan jejak beruang. Informasi yang aku dapat  hutan disini tidak memiliki binatang buas, hanya anjing hutan atau kawanan serigala. Bahkan harimau pun belum pernah terlihat."


Reino mendekati Ferdian dan ikut memperhatikan jejak kaki cukup dalam yang sedang diperhatikan Ferdian.


"Terlalu aneh untuk jejak beruang ataupun macan?"


"No, ini terlalu besar." Ferdian menggeleng.


Suara geraman kasar hewan terdengar menggema sesaat setelah Ferdian bicara. keduanya saling memandang.


"Ups telinga makhluk itu mungkin memerah!" seloroh Reino.


Tiba-tiba saja jarum kompas berputar tak tentu arah. Reino dan Ferdian terkejut, "Kita ketahuan!" Reino tersenyum sinis.


"Bersiaplah, mereka pasti tidak akan membiarkan kita lolos dari tempat ini." Sahut Ferdian cepat.


Baru saja Ferdian menutup mulutnya, hawa tak bersahabat menyergap keduanya. Awan gelap tiba-tiba saja datang menutup cahaya matahari, suhu menurun drastis, disusul kelebatan bayangan hitam yang mulai menari mengadu nyali kedua kurir.


"Jumlah mereka sepertinya banyak, kita dikepung." Bisik Ferdian yang berdiri memunggungi Reino.


"Thomas bilang kita harus menunjukkan gulungan kertas itu kan? Apa itu bisa dilakukan sekarang?" Reino mengingatkan pesan Thomas.


"Tunggu waktu yang tepat."

__ADS_1


Tanpa berbekal senjata apapun keduanya berdiri saling memunggungi, menjaga satu sama lain. Bunyi bisikan dan gumaman mulai terdengar, suara wanita yang tertawa cekikikan dan suara-suara panggilan tak jelas silih berganti menyapa  menantang nyali keduanya.


"Kenapa kita nggak gunakan kekuatan dari Thomas buat hancurkan mereka?" Reino kembali berbisik.


"Kamu ingat apa kata Thomas? Dekati sang penguasa dan lakukan negosiasi sebelum kita mengambil opsi kedua."


"Opsi kedua, heh? Membayangkannya saja aku malas." Reino berdecak kesal.


Sebelum berangkat ke hutan ini Thomas memberitahukan pada Ferdian dan Reino apa yang terjadi. Misi mereka adalah membebaskan empat roh pendaki yang ditahan penguasa gunung karena membunuh putri kembarnya.


Empat orang pemuda menaiki kereta gantung buatan warga setempat, keempatnya bermaksud mendaki gunung terlarang untuk mendapatkan pusaka yang konon kabarnya berharga mahal. Warga desa sempat mengingatkan pantangan tentang larangan mendekati kidang emas.


Kidang emas itu konon adalah perwujudan dari putri penguasa roh gunung. Kidang dengan tanda khusus seperti mahkota di kepalanya. Siapapun yang melihat kidang emas itu akan terbius dan terpesona untuk memilikinya. Tidak ada satupun warga yang berani mendekat hutan terlarang kecuali melalui juru kunci. Tapi empat pemuda itu nekat melanggar.


Sesaat setelah turun dari kereta gantung buatan warga desa, salah satu dari pemuda itu melihat satu kidang emas dari dua kidang yang hidup di alam liar. Keempatnya gelap mata dan memburu putri penguasa gunung lalu membunuhnya.


Tak cukup hanya satu, mereka juga memburu pasangannya. Penguasa gunung murka ia mengutus prajuritnya untuk mengambil jasad kedua putrinya sebelum dibawa pergi oleh keempat  pemuda bodoh itu. 


Alam seolah bersahabat dengan murkanya penguasa gunung, angin ribut datang begitu cepat seiring dengan munculnya awan aneh yang menggantung di langit. Kereta gantung yang mereka gunakan jatuh dari ketinggian belasan meter. Tali kereta putus setelah tidak kuat menahan beban berlebih. Mereka pun tewas mengenaskan.


Suara serak, tanpa wujud menggema seakan mengelilingi Ferdian dan Reino. "Kami datang untuk menemui penguasa gunung selatan!"


Ferdian berteriak lantang, matanya awas mengamati sekitar begitu juga dengan Reino. Bayangan hitam transparan melayang cepat diatas keduanya, lalu berhenti menampakkan diri. 


Rambut panjang kusut masai terurai, wajah pucat dengan mata menatap nyalang keduanya, mulut kehitaman disertai tangan berkuku hitam panjang, Sosok itu melayang di hadapan Ferdian.


'Beraninya kau datang mengusik raja kami! Apa kau berniat menggadaikan nyawamu!'


Kali Ini Reino yang menyahut, "Maaf tapi kami ada urusan mendesak, dan urusan menggadai nyawa itu sangat sensitif. Aku masih ingin bersenang-senang dengan manusia."


Sosok itu tertawa terbahak-bahak, ia lalu mendekat cepat ke arah Reino dan menyisakan jarak hanya sejengkal.


"Aku suka pemuda pemberani seperti mu! Kau tak takut dan baumu juga enak, bolehkah aku memakanmu?"

__ADS_1


Reino menaikkan kedua alis bersamaan, "Kau sopan sekali, boleh saja asal kau bisa melawan ini!"


Reino dengan cepat menyambar leher sosok mengerikan serupa kuntilanak itu dengan tangannya. Mengalirkan energi supranatural yang dimilikinya dan merapal mantra. Sigil Jawa kuno seketika muncul mengitari tubuh sosok itu yang kini menjerit dan meronta kepanasan.


"Antarkan aku pada rajamu, tanpa syarat!" Gertak Reino dengan mata berkilat keemasan.


"Baik, baik! Lepaskan tanganmu ini dan aku akan mengantar kalian bertemu sang raja!"


"Kau pikir aku bodoh, heh!" 


Reino kembali mengucapkan mantra yang berbeda yang mengunci pergerakan sosok penjaga hutan wanita itu. Kini sosok itu tak bisa bergerak dan ada dalam kuasa Reino.


"Wow, kerja bagus kawan! Aku nggak nyangka kamu bisa menguasai sihir Reino!" Ferdian menepuk bangga pada rekan kerjanya.


"Entahlah, Thomas bekerja dengan misterius padaku mas. Semua terjadi begitu saja." 


"Sebaiknya kau cepat tunjukkan jalan untuk kami!" Ferdian menyeringai pada sosok melayang yang tak berdaya itu.


Benang tipis terikat di jari manis Reino, benang yang sama  juga mengikat tubuh sosok menyeramkan. Membuatnya berjalan sesuai perintah Reino. Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di kerajaan gunung selatan. Sosok itu tidak serta merta dilepaskan Reino, mereka menunggu hingga sang raja datang menemui.


"Rajaku tidak akan mengampuni kalian!" Sosok itu mulai meronta dan berteriak.


"Hei, diamlah! Suaramu jelek sekali lebih bagus suara John biarpun dia makhluk jejadian juga!" Balas Reino sinis.


Pintu besar di sisi timur terbuka lebar, Ferdian dan Reino menunggu siapa gerangan yang muncul dari balik pintu. Sosok dalam tawanan Reino itu terkekeh.


"Raja datang dan terimalah hukuman kalian!"


Suara langkah kaki terdengar menggema memenuhi ruangan. Reino dan Ferdian saling memandang, langkah itu semakin dekat dan dekat. Hingga akhirnya muncullah seorang lelaki tampan yang berjalan sambil tersenyum pada dua kurir Thomas.


"Selamat datang di kerajaanku, Ferdian, Reino!"


Dua Kurir Tampan terperangah, mereka tak menyangka jika penguasa gunung sisi selatan sosoknya masih sangat muda bahkan mungkin seumuran Reino.

__ADS_1


"Rein, apa kita ada di negeri seribu satu malam?" Ferdian berbisik lirih dan Reino pun menjawab.


"Negeri impian para wanita sepertinya mas!"


__ADS_2