
Ferdian merenung dalam kamar, menatap sendu foto Mia dan Agung. "Maafin papa, Gung." ucapnya parau.
Dadanya terasa sesak menghadapi situasi yang dilematis. Dengan kekuatannya Ferdian yakin bisa menyelamatkan Agung, tapi perjanjian darah dengan Thomas tak bisa dibatalkan. Bisa saja Ferdian nekat dan menerabas pembatas gaib Thomas agar dirinya bisa mendekati keluarga, tapi itu sangat beresiko.
John memberitahukan kepadanya jika sampai satu milimeter saja Ferdian melangkah keluar pembatas gaib Thomas, maka jiwanya akan musnah. Itu berarti dia mati dalam artian sebenarnya, tak bisa bereinkarnasi, hancur menjadi debu.
Ferdian meraup udara banyak-banyak untuk memenuhi paru-paru nya. "Aku harus mencari tahu ada apa sebenarnya."
Lencana unik pemberian Thomas berkilat, Ferdian membuka gerbang dimensi. Ia melangkah keluar menuju TKP, garis polisi masih terpasang disana. Ferdian mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah, dengan langkah berat ia menerobos masuk ke dalam rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya.
"Sial, terkunci!" Ferdian mencari kunci rumah di tempat cadangan tapi tak menemukannya.
"Aneh, kenapa kunci cadangan nggak ada juga? Seingat ku yang tahu tempat rahasia ini cuma Mia, aku dan Agung. Apa ada orang lain yang tahu?"
Ferdian memutuskan memakai kekuatan khususnya untuk membuka pintu. Begitu melangkah masuk, darah terlihat dimana mana mulai dari ruang tamu hingga kamar mandi. Bau anyir dan tak sedap memenuhi ruangan, Ferdian menutup hidungnya karena aroma yang membuatnya mual.
"Ini gila! Darah sebanyak ini apa korbannya juga banyak? Tapi siapa?"
"Paklek Andi, bulek Tina, dua anak lelakinya dan dua orang pembantu. Mereka tewas dengan luka senjata tajam yang cukup fatal!" Suara John mengejutkan Ferdian.
"Apa? Itu berarti satu keluarga tewas dan putraku jadi tersangkanya?"
John dengan suara baritonnya menjawab, "Ada saksi mata yang melihatnya kabur dari rumah ini. Saksi mata memastikan itu adalah Agung. Hanya saja Agung dalam kondisi ketakutan karena menurut saksi mata, dia sempat berteriak dan menanyakan apa yang terjadi tapi putramu menjawab dengan, ketakutan."
Ferdian terdiam sambil berpikir, "itu artinya bukan dia pelakunya! Dia hanya kebetulan saja berada ditempat yang salah. Aku juga tak yakin jika putraku sanggup melakukannya."
"Sayangnya bukti yang ditemukan berkata lain. Sidik jari putramu ditemukan pada beberapa tempat begitu juga dengan senjata yang diduga digunakan untuk membunuh keluarga paklek mu."
"Apa?!" Ferdian bingung, tapi sebagai ayah ia tetap berkeyakinan jika putranya tidak melakukannya.
John bergerak diantara bekas genangan darah kering tempat korban ditemukan. Ia memperhatikan dengan seksama lalu menggelengkan kepala.
"Ini sadis sekali aku bisa melihat mereka tersiksa dengan darah sebanyak ini. Apa kau yakin putramu tidak memiliki ketakutan pada darah? Karena aku sungguh berharap ia memilikinya dengan kondisi seperti ini."
Ferdian menggelengkan kepala, ia ikut memperhatikan TKP. "Sayangnya tidak."
John berjongkok dan menemukan sesuatu yang berkilau di bawah meja makan. "Apa ini?"
Ferdian menoleh dan ikut memperhatikan benda pipih berwarna silver yang dipegang John.
__ADS_1
"Astagaaa! Ini …,"
"Apa, kau mengenalinya?" John penasaran.
"Ini liontin yang aku berikan untuk Agung sesaat sebelum aku menjalankan misi Thomas. Aku memberinya sebagai hadiah perpisahan. Tapi bagaimana bisa ini terpotong, tidak mungkin dilakukan dengan kekuatan tangan biasa atau tanpa benda tajam.
Ferdian menatap liontin perak bermotif bulu merak yang patah, ia sengaja memilih liontin itu untuk putranya karena berbentuk unik. Ferdian menggenggam erat liontin dalam genggamannya.
"Aku harus menemukan Agung!"
John berdiri menatap Ferdian tak yakin, "Kemana kau akan mencarinya? Rumah barumu sudah ludes dimakan api beberapa hari lalu."
"Terbakar?"
"Beberapa orang memprovokasi warga untuk datang ke rumah barumu mencari Agung."
"Mia …," Ferdian lemas membayangkan nasib Mia sekarang.
"Mia dalam perlindungan Malik. Kau tenang saja, kami hanya … tidak menemukan Agung."
Mata Ferdian memanas, sungguh ia tak menyangka jika rencana sempurnanya meninggalkan keluarga harus berakhir tragis. Rumah impian Mia terbakar dan Agung hilang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dia dalam dilema besar, haruskan Ferdian nekat menerobos pembatas gaib dan menemui Mia?
"Baik, sehat, hanya sedikit shock. Putri Malik selalu menghiburnya." John menjawab memberikan ketenangan pada Ferdian.
"Apa salahku, John? Kenapa ini terjadi pada keluargaku?" Suara parau Ferdian terdengar menggetarkan nurani John memunculkan karakter lain dalam dirinya.
"Jej, mana salah mas Ferdi! Yang salah tuuuh si mayat-mayit! Coba jej inget-inget deh ada salah apose dari mereka? Bisa jedong mereka ini emang penjahat so dibunuh deh sama orang!"
"Entahlah tapi mereka ini memang tidak begitu dekat dengan keluargaku, ketika aku dan Mia dalam masalah mereka justru menghina kami dan mengeluarkan kalimat tak pantas." kenang Ferdian getir.
Selarik senyum sinis muncul di bibir John, "ooh pantes dong mereka died begitu. Orang kagak ada baik-baiknyaaa sama sodara sendiri! Kek jangan khawatir Eike bakal bantuin mas Ferdi cari si Agung. Eik kerahin dah tuuuh bebala sewu anak buah Thom-thom! Yuuuks ah sekarang cap cuuuuzz kita pergi dari sini!"
John menarik paksa lengan Ferdian, membuka portal dimensi menuju ke lain tempat. Sementara itu Thomas menemui Reino memberinya tugas baru untuk mengantarkan arwah.
Reino menunggu kedatangan Thomas, jam menunjukkan pukul satu dini hari tapi tanda tanda rangkaian gerbong setan belum juga muncul.
"Keretanya datang sedikit terlambat," suara wanita bergaun kuning lembut mengejutkannya.
"Louise? Untung saya nggak jantungan!"
__ADS_1
Louise tersenyum di balik topi cantiknya yang sebagian menutupi wajah.
"Tugas kali ini sedikit menguras energi, jadi bersiaplah!"
"Bukannya Thomas meminta kami untuk menjalankan tugas bersama? Kenapa sekarang berubah?"
Louise menoleh, menatap Reino. "Kapan saya bilang, kalian tidak bersama?"
Reino mengernyit, mencoba mengartikan senyuman misterius Louise. "Hhm, jadi …,"
Bunyi peluit panjang terdengar memutus rangkaian kata yang akan keluar dari bibir Reino.
"Sudah datang!" gumam Louise lirih, menarik sudut bibirnya dengan indah.
Kereta berhenti tepat di hadapan keduanya. Pintu gerbong tiga terbuka mengeluarkan asap tipis membuat suasana semakin horor. Thomas turun dengan tongkat kesayangannya.
"Tuan Reino, apa kau siap dengan misi selanjutnya?"
"Tentu, tidak ada pilihan lain bukan? Tapi kenapa kau memanggilku sendirian, bukannya kemarin kita sepakat kalau saya dan mas Ferdi jadi partner?"
Thomas tersenyum, "kalian memang partner tapi tidak sekarang. Kau harus menyelesaikan kasus ini dulu sebelum bersama Ferdian."
Reino masih menunggu, feeling-nya mengatakan ada yang tidak beres. Gelagat Louise dan Thomas terlalu mencurigakan baginya.
"Keluarlah nak, temui paman Reino!" Thomas berseru memanggil roh bakal klien Reino.
Nak? Apa dia seorang anak kecil lagi sama seperti Tami?
Batin Reino bergejolak saat melihat sosok yang turun menapaki tangga. Cahaya yang menyorot terang membuat Reino sedikit kesulitan melihat siapa yang turun.
"Ini adalah klien baru mu tuan Reino!"
Reino terbelalak saat matanya melihat jelas siapa sosok yang berdiri di depannya. Ia menatap Thomas dan Louise bergantian.
"I-ini kan …,"
Thomas mengangguk samar, "lakukan tugasmu dengan baik tuan Reino, ini akan sedikit … dramatis!"
Ya ampun, haruskah ini terjadi padanya?
__ADS_1