
Ferdian berdiri di tepi peron, tak ada kereta datang untuk menjemput dua roh yang kini ada bersamanya. Louise dan John berdiri mematung beberapa meter dari Ferdian.
"Kau yakin ini akan berhasil?" Louise berbisik tanpa berkedip, matanya mengawasi pergerakan Ferdian.
"Aku harap begitu, kita tinggal memantik emosinya lalu menggiring nya pada hal terlarang." John menjawab dengan nada bariton.
"Sayang sekali padahal aku mulai menyukainya." John menoleh ke arah Louise, memastikan jika wanita bergaun kuning itu berkata benar adanya.
"Kau, menyukainya? Apa kau serius, kau ini pengendali kurir bagaimana bisa kau menyukainya Louise, ingat aturan kita! Kau bisa membahayakan misi."
"Hhm, John … sama seperti Thomas aku juga lelah, ingin rasanya memiliki cinta. Tapi lupakan, Ferdian akan menjadi Penjaga selanjutnya itu artinya aku akan tetap mendampinginya bukan?"
John masih tak berkedip menatap Louise, "yeah dan itu sangat lama Lou!" Ia mengalihkan tatapan ke arah Ferdian, "itu akan sangat lama." John mengulang ucapannya lagi.
Rangkaian kereta setan belum juga datang, Ferdian gelisah tak karuan. Ia mondar mandir sambil terus melihat ke arah jam dinding besar yang ada di dekat pintu masuk.
"Katakan padaku apa yang terjadi, Lou?!" Serunya dengan nada penuh kecemasan.
"Entahlah, mungkin Thomas harus mengurus ijin ke beberapa tempat!" Jawab Louise sedikit berbohong.
"Haha, lucu sekali Lou! Aku tidak suka situasi seperti ini. Waktuku semakin menipis dan Aiman pasti menunggu bukti dariku."
"Siapa Aiman?" Suara berat yang ditunggu Ferdian akhirnya datang.
"Thomas?" Ferdian mengintip dari balik bahu lelaki tua berusia ratusan tahun itu. "Mana kereta mu?"
"Hhm, aku kira kau mencari ku bukan kereta arwah?" Thomas nampak kesal. "Bagaimana tugasmu?"
"Mereka sudah bertemu dengan putranya, dan tugasku berakhir bukan." Jawab Ferdian datar.
"Kau yakin tidak melewatkan sesuatu?" Thomas menatapnya tajam membuat Ferdian teringat pada peringatan John.
"Hhm, aku pikir tidak." Jawaban gamang Ferdian membuatnya terlihat semakin gelisah.
Thomas tidak percaya begitu saja, ia menatap lekat kurir yang sebentar lagi akan menjadi penggantinya. "Apa yang telah kau lakukan tuan Ferdian?"
"Aku? Tidak ada?" Jawab Ferdian berusaha menutupi perbuatannya.
"Kau tahu aku mengetahui segalanya? Setiap tindakan kurirku, setiap kecerobohannya, setiap keberhasilannya … aku selalu memberikan apresiasi untuk itu." Thomas berkata datar dan dingin, kalimat yang meluncur dari mulutnya penuh tekanan yang tak biasa.
"Aku bahkan tahu kau melanggar aturanku! Tidak ada tindakan kurir yang terlewat dari mataku tuan Ferdian!" Nada suara Thomas naik satu oktaf lebih tinggi.
"Maaf, aku hanya … mencari keadilan untuk putraku." Sahut Ferdian pelan.
Thomas masih menatap tak berkedip, sorot matanya tajam dan rahangnya mengeras. "Aku tidak pernah mengijinkan para kurir memasuki ingatan masa lalu ataupun mengintip masa depan manusia! Itu melanggar aturan langit! Aturan sang Pencipta! Kau hanya diperkenankan melihat masa lalu pada arwah, tidak lebih!"
"Tapi aku harus menyelamatkan putraku!" Ferdian membela diri.
"Apa misimu berkenaan dengan penyelamatan putramu!" Thomas menghardik dan itu membuat Ferdian terkejut. Thomas menatap tajam Ferdian masih dengan nafas tak teratur. "Apa anak lelaki yang itu adalah putramu?"
__ADS_1
Thomas menunjuk ke arah belakang Ferdian. Kurir berusia empat puluh tahunan itu memutar tubuhnya, ia terkejut mendapati sosok Agung datang bersama Reino.
"Agung? Kenapa kamu ada …," Ferdian memutar kembali tubuhnya, matanya menatap Thomas yang masih berwajah dingin.
"Jangan katakan kalau Agung sudah mati!" Lanjutnya memastikan kebenaran apa yang dilihatnya.
"Ini adalah stasiun khusus yang berada diantara dua dunia. Jika Agung memang ada disini itu artinya dia … sudah mati."
Ferdian terbelalak, ia tak bisa berkata-kata selain gelengan kepala menolak kenyataan jika Agung telah tiada.
"Kau berjanji akan melindungi putraku, kau juga berjanji akan melindungi Mia! Lalu kenapa putraku ada disini!"
Suara parau Ferdian menyerukan rasa kecewanya pada Thomas. Ia menagih janji Thomas saat perjanjian darah dilakukan. Thomas masih bersikap dingin, ia melirik ke arah Reino dan memberi kode untuk menjauh.
"Aku memang berjanji menjaganya tapi tidak dengan takdir hidupnya. Putramu ditakdirkan mati dalam usia muda, aku tak bisa menyentuh garis takdir manusia."
"Dekati papamu boy, tenangkan dia!" Bisik Reino sesaat sebelum menjauh.
Agung berjalan perlahan, raut wajahnya diliputi rasa penyesalan dan juga kesedihan. Agung menyesal karena pergi tanpa pamit pada Mia, menyesal tak bisa menjaga ibundanya dengan baik, menyesal telah mengikuti petunjuk dari orang tak dikenal hingga ia berakhir disini.
"Pah …,"
Ferdian tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk Agung erat. Sungguh ia sangat merindukan Agung, siapa sangka jika mereka harus bertemu dalam kondisi menyedihkan seperti sekarang ini. Louise menatap haru, secuil dari hatinya merasakan sakit yang luar biasa saat Ferdian menangis.
"Aku benci situasi ini!" Louise hendak beranjak pergi tapi ditahan oleh John.
John berkata dengan serius, ekspresi nya begitu dingin dan kejam. Sisi maskulinnya mendominasi, Louise tak bisa berkata apa pun selain menuruti perkataan John. Ia memejamkan mata demi tak melihat adegan mengharukan bapak dan anak itu.
"Kenapa Louise, John?" Reino dibuat penasaran dengan sikap Louise.
"Itu mengingatkan pada masa lalu Louise."
Reino tak ingin bertanya lebih lanjut, ia lebih tertarik dengan adegan yang mengharukan di depan mata. "Apa mas Ferdi bakalan baik-baik saja, John?"
"Entahlah, kita lihat saja nanti." Jawab John datar.
Ferdian mengurai pelukannya, ia menatap lekat wajah Agung yang dirindukan. Memeriksa tiap anggota tubuhnya yang jelas saja masih utuh. Louise telah melakukan tugasnya dengan baik hingga penampilan Agung baik-baik saja.
"Bilang ke papa bagaimana kamu bisa sampai disini? Jawab, siapa yang melakukannya?"
Ferdian sangat berharap putranya mau menjawab, tapi Agung hanya menunduk lesu. Tak bisa menjawab apa yang ditanyakan ayahnya.
"Gung, lihat papa! Siapa yang melakukannya ke kamu? Papa hanya ingin tahu nak." Kali ini Ferdian sedikit melembutkan suaranya agar Agung mau membuka suara.
"Agung takut pah,"
"Kenapa takut? Ada papa disini. Katakan siapa yang sudah melakukannya?"
Agung menoleh ke arah Reino meminta persetujuan tapi Reino tak bisa berbuat banyak, ia hanya tersenyum masam.
__ADS_1
"Aku harap dia mengatakannya," bisik Louise dari balik topi besarnya.
"Aku harap tidak!" Ujar Reino santai, sontak saja John dan Louise menatap tajam padanya.
"Apa, salahnya dimana? Apa kalian tidak memikirkan perasaan mas Ferdi?"
John mendengus, "dia harus mengatakannya, apa kau mau menjadi penjaga selanjutnya menggantikan posisi Ferdian?!"
Reino menggaruk kepalanya, harapannya ternyata salah. "Uups, jawaban yang salah rupanya."
Agung bimbang, ia menatap Thomas yang mengangguk samar padanya lalu menatap Ferdian. "Aku … mengingat samar bayangan itu, aku nggak terlalu yakin pah tapi …,"
"Katakan padaku Gung, siapa pelakunya?!" Ferdian mulai tak sabar, emosinya memuncak.
"He-heri, om Heri pah!" Akhirnya satu nama terucap dari mulut Agung dan itu membuat Ferdian terhenyak.
Matanya menatap membulat sempurna, ia gemetar, lututnya nyaris tak sanggup menopang tubuhnya. Thomas berharap telinganya salah.
"Heri? Tapi … dia bilang bukan dia pelakunya?!"
"Terakhir Agung melihat om Heri ada di sana, di hutan. Meskipun samar, Agung yakin itu om Heri." Ujarnya pelan.
"Ingatan terakhir para arwah tidak bisa dimanipulasi tuan Ferdian." Thomas menimpali.
"Reino!" Ferdian berteriak memanggil rekannya itu.
Reino sedikit gugup karena tak pernah melihat Ferdian dalam posisi marah. "Ya, mas!"
"Kamu yang bertanggung jawab atas Agung, apa benar apa yang dikatakannya?!"
"Sayangnya begitu," jawab Reino mengedikkan kedua bahu.
Rahang Ferdian mengeras, ia berbalik menatap Thomas. "Kau mengkhianati perjanjian kita, Thomas! Kau ingkar pada janjimu melindungi keluargaku! Aku menuntut balas untuk ini, dan aku yang akan menghukum mereka!"
Ferdian berjalan mendekati dua arwah yang seharusnya menaiki kereta, "dengarkan aku baik-baik, aku akan menghukum putramu dan jangan harap aku mengampuni kalian!"
Ferdian membuka portal dimensi, tujuannya satu mencari Heri.
"Aku ingatkan padamu tuan Ferdian, apa pun yang ada dalam pikiranmu … jangan lakukan!" Thomas berkata serius pada Ferdian.
"Kau tak perlu mengingatkanku setelah apa yang kau lakukan padaku, pada keluargaku!" Sahut Ferdian melangkahkan kaki masuk ke dalam portal dimensi.
"Eh, kemana mas Ferdi? Apa aku harus mengikutinya?" Reino mengkhawatirkan kondisi Ferdian yang pergi dengan amarah.
"Tidak, biarkan dia melakukan apa yang harus dilakukan." Ujar Louise datar, diikuti senyuman masam dari John.
Tapi Reino tidak sepakat dengan keduanya, ia nekat menyusul Ferdian dan mengabaikan peringatan untuk tidak ikut campur.
"Setidaknya aku bisa memberinya semangat sebagai rekan kerja!" Kilahnya saat hendak pergi.
__ADS_1