
John tiba di sel tahanan tempat Heri ditahan, hanya ada dua orang dalam sel yang sedang meringkuk disudut. Kedatangan Ferdian tiba-tiba sontak membuat Heri terkejut, jantungnya berdebar kencang karena dirinya masih mengira Ferdian adalah roh penasaran.
"Brengsek, kamu nakutin aku Fer!"
Ferdian tak menjawab dan menatapnya dingin. Heri dibuat takut dengan tatapan tajam menusuk itu.
"A-apa ada masalah?"
"Kau, kau masalahnya! Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau tega membunuh keponakan mu!" Ferdian merangsek, meraih kasar kaos Heri, mencengkeramnya kuat.
"A-aku? Aku melakukan apa?"
"Berhenti berpura-pura bodoh, aku muak sekali dengan wajahmu! Kau pembunuh dan akan selamanya begitu, tidak pernah ada kata bertaubat seperti yang kau bicarakan!"
"Fer, aku sungguh tak tahu apa yang terjadi! Aku hanya ingat membunuh Bapak dan ibu tapi yang lain aku sungguh tak mengingatnya!"
Heri ketakutan, pandangan Ferdian padanya benar-benar berbeda. Kilatan amarah muncul di mata Ferdian, "Agung yang melihatmu sendiri, apa kau masih mengingkarinya?!"
"Agung? Aku sama sekali nggak ingat Fer, aku berani bersumpah!" Heri ketakutan, ia benar-benar tidak mengingat apa pun.
Ferdian semakin kalap, ia tak peduli dengan permohonan maaf Heri. Ferdian semakin menekan kuat membuat Heri sesak nafas.
Reino muncul dari dimensi lain menarik Ferdian yang mulai tak terkendali. "Mas, cukup! Kamu bisa nyakitin dia!"
Ferdian bergeming, ia urung melepaskan cengkeramannya. Baginya Heri harus mati, itu harga dari nyawa Agung. Melihat tidak ada respon dari Ferdian, Reino kembali berseru dan menarik lebih keras tangan rekannya itu.
"Mas, sadar! Jangan biarkan emosi kamu menguasai, kamu tahu bahayanya buat kita dengan kekuatan kamu?!"
Ferdian yang sudah diliputi amarah menghempaskan Reino hingga menabrak tubuh tahanan lain yang sedang meringkuk dalam tidur. Sontak tahanan lelaki itu terbangun. Ia terkejut mendapati dua orang asing masuk dalam sel sempit, apalagi teman satu selnya kini dalam ancaman.
"Heh, ada apa ini? Siapa kalian?! Pak polisi, pak! Tolong, tolong!" Tahanan bertato itu berteriak ketakutan, ia memukul tiang sel tahanan hingga berbunyi nyaring.
Ferdian gelap mata, ia mengangkat tubuh kurus Heri hingga beberapa centi dari lantai. Ferdian tak peduli meski Heri berteriak minta ampun.
"Kau membunuh putraku, memfitnahnya dan kini kau minta maaf? Apa kau kehilangan kewarasanmu?!"
Ferdian melemparkan tubuh Heri dengan mudahnya tanpa belas kasihan. Tubuh Heri membentur jeruji sel keras hingga besi baja itu bengkok. Ferdian diliputi amarah yang luar biasa, kekuatannya melebihi kekuatan normal manusia biasa ia taknlagi bisa mendengar teriakan apa pun dari Reino.
Ferdian memukul dan menendang Heri membabi buta, tak peduli dengan teriakan atau jerit kesakitan Heri.
__ADS_1
Suara gaduh dari ruang tahanan membuat beberapa anggota kepolisian masuk dengan tergesa, mereka terkejut bukan kepalang mendapati dua orang asing yang ada dalam sel padahal jelas sel terkunci dengan baik.
"Woooy siapa kalian?!" Seru polisi muda yang panik dan juga bingung, ia buru-buru mengambil kunci untuk membebaskan tahanan lain yang pucat pasi ketakutan.
Aiman juga dibuat terkejut saat mengenali sosok Ferdian.
"Mas Ferdian! Apa yang mas lakukan disini?! Berhenti mas atau saya akan bertindak lebih jauh!"
Ferdian tak peduli, ia menuliskan pendengaran dan terus menghajar Heri yang sudah tak berdaya. Reino kembali menahan Ferdian tapi tak berhasil. Ia kembali terjerembab dan membentur jeruji sel.
"Mas, tolong berhenti! Atau semuanya akan terlambat!" Reino mencoba mengingatkan tapi nihil, Ferdian gelap mata.
"Ah sial! Kalau begini anak orang bisa mati!"
Reino lupa pesan Thomas,ia tak boleh mencampuri keputusan para Penjaga. Dalam pikirannya hanya satu menyelamatkan rekan kerjanya. Reino mengucapkan mantra untuk menghentikan Ferdian, ia membuat pelindung untuk membatasi gerak Ferdian. Itu memberi waktu bagi para polisi untuk menyelamatkan Heri dan tahanan lain.
"Keluar dari sini, cepat!" Perintah Reino pada tahanan lain dan petugas kepolisian yang susah payah menyeret Heri keluar.
Ferdian mengamuk, matanya menatap Reino nyalang. Ia mencoba menghancurkan dinding gaib yang menghalanginya. Satu … dua … tiga dan …,
BLAAR!
"Jangan campuri urusanku! Kau tidak ada untuk menghalangiku!"
Ferdian menghadiahi Reino satu pukulan telak di wajahnya yang mematahkan tulang hidung, darah mengucur seketika.
"Hentikan mas, atau semua akan terlambat!" Reino mengulangi kalimatnya dengan kepayahan.
Ferdian tak menggubris, ia berjalan meninggalkan Reino yang nyaris pingsan. Ferdian memburu Heri. Para petugas kepolisian bergerak melindungi tahanannya dan memberi peringatan pada Ferdian.
"Berhenti!" Aiman menggertak sambil mengacungkan senjata, Ferdian terus berjalan.
"Berhenti dan menyerahkan!" Seru polisi lain yang ditanggapi sinis oleh Ferdian.
"Menyerah? Tidak akan, dia penjahatnya bukan aku!"
Ferdian berlari mengejar dan dalam satu kedipan mata ia berhasil meraih tubuh Heri dan melemparnya ke barisan motor yang terparkir di halaman. Ia terus memburu Heri, memukul wajahnya hingga tak karuan, melemparnya ke atas dan disaat yang tepat Ferdian mematahkan tulang punggungnya. Heri tewas seketika.
Aura merah kehitaman menguar dari tubuhnya. Ferdian telah berubah menjadi pembunuh keji di depan para petugas kepolisian yang tak bisa berbuat apa pun. Mereka tak bisa melihat gerakan cepat Ferdian hingga akhirnya Heri tewas tepat dikakinya.
__ADS_1
Aiman terkesiap mendapati tahanannya tidak bergerak dengan luka parah. Sementara anggota lain langsung menembakkan peluru ke arah Ferdian. Dua peluru dimuntahkan tapi Ferdian sama sekali tak terluka. Dinding gaib pelindungnya bekerja cepat dan menghalangi peluru tajam itu menembus tubuh kekarnya.
"Mas Ferdi!" Reino berjalan tertatih mengalihkan perhatian para petugas dari Ferdian.
"Jangan mendekat mas, dia bahaya!" Aiman mengingatkan pada Reino, tapi Reino tak peduli.
Reino menatap nanar tubuh kaku Heri, harapannya menyelamatkan Ferdian pupus. Thomas berhasil, Ferdian melanggar pantangan para kurir. "Mas Ferdi …," matanya mengembun membayangkan perasaan Ferdian saat ini.
Roh Heri memisahkan diri dari tubuhnya. Reino terbelalak, ia berlari menyelamatkan roh Heri dari amukan Ferdian tapi ia terlambat. Ferdian yang telah menunggu momen itu langsung menghancurkannya dengan sekali cekikan. Mantra penghancur roh jahat yang dimiliki setiap kurir digunakan Ferdian.
Langit pun murka, awan gelap tiba-tiba saja berkumpul disertai kilatan cahaya. Para petugas kepolisian ketakutan mereka pun lari tunggang langgang menyelamatkan diri kecuali Aiman. Dia satu satunya polisi yang masih berdiri dan menatap tak percaya pada dua orang lelaki ajaib yang tiba-tiba saja datang mengacau di tempat kerjanya.
"Siapa kalian sebenarnya?!"
Reino berjalan mendekat tapi satu Sambaran petir meledak tepat di depannya hingga Reino terpental beberapa meter. Petir dan kilat cahaya menyambar bergantian di sekitar Ferdian dan hebatnya Ferdian bergeming tanpa takut, ia malah berteriak menantang langit.
Aiman diliputi kengerian luar biasa, ia melindungi kedua matanya dari kilatan cahaya yang terus menyambar disekitar Ferdian. "Ya ampun apa yang terjadi!"
Satu ledakan besar terdengar diiringi bola cahaya menyilaukan. Aiman yang sialnya tidak ada pada jarak aman terpental dan menghempas bodi mobil patwal hingga penyok.
Alarm mobil berbunyi saling bersahutan akibat kerasnya petir yang bersahutan. Angin besar seketika datang melingkupi Ferdian. Kurir itu masih diam dan menatap kosong, ia tak melawan juga tak menghindar kuasa langit.
"Mas Ferdi," suara Reino tertahan, cairan kental berwarna merah keluar dari mulutnya.
Tubuhnya remuk redam, kepalanya begitu berat dengan tekanan udara akibat angin kencang yang terus berputar di sekeliling Ferdian. Tubuhnya terangkat oleh sesuatu yang dengan cepat membawa Reino masuk ke portal dimensi.
Ferdian dipaksa bersimpuh oleh kekuatan tak kasat mata yang menekan dalam ruang kosong di balik pusaran angin. Ia menolak dengan sekuat tenaga, membuatnya harus mengeluarkan seluruh kekuatan supranatural yang dimilikinya. Wajahnya memerah menahan sakit akibat tekanan udara, hingga seluruh urat leher dan wajahnya terlihat menegang.
"Aku tidak akan menyerah sebelum membalaskan dendam ini!" Teriaknya lantang dibarengi terbukanya portal dimensi.
Ferdian berpindah tempat seketika, menghilang meninggalkan angin kencang yang terhisap dengan cepat ke satu titik di dalam tanah. Awan hitam perlahan menghilang meninggalkan kekacauan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Jasad mengenaskan Heri tergeletak begitu saja dengan darah menggenang. Puluhan motor dan mobil rusak, alarm masih bersahutan, belum lagi kaca jendela yang ikut retak bahkan pecah mengotori lantai. Aiman dibantu berdiri oleh rekannya. Tak satupun dari mereka yang memahami apa yang terjadi.
"Ya Tuhan, lihat kekacauan ini?!" Gumam Aiman lirih.
"Siapa orang itu pak, saya belum pernah melihat kejadian seperti ini seumur hidup." Ujar salah satu polisi muda yang mengusap kasar wajahnya.
"Entah, aku juga belum pernah. Anggap saja ini … keajaiban alam?"
__ADS_1
Aiman dan rekan lainnya saling pandang dalam diam. Mereka tak tahu harus melaporkan apa pada atasannya. Yang mereka tahu ruang tahanan kini tak bisa lagi digunakan.