Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Kabar Kabur


__ADS_3

Ferdian dan Reino menjalin keakraban setelah seminggu mereka bersama. Reino merasa nyaman dengan adanya Ferdian begitu juga dengan Ferdian yang terhibur dengan Reino yang dianggap seperti adiknya sendiri. Bersama Reino, Ferdian melupakan kesedihannya berada jauh dari Mia dan Agung.


Seperti pagi ini, Ferdian sudah disibukkan dengan membuat sarapan ala kadarnya dibantu Bu Siti, asisten rumah tangga Reino. 


"Rein, telurnya setengah matang?"


"Yup, awas masaknya nggak lebih dari sepuluh menit!" sahut Reino yang sepagi ini asik bermain games.


"Mas Reino sukanya telur setengah matang begini kalo sarapan, ditambah buah atau jus gitu pak." Bu Siti menambahkan.


"Ohya, bagus itu. Nggak heran badan dia sehat. Cuma sayang, manja!"


"Aku dengar itu dengan jelas, mas!" seru Reino tanpa berpaling dari layar besar di depannya.


Ferdian terkekeh geli, tak lama sepiring sarapan sehat sudah siap. Dua telur setengah matang plus potongan buah untuk Reino. 


"Silahkan tuan muda!"


Reino berdecak senang, "Wiih mantap niih, kenapa nggak dari dulu aja si mas kita ketemu kan lumayan buat temen ngobrol." ujar Reino sambil memecahkan kulit telur.


"Temen berantem juga kan?" Ferdian menyuapkan nasi goreng buatan bu Siti ke dalam mulutnya.


"Itu jelas," Reino mengganti games nya dengan tayangan berita di televisi.


"Hari ini kita kemana mas, jalan yuk! Bosen mumpung belum ada tugas dari Thomas!"


"Boleh, kita spend money! Lagian aku nggak ada baju Rein masa iya pinjem kamu terus."


"Ide bagus, saya pengen beli jam tangan baru mas, nanti temenin milih ya?"


Ferdian mengangguk dan keduanya melanjutkan obrolan. Saat sedang asik membahas rencana hari itu, Ferdian dikejutkan dengan penayangan sebuah berita. Matanya menatap tak percaya pada layar televisi.


Pembunuhan satu keluarga yang dilakukan keji oleh seorang remaja. Entah mengapa firasat Ferdian buruk, ia mengenali rumah itu. Rumah peninggalan orang tuanya, tapi siapa yang menghuninya sekarang.


"Ada apa mas?" Reino bertanya karena penasaran. Wajah Ferdian berubah serius dan terus menatap layar televisi.


Ferdian masih diam tak menjawab, ia mengganti saluran lain dan mencari berita yang sama.


"Nggak mungkin, aku harap itu bukan Agung." desisnya lirih.


"Siapa, Agung? Anak mas, kenapa?" Reino mulai khawatir melihat ketegangan di wajah Ferdian.


Tatapan tajam Ferdian dan kepanikan yang tercetak jelas di wajahnya cukup memberikan informasi perasaan Ferdian saat ini. Reino menunggu Ferdian bicara, tapi tak lama bel berbunyi. Bu Siti dengan tergopoh-gopoh mendekati Reino.


"Mas, ada tamu."


"Siapa Bu?"

__ADS_1


"Nggak tahu mas, tapi orangnya gagah, ganteng, bager menii alus pisan. Kalo nggak salah tadi bilangnya Malik."


Reino mengernyit heran, ada apa Malik datang. Ia meninggalkan Ferdian yang masih terpaku melihat berita menghebohkan itu.


"Pagi Rein, apa kabar?" Mantan kurir senior itu tersenyum lebar saat melihat Reino mendekat.


"Baik, pak Malik datang sama bodyguard?" tanya Reino mengintip dari balik punggung Malik.


Pria yang masih terlihat muda meski usianya menginjak sembilan puluh tahunan itu mengangguk. "Mereka itu penting buat saya!" sahutnya dengan kerlingan mata.


"Ya, ya … silahkan duduk! Ada perlu apa nih sepagi ini datang."


"Aku dengar kamu memiliki partner? Ferdian?"


"Ternyata gosip di dunia kurir cepat juga. Betul, ada perlu sama mas Ferdi?"


Malik menaikkan sudut bibirnya, sedikit memiringkan kepala dan melanjutkan bicara. "Aku punya berita buruk untuk dia."


Reino terperanjat, "Berita buruk?" Ia mengintip ke arah ruang tengah dan mendapati Ferdian masih serius melihat berita. "Apa ini menyangkut putranya?"


Tatapan tajam Malik cukup memberi Reino jawaban atas pertanyaannya. "Misi kali ini akan sangat sulit karena salah satu dari kalian harus memutuskan untuk tetap bertahan atau berhenti sampai disini."


"Thomas mungkin belum mengatakannya pada kalian tapi misi menghadapi Tangkalaluk sengaja diberikan untuk melihat sejauh mana kemampuan kalian."


"Kenapa kemampuan kami harus diuji?"


"Ferdian akan menghadapi bagian tersulit, ia memiliki kesamaan latar belakang yang hampir sama seperti Thomas dan juga aku. Sedangkan kamu sedikit berbeda."


Reino menghela nafas panjang, "Dan aku yakin ujian ini akan diawali dengan kasus pembunuhan sadis pagi tadi kan?"


Malik mengangguk pelan, tapi kemudian ia tersenyum. "Aku yakin kalian akan berhasil melewati ini. Pesanku satu, ikuti kata hati dan tentukan pilihanmu."


"Mas, mau kemana?" Reino terkejut karena Ferdian sudah ada diambang pintu dan bersiap pergi.


"Ada yang harus aku pastikan, Rein."


Malik berdiri dan mencegah Ferdian pergi. "Boleh kita bicara sebentar?"


Ferdian menoleh ke arah Malik dan juga Reino, anggukan samar terlihat dari Reino menandakan agar Ferdian mengikuti kemauan Malik.


"Kenalkan, saya Malik."


Keduanya saling menjabat dan seketika Ferdian bisa melihat kilasan masa lalu Malik sebagai kurir.


"Anda, kurir?"


"Iya mas, pak Malik ini kurir senior." Reino menyahut.

__ADS_1


"Tepatnya mantan kurir." timpal Malik.


Ketiganya duduk dalam diam ketika Bu Siti meletakkan cangkir teh madu di meja. Bodyguard Malik yang berjaga di luar terlihat mulai waspada. Setelah Bu Siti berpamitan, Malik dengan kekuatan supranatural miliknya yang tersisa membuat tabir pelindung di sekitar mereka. Malik tak ingin pembicaraan mereka terdengar dan terlihat oleh bangsa halus ataupun manusia lain.


"Ferdian, dengarkan aku. Ini tidak akan mudah. Kondisinya buruk dan aku harap kau bisa menentukan pilihan dan bersikap." Malik mulai bicara.


"Apa maksud semua ini, Malik? Apa benar pembunuh keluarga itu adalah putraku?" Ferdian bertanya menahan getaran amarah di dada.


Malik menatap keduanya bergantian, "Aku bukan cenayang, tapi aku hanya tahu situasinya akan sulit bagimu."


"Jangan bilang semua ini dirancang Thomas sama seperti mereka merancang kematianku?!" 


"Tidak, kali ini semua berjalan sesuai takdir. Pembunuhan itu, putramu, dan kalian berdua sedang menjalani takdir unik yang kebetulan sekali sejalan dengan tugas kalian." Malik menarik nafas panjang sebelum kembali mengatakan sesuatu.


"Aku harap kalian bersiap menghadapi misi selanjutnya. Ini akan sangat menguras emosi dan juga tenaga kalian."


Malam menjelang, Ferdian urung pergi setelah Malik menjelaskan kondisinya. Larangan mendekat dalam kontrak berlaku meski keluarga nya ada dalam bahaya. Malik menjanjikan akan melindungi Mia dan juga Agung. 


Ferdian duduk termangu menatap foto kusam dalam dompetnya. 


"Semua bakal baik-baik saja mas, Malik sudah janji kan?" Reino menepuk bahu Ferdian, ia menyodorkan segelas jus jeruk.


"Orange juice? No alkohol?" Ferdian menolak gelas berisi jus itu, ia menggeser kembali pada Reino.


"No, ini rumahku dan kau ikut aturan disini!" Reino balas menggeser gelas.


Ferdian berdecak kesal, "Setidaknya ada hal yang bisa menenangkan pikiranku Rein!"


"Hmm, aku rasa aku tahu." Reino menjentikkan jari lalu,


"Mas Reeeiiiin … I'm comiiiiing! Siapa yang rindu akikah buat nyenyooong!"


Mata Ferdian membulat sempurna, "Oh God, dia lagi!"


"Mas Perdiiii!!! Akyu padamuuuh … satu tembang ciamik dari Sheila on sepeen buat mas perdiiiii yang lagi galau manjaah!"


"Kampret, gue geli liatnya Rein!" 


Reino terkikik geli melihat Ferdian bergidik saat John yang berubah jadi Janny bernyanyi sambil menyentuh tubuhnya.


Suasana riuh terdengar dari umpatan Ferdian dan gelak tawa Reino. John tak peduli ia terus bernyanyi bergantian antara suara bariton dan sopran. Hati Ferdian yang gelisah pun sedikit terhibur dengan kehadiran si gila John.


Sementara itu dalam gelapnya malam dan dinginnya hutan pinus, seorang anak remaja berjalan terseok-seok tanpa alas kaki, pakaiannya penuh noda darah, luka lebar menganga terlihat jelas di tangan dan kepala. Mata kanannya bahkan tak bisa lagi membuka karena bengkak dan luka. Hingga di satu titik ia terjatuh di atas tumpukan daun kering, menatap langit berbintang yang mulai redup di matanya.


Pah, mah, dimana kalian?! Tolong Agung!


 

__ADS_1


__ADS_2