
Di rumah itu mereka semua berada di ruang tamu sedang bermain domino, terlihat keseruan di di dalam rumah. Nenek dan para ceweknya sibuk membuat teh dan menggoreng pisang untuk di jadikan santapan malam.
"Wah parah lu, Kalah Cok." teriak Daniel mengungkapkan kekesalan nya pada teman nya.
"Ih kamu sih, ngeselin." ngambek zaka
Mereka terus bermain sampai lupa dengan keempat teman nya, bahkan mereka belum juga sadar kalau ke empat teman nya belum juga sampai di rumah saking asiknya main sampai zaka mulai panik dan bertanya ke teman nya.
"Eh kalian sadar nggak sih Seila dan yang lainnya, belum sampai." ujar Zaka.
"Wah paling masih di jalan liat nih baru jam 08:13 lewat." ujar Rendi.
"Lanjut main yok, paling bentar lagi mereka pulang." Ucap Daniel mereka lalu melanjutkan permainan itu, mungkin karena baru jam delapan lewat.
Flashback
Di perjalanan pulang mereka melewati beberapa perumahan warga tapi tidak ada orang nya. Ke empat anak itu mulai panik dan saling ngelirik satu sama lain, bagaimana tidak panik coba dia masuk ke kampung lain bukan kampung mereka.
"Loh kok kita ke sini, bukan nya jalan nya udah bener yah?" Tanya Dani heran dan menatap teman nya satu persatu.
"Iya udah bener kok tapi ini kita di mana?" Gumam seila menimpali perkataan Dani.
"Ihh kalian ini pada lupa jalan atau gimana, jadi takut." Dinda mulai panik.
"Ehh bentar guys ini kan kampung juga, tapi yang membuat aku heran kok kampung nya kayak tua banget yah. liat deh rumah-rumah di sana bukan nya itu terbuat dari nipa-nipa doang?" Rio mulai merasa ada yang tidak beres.
"Iya yah, kampung kamu kan kesan nya udah kayak modern gitu bangunan nya juga." Dinda mulai mengingat-ingat setiap rumah warga yang dia lewati di sore hari tadi.
"Jangan-jangan kita masuk ke kampung gaib, nenek memang pernah cerita kalau ada kampung gaib di dekat hutan." Seila mulai panik, Dinda mulai pucat tak karuan, untung di tas ransel Rio ada air satu botol besar bisa dia minum di perjalanan bareng teman nya.
"Nih siapa yang haus aku ada air minum nih," ucap Rio dengan menyodorkan botol Aqua besar, tanpa berkata-kata Dinda langsung mengambil air minum itu lalu meneguknya.
__ADS_1
"Baca bismillah dulu," ucap Rio, tapi Dinda tidak mendengarkan perkataan Rio tenggorokan nya memang dari tadi kering.
"Gimana dong cara keluar nya?" Tanya Dani ikutan panik.
Seila lupa membawa jimat yang di kasih oleh ibunya makanya kenapa dia dan teman nya malah tersesat, dia tidak menyangka kalau kejadian nya bakalan seperti ini.
"Kita keluar dulu dari rumah ini lalu kita tetap jalan lurus aja siapa tau ada orang lain di tempat ini." Usul Dinda
"Orang katamu matamu, yang ada hantu semua kali." Kesal Rio, mendengar perkataan Rio seila langsung memukul pundak nya.
"Ihhh jangan ngomong sembarangan siapa tau usulan Dinda ada benar nya, kalau kita cuma tinggal di sini mah sampai pagi baru bisa keluar. Mau kalian kelaparan di sini orang terkahir makan tadi siang kok." Seila membawa semangat Kembali bagi teman-teman nya yang lain.
Mereka lalu keluar dari rumah yang terbuat dari nipan itu, seila sempat berdoa semoga di selamatkan dan jalan nya di lancarkan bersama teman-teman nya sebelum keluar dari tempat itu.
Tapi yang terjadi sudah terlanjur terjadi, ini hukuman buat kedua sejoli tadi yang sudah merusak nama baik kampung asri permai. Dinda ngumpet di belakang Rio sambil sesekali menarik lengan bajunya.
"Ihh jangan gitu dong nanti baju ku robek kalau di tarik Mulu," akhirnya Rio mulai kesal, udah panik campur takut di tambah lagi dengan dinda yang tidak henti-hentinya menarik lengan bajunya.
"Kalian sih malah pergi main ke sungai air terjun pas magrib-magrib pula," kesal Dani.
"Eh tapi aku dari awal udah curiga sih soalnya kalau sore-sore mau menjelang magrib kok tidak ada orang yang mandi di situ yah." Tanya Rio.
"Iya aku dari kecil tinggal di sini juga sempat tanya juga dulu kok gitu, ternyata memang tidak boleh namanya pamali takutnya mereka tersesat terus tidak bisa pulang lagi." ucapan seila membuat yang lain semakin panik.
"Tapi tentang kampung gaib ini kamu pernah dengar nggak?" Tanya Dani tiba-tiba saat mulai hening.
"Kampung gaib.... kayak nya aku pernah dengar tapi walaupun sebagian orang menganggap itu hanya sebatas rumor banyak juga yang percaya yang benar-benar udah ngalamin hal itu."
"Owhhh gitu yah,"
"Sebenarnya kalau waktu magrib pendatang baru tidak boleh macam-macam ngelakuin hal yang aneh-aneh di atas gunung itu di atas air terjun ada salah satu bangun tua seorang bapak tua tinggal di sana dan selalu memperhatikan gerak-gerik orang jika melakukan hal yang tak senonoh jangan kan pendatang baru orang asli desa ini saja kalau ada yang berbuat mesum langsung dapat karma nya."
__ADS_1
Cerita seila barusan langsung membuat kedua sepasang sejoli saling melirik satu smaa lain. sontak hal itu membuat yang lain heran.
"Ada apa?" Tanah seila heran.
"Nggak ada apa-apa," saat situasi seperti ini saja mereka berdua tidak mau mengaku apa yang sudah mereka perbuat dan membuat penghuni lain terganggu.
"Owhh ya udah lanjut jalan yok." Ajak seila.
"Ahhhhhh, jangan jangan aku mohon jangan huhuhuuu." tiba-tiba dinda teriak-teriak seperti orang kesurupan. seila lalu berbalik benar saja ada yang menarik kaki Dinda dengan menggunakan baju warna putih dan rambutnya panjang di tambah wajah yang menyeramkan.
Dinda terus duduk di tanah itu dengan menutup kedua matanya sambil menangis tersedu-sedu karena ketakutan.
"Aku takuutt..... tolong aku.... huhuhuhu." Seila lalu membantu Dinda berdiri namun kakinya masih di tarik oleh perempuan kuntilanak itu. bukan hanya seila yang lihat bahkan Rio dan Dani juga melihatnya.
Baru pertama kali mereka melihat hantu seseram ini kecuali seila, Dani dan Rio saling bertatapan panik mereka bahkan hampir kencing di celana.
"Siapa kah engkau wahai wanita berbaju putih?" Tanya seila kepadanya.
"Aku adalah suruhan dato' siang." ucap nya dengan muka marah.
"Ada apa gerangan kenapa engkau menganggu kami?" tanya seila.
"Dia telah berbuat kerusakan di permandian tadi." marah kuntilanak itu.
"Apa yang telah dia lakukan wahai perempuan berbaju putih?" Tanya seila lagi.
"Dia telah berbuat mesum dan dia sekarang adalah tawanan ku." dia terus menarik dan mencakar betis Dinda sampai dia merasakan kesakitan.
"Sampaikan kabar ini ke dato siang cucumu menyuruhmu untuk melepaskan kami." ucap seila lalu kuntilanak itu menghilang.
...****************...
__ADS_1