
Waktu telah menunjukkan pukul 17:00 sudah sekitar jam lima sore, mereka semua sudah siap-siap untuk pulang. Di perjalanan melewati hutan seila tidak sengaja menyentuh pohon angker itu, badan nya langsung kejang-kejang lalu kesurupan. Anak-anak kecil lalu di antar cepat pulang ke rumah mereka masing-masing, sedangkan para cowok nya Berusaha membopong tubuh seila yang merontak-rontak di tempat itu sedangkan tidak lama lagi malam akan tiba.
"Apa yang sudah kalian lakukan di kampung ini?" Tanya wanita itu, suara nya bukan suara seila lagi melainkan suara orang lain. Semua yang ada di situ ketakutan dan teriak-teriak, satu persatu gadis itu lalu kerasukan. beberapa cowok semakin kewalahan.
"Ahhhhh, panas.... panas...." teriak Moli sambil menutup telinganya. Dia seperti di bakar oleh sesuatu semua badan nya terasa panas.
"Seila sadar kamu," ucap Dani. Namun seila mengelus rambut Dani dan berkata sesuatu kepadanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, Huhuhu...." dia mulai menangis. Dani semakin kebingungan ada apa dengan seila kenapa tiba-tiba seperti ini.
"Badan ku panas.... panas...." Moli mulai berlarian kesana kemari badan nya kepanasan.
"Lastri, dia Lastri kembang desa." mas Dion sangat ingat kejadian berapa tahun yang lalu yang di timpa Lastri.
"Lastri," gumam Dani.
"Lastri keluar kamu," Teriak Dion. Seila lalu mendekati Dion penuh kemarahan.
"Ini bukan urusan kamu, aku benci kalian semua. Hahahaha......" Seila mencekik leher mas Dion Dani lalu membantunya.
"Apa yang kamu lakukan seila sadar itu mas Dion, seila lalu melepaskan tangan nya dari leher Dion.
"Mas Dion, Hahahaha siapa kamu?" seila semakin menjadi-jadi.
"Maaf yah Lastri kami di sini tidak ingin macam-macam sama kamu, niat kami baik kamu harus keluar dari tubuh anak itu kasian dia." ujarnya
"Kasian, kasian..... kasian.....Hahahaha...." Lastri semakin menjadi-jadi dan tiba-tiba dia pingsan." seila pingsan kali itu dia benar-benar tidak ingat apa-apa.
"Loh ada apa ini?" Tanya dia kepada teman-teman nya. dia lalu mencari jimatnya tapi nggak ketemu, seila mulai panik dia lalu mencarinya di dekat danau itu. sedangkan yang lain masih kerasukan.
"Kamu cari apa seila?" Tanya nya.
__ADS_1
"Jimat nya ilang Dani, huhhuhuuu" ucapnya sambil menangis.
"Jimat yang mana? yang di kasih ibu." tanya Dani.
"Iya, gimana dong." seila terus mencari nya di tempat mereka tadi.
"Terkahir kamu simpan tas di mana?" Dani lalu mengingatkan nya.
"Tadi simpan tas di sini tapi takutnya malah di bawah sama air." Seila mulai berlari kesana kemari mencari jimat nya. Seila lalu duduk termenung dia menghela napas yang panjang lalu menutup matanya mencoba mengingat-ingat setiap kejadian yang telah terjadi barusan. dia lalu teringat suatu hal waktu mereka turun dari pengunungan dia sempat menarik tas nya untuk minum. bisa jadi jatuh di atas gunung itu, dia lalu menatap Dani.
"Dan aku ingat kayak nya jatuh di atas gunung itu deh," ucapnya di malam yang semakin dingin itu. Orang yang kerasukan telah di bawah ke kampung untuk di rukya oleh ustad.
Seila dan Dani lalu menaiki gunung itu, dia berdua berusaha mencarinya di rumput-rumput itu. Beberapa menit kemudian seila melihat ada benda putih berbentuk segi empat. dia menghampiri nya betul saja benda itu terjatuh tepat di mana dia tadi singga dan minum.
"Dani, aku udah dapat." ucapnya sambil mengusap-usap dadanya. ternyata jimat itu isinya doa mengusir jin dan syetan yang di bungkus dalam kain.
"Ya udah ayo pulang, berdoa dulu semoga tidak kesasar." Seila dan Dani lalu berdoa setelah berdoa mereka tidak khawatir bahkan takut lagi. lalu mulai mengayunkan sepedanya dengan lampu senter di sepeda itu. Tak cukup beberapa menit mereka sudah sampai di kampung itu terlihat orang-orang yang menatap mereka penuh keheranan.
"Dan gak ada orang." ucapnya heran.
"Coba tanya ibu-ibu itu." tunjuknya ke ibu-ibu yang lagi berjalan menjauh dari mereka.
"Sepedanya?" tanya seila.
"bawah aja biar lebih cepat." Dani dan seila mengayun sepeda itu takut kehilangan jeejak ibu itu.
"Ehh maaf Bu mau tanya orang-orang pada kemana yah di rumah juga gak ada orang." tanyanya kenapa ibu itu.
"Loh mba tidak tau, banyak warga ke mesjid soalnya tadi di hutan terjadi kerasukan massal." ucapnya.
"Owhh ya udah kami duluan yah mu makasih." seila lalu mengayun sepedanya mesjid di kampung nya cuma satu itupun jaraknya agak masih jauh dari sana.
__ADS_1
Sesampainya di mesjid di liatnya banyak orang di dalam mereka berdua langsung masuk. Benar saja beberapa orang di dalam sudah sadar tapi masih ada yang sampai pingsan. Seila menghampiri Renata yang emang tidak sempat kena karena dia tidak percaya sama hal seperti itu.
"Renata, gimana kejadiannya?" teriak seila pelan dan menghampiri Renata yang masih mengusap-usap kening Dinda dengan minyak kayu putih.
"Loh bukan nya lu ada tadi?" Tanya Renata heran.
"Tadi waktu sadar aku langsung mencari jimat yang di kasih ibu sebelum ke sini."
"jimat! apa itu?" tanya nya balik penasaran.
"Itu pelindung dari makhluk gaib," jelasnya ke renata.
"Tapi lu kan tadi yang mulai kesurupan duluan, berarti gak mempan yah?" Tanya nya lagi.
"Bukan gak mempan yah emang tadi jatuh makanya gak mempan." seila mulai kesal soalnya dia penasaran mau dengar renata menjawab pertanyaan tapi malah nanya balik.
"Tadi waktu kamu pergi dengan Dani satu persatu malah kena dan makin banyak, untung pak ustadz datang dan langsung menyuruh kami membawa mereka semua kem mesjid ini. Yah aku pikir kalian tadi ikut di belakang, jadi kami semua fokus membantu yang lain." Ucap Renata.
"Nggak papa, lagian kami berdua baik-baik saja kan."
"Eh gimana keadaan mereka, udah boleh di bawah pulang belum," tanya Dani yang melihat beberapa teman nya pingsan bahkan ada yang cowok juga." Renata binggung mau jawab apa.
"Coba tanya pak ustadz nya apa udah pada keluar atau belum."
"kamu aja aku malu," ujar Renata.
"Dani kamu dong," Dani hanya ingin berajuk
mereka saling menunjuk satu sama lain sampai akhirnya Seila lah lah yang mengalah.
Dia lalu mendekati ustadz yang sedang merukya mereka. Seila duduk di samping nya lalu bertanya.
__ADS_1
"Maaf pak ustadz apa teman saya sudah boleh pulang?" Tanya pak ustadz, pak ustadz itu menatap seila lama seperti melihat sesuatu di belakang nya yang terus mengikuti nya.