
Xing er dan Run Yu sudah berada di dunia Langit. Xing er kembali ke istana biru yang saat ini sudah dikuasakan padanya. Sementara Run Yu segera kembali ke istana Qing Shan milik nya.
Pria itu terlihat melamun di tepi ranjang, jantung nya kembali berdegup kencang ketika mengingat ucapan Xing er siang tadi ketika mereka sedang berada di dunia Atas Awan.
'Benarkah Xing er menyukai ku? Setelah melihat wujud asli ku, bukan dia menjauhi ku tapi dia malah semakin mendekati ku. Apa alasan nya. Atau dia hanya kasian padaku?'
Run Yu masih berperang dengan pikirkan nya.
****
Xing er melangkah keluar dari istana biru. Malam itu ia sebenarnya berniat menemui Run Yu. Namun ketika ia melangkah melewati halaman taman anggur yang luas, mata nya menangkap sebuah sinar api yang memerah jauh di sana.
Karena rasa penasaran nya, ia memutuskan untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat. Xing er berjalan mengendap-endap menelusuri sebuah kolam merah yang ada tepat di belakang istana Biru.
"Hah! Apa itu? Apa aku tidak salah lihat?" Xing er bertanya pada diri nya sendiri ketika melihat pancaran api merah namun berada jauh di kedalaman kolam.
"Aneh sekali. Jika itu api kenapa tidak padam berada di dalam air?" kembali Xing er bertanya tanya. Sesat ia terpesona dengan keanehan itu, kaki nya terus bergeser mendekati sisi kolam dan ia tidak menyadari jika sebelah kaki nya hampir menyentuh air, namun sebelum semua terjadi seseorang menyambar tubuh nya.
"Kau mau mati ya?" bentak seseorang itu.
"Aku .. Aku.!" Xing er benar benar terkejut menyadari kecerobohan nya, dan menatap seseorang yang sudah menyelamatkan nya itu.
"Pangeran kedua?"
"Ya, kau masih mengingat ku? Syukurlah kalau begitu. Ku pikir kau sudah hilang ingatan. Makanya kau hendak masuk ke kolam merah berbahaya ini." jawab Seseorang yang sudah menyelamatkan Xing er yang ternyata adalah Yan Xun Pangeran kedua.
"Berbahaya? Maksudmu?" tanya Xing er tidak mengerti.
"Ah, baiklah. Aku akan sedikit bercerita padamu tentang tempat ini. Ayo pergi dari sini." Yan Xun meraih tangan Xing er untuk melangkah menjauh dari kolam merah tersebut.
"Apa yang kau lihat sampai kau nekad mendekati kolam itu?" tanya Yan Xun ketika mereka sudah jauh melangkah.
"Aku melihat ada api di dalam kolam tersebut. Tapi aneh nya api itu tidak padam walaupun di dalam air. Dan aku, aku seperti tidak sadar ketika melangkah. Aku ingin sekali meraih nya." jelas Xing er.
__ADS_1
"Kolam merah itu sudah banyak menelan korban. Kasus nya sama seperti mu. Dan setiap orang yang tenggelam di sana tubuh nya akan lebur tak tersisa. Apa kau tau jika kolam itu juga sangat dalam? Begitu dalam hingga tidak ada yang bisa memperkirakan nya." ujar Yan Xun.
"Benarkah?" Xing er seperti tidak percaya.
"Benar. Kolam itu sebenarnya sudah ada sejak dulu, dan tidak berwarna merah seperti itu. Kalau sinar api itu katanya belum lama berada di situ, dan sinar api itu lah yang menyebabkan kolam itu berubah warna. Tapi semenjak aku lahir, Sinar itu memang sudah ada. Dan aneh, tidak ada satu pun yang bisa memecah apa sebenarnya itu, walaupun para dewa sekali pun. Apakah sebuah bola api atau benda. Dan lebih aneh lagi, tidak sembarang orang yang bisa melihat sinar api itu." jelas Yan Xun ,kini duduk di bangku yang berada di teras istana Biru. Xing er pun ikut duduk di sana . Seperti nya Xing er masih sangat penasaran dengan cerita kolam Merah.
"Jika tidak sembarang orang, kenapa tadi aku bisa melihatnya?" Xing er kembali bertanya.
"Mungkin saja kau adalah orang orang tertentu yang terpilih oleh kolam merah tersebut."
Xing er terkekeh mendengar jawaban Yan Xun.
"Kau benar, jika aku orang yang tertentu berarti aku adalah orang yang terpilih. Ya,.. terpilih untuk menjadi tumbal kolam merah itu." ucap Xing er.
"Bukan begitu." potong Yan Xun.
"Lalu apa?"
"Menurut mereka, ada sesuatu di dalam sana yang menginginkan seseorang untuk mengambil nya. Tapi sayang nya tidak ada yang mampu menyentuh air kolam yang tiba tiba saja bisa berubah sangat panas membara seperti api itu." kembali Yan Xun menjelaskan nya.
"Banyak, semua adalah keturunan dewa agung."
"Benarkah?" Xing er semakin penasaran dengan penjelasan Yan Xun.
"Sungguh. Aku sendiri bahkan pernah melihat nya. Tapi sebelum nya kami semua sudah di beritahu dan di peringatkan untuk tidak mendekati kolam itu. Hanya saja masih ada yang penasaran. Setiap yang sudah berada di tepi kolam itu dan menatap sinar itu, mereka seperti kehilangan akal sehat nya dan tidak bisa terkendali." ucap Yan Xun.
Xing er kini yakin dengan ucapan Yan Xun, ia merasa ngeri dan merasa beruntung Yan Xun datang tepat waktu menyelamatkan nya. Jika tidak mungkin saat ini tubuhnya sudah hancur melebur di kolam merah itu.
"Kalau begitu, aku harus berterimakasih sekali padamu Pangeran kedua. Jika kau tidak melihat ku tadi, mungkin aku sudah binasa." ucap Xing er.
"Kau memang harus berterimakasih padaku." jawab Yan Xun membusungkan dada.
"Ya.. ya..ya.. Terimakasih Pangeran Kedua. Terimakasih sang Phoenix Terimakasih Tuan Yan Xun. Terimakasih Sekali...!!" ucap Xing er membuat Yan Xun melambung senang.
__ADS_1
"Tidak cukup dengan Ucapan saja."
"Lalu kau mau apa dari ku?" Xing er membelalakkan matanya.
"Temani aku makan malam ini dan tujuh malam berturut-turut. Bagaimana? Kau bisa?" Yan Xun seperti sedang mendapat kan kesempatan emas untuk bisa mendekati Xing er, dan dia tidak mungkin akan menyia nyiakan kesempatan itu.
"Apa? Menemani makan malam? Tujuh malam berturut-turut! Kau sedang mempermainkan aku atau sedang memanfaatkan aku?"
" Hanya makan malam selama tujuh malam saja. Bukan tujuh purnama ini. Itu lebih murah di banding dengan nyawamu peri kecil." ucap Yan Xun yang juga membelalakkan matanya.
"Ah, baik lah. Akan ku turuti. Aku tau, kau memang bukan orang yang baik. Jadi kau tidak ikhlas menolong ku." jawab Xing er membuat Yan Xun terkejut, ia tidak menyangka jika ucapan nya akan menyinggung Xing er dan mendapat jawaban seperti itu.
"Eh, jangan bicara seperti itu. Aku hanya bercanda." seru Yan Xun menangkap pergelangan Xing er yang hampir melangkah.
"Tapi ada baiknya juga. Aku akan menemani mu makan malam selama tujuh malam. Karena aku tidak mau mempunyai hutang Budi pada mu." ucap Xing er.
"Tidak Xing er, aku hanya bercanda. Kau tidak perlu menemani ku makan malam."
" Tidak apa. Aku ingin menemani mu."
"Benar begitu. Tapi kau nanti akan mengatakan jika aku tidak ikhlas menolong mu." ucap Yan Xun.
"Tidak, tenang saja. Asalkan setelah tujuh malam kau dan aku impas. Tidak akan saling mengungkit masalah hutang Budi atau apa pun lagi." tegas Xing er.
"Baik, aku berjanji." jawab Yan Xun.
Di dalam hati nya ia bersorak bahagia. Akhirnya ia mendapat kan kesempatan untuk mendekati Xing er.
Yan Xun langsung berpikir jika tujuh malam itu akan ia gunakan untuk meningkatkan hubungannya dengan gadis yang sudah ia sukai sejak pertama melihat nya itu.
Ia akan menggunakan waktu itu dengan sebaik baiknya.
'Pangeran Pertama, lihat lah nanti. Gadis mu akan segera menjadi milik ku!'
__ADS_1
___________________