
Xing er telah berada di dunia atas awan. Dengan sambutan seluruh penghuni dunia atas awan yang mengiringi Xing er untuk melangkah dan menduduki tahta keistanaan milik Putri Iyar.
Dengan penuh keyakinan berbekal ingatan sang Dewi kedamaian yang melekat di otak nya, Xing er duduk. Sebuah Toya berada di genggaman nya menambah kesan wibawa Xing er.
Toya atau tongkat sakti milik Putri Iyar yang bisa berubah menjadi sebuah kipas sakti kini berada di tangan Xing er.
Bola mata indah Xing er berputar menatap sekeliling. Para dewa dan Dewi menunduk hormat padanya setelah mengucap kan selamat datang berkali kali pada pemimpin baru nya. Titisan Dewi kedamaian yang gagal dalam bereinkarnasi, tapi semua tidak mempedulikan hal itu. Bagi mereka Xing er yang merupakan titisan pemimpin mereka, walau hanya dengan ingatan Putri Iyar yang sudah dikembalikan oleh para tetua dewa sudah cukup membuat mereka bahagia dan meyakini kepemimpinan Xing er.
"Apa ada yang berubah selama Dewi pergi?" tanya Xing er memulai pembicaraan. Entah apa yang di pikirkan oleh nya, kenapa tiba tiba Xing er bertanya demikian? Seolah olah jiwa Putri Iyar sedang mengendalikan raganya.
"Tidak ada sang Dewi. Semua berjalan normal sebagai mana mestinya. Hanya saja , akhir akhir ini kami mendengar isu tentang kerusuhan di dunia iblis." jawab panglima Teng Su, seorang tangan kanan saat kepemimpinan putri Iyar.
"Baiklah, teruskan aktivitas semua nya. Tidak perlu risau. Aku di sini untuk menjaga keseimbangan seluruh penjuru dunia. Terutama Duni atas awan, Selain urusan pribadi ku sendiri." Ucap Xing er.
"Dan perlu aku tegas kan. Jika aku bukan lah, Dewi Kedamaian, melainkan Xing er sang Dewi Api. Tapi kalian juga harus paham, Aku tetap Putri Iyar kalian dulu." sambung Xing er.
"Kami mengerti Dewi!" jawab mereka.
"Laporkan jika ada kerusuhan apapun itu padaku sesegera mungkin. Karena tugas ku tetap lah untuk menjaga kedamaian." ucap Xing er.
"Kami mengerti Dewi!" jawab mereka kembali.
Tanpa mengerti apa yang baru saja ia ucapkan barusan, Xing er sedikit merasa asing dengan ucapan nya sendiri. Lalu Xing er memutuskan untuk ke ruangannya.
Ia bisa tahu, di mana ia mesti masuk.
Terpandang di sana sebuah ruangan yang luas dan mewah. Dengan ranjang yang begitu besar.
Tidak asing bagi nya,dan seperti sudah biasa melihat nya.
__ADS_1
Xing er melangkah dan duduk di ranjang.
Tiba tiba sekelibatan bayangan naga putih melintasi pikirannya. Xing er tersentak.
"Run Yu!" gumam nya keras. Ia teringat Run Yu, Kekasihnya. Bahkan saat ia di jemput para dewa dari Atas awan, Xing er tidak sempat menemui nya sekedar untuk berpamitan.
***
Beralih ke kediaman permaisuri Langit.
Mengenai Xing er yang kini sudah menjadi Dewi Api, membuat nya semakin menggebu untuk menjodohkan Xing er dengan Pangeran Kedua. Ia berpikir, jika itu benar terjadi adalah keuntungan besar bagi nya. Karena tidak mungkin jika saat ini ia akan tidak menyukai atau bermusuhan dengan Dewi Api. Yang ada banyak kendala dan kesulitan yang akan ia hadapi dalam keserakahan nya yang ingin melihat Putra nya menaiki tahta Kekaisaran.
Permaisuri Langit terlihat menemui Kaisar untuk membahas hal ini.
Permaisuri Langit nampak begitu antusias berbicara dengan Kaisar mengenai keinginan nya.
"Xing er adalah Dewi api saat ini. Itu artinya, ia berjodoh dengan Pangeran kedua yang merupakan Dewa Api. Bukan kah begitu paduka?"
"Karena kita belum pernah mencoba untuk membicarakan ini pada Xing er dan tentunya dengan Peri agung selaku pengasuh Xing er. Jika kita mau membicarakan hal ini , tentu mereka akan setuju." kilah Permaisuri langit.
"Tidak bisa. Aku tidak mungkin menarik ucapan ku sendiri. Bahkan aku pernah meminta mereka untuk menikah. Terlebih saat ini mereka sudah saling menyukai satu sama lain. Kau, tidak perlu ikut campur urusan pribadi mereka." ucap Kaisar langit.
"Paduka. Phoenix juga putramu. Dia lah putra terhormat mu. Bukan Run Yu. Seharusnya Paduka lebih membela nya. Sang Phoenix menyukai Xing er. Dan ingin menikahi nya." sahut Permaisuri.
"Jika begitu, harusnya tanyakan dengan Xing er. Siapa yang di inginkan nya. Beres kan?" Kaisar langit tidak ingin berdebat dan memilih untuk pergi meninggalkan istrinya.
Permaisuri Langit tentu saja tidak akan tinggal diam begitu saja mendapati keputusan Kaisar Langit yang seolah tidak menyetujui keinginan nya.
Langkah selanjutnya yang ia ambil adalah menemui Dewi Chan e untuk memintanya agar menarik perjodohan antara Xing er dan Run Yu.
__ADS_1
Ia pun pergi ke dunia air menemui Dewi Chan e.
"Yang mulai permaisuri. Ada kepentingan apa hingga Yang mulia menemui ku?" tanya Chan e menyambut kedatangan Permaisuri Langit.
"Aku tidak ingin berbasa basi padamu. Kau tentu sudah mendengar perihal Xing er yang kini sudah terlahir sebagai Dewi api. Kedatangan ku kemari hanya untuk meminta padamu agar menarik perjodohan antara putra bodoh mu itu dengan Xing er. Karena peraturan langit, Dewi api hanya akan bersanding dengan Dewa api. Kau mengerti?" sahut Permaisuri Langit.
Chan e tersenyum simpul.
"Benarkah begitu? Jika itu benar peraturan langit. Bagaimana bisa, seorang Dewi burung seperti Yang Mulia bisa bersanding dengan Kaisar Langit seorang dewa Naga. Lalu Dewa air dengan Dewi bulan? Jika ada peraturan baru, kenapa tidak Yang Mulia Paduka yang menyampaikan padaku?" tanya Chan e penuh penekanan. Ia tahu betul jika itu hanya lah akal akalan Permaisuri Langit saja tentunya.
"Kau berani menentang ku Chan e. Turuti mau ku, dan aku akan mengampuni mu beserta seluruh rakyat mu." ancam Permaisuri Langit.
"Saya tidak mungkin berani Yang Mulia. Jadi bagaimana jika urusan ini, kita serahkan saja pada Xing er. Siapa yang ia sukai. Tentu itu lebih baik dari pada kita yang tidak punya hak untuk mengatur mereka." jawab Chan e.
Sebenarnya Chan e paham sekali, jika saat ini ia berhadapan dengan sosok yang terkenal bengis dan tak berperasaan. Permaisuri Langit memang terkenal dengan kerakusan dan kesewang wenangan nya.
"Berani nya kau!" teriak Permaisuri Langit, menghantamkan sebuah pukulan sinar biru dari tangan nya.
Chan e yang tidak menyangka mendapatkan serangan dadakan tidak sempat menghindar. Tubuh Dewi ikan itu terpental. Beruntung, seseorang tepat waktu menangkap nya.
"Run Yu!" Chan e menoleh pada seseorang yang sudah membopong tubuhnya dan menyandarkan nya di dinding.
"Ibu. Ibu tidak apa apa?"
"Tidak apa apa. Kenapa kau kemari nak? Pergi Lah. Tidak perlu membantu ku. Kau akan dalam kesulitan." jawab Chan e.
"Tidak. Aku akan melindungi ibu. Percaya lah." sahut Run Yu, menatap dan melangkah mendekati Permaisuri langit.
"Berani sekali kau mencampuri urusan ku Pangeran Pertama. Kau lupa siapa aku?" ucap permaisuri Langit, penuh tatapan kebencian nya.
__ADS_1
______________________