
08:02 AM. The Jung Manor House.
"Anda baik-baik saja?" tanya Edmund ketika mendapati Laurine sedang berjalan menuruni tangga dengan sudah lengkap memakai setelan kantor rapih di pagi hari seperti ini.
Laurine hanya menatap Edmund sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju arah dapur untuk sarapan.
Edmund berjalan mengikuti langkah Laurine dengan kepala tertunduk. "Maaf untuk cara kerja saya dan para pengawal di sini saat kemarin yang tidak bisa mencegah Xavier"
"Hm. Tidak apa-apa. Kalian sudah bekerja keras, walaupun pada akhirnya kalian berakhir kalah dan dihabisi olehnya" ucap Laurine sesaat melirik wajah Edmund yang terlihat babak belur.
"Setidaknya itu masih baik dibanding aku yang hanya diam membiarkannya membunuh kalian"
"Saya benar-benar merasa bersalah. Dan saya juga sempat melihat dia pergi dengan membawa foto terakhir mendiang putri Anda. Apa saya harus merebut benda itu darinya? Walaupun taruhannya adalah nyawa saya sendiri, saya rela melakukannya untuk Anda"
"Tidak apa-apa, Tuan Lee. Dia juga Ayahnya. Selama ini dia belum pernah sekalipun melihat anaknya, bahkan hanya sekedar foto sekalipun. Lagipula dengan terus menyimpan foto kenangan terakhir itu, malah membuatku terus di hantui rasa bersalah"
"Tapi, Anda tetaplah seorang ibu. Terlepas dari apa yang Anda lakukan pada anak itu, saya yakin Anda sebenarnya sangat merindukannya"
"Tuan Lee, aku tersanjung dengan kata-katamu tadi. Namun, perkataan Xavier kemarin lebih tepat untukku. Aku tidak pantas menjadi seorang Ibu. Karena jika aku memang seorang Ibu, aku tidak akan melenyapkan darah dagingku sendiri"
Kini Edmund hanya terdiam. Tidak memiliki keberanian lagi untuk membalas perkataan Laurine.
Kemudian Laurine dan Edmund sudah sampai di sana. Menu makanan pagi kesukaan Laurine sudah di siapkan oleh pelayan. Cukup sederhana sebenarnya. Hanya pancake dan segelas susu.
Meja makan besar itu hanya ada satu orang saja yang sering memakainya. Rumah luas dan mewah itu sangat berbalik dengan kemegahan yang di perlihatkannya dari luar. Karena di dalamnya terasa sepi. Para pegawai pun sepertinya ikut merasakan atmosfer kesepian yang selama ini Laurine rasakan.
Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya, ayahnya meninggal secara misterius dua puluh tahun lalu dengan meninggalkan beban menjadi penerus perusahaan, lalu saudara kembarnya tengah terbaring koma selama lima tahun terakhir.
Jangan lupakan juga seorang bayi yang Laurine gugurkan tujuh tahun lalu. Mungkin jika masih ada, usianya kini menginjak sekitar enam tahun lebih. Anak kecil perempuan lucu yang akan menghadirkan jutaan kebahagiaan dan mengusir kesepiannya.
Andai saja. Itu semua hanya harapan yang mustahil Laurine dapatkan. Lengkap sekali penderitaanmu, Laurine Jung.
"Presdir, apa Anda sedang merasa tidak enak badan? Apa Anda sakit? Apa saya harus memanggil Dokter Freddy untuk memeriksa keadaan Anda?" suara Edmund membuyarkan lamunan Laurine yang sedari tadi hanya menatap makanannya.
Lantas Laurine menggeleng cepat dan mulai memakan.
"Tidak usah memaksakan diri untuk bekerja hari ini, Presdir. Pekerjaan kantor memang sedang banyak. Tapi, kesehatan Anda adalah hal yang paling utama"
"Lalu aku akan memiliki penilaian kerja yang buruk di mata para Komisaris dan Dewan Direksi. Mereka akan menggulingkanku dari posisi pimpinan perusahaan dan menggantinya dengan Pamanku. Menempatkan kembali Paman Anthony sebagai Pimpinan Perusahaan sama saja dengan mengkhianati usaha keras ayahku dulu untuk mendapatkan posisi ini"
Edmund menghela nafasnya gusar. Perkataan Laurine memang sepenuhnya benar. Lemahnya Laurine akan menjadi kesempatan emas Anthony.
"Setidaknya aku hanya perlu menjadi pimpinan perusahaan sampai Lucien bangun dari komanya dan segera menyerahkan beban ini kepadanya. Aku juga sudah lelah, Tuan Lee. Tapi, dunia seolah berkata jika beristirahat tidak diperbolehkan untukku. Kemudian seolah belum puas membuatku kelelahan, masalah besar kembali datang. Tuhan itu terlampau kejam, bukan?"
Edmund mengangguk. "Anda hebat, Presdir" pujinya tulus yang takjub pada sosok kuat Laurine.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Lee. Kehadiranmu selama ini yang selalu ada untukku sangatlah berarti"
Laurine tersenyum lalu melanjutkan kegiatan makannya dengan kepala tertunduk. Berusaha menutupi matanya yang sudah mulai memerah lagi.
__ADS_1
Mudah terbawa perasaan bukan berarti menandakkan jika Laurine lemah. Namun, itu karena hatinya yang terlalu kuat untuk menahan penderitaan.
Beban di pundak Laurine sudah terlampau berat. Hingga membuatnya merasa tidak bisa menahan lagi. Tapi, menyerah juga bukanlah hal yang Laurine bisa lakukan setelah bertahan keras hingga sekarang ini.
Jadi, sedikit mengeluarkan lelah lewat tangisan adalah solusinya untuk menguatkan diri.
...***...
02:25 AM. Bowling Longue.
Strike!
Bola itu berhasil menjatuhkan sepuluh pin. Xavier sedang asik bermain bowling seraya mendengarkan celotehan Marcus yang juga berada di sana.
"Kau harus lihat bagaimana kelihaian Ayahmu saat memacu kuda! Mungkin dengan kekuatannya itu, dia bisa memberikan sebelas adik untukmu!" seru Marcus antusias sembari memperagakan gaya berkuda Hans kemarin dengan cara yang ambigu atau lebih tepatnya terlihat kotor.
"Sinting!" umpat Xavier spontan.
"Aku pikir benihnya memiliki kekuatan bak tornado yang akan cepat sampai menuju tempat tujuan dan segera membuahi sel telur"
"Tutup mulutmu! Aku sedang memegang bola bowling seberat 3,5 kilogram yang lebih dari cukup untuk merusak asetmu!" desis Xavier seraya menunjukan bola bowling di tangannya yang membuat Marcus segera terdiam.
Lalu Xavier mengayunkan tangannya dan bola yang semula berada di genggamannya itu menggelinding dan kembali berhasil menjatuhkan pin-pin putih sana.
Strike lagi!
"Menembak, berkelahi, mengatur strategi, bahkan kini bermain bowling. Aku penasaran dengan isi otakmu itu. Apa ada mesin canggih di dalamnya? Sebenarnya apa yang tidak kau bisa?" ujar Marcus kembali bersuara.
Marcus memutar bola matanya malas. "Aku lebih tidak mengerti dirimu. Ayahmu juga. Paman Hand bahkan menyuruhku untuk mengajarimu menjadi playboy sepertiku. Kau mau tidak?"
Maka yang selanjutnya di lakukan Xavier adalah mengancang-ancang bola bowling yang berada di tangannya menuju ke arah Marcus.
Membuat Marcus sontak berlari cepat menjauh dan Xavier berjalan mendekat. Tapi, Marcus berusaha sembunyi dibalik meja bar yang kini menjadi penghalang diantara mereka.
"Ada apa denganmu? Ayolah. Kenapa sepertinya kau sangat sensitif hari ini?" renggut Marcus dengan terus berusaha menghindar dari Xavier yang kini terlihat seperti benar-benar akan melempar bola bowling itu kepadanya. "Sebelum-sebelumnya kau tak pernah seperti ini jika sedang aku ajak bercanda. Aku juga tidak mungkin benar-benar mengajakmu menjadi penggila banyak wanita sepertiku. Aku bercanda"
Terlihat Xavier tengah mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. "Emosiku sedang tidak stabil" katanya pelan.
Marcus menghela nafasnya lega dan berpikir bujukannya tadi berhasil membuat hati Xavier melemah. Namun, yang tidak di duga-duga terjadi. Bola yang Xavier arahkan pada Marcus tadi, tetap di lemparkan Xavier. Bukan ke Marcus. Tapi, menjadi di lempar ke arah tembok.
BUKH!!!
PRANG!!!
Bahkan saking kerasnya tenaga Xavier, bola bowling yang begitu kerasnya itu pecah terbelah beberapa bagian.
"Kau gila?!" pekik Marcus terkejut dengan wajah menganga tidak percaya menatap bola bowling yang malang karena menjadi korban luapan kemarahan Xavier.
"Wanita sialan!" geram Xavier dan menjatuhkan bokongnya di atas kursi.
__ADS_1
"Laurine lagi? Sekarang apa yang dia lakukan hingga membuatmu begitu marah seperti ini?" tanya Marcus seraya berjalan perlahan mendekat dengan hati-hati. Sedikit khawatir jika Xavier akan melakukan hal seperti tadi.
"Dia membuatku bingung. Dulu Laurine mengatakan jika dia mengugurkan janin itu karena takut reputasi keluarganya hancur. Tapi, kemarin dia mengatakan jika alasannya mengugurkan janin itu karena ingin melindungiku"
Marcus menyerengit bingung. "Melindungimu, katanya? Ah, wanita itu memang sulit dimengerti. Apa maksudnya?" gumam Marcus dengan otak berusaha menerka-nerka.
Begitupun juga Xavier yang tengah termenung memikirkan perkataan Laurine kemarin. Tapi, lamunan dua pria itu terbuyarkan ketika suara dering ponsel Xavier terdengar. Lalu Xavier mengeluarkan ponselnya dan sontak kedua matanya terbuka lebar melihat isi pesan itu.
Dominic baru saja mengirimkan foto. Di mana bukti potret itu menunjukkan jika Dominic seolah memamerkan pada Xavier bahwa dia sedang berada di kediaman Laurine. Xavier tahu, jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Laurine sebentar lagi.
...***...
02:37 AM. The Jung Manor House.
Hari ini terjadi keributan lagi. Setelah Xavier yang menghajar seluruh pengawal di manor keluarga Jung kemarin karena melarangnya masuk untuk menemui Laurine, kali ini giliran Dominic. Jika kemarin Xavier hanya datang sendirian, maka Dominic datang dengan membawa segerombolan anak buahnya.
Alpha Famiglia. Nama itu tertera jelas dengan berbentuk tato di lengan salah satu pria bertubuh besar yang datang bersama Dominic tadi.
Mendengar suara keributan di luar sana, membuat Laurine yang semula sedang memastikan penampilannya sebelum pergi ke menjadi terganggu. Dengan tergesa-gesa Laurine berlari menuruni tangga dan ke arah luar manor. Matanya membulat sempurna ketika melihat apa yang terjadi di sana.
Orang-orang asing sedang menghajar semua pengawalnya, termasuk Edmund yang sudah terkapar tak berdaya.
DOR!!! DOR!!! DOR!!!
Rentetan peluru ditembakkan ke atas langit oleh Dominic yang membuat Laurine sontak menutup telinganya. Itu adalah isyarat dari Dominic agar para anak buahnya segera menyudahi aksi kekerasan itu ketika matanya tak sengaja menatap sosok Laurine.
"Selamat pagi, Nona Jung" sapa Dominic sembari berjalan mendekat.
Laurine tidak menjawab dan mulai memundurkan langkahnya was-was.
"Jangan takut seperti itu. Aku tidak akan melakukan apapun padamu" kata Dominic lagi dengan terus berjalan mendekat seraya menyeringai iblis.
Tentu Laurine tidak akan percaya. Kakinya sudah bersiap untuk berlari kabur. Namun, Dominic yang sadar akan hal itu dengan cepat segera memberi kode pada salah satu anak buahnya yang posisinya berada di belakang Laurine.
Hingga akhirnya tepat ketika Laurine membalikan badan untuk berlari, pria tinggi dan bertubuh besar itu segera menghalanginya.
"Tapi, aku hanya akan meminjammu untuk memancing kemarahan kekasihmu"
Bersamaan dengan itu juga, Dominic segera membekap mulut Laurine dengan obat bius dari atah belakang.
Dua orang pengawalnya yang masih memiliki sedikit kesadaran, berusaha menolong Laurine. Tapi, para anak buah Dominic yang lain kembali menghajar mereka habis-habisan.
Awalnya Laurine meronta-ronta berusaha berontak dari kungkungan Dominic yang terus membekap mulutnya. Namun, obat bius itu bereaksi cukup cepat pada tubuh lemah Laurine. Kemudian kesadaran Laurine mulai menghilang dan perlahan pandangannya menjadi gelap.
"Xavier, tolong aku..." batin Laurine dengan penuh harap.
...TO BE CONTINUED...
...omg, gimana ini laurinenya...
__ADS_1
...disandera dominic dong...
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...