
07:49 PM. Street.
Hanya ada keheningan malam itu. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Di dalamnya ada dua orang dewasa berbeda gender. Xavier fokus mengemudi dan Laurine hanya terdiam menatap ke arah luar kaca jendela.
Setelah hampir seharian berada di tempat yang di sertai dengan keamanan super ketat milik Xavier, kini Laurine akan pulang ke rumahnya. Namun, tetap dengan Xavier yang mengantar. Memastikan Laurine agar selamat sampai ke tempat tujuan. Karena jujur saja kejadian penculikan kemarin membuat Xavier cemas pada keselamatan Laurine dan lebih protektif.
Lalu Laurine mengalihkan kepalanya ke arah jok belakang yang sedari tadi menganggu pikirannya. Di jok belakang itu terdapat beberapa barang khas Xavier. Seperti senjata pistol, pisau, rompi anti peluru dan masih banyak lainnya.
"Kau masih menjadi mafia?" tanya Laurine sedikit ketus menatap tajam Xavier yang duduk di kursi kemudi.
Xavier menoleh sesaat sembari masih mengemudi. "Kau seolah bertanya apa aku masih bernafas atau tidak. Tentu saja jawabannya iya, karena itu aku sekarang ada bersamamu. Pekerjaan ini sudah menjadi nafasku"
"Apa saja yang biasa yang kau lakukan sebagai mafia sekarang ini?"
"Masih sama seperti dulu. Menjalankan bisnisku dengan cara gelap. Aku membuka berbagai macam bisnis seperti diskotik, perjudian, klub malam, prostitusi, jual beli senjata, dan masih banyak lainnya. Bermacam-macam kegiatan ilegal dan kriminalitas. Kartelku ini sangat besar dan bisa memengaruhi sebuah kekuatan tertentu hingga sampai pada pengaruh politik. Kau pasti masih ingat saat di awal karirku dulu, aku berhasil membuat kekacauan besar dalam sistem pemerintahan dengan membongkar skandal para pejabat" kata Xavier di akhiri tawa pelan.
"Aku bahkan sampai menjadi buronan orang-orang bodoh itu. Kemudian mereka mengancamku dengan menyanderamu. Tapi, orang bodoh tetaplah orang bodoh. Pada akhirnya aku berhasil membebaskanmu dengan begitu mudahnya dan menyembunyikanmu ke luar negeri selama berbulan-bulan. Aku masih ingat ekspresi marah Lucien saat tahu saudari kembarnya aku sembunyikan tanpa sepengetahuannya"
Kekehan tersengar dari mulut Xavier. Sementara Laurine tengah termenung mengingat gaya berpacaran mereka dulu yang terlihat begitu berbahaya.
Diculik seperti kemarin bukanlah hal yang pertama bagi Laurine. Sebelum-sebelumnya dia juga pernah menjadi korban dari pekerjaan Xavier yang berprofesi sebagai mafia.
Laurine tersenyum satir seraya mengalihkan pandangan ke arah jalanan luar. "Itu menyenangkan dan juga menegangkan. Kau benar. Hubungan kita dulu pasti akan terasa hampa tanpa peristiwa-peristiwa seperti itu. Namun, jika bisa memilih, aku lebih ingin kau dan aku berasal dari latar belakang orang biasa. Sebab dengan begitu, mungkin hubungan kita tidak akan serumit ini dan berjalan normal seperti layaknya pasangan kekasih lainnya. Yang hanya memikirkan perihal tempat kencan apa yang akan dikunjungi untuk bersenang-senang, dan bukan memikirkan tentang bagaimana cara membalaskan dendam pada orang-orang yang mengancam nyawa salah satu dari kita" ucap Laurine dengan nada dingin dan tajam.
Senyum Xavier luntur seketika. Ucapan Laurine memang terdengar logis dan terdengar jauh lebih baik dibanding realita yang menimpa mereka selaa ini
"Kasus hilangnya Presdir Roxanne Corporation. Tuan John Park yang merupakan salah satu lawan bisnis terkuatku. Kau yang melakukannya, bukan?"
Pertanyaan sinis Laurine kembali terlontar dan Xavier mengangguk tanpa merasa dosa. "Aku menculiknya dan menjadikan tubuhnya sebagai pakan hewan black panther peliharaanku"
Laurine berdecak kesal. "Dan alasannya adalah aku?"
"Ya. Aku membencinya karena merebut proyek yang seharusnya digarap oleh perusahaanmu. Aku dengar kau sangat kesal karena masalah itu dan aku akan melenyapkan siapapun yang sekiranya menganggumu"
"Tapi karena hilangnya pria itu, aku sampai dicurigai oleh orang-orang. Bahkan kepolisian dan kejaksaan menginterogasiku"
"Namun, faktanya lagi itu hanya sekedar formalitas interogasi. Mereka memeriksamu selama kurang dari lima belas menit agar selanjutnya kau terlepas dari daftar para tersangka lagi"
"Kau tahu juga?" tanya Laurine mengerenyit.
"Tentu saja. Aku yang menyuruh para polisi dan jaksa itu. Ditutupnya kasus hilangnya pria tua bangka itu juga atas perintahku. Kau tenang saja. Tidak ada siapapun yang berani menyentuhmu lagi. Ada aku yang melindungimu"
Laurine memutar bola matanya malas. "Melenyapkan nyawa seseorang adalah ciri khasmu sekali!" cibirnya.
"Setidaknya aku membunuh orang dengan alasan yang jelas jika mereka bersalah! Tidak sepertimu yang membunuh orang tanpa alasan yang jelas!" balas Xavier tidak mau kalah.
"Cukup! Kau sudah berjanji tidak akan mengungkit peristiwa-peristiwa itu!"
"Kau yang memulai!"
"Selalu saja aku yang salah!"
"Memang kenyataannya seperti itu!"
"Kita baru saja berbaikan, tapi sudah adu mulut lagi seperti ini! Turunkan aku disini saja! Aku muak melihatmu!"
Xavier tidak menimpali lagi dan memilih untuk diam saja. Mengakhiri perdebatan karena tahu jika Laurine sudah benar-benar kesal.
"Kau tidak mendengarkanku?! Turunkan aku disini atau aku akan melompat!" teriak Laurine dan detik selanjutnya mobil berhenti.
CKIT!
Suara rem yang diinjak secara mendadak terdengar dalam suasana sunyi di lalu lalang jalanan itu. Namun, pintu mobil tidak bisa terbuka ketika Laurine menekan kenopnya. Itu karena Xavier yang memang sebelumnya sengaja menekan tombol agar seluruh baik pintu dan jendela mobil tidak bisa terbuka.
Lantas Laurine yang merasa kesal memukul-mukul kaca mobil sembari menggerutu. Sebelum akhirnya terdiam dengan memposisikan tubuhnya agar tidak menghadap ke arah Xavier yang kini terus menatapnya.
"Aku yang salah" kata Xavier lembut berusaha membujuk sembari mencoba menyentuh bahu Laurine.
"Jangan membahasnya lagi mulai sekarang. Hatiku merasa sakit" cicit Laurine pelan.
"Iya. Aku mengerti. Maafkan aku ya"
Kemudian tidak lama setelah itu Laurine mulai berbalik menatap Xavier kali ini. "Aku sedang kesal. Kau masih ingat apa yang harus lakukan untukku, kan?"
Sejenak Xavier terdiam berusaha mengingat hal-hal kecil yang selalu mereka lakukan semasa menjadi sepasang kekasih dulu.
__ADS_1
Xavier menggeleng. "Oh tidak, Laurine. Es krim vanilla di malam hari seperti ini? Yang benar saja! Lagipula aku sudah mengatakan tadi akan memastikan pola makanmu. Makanan manis tidak terlalu sehat dan kau bisa sakit"
Laurine sedikit memajukan bibirnya dengan mata menyendu yang entah kenapa membuat Xavier merasa gemas melihatnya.
"Jangan memasang wajah memelas seperti itu. Aku jadi ingin memakanmu disini juga"
Mendengarnya malah membuat Laurine termotivasi untuk membujuk Xavier lewat ekspresi wajahnya yang dibuat semakin memelas dan terkesan lucu.
Pada akhirnya Xavier mengangguk. "Baiklah. Aku akan membelikanmu es krim vanilla. Hanya kali ini saja. Karena mulai besok pagi kau harus mengurangi makanan manis dan lebih banyak memakan sayuran"
Lalu Laurine mengangguk antusias dan Xavier menangkup kedua pipinya gemas.
"Para pegawaimu itu harus tahu ekspresi Presdir mereka yang biasanya terkesan dingin saat kegirangan seperti anak kecil ini"
"Dan para anak buahmu itu harus tahu sikap patuh Bos mereka yang biasanya mengatur saat bisa diatur seperti ini" timpal Laurine.
Lantas Xavier menggeleng-gelengkan kepalanya dan beralih ke posisi awal untuk mengendarai mobil dengan berbalik arah menuju toko es krim favorit Laurine dulu yang masih dia ingat jelas.
"Es krim vanilla! Aku datang!" seru Laurine merasa senang bukan main ketika permintaannya dituruti oleh Xavier.
...***...
08:26 PM. Ice Cream Shop.
Pakaian serba hitam dengan aura gelap yang ada pada diri mereka terlihat berseberangan dengan suasana penuh warna toko es krim itu.
Sedari tadi Laurine memperhatikan sosok Xavier yang sedang memesankan es krim untuknya di sana. Lantas menegakan tubuhnya ketika Xavier mendekat ke arahnya seraya membawa semangkuk es krim vanilla.
"Bukankah kau keterlaluan karena memaksa toko ini untuk melayani kita padahal tadinya sudah hendak tutup? Padahal jika memang sudah tutup, aku tidak apa-apa. Ini salahku juga yang ingin makanan seperti ini di malam hari. Kau bisa membelikannya esok hari saja" ujar Laurine pada Xavier yang kini sudah mendudukan diri di hadapannya.
Xavier menggeleng. "Mereka dengan senang hati melayani kita"
Laurine menyipitkan matanya dengan tatapan penuh selidik. "Kau tidak mengancam mereka, kan? Apa kau sempat menodongkan pistol pada mereka tanpa sepengetahuanku?"
Lantas dengan cepat Xavier menggeleng. "Tidak. Aku masih memiliki hati nurani"
"Lalu?"
Tawa kekehan Laurine terdengar. "Itu berbohong namanya"
"Lebih baik berbohong daripada mengancam, kan?" tanya Xavier dan Laurine mengangguk setuju.
"Apa yang kau tunggu lagi? Cepat makan es krim vanilla kesukaanmu ini. Mereka bilang, toko ini harus segera tutup"
Lalu tanpa menunggu apapun lagi, Laurine segera memakan es krim vanilla di hadapannya melalui sendok. Begitu lahap sampai membuat cairan krimnya menempel di mulut yang segera Xavier usap lembut. Sesekali juga Laurine berbagai menyuapi Xavier es krim vanilla itu. Mereka terlihat mesra sehingga menarik perhatian para pramusaji di toko.
Tentu baik Laurine dan Xavier menyadari hal itu. Tapi, mereka hanya mengabaikan pandangan beberapa orang yang sedang memperhatikan dan hanya fokus pada dunia mereka sendiri.
"Maaf menganggu waktunya" suara seorang peamusaji toko terdengar mengalihkan pandangan Xavier dan Laurine.
Terlihat pramusaji yang memakai celemek berwarna ungu itu tiba-tiba sudah berada di dekat mereka mereka seraya membawa sebuah mangkuk berisi es krim vanilla.
"Melihat istri Anda yang sedang hamil ini begitu menyukai es krim vanilla, kami ingin memberikan satu mangkuk lagi dengan gratis. Tidak usah memikirkan toko kami yang sudah seharusnya tutup. Jika ingin lagi, segera katakan kepada kami. Keinginan seorang ibu hamil adalah hal yang utama" kata pramusaji itu lalu meletakan mangkuk yang dibawanya tadi tepat di samping mangkuk sebelumnya yang hampir habis.
Laurine mengangguk canggung dan melirik sesaat ke arah pria di hadapannya. "Baiklah. Terima kasih. Maaf sebelumnya" Lalu salah satu tangan Laurine terulur untuk mengusap perut ratanya. "Bayiku ini baru berusia tiga minggu di perutku, tapi keinginannya sudah bermacam-macam dan membuatku kerepotan. Sekali lagi, aku meminta maaf"
"Tidak, Nona. Anda tidak perlu meminta maaf. Saya dan pramusaji toko ini lainnya dengan senang hati melayani Anda" sanggah sang pramusaji sembari tersenyum manis.
"Kebaikanmu pada istriku yang sedang hamil ini akan selalu aku ingat. Terima kasih" lanjut Xavier.
Pramusaji itu mengangguk sopan dan melangkah pergi meninggalkan Xavier dan Laurine yang sama-sama sedang menahan tawa karena merasa sudah berhasil membohongi orang.
"Sepertinya mereka percaya jika aku memang sedang hamil" gumam Laurine berbisik seraya kembali memakan es krimnya.
Xavier mengangguk setuju. "Dosa karena membohongi mereka ditanggung olehmu"
Laurine mendelik tajam. "Kenapa aku?! Bukankah kau yang memulai?!"
"Tapi, kau yang membuat mereka semakin percaya dengan mengusap-ngusap perutmu seolah memang sedang hamil seperti tadi" bisik Xavier.
Sejenak Laurine terdiam dan mengangkat bahunya acuh. "Salah mereka yang gampang dibodohi. Logikanya tidak ada wanita hamil dengan tubuh kurus sepertiku ini" kata Laurine dan beralih memakan es krim vanilla baru pemberian pramusaji tadi.
"Omong-omong, aku juga punya es krim vanilla khusus jika kau mau" celetuk Xavier sembari mengusap krim putih yang ada di sudut bibir Laurine.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Bahkan dulu kau juga sering melihat dan merasakannya. Masih ingat?"
Butuh beberapa detik bagi Laurine untuk mengerti sampai akhirnya melayangkan tatapan tajam pada Xavier. "Dasar mesum!" ketusnya sembari menepis tangan Xavier yang sedang menyeka krim di sudut bibirnya.
Lantas Xavier tertawa pelan. Menggoda Laurine adalah salah satu hal yang dia sukai.
"Kau pikir hanya kau yang mempunyai es krim vanila? Aku juga punya!" renggut Laurine tak mau kalah sembari mengusap noda krim putih di bibirnya secara sensual berusaha membalas godaan Xavier.
"Nakal!" desis Xavier menggeram pelan seraya mengigit bibir bawahnya dan membuat Laurine tergelak.
...***...
08:56 PM. Ice Cream Shop - Street.
Para pramusaji toko es krim itu membungkuk ramah pada Xavier dan Laurine yang tengah melangkah keluar dari toko.
Mereka berjalan menuju ke arah parkir tempat dimana mobil di simpan seraya bergandengan tangan. Laurine masuk ke dalam mobil dengan Xavier yang membukakan pintunya. Tidak lupa juga Xavier memastikan kepala Laurine agar tidak terbentur bagian atas mobil dengan melindungi kepala wanita itu dengan salah satu tangannya. Lalu Xavier berjalan ke arah lain dan ikut masuk ke dalam mobil.
"Ya ampun, Laurine! Kau menghabiskan lima mangkuk. Sepertinya besok kau harus segera memeriksakan gigimu" gerutu Xavier sembari memasangkan sabuk pengaman pada Laurine.
"Kau cerewet" keluh Laurine. "Hanya memakan empat mangkuk es krim tidak akan membuat gigiku langsung ompong"
Xavier menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menginjak pedal gas dan mobil pun bergerak maju membelah jalanan yang lumayan sudah sepi itu karena hari memang sudah larut malam.
"Sepertinya kau sangat menyukai es krim rasa vanilla itu ya" kata Xavier lagi.
"Tentu saja. Aku sudah lama tidak memakan es krim rasa vanilla semenjak 7 tahun yang lalu" ucap Laurine.
"Kenapa?" tanya Xavier mengerenyit bingung.
"Karena itu akan mengingatkanku padamu. Semua hal yang biasa aku lakukan bersamamu tidak pernah aku lakukan lagi. Sebab itu akan membuatku sedih. Aku hanya mengenang dan tidak untuk melakukannya"
Suara Laurine terdengar lirih dan Xavier menghela nafasnya pelan.
"Apa kenangan kita dulu sangat menyiksamu?"
"Ya. Sangat"
"Lalu apa bagimu pertemuan kita ini juga justru akan semakin membuatmu sakit?"
"Mulanya aku juga berpikir seperti itu. Oleh karena itu, saat pertemuan pertama kita di perayaan hari jadi Perusahaan, aku berusaha keras menghindarimu. Namun, ternyata kembali bertemu dengan mantan kekasih tidak terlalu buruk juga. Bagaimana menurutmu? Apa kau berpikir seperti itu juga?"
Laurine menatap lekat Xavier dengan mata berbinar sembari menunggu jawaban dari pria itu.
"Niat awalku menemuimu adalah untuk membalaskan dendam"
Selanjutnya wajah ceria Laurine berubah menjadi masam setelah mendengar perkataan Xavier yang cukup tajam tadi
Xavier menoleh dan menyunggingkan senyumnya tipis. Kemudian kembali beralih fokus ke arah jalanan karena sedang menyetir. "Namun, kejadian kemarin sudah cukup menjelaskan semuanya. Melihatmu diperlakukan buruk oleh orang lain saja membuat hatiku tidak nyaman, lalu bagaimana mungkin jika aku sendiri yang memperlakukanmu buruk seperti itu? Hidupku pasti akan penuh dengan kekacauan nantinya"
"Kau hanya membatalkan niat balas dendammu, bukan benar-benar memaafkanku. Hatimu sebenarnya masih dipenuhi oleh kebencian"
Lantas Xavier mengangguk membenarkan. "Rasa cinta juga" timpalnya.
"Aku pasti membuatmu kebingungan antara harus lebih mendahulukan perasaan yang mana dulu" kata Laurine dengan kepala mendunduk merasa bersalah.
"Oleh karena itu, jangan membuat kesalahan fatal lagi atau aku akan mengabaikan rasa cinta dan beralih membencimu sepenuhnya"
"Ya. Aku juga berharap seperti itu"
Laurine dan Xavier tidak tahu saja bahwa terkadang keadaan justru selalu melakukan hal yang sebaliknya dari harapan. Angan hanya akan membuat semuanya justru semakin kacau. Melenyapkan cinta dan menumbuhkan benci.
Hukum alam yang kejam.
...TO BE CONTINUED...
pen spoiler dikit deh. kata-kata terakhir xavier adalah konflik yang muncul nantiπ₯Ί
kira-kira kesalahan apalagi yang akan
dilakukan oleh si wanita cantik ini
__ADS_1