
Flashback 10 Years Ago...
March 28th 2013.
14:48 PM.
Xavier kembali ke kegiatan sehari-harinya, yaitu membantu menjalankan bisnis gelap milik sang ayah.
Meskipun rasa sakit akibat puluhan pukulan yang dilayangkan oleh Henry padanya beberapa hari lalu masih terasa, namun Xavier harus berusaha terlihat baik-baik saja layaknya robot canggih yang tahan banting.
Di tempat yang terpencil dengan suasana menyeramkan itu terlihat banyak sekumpulan pria-pria bertubuh kekar. Hari ini ada transaksi jual beli senjata ilegal antara sebuah kelompok gelap bernama Black Clan dan pembeli yang juga merupakan kelompok kriminal lain.
Pertemuan itu terlihat serius dengan keamanan dijaga ketat karena baik kelompok Alpha Famiglia maupun Black Clan sama-sama memiliki tingkat sentimental dan bahaya yang tinggi.
"Jangan banyak lama. Kau menyita banyak waktuku, Pak Tua" kata Xavier ketus kembali membuka pembicaraan di tengah suasana keheningan nan menegangkan.
Pria tua berusia 75 tahun dihadapannya itu terkekeh dengan masih mengamati pistol yang berada di genggamannya.
"Memang butuh waktu lama untuk memeriksa barang yang aku beli dengan mahal"
"Barangku tidak akan ada yang mengecewakan. Aku jamin itu. Semuanya berkualitas tinggi, jadi tidak perlu khawatir"
Benoit Hwang-- Pemimin Alpha Famiglia yang sedang berbicara dengan Xavier tadi beralih menyimpan senjata sembari mengalihkan pandangan ke arah Xavier.
Lalu seorang pria bertato dan wajah menyeramkan datang mendekati Benoit sembari membawa 2 buah tas berisikan uang cukup banyak dan menyerahkannya pada Benoit dengan gestur sopan.
"Bayaran untuk 9 buah pistol X-25 ini" kata Benoit seraya meletakan 2 tas itu di atas tanah dan berada di tengah antara dirinya dan Xavier.
Anak buah Xavier muncul dan memeriksa uang yang berada dalam tas tersebut dengan teliti dan hati-hati. Sampai akhirnya menatap Xavier dan mengangguk sebagai kode bahwa uang itu adalah uang asli yang membuat transaksi jual beli ini berakhir lancar tanpa ada kerusuhan.
Kemudian Xavier dan Benoit sama-sama beranjak dari posisi duduk mereka lalu berjabatan tangan sebagai tanda kesopanan. Kemudian Xavier yang terlebih dulu melepaskan jabatan tangan itu.
"Aku akan memesan lagi dengan jumlah lebih banyak lain kali"
"Hubungi saja ayahku atau anak buahku jika ingin memesan lagi. Tidak perlu membuat permintaan khusus ingin bertemu denganku secara langsung" ujar Xavier ketus dan beralih melangkahkan kaki dengan posisi kedua tangan dimasukan ke dalam saku.
"Aku ingin bertemu denganmu secara langsung karena penasaran pada sosok pria muda yang sering dibicarakan banyak orang ini"
Lantas Benoit terlihat juga ikut berjalan berusaha menyamakan langkahnya dengan Xavier. Faktor tenaga dan umur membuat Benoit terlihat kesusahan ketika ingin menyusul Xavier sehingga harus dibantu berjalan oleh salah satu anak buahnya.
Hal itu juga yang membuat para anggota dari kedua organisasi gelap tersebut seolah menyalakan mode siaga dengan berjalan mengikuti dan arah pandangan terus mengawasi. Sebetulnnya keadaan masih belum dikatakan aman sepenuhnya karena Benoit dan Xavier masih berada di tempat yang sama dan berada di posisi yang berdekatan.
"Omong-omong, aku dengar kau juga mendapatkan permintaan barang terbarumu ini dari Jerman, China, Lebanon, dan beberapa negara lainnya. Menyebarluaskan senjata ilegal di wilayah kekuasaan sendiri saja sudah cukup sulit dan kau dengan berani mengirim ke luar negeri. Aku memuji keberanianmu itu. Pantas saja saat bermain judi denganku seminggu lalu, Ayahmu terus bercerita menyombongkan kehebatanmu padaku. Tapi ternyata memang seperti itulah kenyataannya" kata Benoit membuka pembicaraan lagi.
"Kau iri?" tanya Xavier menaikan sebelah alis dengan terus berjalan yang masih juga diikuti Benoit di belakang.
Benoit mengangguk. "Mempunyai keluarga besar hanya membuatku kerepotan. Anak dan cucuku itu malah terlihat seperti preman kampung daripada mafia. Apalagi salah satu cucuku yang bernama Dominic. Dia mempunyai keinginan dan antusias yang besar, namun tidak sebanding dengan kemampuannya yang amatir. Anak itu hanya bisa mengonggong tanpa berani mengigit"
Kemudian Xavier sudah sampai di tempat mobilnya terparkir dan masuk ke dalam kursi penumpang belakang. Lalu menurunkan kaca mobil sembari melontarkan tawa meremehkan. "Kawanan hamster tidak cocok hidup di hutan belantara. Mereka lebih cocok tinggal di kandang kecil yang dilengkapi mainan dan menjadi tontonan yang cocok untuk anak-anak"
Meskipun egonya terusik karena Xavier sedang menghinanya, namun Benoit memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Keluarga Hwang membutuhkan gen unggul sepertimu. Tidak ada satupun yang bisa dipercaya untuk memegang tahta kekuasaan milikku ini pada semua anggota keluargaku. Aku punya cucu perempuan cantik dan seumuran denganmu yang bernama Helena. Jika kau bersedia dijodohkan dengannya, aku bisa memberi keseluruhan bisnis dan wilayah kekuasaan kelompokku padamu. Lagipula aku tidak akan mewariskannya pada anak dan cucuku. Jadi sekarang aku dengan senang hati ingin memberikannya padamu dengan syarat kau harus menikahi salah satu cucuku. Karena dengan begitu jika nanti kalian mempunyai anak, setidaknya masih ada keturunanku dalam meneruskan bisnisku ini"
Selanjutnya Xavier tersenyum sinis dengan arah pandangan ke depan tanpa mau menatap Benoit yang mencerminkan karakter sombong. "Kau sedang mengajukan lamaran padaku?"
"Bisa dikatakan seperti itu. Membeli senjata terbarumu ini hanyalah akal-akalanku untuk bisa bertemu langsung denganmu. Aku benar-benar serius dengan perkataanku. Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Pikirkan baik-baik dan aku harap kau menerima tawaranku. Ayahmu juga sudah aku beritahu sebelumnya dan katanya semua keputusan tergantung padamu. Kita akan sama-sama diuntungkan dalam hal ini, bukan?"
Xavier termenung dan tiba-tiba saja terpikirkan Laurine. Entah kenapa dalam posisi ini Xavier memikirkan seorang gadis yang baru saja ditemuinya kemarin, namun sudah berhasil mendapatkan ruang khusus dalam hati Xavier.
Siapakah yang akan dipilih Xavier?
Helena atau Laurine?
...***...
19:46 AM. Black Clan Bar.
__ADS_1
Entah sudah botol keberapa yang Xavier minum. 1 botol wiski sudah habis ditandas Xavier seorang. Pemuda itu hanya terduduk sendirian di salah satu kursi bar yang kebetulan juga merupakan salah satu aset bisnis milik ayahnya.
Xavier hanya duduk menyendiri dengan pandangan kosong ke arah depan. Kegiatannya selama 45 menit terakhir hanyalah meminum wiski yang dituangkan sendiri olehnya dan melamun seperti sedang memikirkan hal rumit.
Pikirannya sedang terfokus memikirkan sosok Laurine, tawaran Benoit, dan menimbang-nimbang keputusan. Xavier tertarik menerima tawaran menguntungkan lawan bisnisnya itu, tapi ragu selalu melingkupi hati.
"Kau seperti sedang menanggung beban hutang negara"
Ucapan seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunan Xavier. Menoleh ke arah samping kanan dan mendapati Noah yang sudah duduk di sampingnya seraya seolah memberi isyarat lewat tangan pada barista untuk memesan segelas cocktail.
"Ceritalah pada Paman tentang masalahmu. Umurmu masih sangat muda dan sangat disayangkan jika mati di usia muda" kata Noah dan tanpa menunggu lama segelas cocktail pesanannya pun datang cepat.
"Benoit Hwang menawarkan untuk memberi seluruh kekuasaan dan bisnis kelompok Alpha Famiglia padaku dengan syarat aku harus menikahi salah satu cucu perempuannya yang bernama Helena" ucap Xavier membuka suara.
Noah seketika membulatkan mata dan hampir saja tersedak cocktail yang sedang diminumnya. "Lalu kau memikirkan apalagi?! Terima saja tawaran itu!" seru Noah. "Ini adalah kesempatan besar yang hampir semua orang dari kalangan kita inginkan. Aset kekuasaan dan bisnis kelompok Alpha Familia tidak main-main. Benoit Hwang itu gangster nomor 1 pada jamannya, meskipun kini tidak satupun dari anak dan cucunya yang mampu menyainginya. Mungkin karena itulah dia menyukaimu dan ingin kau yang mewarisi semua hal yang sudah di milikinya, meskipun kau bukan anggota keluarganya. Kau mempunyai potensi besar, Xavier. Sangatlah bagus jika kau mempunyai kuasa atas 2 kelompok besar. Ini bukan sekedar bagus, tapi juga menakjubkan. Aku jamin bahkan ayahmu akan rela bersujud di kakimu" lanjutnya antusias.
"Tapi, dia ingin aku menikahi salah satu cucu perempuannya"
"Dimana letak permasalahannya? Kau hanya perlu menikahinya dan bukan jatuh cinta padanya. Benoit juga pasti tidak peduli akan hal itu. Dia hanya ingin kau meneruskan tahtanya tanpa melupakan hak keluarganya juga"
"Aku paham, Paman. Tapi tetap saja rasanya ini tidak bisa aku lakukan" ujar Xavier lalu menghela nafas resah dan kembali meneguk wiski.
"Kau sedang mengencani seseorang?" tanya Noah tiba-tiba curiga dan Xavier menggeleng.
"Lalu? Sedang mendekati seorang wanita? Berencana menjadikannya kekasihmu?"
"Bukan siapa-siapa" Lagi Xavier menggeleng keras kepala.
Salah satu tangan Noah terulur mengusap bahu Xavier. "Tingkah lakumu menunjukan hal yang sebaliknya. Kau bukan sedang resah memikirkan betapa buruknya menikahi Helena, tapi kau sedang berpikir betapa buruknya tidak bersama dengan seorang gadis yang kau cintai sekarang ini"
"Aku tidak mencintainya!" sela Xavier dengan suara yang tiba-tiba meninggi.
Kemudian Noah terkekeh pelan berusaha mencairkan suasana. "Lalu apa?"
Noah mendengarkan penjelasan Xavier seraya mengangguk-nganggukan kepalanya paham. "Baiklah. Anggap sampai sekarang ini kau hanya menyukainya, lalu rasa itu akan berlanjut pada jatuh cinta. Jangan membohongi dirimu sendiri. Jatuh cinta itu ketika kau memiliki hasrat besar untuk memilikinya. Kau tidak bisa menerima wanita lain karena kau juga hanya ingin dirimu dimiliki olehnya. Singkatnya kau menjadikannya sebagai prioritas dalam hidupmu. Seolah dia berkuasa penuh atas dirimu"
Tidak ada perkataan lagi yang terlontar dari bibir Xavier. Perkataan Noah tidak bisa disangkal lagi oleh Xavier dan juga membenarkan jika rasa yang tengah menguasainya sekarang ini merujuk ke arah jatuh cinta.
"Lalu aku harus bagaimana?" Xavier bertanya.
"Banyak orang yang kehilangan cintanya karena terlalu ragu mengambil kesempatan untuk memiliki sang pujaan hati. Kedua orang tuamu adalah salah satunya dan aku berharap kau tidak menjadi seperti mereka yang hidupnya hampa tanpa cinta. Lupakanlah segalanya dan prioritaskan seseorang yang akan memberimu rasa cinta tak terbatas itu"
Tak butuh waktu lama bagi untuk Xavier memahami apa yang dimaksud oleh Noah. Awalnya Xavier hanya diam termenung memahami perkataan Noah sebelum akhirnya beranjak dari duduknya dan melangkah cepat pergi dari bar itu. Noah masih di tempatnya dan hanya memandang tubuh Xavier yang mulai menghilang seraya tersenyum.
Sementara itu Xavier kini mulai berlari lalu mengerang ketika merasa bodoh dengan perasaan khawatir sekalligus bingung bagaimana caranya untuk bisa menemui Laurine. Lalu Xavier mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya untuk menghubungi Marcus.
Telepon itu segera diangkat oleh Marcus tanpa menunggu lama. "Ada apa, saudaraku?"
Suara Marcus dari ujung telepon sana dengan samar-samar juga terdengar suara seorang wanita. Xavier bisa menebak jika Marcus sedang berkencan.
"Katakan dimana alamat rumah Laurine. Tadi pagi aku meminta kau untuk mengantarnya dan beritahu padaku" pinta Xavier tanpa basa-basi.
"Alamat siapa katamu? Laurine? Untuk apa memangnya? Alamat rumah itu bersifat privasi dan aku tidak bisa memberikannya asal begitu saja pada orang asing" tanya Marcus lagi meminta pengulangan dan ingin mempermainkan Xavier.
"Jangan mempermainkanku. Aku bisa saja membuat hubunganmu dan wanita yang sedang bersamamu sekarang berakhir. Ini adalah selingkuhanmu yang ke-4, bukan? Aku punya banyak bukti untuk diperlihatkan padanya atau bahkan mereka semua"
"Hey!" Marcus tiba-tiba berteriak panik menutupi suara Xavier dengan suaranya. "Baiklah, Brengsek. Aku akan segera mengirimkan alamat lengkapnya padamu" lanjut Marcus berbisik lalu sambungan telepon dimatikan oleh Marcus dari arah sana.
Butuh setidaknya 15 detik untuk Xavier menerima pesan dari Marcus. Kedua sudut bibir Xavier pun terangkat tipis dengan mata berbinar senang menggambarkan penuh harap disana.
...***...
20:21AM.
__ADS_1
Xavier mengendarai mobil dengan pandangan berpendar ke arah sekitar. Alamat yang dikirimkan Marcus tadi tertuju pada sebuah kawasan permukiman mewah elit.
Sampai akhirnya pandangan Xavier teralihkan sekejap ketika matanya tak sengaja melihat Laurine di dalam kursi mobil penumpang belakang yang melaju kencang dari arah berlawanan dan terus melaju hingga posisinya mulai menjauh dari posisi Xavier.
Namun, fokus Xavier masih terarah ke arah mobil yang membawa Laurine itu. Matanya terus menatap mengikuti posisi mobil tersebut sampai tidak sadar jika ada mobil lain dari arah lain yang melaju kencang ke arahnya.
BRAK!!!
CKIT!!!
CKIT!!!
Kedua mobil tersebut akhirnya bertabrakan . Fokus Xavier pun teralihkan, sementara mobil yang membawa Laurine juga sudah berada dalam posisi yang lumayan jauh. Untungnya Xavier memiliki gerak refleks yang baik.
Baik Xavier maupun pengemudi mobil yang baru saja menabraknya itu sama-sama menginjak rem sehingga mobil tidak bertabrakan terlalu parah. Hanya bagian depan mobil saja yang sepertinya terlihat rusak.
"Sial!" umpat Xavier seraya memukul setir kasar dan sesaat menatap Laurine yang kini sudah hilang dari pandangan.
Kemudian pengendara yang baru saja menabrak mobil Xavier tadi keluar dengan ekspresi wajah bersalah. Rupanya seseorang itu adalah Edmund yang tak lain adalah Sekretaris atau tangan kanan kepercayaan TJ Group selama belasan tahun terakhir.
"Maaf, Tuan. Saya sedang terburu-buru" kata Edmund sembari mendekat menuju ke arah Xavier dan membungkukan badannya berulang kali.
"Saya akan bertanggung jawab, namun nanti setelah saya sudah membereskan urusan saya. Maaf sebesar-besarnya, Tuan. Tolong hubungi saya secepatnya untuk meminta kerugian"
Ketika hendak memberikan kartu nama dengan jarak yang lumayan dekat dengan Xavier, Edmund seketika terdiam sesaat menatap Xavier terkejut.
"Oh?! Bukankah Anda pemuda yang kemarin menolong Nona Laurine?!" pekik Edmund setelah berhasil mengingat Xavier lalu menjentikkan jarinya. "Benar! Anda orang itu!"
Xavier tidak menanggapi lewat perkataan dan hanya menganggukan kepalanya singkat sebagai jawaban.
"Entah saya harus berterima kasih atau marah pada Anda. Namun yang Anda lakukan kemarin memberi keuntungan dan juga kerugian bagi Nona Laurine" ujar Edmund menghela nafasnya gusar.
Ucapan Edmund menarik perhatian Xavier dan kini pemuda itu menatap Edmund dengan serius. "Apa maksudmu? Laurine kenapa? Ada apa dengannya?"
Edmund tidak menjawab dan beralih menyelipkan kartu namanya di wiper kaca mobil Xavier . Lalu berjalan untuk masuk kembali ke dalam mobilnya. "Hubungi saya segera. Sekarang saya ada urusan penting"
Tapi ketika Edmund mulai menjalankan mobilnya lagi terburu-buru, mobil Xavier secara tiba-tiba menghalanginya dan bahkan menabrak bagian depan mobil Edmund cukup keras sampai mengenai pembatas jalan.
Melihat itu sontak membuat Edmund terkejut bukan main seraya menatap Xavier yang kini tengah keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya dengan aura kelam. Aura yang memancar dari Xavier membuat Edmund ketakutan. Laki-laki muda yang baru saja menginjak usia 18 tahun itu menatap tajam seraya menarik kerah kemeja Edmund kasar.
"Jawab pertanyaanku! Apa yang terjadi dengan Laurine?!" bentak Xavier.
Terlihat Edmund beberapa kali meneguk ludahnya susah payah dengan leher tercekat. Pikiran Edmund sesaat berkelana pada kejadian kemarin saat di rumah sakit dimana Xavier dengan mudahnya melawab banyak pengawal Lucien."K-kau ini siapa?" tanyanya terbata-bata dan gugup.
"Tidak penting aku siapa. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku tadi atau aku akan membolongi seluruh tubuhmu dengan ini" desis Xavier dengan satu tangannya lagi memperlihatkan pistol revolver yang berada di dalam jas hitamnya.
Untuk kesekian kali Edmund meneguk ludahnya susah payah. "Ceritanya panjang, Tuan. S-saya harus s-segera mencegah Tuan L-lucien" jawabnya gugup sembari berusaha melepas cengkraman Xavier pada lehernya.
"Kalau begitu jelaskan poin utamanya saja!"
Cengkraman tangan Xavier di leher Edmund justru semakin keras yang membuat Edmund kesusahan bernafas.
"B-baiklah. A-kan saya jelaskan, t-tapi tolong lepaskan ini"
Kemudian cengkraman Xavier pun perlahan melepas. Namun tidak sampai di situ, kini Xavier beralih mengeluarkan pistolnya dan menempelkannya di kepala Edmund. Hal itu membuat Edmund rasanya tidak bisa bernafas lega sejak bertemu dengan Xavier dari sekitar 4 menit lalu.
Edmund pun akhirnya bercerita dengan hati was-was takut Xavier melakukan sesuatu yang berbahaya padanya. "Nona Laurine dan Tuan Lucien bertengkar hebat tadi siang. Tuan Lucien bergitu marah atas kejadian kaburnya Nona Laurine kemarin, namun sebetulnya Tuan Lucien juga keterlaluan karena memaksa Nona Laurine agar mengingat kejadian kelam di malam itu. Tragedi di masa lalu terlalu menyakitkan bagi Nona Laurine. Sangat menyakitkan sampai Nona Laurine memilih untuk menghapus memori buruk itu, tapi Tuan Lucien justru ingin hal yang sebaliknya. Ingatan Nona Laurine dibutuhkan demi bisa memecahkan kasus pembunuhan ayah mereka yang sampai sekarang belum bisa terselesaikan. Nona Laurine diberi pilihan tetap tinggal di sini dengan syarat harus berusaha kembali mengingat kejadian itu, atau..." ucapan Edmund bergantung dan dijeda sebentar.
"Atau apa?!" cecar Xavier.
"Atau memutuskan tali persaudaraan dengan Tuan Lucien dan dipindahkan ke tempat asing. Pada akhirnya Nona Laurine memilih untuk diasingkan saja dengan syarat bisa hidup tanpa tekanan. Tuan Lucien tidak pernah main-main dengan ucapannya dan karena itu saya berusaha menahannya agar tidak benar-benar mengasingkan Nona Laurine. Saya tidak tahu pasti, tapi sepertinya Tuan Lucien membawa Nona Laurine ke salah satu negara di benua Eropa. Nona Laurine mungkin akan tinggal di sana selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini"
Xavier membeku mendengarkan pernyataan Edmund. Sorot matanya menyendu dan salah satu tangannya yang memegang pistol ke arah Edmund tadi melemas.
"Apa ini? Apa aku sudah kehilangan kesempatan yang dimaksud Paman Noah itu? Apa aku sudah kehilangan Laurine bahkan saat aku belum sempat memilikinya?" batin Xavier bertanya-tanya dengan hati getir.
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...inget ya setiap part yang berjudul special chapter itu adalah flashback tentang masa lalu mereka. so please pahami and i hope you enjoy this story...