Lex Talionis

Lex Talionis
08. Stupid Brute


__ADS_3

10:47 PM. The Jung Manor House.


Isak tangis dan linangan air mata sudah tidak ada. Laurine masih termenung di dalam kamarnya dengan tampilan yang sangat berantakan. Duduk di atas lantai dan bersandar ke pintu. Matanya masih memerah dan tubuhnya terasa lemas. Wanita itu menggeram frustasi. Keadaannya kini benar-benar kacau.



Sementara itu, mobil Lykan Hypersport berwarna putih baru saja keluar dari pekarangan rumah manor keluarga Jung. Dengan terus mengemudi, Xavier sesaat melirik bangunan itu.


"Laurine, apa yang kau sembunyikan dariku?" gumam Xavier.


Kemudian menertawakan dirinya sendiri karena merasa jika semua ini sangat konyol. Mengingat percakapannya dengan Laurine tadi, membuat Xavier merasa jika dirinya adalah orang yang paling tidak tahu menahu tentang alur kehidupan ini.


Xavier merasa ada banyak seribu rahasia yang disembunyikan Laurine darinya. Tapi, haruskah dengan mengorbankan nyawa orang lain yang tidak bersalah?


Tujuan Xavier kembali menemui Laurine adalah ingin membalaskan dendam untuk mendiang putrinya. Sedari awal pun Xavier sudah tidak dapat percaya penuh saat dulu Laurine mengatakan menggugurkan janin dengan alasan jika bayi itu hanya akan menghancurkan reputasinya yang merupakan anggota keluarga konglomerat terpandang.


Tidak. Xavier tahu betul bagaimana sikap manis dan tulus dari seorang Laurine. Meskipun sebenarnya kini Laurine memang sudah berubah menjadi wanita yang dingin dan keras kepala. Lalu yang Xavier ingin cari tahu alasannya lagi tentang kejadian lima tahun lalu. Sebuah peristiwa di mana Laurine yang menembak Helena di hadapannya langsung.


Hari itu seharusnya adalah hari pernikahan antara Xavier dengan wanita yang dijodohkan dengannya. Namun, hari itu malah menjadi pertumpahan darah. Hanya Xavier lah satu-satunya saksi di kejadian itu. Tepatnya saat Xavier hendak menjemput Helena untuk menuju ke altar putih. Sesuatu yang mengejutkan ketika mendapati Laurine sedang beradu mulut dengan Helena dan berakhir Laurine menembak Helena hingga tewas.


Namun, untuk melindungi Laurine, Xavier tidak memberitahukannya pada sepupu Helena yaitu Dominic. Lalu bagian buruknya lagi upaya perlindungan Xavier untuk Laurine itu, malah membuat Dominic menduga jika Xavier lah yang membunuh Helena.


Semuanya rumit. Xavier yang rela selalu di ganggu oleh Dominic demi Laurine. Misalkan saja seperti sekarang. Mobilnya diikuti oleh dua mobil. Tentu ini bukan untuk pertama kalinya bagi Xavier.


Setelah tertangkap basahnya seorang penyusup suruhan Dominic untuk memasuki markas Black Clan secara diam-diam, rencana selanjutnya Dominic adalah menganggu Xavier secara terang-terangan. Selalu strategi Dominic yang sama selama lima tahun terakhir ini dan mudah di tebak bagi Xavier.


Salah satu mobil yang mengikutinya tadi melaju lebih kencang. Xavier terjebak di apit oleh dua mobil sekaligus dengan mengeluarkan serentetan peluru ke arahnya.


DOR!!!


DOR!!!


DOR!!!


...***...


10:56 PM. Turf Horse.



Di tempat lain, tengah terjadi pertarungan yang tak kalah seru. Pacuan kuda adalah olahraga yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Olahraga ini cukup populer di kalangan masyarakat.


Tentu seru sekali menonton kuda-kuda tersebut saling berkejaran satu sama lain supaya menjadi yang tercepat. Seperti saat ini. Dua kuda itu berpacu di sebuah lapangan luas. Berlari dengan kecepatan tinggi dengan sesekali meringkik keras.


Meskipun malam semakin larut dan cuaca semakin dingin. Mungkin bagi mereka, beraktifitas di malam hari seperti ini adalah hal yang biasa dan semakin memancing nyali.


Marcus berada di posisi pertama dan Henry berada di posisi kedua.


"Lebih cepat lagi, Paman! Apa hanya seperti itu kemampuanmu?!" teriak Marcus membuat Hans merasa di remehkan.


Hans lebih menghentak-hentakkan tali kekang kuda coklatnya. Membuat kudanya berlari lebih cepat bahkan menyusul kuda putih yang ditunggangi Marcus. Suara tepukan tangan terdengar dari beberapa pria berbadan kekar yang berada di sekitar ketika Hans sampai di garis finish terlebih dahulu dan kemudian Marcus menyusul.


"Tidak peduli dengan umur, kau memang masih terlihat gagah! Aku sangat mengangumimu, Paman!" puji Marcus berseru antusias.


Hans terkekeh pelan lalu turun dari kuda kesayangannya dengan dibantu oleh seorang pengawal.


"Tentu saja. Maka jangan heran jika Xavier juga gagah seperti yang bisa kau lihat sekarang ini. Hampir semua yang ada padaku menurun padanya" ujar Hans bangga.


Marcus mengangguk setuju seraya turun dari kuda. Kemudian mengikuti Hans dari belakang yang kini tengah berjalan menjauh dari lapangan pacuan kuda sana. Sedangkan di sekeliling, beberapa pengawal juga mengikuti. Bertugas menjaga seperti biasa.

__ADS_1


"Bagaimana dengan bisnis-bisnisku?" tanya Hans tanpa menghentikkan langkahnya.


"Tidak usah khawatir. Xavier meneruskannya dengan baik, Paman" jawab Marcus.


"Tapi, aku dengar beberapa akhir ini salah satu diskotikku hampir saja tutup karena bangunannya yang roboh dihancurkan oleh ledakan granat. Lalu sekitar dua puluh tiga senjata dicuri dari gudang penyimpanan"


Marcus mengusap tengkuknya yang tidak gatal karena gugup. "Ah, itu..."


"Apa ulah Dominic lagi?"


"Ya. Tentu saja. Siapa lagi orang yang berani menganggu Xavier terus-terusan selain pria gila itu? Tapi, Paman jangan mengkhawatirkan apapun. Xavier sudah membereskannya dengan cepat"


Hans mengangguk-nganggukan kepalanya paham. Kemudian berjalan memasuki sebuah pondok besar yang merupakan kandang untuk menyimpan kuda-kuda miliknya dengan Marcus berjalan di belakang mengikuti. Baru saja memasuki tempat itu, suara-suara ringkikan kuda terdengar seolah menyambut Hans.



"Wah! Apa semua ini kuda-kuda milikmu?" decak kagum Marcus dengan pandangan berpendar ke arah sekitarnya.


"Ya. Selain mengoleksi senjata, aku juga suka mengoleksi kuda seperti ini. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau biasa kau simpan dengan jumlah banyak?"


"Wanita" kata Marcus santai yang mengundang gelak tawa Hans.


Satu pukulan tidak terlalu keras mendarat di kepala Marcus. "Aku bertanya serius, bocah nakal!"


"Tapi, aku juga menjawab serius. Paman bisa menanyakan hal ini pada Xavier. Hari ini saja aku sudah mendapatkan selingkuhan baru lagi. Bahkan Xavier menyebutku Zeus si penggila wanita"


Lantas Hans terkekeh mendengarnya. "Aku penasaran dengan ekspresi Noah saat tahu jika anaknya adalah penggila wanita seperti ini. Karena yang aku tahu, sahabatku itu sangat setia pada Ibumu" ujar Hans sembari memberi makan rumput salah satu kudanya yang berwarna hitam.


"Justru Ayahku sendiri yang menasehatiku jika aku harus mencari pengalaman sebanyak mungkin selagi masih berusia muda. Jadi, aku akan memanfaatkan masa mudaku dengan mengencani wanita sebanyak mungkin"


Hans menggeleng-gelengkan kepalanya seraya beralih mengusap-ngusap ke kudanya yang lain. "Dasar bodoh! Mungkin Ayahmu mengatakan itu dengan arti ingin kau mencari pengalaman bermakna tentang hidup dan bukan pengalaman mengencani banyah wanita"


"Bagiku tidak ada bedanya, Paman. Dari wanita-wanita itu juga aku bisa mengambil banyak pelajaran. Bakat berbohongku selalu terasah setiap harinya. Paman harus melihatku saat sedang membohongi para kekasihku. Aku ini sangat berbakat dalam bersandiwara. Mungkin jika tidak dikirim padamu untuk dididik menjadi anggota organisasi Black Clan, aku sudah menjadi aktor film yang hebat" ungkap Marcus bangga.


"Ajaklah dia untuk menjadi pria dengan banyak kekasih sepertimu. Itu lebih baik daripada setia, tapi dibalas dengan air tuba. Aku muak melihatnya terus mengejar wanita itu"


Marcus menjentikkan jarinya. "Benar, bukan? Aku juga muak, Paman! Sangat muak!" serunya bersungut-sungut.


"Tanpa kau suruh pun aku sudah melakukannya berulang kali, Paman. Tapi, Xavier tetaplah Xavier yang setia pada Laurine. Bagaikan Odyssey yang hanya mau menjatuhkan hati pada Penelope" keluh Marcus mengendikan bahunya.


Helaan nafas gusar keluar dari mulut Hans. "Di banding bahagia, wanita itu malah lebih sering membuat Xavier menderita. Putraku yang malang"


...***...


11:04 PM. Street.


Meleset.


Lagi-lagi tembakan itu tidak mengenai mobil yang di kendarai Xavier sedikit pun. Untungnya posisi mereka saat ini jauh dari keramaian. Berada di jalan sepi dan lumayan gelap.


"Payah!" desis Xavier meremehkan sembari dengan terus mengendarai mobilnya berupaya menghindari rentetan tembakan yang diarahkan padanya.


DOR!!!


DOR!!!


DOR!!!


Sekitar sudah sepuluh menit aksi kejar-kejaran diiringi tembakan itu terjadi. Posisi Xavier yang tadi semula sempat di apit oleh dua mobil itu, menjadi di depan dengan jarak lumayan jauh karena kecepatan mobilnya yang bukan main-main.

__ADS_1


Xavier memang sengaja terus memancing seperti ini agar peluru lawan mulai menipis dan habis.


Benar saja. Tembakan sudah tidak lagi di lepaskan.


Selanjutnya Xavier melepaskan salah satu tangannya dari setir kemudi. Meraih sebuah pistol yang berada di dashboard mobil.


Setelah pistol sudah berada di genggamannya, Xavier membuka kaca mobil dan sempat melambaikan tangan sebelum akhirnya sedikit menyembulkan kepalanya lalu mulai menembak.


DOR!!!


Kekuatan peluru itu tidak main-main. Berhasil menembus kaca mobil yang posisinya berada di belakang dan menembak kepala sang sopir.


Mobil oleng kemudian jatuh ke jurang dan suara ledakan terdengar keras tak lama setelahnya.


BOM!!!


"Cukup mudah ternyata" gumam Xavier dengan seringai mengerikan.


DOR!!!


Kali ini mobil satu lagi yang berada jauh di belakangnya berulah dengan kembali mengeluarkan tembakan. Tidak ingin kalah, Xavier mengeluarkan tubuhnya dan duduk di jendela kaca dengan mobil yang tetap berjalan karena sebelumnya sebelumnya sudah Xavier tekan tombol mode auto pilot.


Mustahil memang. Tapi, perlu di tekankan lagi jika ini adalah Xavier. Seorang mafia yang melakukan hal berbahaya seperti itu adalah hal biasa untuknya.


Lalu Xavier mengarahkan pistolnya dan menembak lagi.


DOR!!!


DOR!!!


Seperti biasa. Tembakan Xavier memang tidak pernah meleset. Menembak tepat pada dua ban mobil belakang mobil yang posisinya berada di belakangnya.


Terlihat mobil mulai berjalan lebih lambat karena ban yang meledak akibat tembakan Xavier. Segera juga Xavier kembali menyetir dengan posisi tubuh yang benar. Kemudian menginjak rem untuk memelankan mobilnya.


BRAK!!!


Mobil yang berada di belakangnya itu menabrak mobilnya dengan keras. Butuh setidaknya tiga kali senggolan dari arah depan, sampai akhirnya mobil itu berhenti berusaha menghindar dari mobil Xavier karena bannya yang benar-benar meledak dan sudah tidak layak untuk terus melaju.


Orang yang duduk di kursi penumpang dalam mobil itu hendak kembali menembak. Namun, rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak pada dirinya sebab peluru sudah habis.


"Sialan!" umpatnya sembari membuka pintu mobil hendak kabur diikuti temannya yang duduk di kursi supir.


Tapi, sebelum mereka berhasil kabur, Xavier sudah terlebih dahulu keluar dari mobilnya dan menekan pelatuk pistol.


DOR!!!


Peluru itu berhasil mendarat di leher pada salah satu orang itu. Lalu Xavier mengarahkan pada arah dada kiri seseorang yang satunya lagi.


DOR!!!


Tembakan terakhir terdengar. Mengakhiri pertempuran mengerikan di malam hari yang gelap itu dimana Xavier adalah pemenangnya. Tentu kata kalah tidak pernah ada dalam kamus hidup Xavier. Pria itu begitu cerdik, bengis dan menyeramkan.


...TO BE CONTINUED...


jan maen-maen kelean sama ni gangster๐Ÿ˜Ž



fyi, marcus itu temen xavier. ga punya hubungan darah, tapi mereka itu deket banget. ayah marcus juga sahabat hans atau ayah xavier, seperti yang sudah di selipkan di teks naskah di atas. jadi jangan heran kalo marcus tuh anggota black clan yang kayanya ga terlalu formal sama xavier ataupun hans. oh iya aku juga pernah baca, katanya kalo dalam sebuah kelompok mafia tuh kekeluargaannya bener-bener rekat. and that's the reason why aku ngegambarin marcus deket banget sama xavier padahal status mereka di kartel beda.

__ADS_1


dan beda lagi kaya edmund yang sopan banget sama laurine. pengusaha dan mafia itu beda. walaupun mereka sama-sama berbisnis, mafia itu lebih ke dunia bawah tanah yang di mana hal-hal ilegal sering terjadi. kalo pengusaha seperti laurine itu lebih ke konglomerat. usaha mereka transparan untuk publik. attitude juga perlu di perhatikan.


sebenernya ini ga guna juga sih, ga ngaruh ke alur cerita. tapi gapapalah ya biar karakter mereka lebih tergambarkan lagi๐Ÿ˜‚


__ADS_2