Lex Talionis

Lex Talionis
10. Kidnapped


__ADS_3

03:05 AM. The Jung Manor House.


Xavier kalang kabut ketika mendapat pesan singkat berupa keterangan foto dari Dominic yang sedang berada di rumah Laurine. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya beberapa mobil hitam anak buahnya mengikuti.


Dominic benar-benar mengibarkan bendera perang. Menurut Xavier, Dominic sudah keterlaluan karena mengikutsertakan Laurine dalam masalah mereka. Atau lebih tepatnya sebenarnya Xavier lah yang ikut campur dalam masalah antara Laurine dan Dominic. Karena bagaimanapun juga hal-hal buruk yang selama ini Dominic lakukan di dasari rasa dendamnya pada pembunuh Helena. Namun, ada kekeliruan di sini karena Dominic mengira jika yang membunuh Helena adalah Xavier.


Sesampainya di kediaman itu, Xavier segera keluar dari mobil. Matanya berkeliling menatap para pengawal Laurine yang terkapar tidak berdaya. Termasuk juga Edmund.


Tapi, sudah tidak ada Dominic beserta anak buahnya. Melangkahkan kaki masuk ke dalam dan terus berusaha mencari Laurine di ikuti anak buahnya yang juga masuk dan berpencar di setiap sudut mansion.


"Laurine!" panggil Xavier dan tak mendapatkan jawaban.


Kini pandangan Xavier tertuju pada beberapa pelayan yang tengah duduk meringkuk ketakutan di area dapur.


"Dimana Laurine?" tanya Xavier.


"N-nona Laurine di bawa oleh pria-pria jahat itu" jawab salah satu dari mereka dengan suara bergetar takut.


Xavier menggeram marah seraya mengusap wajahnya kasar.


"Baik Laurine maupun Dominic tidak ada di sini" kata Marcus melapor dengan berjalan mendekat ke arah Xavier.


"Kamera pengawas menunjukan jika Dominic baru saja membawa Laurine sekitar 15 menit yang lalu. Dan aku menemukan ini di kamar tidur Laurine"


Kemudian Marcus menyerahkan sebuah kertas putih berisikan tulisan Dominic.


Selamatkan wanita ini kalau kau bisa. Aku hanya memberimu waktu 6 jam. Jika kau tidak bisa membawanya dariku, maka bersiaplah untuk menerima kiriman jasadnya.


-D.


Disobeknya kertas itu oleh Xavier. Menggeram keras dengan hati bergejolak yang sudah dikuasai amarah.


...***...


05:51 PM. Alpha Famiglia Villa.


Perlahan mata Laurine terbuka. Menoleh ke arah sekitar di mana hanya ada kegelapan di sekelilingnya. Terduduk di atas kursi dengan bagian perut, pergelangan tangan dan kakinya yang diikat.


Terdiam sesaat sampai akhirnya otaknya teringat sesuatu. Benar. Laurine ingat beberapa saat lalu dirinya dikejutkan dengan kehadiran Dominic di rumahnya.


Pria itu menghabisi Edmund dan seluruh pengawalnya, kemudian membekapnya dengan sapu tangan obat bius.


Efek anestesi yang Laurine yakini didapatkan oleh Dominic secara ilegal itu membuat kepalanya pusing.


Laurine tidak tahu sekarang sedang ada di mana dan jam berapa. Ruangan di sekelilingnya ini benar-benar gelap. Tidak ada sedikit pun cahaya.


"Sialan!" umpat Laurine.


Berusaha keras untuk melepaskan ikatan yang mengikat di hampir seluruh tubuhnya. Namun, sia-sia saja. Karena ikatan ini benar-benar mengikat tubuhnya dengan cukup kuat.


Tenaga Laurine semakin melemah. Akibat yang ditimbulkan obat bius tadi memang bukan main-main.


Menghela nafas berusaha menenangkan diri dan meredakan ketakutan yang tengah dirasakannya. Tubuhnya terlalu lemas dan wajahnya kian memucat.

__ADS_1


Lalu Laurine mendongkak kala merasakan ada langkah kaki seseorang yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


Seseorang itu adalah Dominic.


"Nona Laurine Jung, adalah sebuah kehormatan bagiku ketika wanita berkelas sepertimu mau ikut dengan pria brengsek sepertiku" kata Dominic tersenyum manis seraya membungkuk sopan kentara sedang mengejek.


"Ikut denganmu, apanya?! Yang ada kau menyeretku masuk ke sini dengan cara diculik! Kau keparat!" desis Laurine.


Dominic tergelak. "Tidak baik seorang wanita terpandang mengumpat. Ternyata tutur bahasa yang selalu kau tampilkan pada orang lain sebagai pimpinan perusahaan TJ Group dan sekarang padaku sangat berbeda. Tapi, entah kenapa aku malah menyukainya. Kau sangat lucu dan seksi secara bersamaan. Tipeku sekali"


"Aku merasa tersanjung mendengarnya. Tapi, maaf aku tidak sudi menerima perasaanmu itu" timpal Laurine tak mau kalah.


Kemudian Dominic memegang dadanya seolah sakit dengan wajah yang dibuat-buat seperti sedang bersedih. "Ah, kau membuatku patah hati. Aku baru saja ditolak. Bagaimana ini? Kenapa rasanya sakit sekali?"


Laurine memilih untuk tidak menimpali lagi. "Lepaskan aku!" ketusnya menatap tajam Dominic.


"Iya, Sayang. Aku akan melepaskanmu. Tapi, nanti jika kekasihmu berhasil menemukan keberadaan kita"


Lalu Laurine menyerengit bingung. "Kekasihku?"


Wajah manis Dominic berubah menjadi tajam hingga memberikan kesan jahat dan seram padanya.


"Ya. Xavier Kim. Kekasihmu itu sekarang tengah aku beri tantangan untuk bermain petak umpet olehku. Jika dia berhasil menemukanmu yang sedang disembunyikan olehku, maka dia akan mendapatkan tubuhmu secara hidup-hidup. Tapi, jika dia tidak berhasil menemukanmu dalam kurun waktu 6 jam, maka dia hanya akan mendapatkan jasadmu"


Tubuh Laurine menegang. Menelan ludahnya susah payah dengan perasaan tidak tenang yang mulai kembali melingkupi perasaannya.


Dalam hati, terus berdoa menaruh harap agar Xavier segera menyelamatkannya dari penculikan bajingan gila Dominic.


...***...



Terhitung 5 jam sudah Laurine diculik. Itu berarti waktu yang tersis hanyalah 1 jam lagi. Hal yang sangat membuat Xavier marah dan khawatir secara bersaman.


Sedari tadi pagi, pria itu masih berada di mansion kediaman Laurine. Tempat di mana terakhir Laurine terlihat lewat kamera pengawas. Sedangkan, untuk tempat penyanderaan belum juga di temukan.


"Bagaimana?" tanya Xavier sontak berdiri menatap Marcus yang terlihat berjalan ke arahnya.


Marcus menggeleng. "Nomor ponsel yang menghubungimu tadi pagi adalah nomor sekali pakai. Jadi, aku tidak bisa melacaknya. Lalu aku belum juga bisa menemukan keberadaan mereka. Dominic cukup pintar rupanya"


"Termasuk markasnya?"


"Aku juga sempat berpikir Dominic menyembunyikan Laurine di markasnya, tapi nyatanya tidak ada siapapun di sana"


Xavier menggeleng pelan. "Aku baru teringat sekarang. Bukan markas yang itu. Seperti ayahku yang memiliki tempat rahasia, dia juga pasti memiliki tempat seperti itu. Sebuah tempat aman dan nyaman. Bahkan itu bisa di bilang terlihat seperti rumah, dibanding dengan markas"


"Seperti mansion itu, maksudmu?" tanya Marcus dan Xavier mengangguk.


Rumah hitam yang di maksud adalah sebuah bangunan besar dan megah yang memiliki kesan gelap. Tempat yang terletak di tengah hutan belantara dan kini di jadikan persembunyian sekaligus tempat yang dipilih oleh Hans untuk beristirahat di masa tuanya ini.


Lamunan Xavier yang sedang berpikir keras menjadi terbuyarkan kala suara teriakan menggema dari arah luar.


"Laurine, paman kesayanganmu ini datang!" panggil Anthony riang dengan terus berjalan masuk.

__ADS_1


Kentara sekali sedang mengejek Laurine yang kini sedang tidak ada di sana itu karena menghilang.


"Oh? Ada kalian di sini? Apa kalian sedang bertamu juga?" kata Anthony menatap Xavier dan Marcus secara bergantian.


"Omong-omong di mana sang pemilik rumahnya? Apa dia hanya menelantarkan kalian di sini? Ck. Tidak sopan sekali ya keponakanku itu. Sepertinya aku harus mendidiknya lagi bertata krama yang baik"


Kemudian Anthony menepuk-nepuk dahinya pelan seraya terkekeh.


"Bicara apa aku ini? Tentu saja Laurine tidak bisa menyambut kalian karena dirinya sendiri saja tengah menghilang entah kemana"


Xavier hanya diam menatap Anthony tajam. Sementara itu, Marcus berusaha memberi kode pada Anthony agar tidak terus mengecoh yang pasti akan membuat Xavier lebih murka.


"Aku dengar ada kelompok seperti kalian yang datang ke rumah ini tadi pagi dan menculik Laurine. Benarkah?"


"Tutup mulutmu! Aku sedang ingin membunuh seseorang sekarang!" desis Xavier mengancam dan berhasil membuat Anthony berhenti mengoceh sembari menunduk takut.


"Tuan, ada sebuah kiriman dari Dominic" ucap seorang pria kekar berlari panik ke arah Xavier seraya membawa sebuah amplop berwarna coklat.


Segera Xavier mengambil benda itu dan melihat isinya. Terdapat sebuah potret Laurine yang terduduk di atas kursi dengan tubuh terikat.


Seperti ada ratusan jarum yang menusuk hati Xavier kala melihat kondisi Laurine.


"Akan aku habisi kau jika berani melukai Laurine barang sesenti saja" gumam Xavier geram.


Lalu ada sebuah pesan juga di dalamnya.


Akan terasa sangat menyenangkan jika tubuhnya didorong dari lantai paling atas gedung ke bawah sana hingga seluruh tulangnya retak.


Tapi, jika tubuhnya dicabik-cabik dan menjadi santapan hewan liar akan lebih seru untuk di tonton.


Atau derasnya air laut yang akan mampu menenggelamkan dan menghanyutkan tubuhnya entah kemana juga sepertinya menarik.


Menurutmu, cara mana yang bagus untuk melenyapkan nyawa wanita cantik ini?


Namun, sepertinya aku ingin bersenang-senang terlebih dahulu dengan tubuh moleknya ini sebagai salam perpisahan. Bagaimana menurutmu?'


"KEPARAT!" teriak Xavier lalu merobek-robek foto dan kertas itu.


Kemudian Xavier melangkah pergi dari sana untuk melakukan usaha apapun yang sekiranya bisa membuatnya menyelamatkan Laurine.


Melihat Xavier yang terlihat begitu marah, membuat Andrew diam-diam tersenyum karena tahu jika nyawa Laurine kini sedang dalam posisi sangat berbahaya.


"Aku bisa menebak, pasti itu adalah ulah salah satu musuhmu. Hey! Kau harus bertanggung jawab kalau begitu. Ini lah alasanku tidak terlalu menyukai mafia. Mereka kejam. Melenyapkan nyawa seolah hal yang biasa bagi mereka. Ah, kasihan sekali keponakanku" ujar Anthony sedikit berteriak.


"Jaga sikapmu" sindir Marcus melirik sesaat Anthony sebelum berjalan mengikuti Xavier.


Lantas Anthony hanya mengangkat bahunya acuh seraya tersenyum lebar. "Tolong pulangkan jasad keponakanku dengan utuh, tanpa kurang satu pun. Aku akan segera menyiapkan acara pemakamannya dengan sangat meriah dan kalian hanya perlu ikut merayakannya saja"


Sebetulnya Xavier mendengar ejekan Anthony itu, tapi untuk kali ini dia lebih memilih untuk mengabaikan saja. Melayani ocehan Anthony tidak akan ada gunanya. Karena yang ada di pikiran Xavier kali ini hanyalah menolong Laurine. Pria itu pergi dari mansion tanpa tahu arah kemana yang di tuju dan apa yang akan dia lakukan.


Otaknya kalut. Keselamatan Laurine terus menganggu pikirannya.


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1



__ADS_2