
01:03 AM. The Jung Mansion.
Kegiatan panas mereka baru selesai sekitar setengah jam yang lalu. Seolah tidak lelah untuk menghabiskan waktu bersama, keduanya belum juga tertidur dan memilih untuk berbincang perihal hubungan mereka di masa lalu.
Bernostalgia sembari melihat video berisikan kenangan mereka yang kini sedang diputar di layar televisi yang tidak jauh dari hadapan mereka.
Sama-sama tengah terduduk dengan posisi Xavier memeluk Laurine dari belakang dan tubuh tertutup selimut sebatas bahu.
Video yang kini tengah menampilkan keceriaan mereka saat sedang memasak bersama, sebelum akhirnya beralih pada video-video kebersamaan mereka lainnya yang diambil sekitar 10 tahun yang lalu.
Baik Xavier maupun Laurine sama-sama memegang kamera untuk merekam satu sama lain.
"Kau menyebalkan. Suka sekali sepertinya menjahiliku" kata Laurine dan Xavier menimpali. "Salahkan kau yang menggemaskan. Membuatku ingin terus menjahilimu"
Kekehan keduanya terdengar ketika layar televisi menunjukan tingkah lucu keduanya seperti layaknya pasangan kekasih pada umumnya.
"Jadi kau tetap menyimpan video ini?" tanya Xavier seraya tetap fokus memperhatikan video.
Laurine mengangguk pelan. "Psikiaterku berkata jika aku mengalami insomnia parah akibat depresi. Dia juga memberi saran padaku untuk memikirkan hal-hal posisitif agar aku bisa tertidur. Dan ya, perkataannya memang sepenuhnya benar. Aku akhirnya bisa tertidur setelah memikirkan peristiwa membahagiakan yang pernah terjadi di hidupku. Tapi bagian yang tidak paling aku sangkanya sampai sekarang adalah ternyata karena video ini. Lebih tepatnya karena kau, Xavier. Aku sedih karena dirimu, dan aku juga bisa bahagia karena dirimu. Bukankah ini aneh?"
Lantas Xavier mengangguk setuju. "Jatuh cinta itu memang aneh. Kau bisa bahagia sekaligus sedih karenanya"
Kemudian kini layar televisi menunjukkan susunan video terakhir yang menunjukan kebersamaan mereka saat sedang merayakan ulang tahun bersama dan terlihat begitu ceria.
Laurine dan Xavier memang lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Tidak aneh jika dulu mereka merayakan ulang tahun bersama dengan meriah, walaupun sebenarnya hanya ada mereka berdua saja di acara itu. Sebuah kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka berdua saja.
Tidak lama setelahnya, video yang berdurasi kurang lebih 13 menit itu akhirnya berakhir. Selanjutnya video beralih menunjukan serangkaian foto-foto dengan diiringi musik romantis.
"Seingatku kau juga mempunyai salinnya. Apa kau sering memutar video ini juga?"
Xavier menghela nafas pelan dan menggeleng. "Tidak. Bagiku, mengenang hanya akan membuat hatiku semakin sakit. Yang selama ini aku ingat adalah keburukanmu. Sesekali aku memang akan teringat akan kenangan manis kita, tapi aku tidak akan terlarut dalam kenangan itu. Kau tahu itu sama saja dengan bunuh diri"
"Lalu bagaimana dengan sekarang? Kembali bersama denganku juga sama saja dengan bunuh diri. Karena kita tidak tahu hal buruk apa yang akan terjadi di depan nanti"
Dalam sesaat Xavier hanya membisu lalu mengeratkan pelukannya pada Laurine. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, maka usahakan sebaik mungkin agar tidak melakukan kesalahan lagi. Sebab jika itu terjadi, aku benar-benar akan menghapusmu dari hidupku"
"Itu beban yang cukup berat" lirih Laurine.
"Aku tahu" timpal Xavier. "Diberi kepercayaan lagi setelah sebelumnya dibenci karena mengecewakan adalah salah satu hal yang paing berharga di dunia ini. Aku harap kau mengerti"
__ADS_1
Laurine menghela nafas kemudian mengangguk. "Aku mengerti. Terlampu mengerti sampai sepertinya akan selalu teringat setiap saat"
"Aku percaya padamu" bisik Xavier.
"Terima kasih telah mempercayaiku"
Dan seperti inilah awal mula terjadinya kisah romansa tragis putaran kedua. Sebuah proses yang kelak akan mengantarkan mereka pada rasa sakit yang jauh lebih sakit dari sebelumnya.
Mereka sama-sama rusak ketika berpisah, tapi mereka akan hancur ketika bersama.
...***...
10:57 AM. The Jung Manor House.
Pagi ini Laurine kalang kabut. Setelah bangun terlambat, dirinya juga bingung menutupi beberapa tanda merah hasil Xavier yang berada di lehernya. Alhasil Laurine menggunakan foundation untuk menutupi itu semua.
Setelah selesai merias diri lalu kini mencari pakaian, sesekali Laurine melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 11 siang.
Jangan lupakan Xavier yang kini baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Berjalan santai menuju Laurine yang berada di ruang penyimpanan baju dan segala aksesoris khas wanita.
"Kau sudah selesai?" ujar Laurine melihat sesaat Xavier lalu menunjuk ke arah satu setelan pakaian pria serba hitam.
Xavier hanya mengangguk paham karena kini perhatiannya sedang terfokus pada Laurine yang sedang berhias diri di depan kaca.
"Ada apa dengan pakaianmu? Bukankah musim dingin masih lama?" tanya Xavier bingung melihat syal yang melilit di leher Laurine.
"Kau memberi tanda yang keterlaluan. Sudah aku tutupi dengan foundation, tapi tetap masih ada. Jadi, tidak ada pilihan lain lagi selain memakai syal di musim panas ini" keluh Laurine.
"Akhhh!"
Kemudian selanjutnya jeritan nyaring Laurine terdengar ketika Xavier dengan cepat sedikit menyingkirkan syal itu dan kembali memberikan tanda merah di leher Laurine.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Laurine menatap Xavier tidak percaya.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?! Apa yang kau lakukan?! Kau tidak suka?! Menutupi hasil tanda yang sudah aku buat dengn susah payah, heh?! Lucu sekali!" gerutu Xavier sinis seraya berkacak pinggang kentara sedang kesal.
"Kau pikir hanya kau saja yang memilikinya?! Aku juga, Laurine! Tapi, aku sama sekali tidak berniat menutupinya! Justru akan aku tunjukkan dengan angkuh hasil perbuatanmu ini pada Marcus!" lanjut Xavier seraya menunjukkan tanda kemerahan.
Laurine menahan senyumnya merasa gemas dengan sikap merajuk Xavier sekarang ini. "Bukan begitu. Aku bukan tidak suka. Tapi, hari ini aku akan pergi bekerja, Xavier" suara Laurine melembut untuk lebih mencairkan perdebatan di antara mereka.
__ADS_1
"Lalu memangnya kenapa jika kau akan pergi bekerja?"
"Dengan tanda-tanda ini, orang-orang di sekitar akan memperhatikanku"
"Biar saja. Justru aku ingin menunjukkan pada semua orang di dunia ini jika kau milikku"
"Kumohon. Jangan kekanakan"
Laurine berusaha membujuk dan meraih tangan Xavier yang kini mengalihkan pandangan ke arah lain. Terlihat sangat kesal.
Pada akhirnya Laurine mengalah. Menghela nafas seraya melepas syal yang semula melilit di lehernya ke lantai asal. "Baiklah! Persetan dengan anggapan orang lain! Di dunia ini hanya ada kau dan aku!" kata Laurine dengan suara meninggi yang berhasil membuat Xavier membalikan badan dan menatapnya.
"Kau milikku" ujar Xavier sembari meraih pinggang Laurine.
Laurine mengangguk. "Aku milikmu" Kemudian Laurine mengalungkan tangannya pada leher Xavier dan memberi kecupan pada bibir pria itu.
"Nakal!"
"Tapi kau suka, kan?" balas Laurine tidak mau kalah kembali mengecup bibir Xavier dengan singkat.
"Jadi, sudah berapa banyak wanita yang pernah merasakan bibir ini selama kau berpisah denganku?"
Lalu Laurine bertanya tiba-tiba dan Xavier menggeleng tegas.
"Tidak ada. Aku adalah pria yang setia"
"Pembohong! Aku yakin sudah banyak wanita yang kau kencani"
"Hanya sekedar bertemu. Itu pun karena perintah ayahku. Wanita-wanita yang dijodohkan oleh ayahku itu benar-benar memuakkan. Mereka palsu dengan bibir tebal dan pinggang kecil yang tidak realistis hasil operasi bedah. Bahkan ada yang lebih menjijikan lagi, sikap mereka terlalu dibuat-buat untuk mengambil hatiku. Tipeku adalah wanita sepertimu. Memiliki kecantikan alami dari lahir, otak cerdas, sikap berkelas, berpendidikan tinggi, dan tentunya berhati tulus"
Laurine berusaha menyembunyikan senyumnya dengan wajah memerah malu. "Kau memang mempunyai selera yang tinggi, Tuan Kim"
Xavier mengangguk setuju lalu mengecup bibir Laurine. Kemudian giliran pria itu yang bertanya. "Sekarang giliran aku yang bertanya. Sudah berapa banyak pria yang pernah merasakan bibir ini selama kau berpisah denganku?"
Dengan cepat Laurine menggeleng. "Tidak ada"
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan 34 teman kencanmu itu? Perlu diingatkan lagi selama ini aku menyuruh beberapa orang untuk mengikutimu. Aku dengar semua pria yang mendekatimu itu tampan, mapan, dan memiliki latar belakang cukup bagus"
"Hanya sekedar menambah relasi" jawab Laurine mengendikkan bahunya acuh. "Aku tidak menyukai mereka semua. Tidak ada yang bisa menandingimu, Xavier. Bagaimana bisa aku mengencani pria lain ketika kau jauh lebih keren dari mereka? Standarku sudah terlalu tinggi"
Keduanya lalu tertawa dan kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat. Sebuah kegiatan membahagiakan di pagi hari ini yang cukup menyejukan hati keduanya setelah selama beberapa tahun terakhir ini hanya ada penderitaan akibat menahan kerinduan.
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...