
07:50 PM. Alpha Famiglia Villa.
Laurine menatap bengis pada sosok Dominic yang duduk berhadapan dengannya. Namun selama apapun Laurine melayangkan sorot mata tajam, Dominic tidak akan merasa takut dan melepaskannya begitu saja. Rasanya Laurine sudah terlampau lelah berusaha melepaskan ikatan kuat yang melilit hampir seluruh tubuhnya ini. Bahkan pergelangan tangan dan kakinya sudah memerah karena terus tergesek-gesek.
Sedangkan Dominic membalas Laurine dengan tatapan tertarik seraya bersidekap dada. Matanya menelusuri penampilan Laurine. Wanita itu berambut panjang hitam legam, berkulit putih, dan bertubuh ideal. Sosok Laurine terlihat cantik walaupun kini raut wajahnya pucat.
Tentu saja Laurine lemah. Terakhir kali dia makan adalah pagi hari tadi. Belum lagi efek obat bius yang berakibat besar pada imunitas tubuh Laurine. Tapi tidak bisa di pungkiri jika Laurine memang lah tetap menawan, walaupun dalam keadaan mengkhawatirkan seperti ini.
"Wanita cantik yang malang. Sepertinya kekasihmu itu tidak mencarimu dan lebih memilih untuk menyerahkanmu saja padaku" kata Dominic menyeringai.
"Bagaimana jika waktu sedikit yang tersisa dalam hidupmu ini kita habiskan untuk berbagi kehangatan?"
Laurine menggeram. Ingin sekali dia memberi tamparan keras pada Dominic yang terang-terangan melecehkannya.
"Melayaniku kali ini saja dan kau akan aku lepaskan. Kau mau tidak?" tawar Dominic seraya salah satu tangannya terulur menyentuh pipi Laurine.
Lantas Laurine membuang wajahnya ke samping untuk menjauh dari elusan tangan Dominic yang mengusap wajahnya.
Tangan Dominic kembali turun. "Ah, benar juga. Sepertinya kau sangat setia pada kekasihmu itu. Bahkan rela mengorbankan nyawamu sendiri demi tidak berkhianat padanya"
"Sudah aku katakan beberapa kali! Dia bukan kekasihku!" balas Laurine sedikit berteriak.
"Benarkah? Kalau begitu apa kalian hanya teman yang saling menghangatkan ranjang bahkan sampai memiliki seorang anak? Oh ya mengingat hal itu, dimana keberadaan anak kalian sekarang? Aku sudah memeriksa rumahmu, tapi tidak ada. Di rumah Xavier juga tidak ada"
Laurine memutar bola matanya malas. "Kau ini sepertinya sangat penasaran sekali dengan kehidupan pribadi orang lain"
"Lebih tepatnya aku hanya penasaran dengan kehidupan seorang Xavier Kim saja. Sebenarnya aku malas berhubungan dengan orang sepertinya. Tapi, ini adalah perintah langsung dari keluarga besarku yang ingin aku membunuh orang yang sudah membunuh sepupuku"
Ada perubahan dalam ekspresi Laurine. "M-membunuh sepupumu?"
Dominic mengangguk dan mata menyendu menyiratkan kesedihan. "Ya. Dia membunuh sepupuku yang begitu aku sayangi. Helena Hwang, namanya. Seharusnya hari itu mereka menikah. Namun, entah kenapa Xavier malah tiba-tiba membunuh Helena sesaat sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Kematian Helena adalah duka terbesar bagi keluarga besarku. Ah, gadis yang malang"
"Yang membunuhnya adalah aku, Bodoh!" teriak Laurine dalam hati.
Lalu tak lama setelah itu Dominic berdiri lalu mencekik leher Laurine dengan mengubah sorot matanya menjadi berbinar, tapi terkesan seram.
Membuat Laurine sontak terkejut dan memundurkan wajahnya menjauh.
"Dia membunuh orang yang aku sayangi. Maka, aku akan membalasnya dengan membunuh orang yang dia sayangi. Nyawa dibalas dengan nyawa. Seperti itu balas dendam yang sebenarnya" bisik Dominic.
Perkataan Dominic semakin membuat Laurine merasa tidak tenang. Sedangkan kedua tangan Dominic masih berada di lehernya dan mencekik semakin kuat.
Jantung Laurine kembali berdetak cepat karena takut. Tapi, berusaha dia tutupi agar tidak terlihat lemah dengan memperlihatkan raut wajah dingin dan tajam.
...***...
08:13 PM. Alpha Famiglia Villa.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan sebuah pagar rumah besar tua nan usang. Diikuti beberapa mobil dari belakang.
Bangunan itu terlihat usang dan terkesan gelap.
Xavier keluar dari mobil yang di ikuti Marcus dari arah samping kemudi dan para anggota kelompok Black Clan lainnya dari belakang.
"Kau yakin Dominic membawa Laurine ke sini?" tanya Marcus seraya menatap bangunan besar di hadapannya.
"Ya. Aku berpikir untuk memposisikan diriku sebagai Dominic. Dulu rumah ini sangatlah terawat dan merupakan kediaman Helena saat masih hidup dulu. Namun saat Helena meninggal, keluarga Hwang menelantarkan rumah ini karena akan membuat mereka teringat pada pembunuhan tragis Helena. Untuk membalaskan dendam padaku atas nama Helena, Dominic akan menggunakan tempat yang sama dengan tempat dimana Helena dibunuh dulu"
"Sepertinya Dominic benar-benar menyayangi mendiang sepupunya itu"
"Bukan hanya Dominic saja. Tapi, kecintaan seluruh keluarga besar mereka pada Helena begitu besar. Wanita itu selalu di manja dan segala keinginannya akan selalu di penuhi"
"Termasuk saat dia meminta pada keluarganya untuk di jodohkan denganmu?"
Xavier mengangguk. "Dia mengancam akan bunuh diri jika keinginannya itu tidak dikabulkan. Entah apa yang merasukinya. Bahkan saat itu kami tidak pernah bertemu dan tidak kenal satu sama lain. Namun, keluarga Hwang bersikeras mendatangi ayahku dengan berjanji akan mendamaikan dua kelompok masing-masing dari kami yang mempunyai sejarah kelam dan saling bermusuhan. Apapun akan mereka lakukan demi bisa membahagiakan Helena. Termasuk juga keinginannya yang ingin melangsungkan acara pernikahan kami dulu di sini. Namun, naasnya hari itu malah menjadi hari paling menyakitkan bagi keluarga Hwang. Helena di temukan tewas. Pembunuhnya belum tertangkap dan mereka menuduhku sebagai orang yang membunuh Helena"
Marcus mengangguk paham dan kemudian berbisik. "Tapi bukankah dengan menculik Laurine, Dominic sudah bersama dengan pembunuh Helena yang sebenarnya?" katanya sangat pelan.
Lantas Xavier menghela nafas dengan pandangan kosong ke arah depan dan pikiran menerawang pada masa lalu. "Di hari itu Laurine sempat mengatakan perkataan yang ambigu dan masih tidak aku mengerti sampi sekarang. Katanya, dia membunuh Helena untuk melindungiku. Meskipun tidak paham, aku merasa jika Laurine mengatakan yang sebenarnya dan membuat hatiku tersentuh. Aku akan membalas perlindungannya padaku dengan cara melindunginya juga"
__ADS_1
"Kisah cinta kalian seperti cerita Romeo dan Juliet saja. Sangat tragis" ujar Marcus dan Xavier hanya tersenyum getir.
Kemudian pandangan mereka kembali terarah pada bangunan megah di hadapan mereka itu. Hingga sesosok Dominic yang muncul dari sana mengejutkan mereka semua.
Marcus menunjuk ke arah Dominic lalu menatap Xavier dengan mata membulat. "Kau benar. Si brengsek itu akhirnya muncul juga"
Dominic berjalan mendekat di ikuti beberapa anggota kelompok Alpha Famiglia dari belakang. Membuat Marcus dan anggota kelompok Black Clan lainnya semakin berjaga-jaga dengan tangan yang sudah memegang pistol.
"Walaupun sedikit lama, aku akui kau cukup pintar juga bisa menebak lokasi penyanderaan wanita itu" ucap Dominic yang kini sudah berdiri berhadapan langsung dengan Xavier.
"Tepati janjimu! Waktu yang kau berikan adalah 6 jam, tapi aku sudah sampai di tempat ini dengan waktu yang masih tersisa 15 menit. Jadi, serahkan Laurine padaku!" desis Laurine menekankan kalimat awal dan terakhir.
Lalu Dominic tersenyum dengan tangan seolah mempersilahkan Xavier masuk ke dalam rumah tua itu. Namun, kentara seperti sedang mencemooh. "Silahkan. Aku selalu menepati janjiku"
Xavier berjalan mulai memasuki gerbang area mansion Alpha Famiglia dengan masih di kawal oleh beberapa orang di belakangnya.
"Namun sekedar info saja, aku melanggar janjiku dan melakukan korupsi waktu sekitar 3 menit. Jadi, sekitar kurang lebih 7 menit lagi bom itu akan meledak. Kekuatan ledakannya bukan main-main. Pesanku adalah menjauhlah dari area ini jika kalian masih ingin hidup" kata Dominic lalu melangkah pergi seraya tertawa keras.
Sontak Xavier membulatkan mata terkejut akan apa yang baru saja di katakan Dominic. Para anggota Black Clan dan Marcus yang sedari tadi ikut membantu Xavier untuk mencari Laurine juga terkejut.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Xavier segera berlari secepat mungkin. Menolong Laurine agar keluar dari bangunan itu yang sebentar lagi akan hancur oleh besarnya ledakan bom. Atau justru dirinya akan ikut menjadi korban ledakan bom itu.
Marcus berlari menyusul berusaha menghentikan Xavier. "Jangan gila! Ini berbahaya! Kau bisa mati!"
"Justru kau yang harus menghindar dari tempat ini! Perintahkan juga semua orang untuk menjauh! Pastikan semua mereka selamat!"
"Tapi, kami akan membantu Anda! Bahkan taruhannya adalah nyawa kami sekalipun!" timpal salah satu anak buahnya dan di susul dengan yang lainnya.
"Ya! Saya juga setuju!"
"Karena kita semua adalah keluarga!"
"Tidak! Menjauh dari sini! Ini perintah!" titah Xavier mutlak.
Namun, usaha Marcus yang berusaha menghentikan Xavier berakhir sia-sia. Xavier tidak mengindahkan dan berlari sendirian masuk ke dalam sana.
...***...
Bom waktu di hadapan Laurine itu menunjukan jika waktu yang tersisa sebelum meledak adalah 6 menit 21 detik lagi!
Laurine yang semula hanya di ikat dengan tali biasa dan terduduk di sebuah kursi kayu, Dominic rubah tadi dengan terlilit di pilar tembok dengan rantai besi.
Wanita itu sudah berusaha keras terbebas dari ikatan rantai yang melilit tubuhnya dengan keras. Ini benar-benar susah.
Bayangkan saja ini bukan sekedar tali biasa. Namun, rantai besi yang mustahil untuk dirusak dan terlebih lagi di lilitkannya ke pilar tembok.
Sementara itu waktu terus berkurang dan semakin membuat Laurine panik.
"Laurine!"
Samar-samar Laurine dapat mendengar suara Xavier yang memanggilnya. Kemudian tak lama sosok pria itu muncul dari kegelapan.
"Aku di sini!" teriak Laurine agar Xavier bisa menemukannya di ruangan gelap ini.
Masalahnya tempat itu sama sekali tidak ada cahaya dan membuat siapapun akan susah untuk melihat.
Xavier berlari lebih cepat saat matanya berhasil menemukan Laurine. Dengan segera Xavier berusaha mencari ujung utas tali rantai untuk melepaskan ikatan yang mengikat tubuh Laurine.
Sayangnya dua ujung utas tali rantau di gembok. Kemudian Xavier beralih untuk untuk memutus benda besi itu.
"Arghhh!" geram Xavier seraya kedua tangannya menarik keras dengan sekuat tenaga.
"Lebih kencang lagi!" desak Laurine frustasi.
Lalu tidak lama setelah itu, mereka menghela nafas gusar secara bersamaan saat usaha Xavier tidak berhasil.
Setelahnya Xavier beralih mengotak-atik bom waktu agar berhenti. Tapi, tidak berpengaruh sama sekali dan justru malah berakibat buruk.
Waktu berkurang satu menit dengan sendirinya. Yang awalnya menunjukan 4 menit 17 detik menjadi 3 menit 17 detik. Baik Xavier dan Laurine semakin cemas.
__ADS_1
Tidak kehabisan akal. Xavier mendorong kotak besar berisikan bom itu agar menjauh dan sayangnya hanya bisa tergeser sedikit dari posisi sebelumnya.
Untuk kesekian kali usaha Xavier gagal.
Sebenarnya bisa saja di pindahkan. Namun, akan membutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya. Sedangkan waktu yang tersisa tinggal sedikit lagi.
Kotak itu berukuran sangat besar dan mungkin memiliki berat 1 ton lebih. Benar-benar jumbo. Sehingga kekuatan ledakannya pun bukan main-main, seperti kata Dominic tadi.
Helaan nafas kasar dari keduanya kembali terdengar. Mereka sama-sama melirik ke arah kotak bom yang menunjukan jika waktu tersisa sebelum meledak adalah 2 menit 28 detik lagi.
"Pergilah" kata Laurine pelan pada akhirnya.
"Apa maksudmu?" Lantas Xavier menimpali dengan terus berusaha memutus tali rantai yang melilit tubuh Laurine.
"Selamatkan dirimu sendiri"
"Lalu membiarkanmu mati?!" suara Xavier mulai meninggi pertanda kesal pada ucapan Laurine barusan.
"Aku bilang pergi!" teriak Laurine tidak kalah nyaring.
"Tapi, aku tidak akan mengampuniku sendiri jika hanya diam membiarkanmu mati! "
"Tak apa! Biarkan saja aku mati! Asalkan jangan kau yang mati!"
"Kalau begitu lebih baik kita mati bersama-sama saja!"
"Kumohon, Xavier..." ucap Laurine memelan dengan air mata yang sudah mengalir. Membuat hati Xavier melemah dan pandangannya seolah tertarik pada sorot mata penuh kesakitan itu.
"Selama ini kau selalu mengikuti keinginanku, kan?
"Tapi, Laurine--"
"Pergi!" sela Laurine lugas.
Xavier tertegun sejenak dalam beberapa puluh detik sehingga membuang-buang waktu yang tersisa untuk berpikir mempertimbangkan.
Pandangan keduanya bertemu dan saling melemparkan tatapan sendu.
Sampai kemudian Xavier kembali berbicara. "Ya. Kita akan pergi. Kita ke surga bersama-sama untuk bertemu dengan anak kita. Itu 'kan maksudmu?"
Laurine menggeleng cepat. "Tidak. Bukan itu maksudku. Pergi, Xavier. Kau harus selamat. Aku mohon..."
"Laurine!"
"PERGI!" jerit Laurine dan mulai menangis terisak.
Bagi Xavier, Laurine adalah kekuatan sekaligus kelemahan terbesar dalam hidupnya. Memang benar jika selama ini Xavier akan selalu menuruti keinginan Laurine.
Termasuk saat dulu Laurine meminta untuk memutuskan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih. Juga memberi ijin untuk mengugurkan benih Xavier yang ada dalam kandungan Laurine sekalipun.
Maka dari itu, keinginan Laurine kali ini pun sepertinya akan Xavier kembali turuti. Terlihat perlahan Xavier mulai memundurkan langkahnya untuk menjauh dengan arah pandangan yang terus terarah pada Laurine.
Lalu Laurine memaksakan bibirnya untuk tersenyum seraya membalas tatapan Xavier padanya.
Bom waktu itu akan meledak sekitar 1 menit 2 detik lagi.
"Aku mencintaimu" lirih Laurine.
Sedangkan Xavier tidak membalas dan segera membalikan badannya tidak kuasa menatap Laurine lebih lama lagi. Berjalan terus dengan mata sudah memerah kentara menahan tangis.
Dalam hati Xavier merutuki kesialannya karena tidak datang ke tempat ini lebih cepat yang mungkin saja dia bisa menyelamatkan Laurine, mengumpati ketidakmampuannya untuk menahan emosi karena kemarin sempat bertengkar hebat dengan Laurine, dan yang paling terpenting adalah mencaci maki kebodohannya karena belum benar-benar bisa membahagiakan Laurine.
Layaknya bom waktu. Selama ini seharusnya Xavier memanfaatkan waktunya dengan baik jika saja tahu sebuah bom akan membuatnya berpisah dengan Laurine untuk selamanya.
...TO BE CONTINUED...
...huaaðŸ˜...
...emang bener kata marcus kalo kisah...
__ADS_1
...cinta mereka tuh tragis bangetðŸ˜ðŸ˜...