Lex Talionis

Lex Talionis
Special Chapter β€” His Auspicies


__ADS_3

Flashback...


December 29th 2016. 07:38 PM. Garden Park.


Kencan di malam ini, mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah taman yang indah. Bersamaan juga dengan jutaan bintang yang tengah menunjukan diri dan salju yang terus turun dari atas lngit sana.


Sedari tadi pandangan Xavier terus terarah pada Laurine yang duduk di sampingnya dengan posisi duduk sedikit menyamping dan tangan tersandar di sandaran bangku.


"Ada apa?" tanya Laurine yang merasa sedikit risih.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh memandangi calon istriku seperti ini?"


Lantas Laurine menyerengit. "Calon istri? Memangnya kau akan menikahiku?"


Xavier mengangguk antusias. "Tentu saja. Bahkan menikahimu sekarang juga, aku sudah siap" ucapnya seraya tersenyum lebar dan mata berbinar.


"Menikah tidak semudah itu" timpal Laurine.


"Bagiku mudah saja. Jika yang akan aku nikahi adalah dirimu. Badai pun akan aku kalahkan demi bisa menjadikanmu sebagai milikku"


Mendengar perkataan manis Xavier tadi, membuat hati Laurine teriris merasakan begitu besar rasa cinta Xavier pada dirinya.


"Oh ya, omong-omong apa yang akan kau katakan padaku? Tadi kau mengajakku bertemu karena ingin mengatakan sesuatu? Apa itu?" kata Xavier kembali bersuara.


"Ah,itu--"


Laurine memiringkan tubuhnya untuk lebih menatap lekat Xavier. Menghela nafasnya untuk mempersiapkan diri mengatakan hal yang sudah dia siapkan untuk dikatakan pada Xavier selama beberapa hari terakhir ini.


Bukan hal yang biasa. Bagi Laurine, ini sangat rumit dan tahu akan mengejutkan Xavier.


"Apa kau sangat mencintaiku?" ucap Laurine setengah gugup.


"Ya. Sangat. Aku sangat mencintaimu melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri" jawab Xavier tanpa ragu kemudian mendekatkan kepalanya dan memberi kecupan singkat pada bibir Laurine.


"Alasannya?"


Lalu Laurine bertanya lagi dan Xavier terlihat seperti tengah berpikir.


"Hmmm. Apa cinta butuh alasan?"


"Tentu. Seperti aku yang mencintaimu karena kau membuatku merasa terlindungi. Lucien memang juga selalu melindungiku, tapi entah kenapa perlindunganmu selalu mengingatkanku pada sosok mendiang ayahku"


"Kalau begitu jawabanku juga tidak jauh dari jawabanmu. Aku mencintaimu karena kau membuatku merasa terlindungi. Kasih sayangmu padaku seolah menggantikan kasih sayang seorang ibu yang selama ini sangat aku inginkan"


Laurine mengangguk-nganggukan kepalanya dan untuk kesekian kali menghela nafas pertanda hatinya sedang tidak tenang.


"Namun Xavier, bagaimana jika berpisah adalah cara yang tepat untuk kita sekarang ini?"


Xavier menatap Laurine lebih serius kali ini. Lalu kedua tangannya meraih tangan Laurine untuk dia genggam lembut.


"Apa maksudmu, Laurine?"


"Kau pernah berjanji akan selalu menerima keputusanku, bukan?" kata Laurine dan Xavier mengangguk cepat.


Kemudian Laurine perlahan melepaskan genggaman Xavier pada tangannya.


"Ayo kita berpisah"


Bersamaan dengan kata yang baru saja terucap dari mulut Laurine, dunia Xavier seolah berhenti saat itu juga.


Bahkan saat Laurine mencium bibirnya pun, Xavier masih diam. Tubuhnya seolah membeku untuk digerakkan ataupun membalas ciuman yang mungkin adalah kecupan perpisahan Laurine untuknya.


"Maaf. Tapi aku sudah tidak bisa bersamamu lagi..." lirih Laurine pelan dan beranjak berdiri pergi meninggalkan Xavier yang kini hanya bisa memandangi kepergiannya tanpa ingin mencegah.


Karena Xavier kembali teringat pada perkataan Laurine beberapa saat lalu. Meskipun sebenarnya dia belum mengerti betul akan ala yang dimaksud Laurine.


Cara Xavier mencintai adalah dengan melindungi. Memastikan jika hidup Laurine aman, meskipun itu menjauh yang sudah jelas akan menyiksa dirinya sendiri.


...***...


7 Years Ago...


January 26th 2017. 02:17 PM. The Jung Hospital.


Hidup tanpa Laurine adalah satu-satunya hal yang bisa Xavier lakukan. Kira-kira sudah hampir 1 bulan semenjak Laurine mengatakan ingin berpisah dengan Xavier.


Karena sebetulnya tanpa Laurine ketahui, Xavier tetap mengawasinya dari jauh. Entah itu dengan cara mengewa orang lain ataupun oleh dirinya sendiri kala tidak sibuk.


"Nona Laurine ditemukan pingsan di kamar mandi kampusnya. Dia sudah dilarikan ke rumah sakit"


Seperti kali ini. Ketika mendengar kabar buruk perihal Laurine itu, urusan penting Xavier yang saat itu hendak melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri bersama ayahnya dibatalkan.


Tanpa berpikir panjang langsung pergi untuk menemui Laurine. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi lalu berlari masuk setelah sampai di rumah sakit.


Kaki Xavier terus berlari menyusuri lorong bangunan pusat kesehatan yang juga milik TJ Group itu.


Xavier berlari kencang hingga akhirnya terhenti ketika sudah sampai di sebuah ruangan inap di mana Laurine ada di dalamnya.

__ADS_1


Perlahan masuk dengan pandangan terarah pada sosok Laurine yang tengah terduduk lemah di atas ranjang dan juga tengah menatapnya dengan sorot mata menyiratkan kesedihan mendalam.


"Kau baik-baik saja?" lirih Xavier seraya berjalan mendekat.


Namun, tiba-tiba Lucien datang menghalangi dan memberinya pukulan cukup keras.


BUGH!!!


Lucien meninju pipi Xavier hingga membuatnya hampir terjatuh.


"Berani-beraninya kau menghamili saudariku!" teriak Lucien murka sembari mencengkram kerah kemeja Xavier.


Lalu Xavier yang mendengarnya membulatkan mata dan beralih menatap Laurine. "K-kau hamil? Laurine, jawab pertanyaanku. Benarkah itu?" tanya Xavier menuntut dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.


Namun, Laurine hanya terdiam tidak menjawab dan masih menatap Xavier sendu.


"Ya! Dia hamil anakmu! Laurine tidak akan mau bergaul dengan pria lain selain dirimu! Aku membiarkannya berteman denganmu karena percaya kau akan menjaganya, tapi kenapa kau justru malah merusaknya?! Kau keparat!" Lucien yang menjawab dengan membentak murka.


"Usia kandungnya sudah menginjak 8 minggu! Karena itu juga kondisinya menurun bahkan pingsan saat sedang kuliah tadi! Kau selalu membuat Laurine menderita!"


BUGH!!!


Satu pukulan keras kembali mendarat di sisi pipi Xavier yang lain. Lalu mengabaikan kemarahan Lucien, Xavier berjalan mendekat ke arah Laurine yang membuat Lucien sontak segera menghalangi.


Senyuman tercetak jelas di wajah Xavier. "Aku akan bertanggung jawab, Laurine. Kehadiran anak itu seolah menunjukkan jika kita tidak boleh berpisah. Kita akan menikah dan membesarkan anak itu bersama-sama hm" ucapnya lembut dengan terus berusaha mendekati Laurine itu di saat Lucien terus menghalanginya.


"Kau pikir aku akan membiarkannya?! Tidak! Aku sebagai saudara kandung Laurine tidak akan menyetujuinya! Anak itu akan dibesarkan oleh keluarga Ibunya saja! Jadi, jangan harap kau bisa kembali bersama dengan Laurine!" kata Lucien lagi sementara Laurine belum juga membuka suara.


Xavier beralih menatap tajam ke arah Lucien. "Aku selama ini baik padamu karena kau adalah kakak kembar Laurine! Namun jika kau berani memisahkanku dengan Laurine dan anakku, aku tidak segan-segan menghabisimu!" desisnya.


"Silakan lakukan itu! Menyiksa atau membunuhku! Tapi seumur hidupku, aku tidak akan membiarkanmu kembali masuk dalam kehidupan Laurine!" balas Lucien tidak kalah tajam.


Suasana di ruangan rawat itu semakin memanas dan membuat Laurine merasa tidak nyaman. Perkelahian antara mantan kekasih dan kakak kembarnya ini semakin membuat kepalanya terasa pusing.


"Aku juga menginginkan anak itu! Aku akan ikut membesarkannya juga! Tak apa jika Laurine memang enggan kembali bersama denganku, tapi anak itu harus tetap tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tuanya!"


"Dalam mimpimu! Entah Laurine maupun anak yang saat ini masih berada dalam kandungannya, aku pastikan tidak akan pernah berhubungan denganmu lagi!"


"Berhenti..." lirih Laurine pelan yang berhasil menghentikan adu mulut Lucien dan Xavier.


Dua pria itu mengalihkan perhatian padanya. Mereka mendekat lalu berdiri di sisi kanan dan sisi Laurine.


"Ada apa, Laurine? Apa ada yang sakit?"


"Kau membutuhkan sesuatu? Haruskah aku memanggil Dokter?"


"Aku tidak mau mempunyai seorang anak!" ucapnya lugas dan tegas.


Membuat sontak Xavier dan Lucien terkejut bukan main mendengarnya. Laurine menatap mereka secara bergantian.


"Aku akan mengugurkan janin yang ada dalam perutku!"


"Jangan!"


"Kau gila?!"


"Kalian tidak berhak melarangku! Jika wanita yang sedang mengandungnya saja tidak menginginkannya, kalian bisa apa?!"


Lucien memaksa Laurine agar menatapnya lekat. "Dengar, Laurine. Aku tahu mungkin umurmu masih muda hingga membuatmu tidak siap untuk menjadi seorang Ibu. Lalu kau juga masih berkuliah. Tapi, aku yakin nanti kau akan mulai menyayanginya"


"Aku tahu itu! Tapi, apa kau tidak berpikir dengan pendapat orang lain tentangku?! Laurine Jung si penerus tahta TJ Group hamil di luar nikah! Kehamilanku akan berpengaruh besar dengan citra perusahaan! Bukankah biasanya selama ini kau yang selalu memikirkan tentang martabat keluarga kita?!"


Lantas Lucien menggeram. "Sialan, Laurine! Aku memang marah pada apa yang kau lakukan! Tapi, ini semua sudah terjadi! Anak itu sudah terlanjur ada! Lupakan soal apapun sekarang! Karena yang terpenting adalah janin di dalam kandunganmu itu! Dia calon keponakanku! Orang yang akan menempati posisi suksesi pewaris TJ Group setelah aku dan kau!"


"Kau akan menggunakan anak ini untuk menyingkirkan Paman Anthony?!" sela Laurine memutar bola matanya sinis. "Sudah kuduga. Yang ada di pikiranmu hanyalah perusahaan dan perusahaan. Aku tadi sempat terkecoh mengira jika kau memang menyayangi anak ini"


"Tidak begitu. Hanya saja--"


"Cukup, Lucien! Aku sudah hidup bersamamu selama 21 tahun lamanya, dan aku sudah sangat mengenalmu! Aku tahu arah pikiranmu!" ucap Laurine berhasil membungkam Lucien yang tidak bisa mengatakan apapun lagi untuk menyanggah perkataannya.


Lalu Laurine beralih menatap Xavier yang berada di sisi kirinya dan sorot matanya kembali sendu. "Aku tahu kau sangat menginginkan anak ini. Namun, membiarkan anak ini tetap hidup bukanlah hal yang baik untuk kita, terutama diriku. Jadi, aku harap kau mengerti. Seperti yang sudah--"


Belum selesai Laurine menyelesaikan ucapannya, Xavier terlebih dahulu menyela berkata.


"Aku membencimu!" desis Xavier dengan tatapan nyalang sebelum melangkahkan kaki pergi dari sana.


Berbalik pergi dari ruangan besar itu meskipun Laurine beberapa kali memanggil namanya untuk berhenti.


"Xavier!" panggil Laurine keras setidaknya tiga kali sampai kemudian suaranya memelan ketika sosok Xavier benar-benar sudah menghilang dari pandangannya. "Xavier..."


Memadu kasih bersama Xavier selama 3 tahun lamanya sudah cukup membuat Laurine tahu karakter pria itu. Laurine juga tahu jika Xavier memang benar-benar marah padanya. Kemarahan yang mungkin akan terus ada selamanya dan seolah tidak akan ada kata maaf untuknya.


"Tidak. Jangan membenciku..." batin Laurine menjerit.


...***...


5 Years Ago...

__ADS_1


August 10th 2018. 08:46 AM. Alpha Famiglia Villa.


Hans menatap putranya yang baru saja keluar dari mobil. Xavier terlihat begitu gagah dan tampan dengan setelan tuksedo hitam.


Hubungan Laurine dan Xavier benar-benar putus semenjak itu. Anak yang sempat di kira akan memperbaiki dan menyatukan kembali mereka, justru malah membuat hubungan keduanya berakhir sangat buruk.


Pindah ke lain hati juga bukanlah hal yang bisa Xavier lakukan dengan mudah.


"Aku tahu kau belum sepenuhnya bahkan tidak akan pernah bisa melupakan Laurine. Namun, sayangnya melupakan adalah sebuah keharusan"


"Tapi, tidak dengan menjodohkanku dengan wanita lain juga, Ayah. Bagaimana bisa aku menikahi Helena, sedangkan aku masih mencintai Laurine? Aku bahkan baru mengenal Helena kurang dari 3 bulan, tapi aku harus langsung menikahinya?!" timpal Xavier mendengus kasar.


"Karena membuka hatimu pada wanita lain mungkin sesuatu yang bagus untuk kau lakukan. Lambat laun kau akan menyukai Helena dan membalas perasaan tulusnya padamu. Ayah yakin Helena seribu kali lebih baik dari mantan kekasihmu yang dengan tega membunuh calon anakmu. Meskipun dia juga anggota keluarga Hwang, tapi Ayah yakin jika dia berhati baik. Kau pasti sudah tahu sendiri bagaimana rasa sayangnya padamu. Dia bahkan rela menentang keluarganya sendiri demi bisa menikah denganmu"


Xavier menghela nafasnya lalu mengangguk pelan. Kedua tangan Hans terulur menepuk-nepuk bahu Xavier seraya tersenyum.


"Wow! Lihatlah, putraku ini tampan sekali. Aku masih ingat saat di mana kau baru dilahirkan dulu. Sangat kecil dan lemah. Tapi, sekarang kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang sebentar lagi akan menikah"


Hans memberi tepukan untuk terakhir kali dan menegakkan bahu Xavier agar berdiri tegap. "Jemput dia sekarang. Nikahi wanita itu dan niscaya kau akan bangkit dari kesedihan yang selama ini kau rasakan"


Selanjutnya Xavier hanya bisa mengangguk patuh. Menghela nafas kembali dengan hati ragu sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuh villa mewah tersebut.


Disusul Hans yang juga melangkah menuju altar tempat di mana putranya dan Helena akan melangsungkan pemberkatan pernikahan nanti.


Sedangkan Xavier berjalan menuju ruangan tunggu pengantin wanita. Lalu menyerengit ketika dari kejauhan telinganya samar-samar mendengar percekcokan. Suara Helena dan seorang yang begitu dia kenal. Itu Laurine. Benar. Hanya mengenali suara Laurine saja adalah hal yang mudah bagi Xavier.


Xavier menghentikan langkahnya tepat saat sudah berada di depan pintu ruangan itu. Dengan sengaja hanya terdiam untuk mendengarkan percakapan dua wanita yang berada di dalam sana.


"Aku memperingatkanmu untuk terakhir kali. Akhiri sandiwaramu dan batalkan pernikahan ini!" kata Laurine tak terlalu keras, namun penuh penekanan.


"Tidak! Aku tidak mau! Butuh perjuangan untukku bisa sampai di sini! Aku akan tetap menjalankan rencanaku sampai akhir dengan baik!" timpal Helena setengah berteriak.


"Jika kau melakukannya, aku tidak segan-segan akan membunuhmu!" suara Laurine mulai meninggi.


"Kau akan habis oleh keluargaku jika berani membunuhku!"


"Aku tidak peduli!"


Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Helena. Karena yang Xavier bisa dengar adalah suara bagian slide dari pistol yang seolah sedang dipersiapkan untuk menembak.


Xavier tahu jika sesuatu yang buruk akan terjadi, maka dari itu dia segera membuka pintu.


DOR!!!


Suara tembakan terdengar menggema bersamaan dengan peluru yang berhasil menembak kepala Helena. Tepat saat Xavier membuka pintu. Lalu Xavier yang netranya melihat langsung kejadian itu seketika terdiam di tempat. Tubuhnya membeku dan matanya membulat tidak percaya akan apa yang baru saja dilakukan Laurine.


Dalam beberapa detik pandangan mereka bertemu. Saling menatap tanpa mempedulikan Helena yang kini tengah sekarat tergeletak di atas lantai dengan badan penuh lumuran darah.


Ini adalah pertemuan pertama mereka kembali setelah dua tahun lamanya tak bertemu. Memang setelah kejadian putusnya hubungan dan penguguran anak mereka, baik Xavier maupun Laurine sama-sama menjauh.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Xavier bersuara seraya melirik Helena yang kini sudah benar-benar tidak bernyawa sepertinya.


"Hanya ingin" jawab Laurine singkat dan nada suara dingin.


Untuk kesekian kali, Laurine membuat Xavier bingung. Ada banyak hal yang disembunyikan wanita itu.


"Pergi. Dominic bisa membunuhmu jika tahu kau telah membunuh sepupunya" kata Xavier lagi.


"Tidak. Aku akan tetap di sini sampai keluarga wanita itu datang dan mengaku jika aku telah membunuhnya. Aku akan menuai apa yang sudah aku tanam" balas Laurine keras kepala.


Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi, Xavier segera menarik Laurine pergi dari sana. Meskipun Laurine berontak berusaha melepaskan cengkraman tangan Xavier.


"Lepaskan! Jangan mencampuri urusanku!"


"Urusanmu akan menjadi urusanku juga!"


Memberontak pun sia-sia saja bagi Laurine. Karena tenaga Xavier jauh lebih besar darinya. Lalu Xavier terus menarik Laurine menuju sebuah kamar tidur ruangan tunggu pengantin pria yang ada di villa itu.


Menyembunyikan Laurine sebaik mungkin selagi orang-orang yang semula tengah berada di area altar, menjadi berhamburan menuju ke ruangan tunggu pengantin wanita di mana suara tembakan tadi berasal.


"Kenapa kau melakukan ini, padahal sudah jelas aku baru saja membunuh calon istrimu?" lirih Laurine.


Xavier kembali menoleh lalu tanpa ragu menarik Laurine untuk masuk ke dalam pelukannya. Dipeluknya tubuh Laurine yang terlihat bergetar ketakutan.


"Aku harus melindungimu" ucap Xavier pelan.


Seolah melupakan rasa bencinya pada Laurine. Sebab yang ada di pikiran Xavier sekarang hanyalah melindungi Laurine tanpa peduli dengan resiko berbahaya akibat hal dilakukannya saat ini.


...TO BE CONTINUED...


kata kunci rumitnya hubungan mereka tuh 'saling melindungi'. tapi, untuk alasan laurine melakukan hal-hal itu, xavier belum tau. sama sekali belum tau bahkan sampe sekarang ini. ibaratnya xavier tuh bucin banget. no matter what laurine does, entah itu buruk ataupun baik, xavier bakal terus ngelindungin laurine.


dan inilah alasan dominic bermusuhan sama xavier. helena tuh sepupu dominic yang otomatis ketika tau helena meninggal karena dibunuh, dominic pasti marah banget lah ya. karena dalam klan mafia atau organisasi gangster gitu, kekeluargaan mereka tuh dijunjung banget. tapi, salahnya dominic ngira xavier yang ngebunuh helena. pun juga xavier yang ga ngasih tau kalo sebenernya yang ngebunuh helena tuh laurine.


oh iya, ini visualisasi Helena Hwang atau sepupu dominic ituπŸ‘‡πŸ»


__ADS_1


__ADS_2