
09:55 PM. The Jung Manor House.
Saat Laurine kembali menginjakkan kaki di rumah itu dengan tentunya diantar selamat oleh Xavier, Edmund diikuti para pekerja lainnya seperti pelayan dan pengawal sudah berjejer rapi untuk menyambutnya.
Mereka semua membungkuk hormat. Tidak lupa juga ada Anthony di sana ikut menyambut kedatangan Laurine. Berdiri tegak seraya melemparkan senyum palsu. Sebab selamatnya Laurine adalah hal yang tidak Anthony harapkan.
Langkah Laurine terhenti ketika tiba-tiba Edmund bersujud padanya.
"Maafkan saya, Nona. Saya salah. Saya tidak becus menjaga Anda hingga membuat orang-orang jahat itu menculik Anda. Tolong maafkan saya, Nona" ucap Edmund lirih tersedu-sedu.
Laurine memegangi kedua bahu Edmund agar berdiri seraya tersenyum. "Tidak apa-apa, Tuan Lee. Kau sudah berusaha melindungiku dengan baik"
Kemudian mata Laurine menyipit ke arah luka-luka yang terdapat di wajah Edmund. "Lihatlah. Babak belurnya lukamu adalah bukti usahamu yang berusaha keras dalam melindungiku. Walaupun memang pada akhirnya kau tetap tidak bisa melindungiku karena kekuatan orang biasa seperti kita tidaklah sepadan dengan orang-orang gila itu"
Edmund mengangguk pelan lalu beralih menatap Xavier yang berada di samping Laurine. "Terima kasih telah menolong Nona Laurine. Saya berhutang banyak pada Anda"
Xavier mengangguk dengan raut wajah acuh. "Perbaiki lagi cara kerjamu dan para anak buahmu itu. Beruntung Laurine selamat. Karena jika tidak, kalian akan ikut habis oleh amukanku" desisnya tajam.
Para pengawal dan pelayan yang berada di sekitar menunduk takut setelah mendengar ucapan berisi nada ancaman Xavier tadi.
Kemudian Laurine kembali berjalan dan Xavier masih mengikuti Xavier dari belakang.
"Akhirnya kau pulang juga, nak" sapa Anthony tersenyum manis saat berhadapan langsung dengan Laurine.
Pria tua itu sesaat menatap Xavier dan melayangkan senyuman sebelum akhirnya kembali menatap Laurine ramah. Anthony yang kebusukan.
"Aku dengar Paman sudah menyiapkan pemakamanku sebaik mungkin. Bahkan menghubungi ketua Dewan Direksi untuk segera mengangkatmu menjadi Direktur Utama sebagai penggantiku. Seantusias itu kah dirimu saat tahu keponakanmu ini berada dalam bahaya, Paman?"
Ada kesedihan yang tersembunyi dari lontaran tajam perkataan Laurine. Hati wanita itu terasa sesak setiap kali mengingat jika kerabatnya sendiri memiliki niat jahat padanya.
Lantas Anthony tertawa berusaha menghangatkan suasana yang terlihat begitu dingin itu. Sedikit takut Xavier akan melakukan hal yang berbahaya akibat perlakuan buruknya pada Laurine.
"Apa maksudmu, Laurine? Paman tidak mungkin--"
"Cukup, Paman" sela Laurine. "Maaf. Tapi, sekarang aku akan lebih tegas padamu. Mulai besok kau tidak akan bekerja di TJ Group lagi. Aku memecatmu. Jangan membantah atau melakukan pemberontakan apapun" lanjut Laurine lugas dan melanjutkan langkah kakinya yang kini sudah menaiki tangga menuju kamar tidurnya.
"Apa?! Laurine! Hey! Kau tidak bisa memperlakukan Pamanmu sendiri seperti ini!" ucap Andrew terkejut sembari berusaha menyamakan langkahnya dengan Laurine.
Sampai kemudian Anthony memekik ketika Xavier dengan cepat menarik kerah kemejanya dan mendorong tubuhnya ke tiang railing tangga.
Terus menekan hingga membuat kakinya tidak lagi menapak ke lantai dan tubuhnya yang hampir terjatuh. Jika saja Xavier mendorong sedikit lagi, mungkin Anthony sudah terjatuh bebas ke bawah sana.
Edmund dan para pelayan dan pengawal di bawah sana terkejut akan apa yang sedang dilakukan Xavier pada Anthony.
Sementara Laurine hanya memandang kosong tanpa berniat ingin menghentikan. Meskipun sebenarnya wanita itu takut jika Xavier akan benar-benar membunuh Anthony.
"Kemarin-kemarin aku tetap membiarkanmu hidup karena menghargai perasaan Laurine yang pasti akan sedih jika salah satu anggota keluarga mati. Tapi, sepertinya Laurine juga menginginkan kematianmu" desis Xavier menyeringai.
"Jangan, Xavier"
Akhirnya ucapan yang ditahan sekuat tenaga oleh Laurine keluar juga. Laurine tidak sekejam itu pada Pamannya. Meskipun Anthony justru malah berlaku sebaliknya.
Cengkraman kuat tangan Xavier pada leher Anthony mengendur. Ini dilakukan Xavier karena keinginan Laurine. Segera Anthony menjauh dan menetralkan degup jantungnya yang tadi begitu ketakutan.
"Maksudku jangan sekarang, jangan dilakukan di rumah ini, dan jangan dihadapanku" Laurine bersuara lagi yang membuat Anthony seketika membulatkan mata terkejut.
Xavier mengangguk paham seraya melirik sesaat Anthony dengan seringainya.
"Kau dengar itu?! Tidak usah membatalkan acara pemakaman untuk Laurine yang sudah kau siapkan itu, karena itu masih tetap berguna dengan menggantinya untuk menjadi pemakamanmu!"
Lalu Xavier melanjutkan langkahnya mengikuti langkah Laurine yang kini tengah berjalan menuju memasuki kamar tidur.
Meninggalkan Anthony yang kini masih terdiam dengan tubuh bergetar ketakutan.
...***...
09:55 PM. The Jung Manor House.
Laurine merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Xavier masih mengikutinya dan kini terlihat tengah memperhatikan setiap sudut dari ruangan kamar tidur itu.
__ADS_1
"Kau tidak pulang?" tanya Laurine mengerenyit seraya menarik selimut.
"Nanti saat kau sudah tertidur" jawab Xavier singkat dengan pandangan masih berkeliling dan membuka tirai jendela untuk melihat keadaan di bagian belakang rumah manor sana.
"Mulai besok aku akan menyimpan kamera pengawas di setiap sudut rumah ini yang terpasang dengan sambunganku. Ah ya, kantormu juga " lanjut Xavier yang sontak membuat Laurine terkejut.
"Apa maksudmu?! Tidak! Aku tidak mau!" timpal Laurine cepat sontak beralih posisi menjadi terduduk.
"Aku tidak menerima bantahan. Setelah kejadian kemarin, aku harus mengetahui setiap pergerakanmu"
Saat Laurine hendak membuka mulut untuk berbicara, Xavier dengan cepat kembali menyela.
"Selain itu, aku juga akan mengirimkan beberapa anak buahku untuk menjadi pengawalmu. Sebab pengawal-pengawalmu sebelumnya sangat tidak berkompeten. Ada baiknya kau juga mengganti asisten pribadimu itu. Dia sudah terlalu tua untuk menjagamu"
Laurine menghela nafas pasrah. Terkadang keposesifan Xavier padanya dibutuhkan untuk keselamatan nyawanya.
"Namun, tidak dengan Tuan Lee. Dia sudah ada bersamaku sejak 22 tahun yang lalu. Aku sudah menganggapnya seperti ayah kandungku sendiri. Bahkan dibanding dengan Paman Anthony, dia yang terlihat seperti keluargaku"
Kemudian Xavier menoleh memusatkan atensi pada Laurine kali ini. "Seharusnya tadi kau membiarkanku melenyapkannya saja! Mulai dari kecelakaan di elevator, keracunan makanan, tabrakan mobil, dan masih banyak percobaan pembunuhan yang terjadi padamu lainnya adalah ulah Anthony! Sudah sedari lama aku gatal ingin membunuhnya!"
Sejenak Laurine termenung kembali memikirkan beberapa kejadian buruk yang menimpanya semenjak dia menempati posisi sebagai Pimpinan Perusahaan.
"Kau tahu juga?" gumam Laurine yang merupakan sebuah pertanyaan.
Xavier mendudukan dirinya di atas ranjang hingga berhadapan langsung dengan Laurine. Mengusap lembut surai wanita itu sebelum beralih menggenggam lembut kedua tangannya.
"Ya. Aku tahu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku mengawasimu dan tahu apa saja yang terjadi padamu"
"Kau juga yang menolongku? Peristiwa-peristiwa itu bisa saja merenggut nyawaku, tapi entah kenapa selalu ada beberapa orang yang tiba-tiba datang menolongku. Apa mereka adalah anak buahmu?"
Lantas Xavier mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Sampaikan ucapan terima kasihku pada mereka. Terutama kau. Aku sangat berterima kasih padamu. Jika tidak ada dirimu, mungkin aku sudah pergi ke akhirat" ucap Laurine tersenyum tulus.
Gelak tawa Xavier terdengar. " Akan aku sampaikan pada mereka. Tapi, menurutku berterima kasih padaku adalah hal yang terkesan kaku. Kau ini seperti kepada siapa saja"
Lalu Laurine mengangguk-nganggukan kepalanya pelan sembari menatap Xavier dengan pandangan kosong. "Memang kenyataannya seperti itu, Xavier. Kau ini siapa bagiku? Dan aku ini siapa bagimu?"
"Kita? Sepasang insan yang saling mencintai, tapi tak direstui semesta" ujar Xavier terlontar lirih dan genggaman tangannya pada Laurine perlahan mengendur.
Laurine tersenyum getir. "Aku kira dibuat berjarak sudah sakit luar biasa. Namun, ternyata dipertemukan dengan keadaan buruk seperti ini adalah juaranya"
"Jika bertemu kembali denganku juga justru malah membuatmu merasa terbebani, apakah aku harus menjauh darimu lagi?" Xavier bertanya dan Laurine segera menggeleng pelan sembari beralih kini mengenggam erat kedua tangan Xavier.
"Dulu aku pernah bertekad tidak akan pernah menemuimu kembali. Bahkan saat kita tidak sengaja dipertemukan lagi pun, aku sudah meniatkan diri akan pergi menjauh. Tapi, nyatanya rindu ini sangat menyiksaku. Aku tidak mengerti dengan perasaanku padamu sekarang ini. Namun yang jelas, aku selalu ingin berada di dekatmu"
Usapan lembut Laurine pada jari-jemari Xavier tidak terlepas. Terasa menenangkan bagi Xavier yang merasakannya.
"Oleh karena itu, maukah kau menjadi temanku?"
Kemudian Xavier menautkan alisnya. "Maksudmu? Teman?"
"Aku tidak akan memintamu kembali menjadi kekasihku. Sebab aku cukup tahu diri. Kecewa di hatimu yang disebabkan olehku terlalu banyak. Namun, bisakah kita setidaknya menjadi teman?"
Tidak ada jawaban lagi dari Xavier. Hanya terdiam dengan otak kembali mencerna ucapan Laurine tadi.
"Aku ingin memperbaiki segalanya, Xavier. Aku ingin menyembuhkan luka di hatimu. Aku ingin menebus kesalahan-kesalahanku dengan selalu ada untukmu. Di depan sana akan ada banyak rintangan yang menghampiri hidupmu, dan aku sangat berkeinginan menjadi penyemangatmu agar berhasil melewati kesulitan itu"
Masih juga tidak ada balasan. Xavier tertunduk tidak tahu harus mengatakan apa karena dia sendiri juga bingung.
"Tidak"
Akhirnya sebuah kata terucap dari mulut Xavier. Rasanya Laurine dibuat semakin jatuh ketika Xavier melepas genggaman lembutnya pada kedua tangan pria itu.
"Kau tidak mau, ya?" lirih Laurine lalu mengangguk-nganggukan kepalanya paham. "Wajar memang. Kesalahan yang aku lakukan bukan main-main berdampaknya pada hidupmu"
Namun, tidak lama setelahnya senyuman terlihat jelas di wajah Xavier yang membuat Laurine merasa bingung. Lalu Xavier beralih yang mengenggam tangan Laurine kali ini dan mengecupnya lembut.
"Aku memaafkanmu. Atas kejadian yang terjadi pada anak kita, aku mengikhlaskannya. Kau juga merasa kehilangan, bukan?"
Lantas Laurine mengangguk pelan.
"Untuk apa yang kau lakukan pada Helena, sebenarnya aku tidak peduli. Namun untuk apa yang kau lakukan pada janin itu, aku marah, tapi aku memilih untuk memaafkannya. Sebab benci padamu juga tidak akan mengembalikan nyawanya. Jadi, lebih baik kita hidup bersama-sama tanpa terpuruk karena hal yang sudah terjadi di masa lalu dan fokus pada masa depan"
__ADS_1
"Apa ini artinya kau menerima ajakan pertemanan dariku?"
Xavier menggeleng hingga membuat lagi-lagi Laurine dibuat bingung olehnya.
"Tidak ada kata pertemanan dalam kita. Sebab aku tahu sebenarnya yang kau inginkan adalah romansa"
"A-apa maksudmu? A-aku benar-benar ingin kita berteman" ujar Laurine tidak bisa menyembunyikan kegugupannya akibat ucapan Xavier yang seolah bisa menebak isi hatinya.
"Jangan bersikap seolah kita ini bocah 5 tahun yang hanya tahu bermain bersama teman saja. Usiamu dan diriku sama-sama sudah menginjak 28 tahun dan status yang cocok untuk kita adalah sepasang kekasih. Atau bahkan suami istri, mungkin"
"Kau ini berkata apa, sih?!" renggut wanita itu menghempaskan tangan Xavier dan memandang ke arah lain berusaha menghindari tatapan Xavier.
Tawa pelan Xavier terdengar seolah mengejek Laurine yang kini sepertinya sedang malu.
"Ayo kembali bersama denganku sebagai sepasang kekasih" kata Xavier dan sontak Laurine kembali mendongkak dengan mata membulat.
"Jadi, seperti ini caramu saat mengajak mantan kekasihmu untuk kembali bersama? Hanya seperti ini?! Tidak romantis sekali!" gerutu Laurine mendengus.
"Kenapa? Apa kau ingin aku menyewa taman dengan dihias semewah mungkin seperti dulu? Ayolah. Saat itu kita masih berusia remaja dan hal-hal seperti itu terkesan kekanakan. Sekarang masing-masing dari kita sudah dewasa. Sesuatu yang simpel ternyata lebih baik. Karena yang terpenting adalah hatinya"
Laurine terdiam dengan wajah menekuk seolah kesal pada Xavier.
"Ya sudah kalau kau memang tidak mau!" balas Xavier ingin terlihat kesal juga sembari bersidekap dada seraya memandang ke arah lain.
Tapi, hal yang tidak di sangka-sangka terjadi. Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Xavier dengan begitu cepatnya.
"Iya, Xavier. Aku mau menjadi kekasihmu lagi" ucap Laurine lugas seraya tersenyum lebar.
Xavier ikut tersenyum dan membalas mengecup singkat bibir Laurine seperti tadi. Saat Xavier hendak kembali menjauhkan tubuhnya, Laurine justru menahan tengkuknya dan membalas ciumannya.
Pada akhirnya mereka saling berciuman dengan begitu dalam. Baik Laurine dan Xavier saling mengecup bibir satu sama lain. Tanpa melepaskan ciuman, tubuh keduanya terjatuh di atas ranjang dengan posisi Laurine yang berada di bawah dan Xavier yang berada di atas.
Mereka terus saling berbagi ciuman hangat dengan gairah yang mulai terpancing. Bagi mereka, suasana saat ini terasa panas dan mendorong mereka untuk lebih intim. Sepertinya ini akan menjadi malam panjang dan membahagiakan bagi mereka untuk meluapkan kerinduan yang tertahan selama 7 tahun terakhir ini.
...***...
10:39 PM. The Jung Manor House.
"Laurine!"
"Xavier!"
Pelepasan yang datang bersamaan dan saling berteriak nama baru saja terdengar dari mulut dua insan berbeda gender itu. Tubuh Xavier terjatuh di atas tubuh Laurine. Nafas keduanya terengah-engah. Peluh juga membanjiri hampir keseluruhan tubuh.
Sejenak mereka hanya saling berpelukan dengan posisi seperti itu tanpa melepaskan penyatuan di bawah sana. Mengistirahatkan diri selama beberapa menit sebelum kembali melanjutkan kegiatan yang mungkin tidak akan ada habisnya ini.
Karena kegiatan sebelumnya tadi mereka hanyalah sebuah awalan. Xavier beralih secara perlahan mencium kening, hidung, kedua pipi, dan bibir Laurine dengan lebih lembut kali ini.
"Bukankah satu saja tidak cukup?" bisik Xavier tersenyum.
Laurine membalas senyuman hangat Xavier. Kedua tangan Laurine terulur mengusap wajah tampan Xavier yang kini penuh dengan keringat.
"Tentu saja" ujar Laurine menjawab perkataan Xavier tadi.
Lantas Xavier terkekeh pelan dan diikuti Laurine yang juga tertawa. Otak keduanya masih berkabut hasrat. Maka selanjutnya yang dilakukan mereka adalah kembali menyatukan bibir. Sembari terus bercumbu, posisi mereka perlahan berubah dari posisi sebelumnya tadi. Xavier berbaring terlentang dan membimbing Laurine untuk duduk di pangkuannya.
Laurine dengan lihai mengambil alih. Melakukan hal yang seperti Xavier lakukan padanya beberapa menit lalu. Mulanya menyentuh dan mengecup tubuh Xavier. Sampai akhirnya Laurine kembali melakukan penyatuan dan bergerak. Awalnya hanya pelan, tapi perlahan menjadi semakin lebih cepat dan tak terkendali.
Tidak lupa juga gaungan mereka sedari tadi terdengar. Silih bergantian mencium, menyentuh anggota tubuh atau menggerakan bagian intim untuk saling memberi kehangatan pada satu sama lain.
Tentu tidak akan hanya sampai satu atau dua gelombang kenikmatan saja. Karena untuk melepaskan kerinduan, sepanjang malam hingga pagi menjelang itu akan menjadi saksi bisu betapa menggeloranya hasrat Xavier dan Laurine.
...TO BE CONTINUED...
deg-degan oy bikin scene kaya giniπ
terkesan ga terlalu jelas juga kan yaa, meskipun...ah sudahlah.
jangan minta yang lebih jelas lagi yaaπππ
au ah aku jadi malu
eh btw, mungkin anthony atau paman laurine itu keliatannya ga terlalu penting sama jalan cerita, tapi sebenernya dia itu penting banget. dia adalah biang kerok dari semua masalah
__ADS_1