Lex Talionis

Lex Talionis
Special Chapter β€” How It All Began


__ADS_3

Flashback 10 Years Ago...


March 27th 2013.


07:42 PM. Penthouse.


Kisah romansa yang rumit penuh intrik pun dimulai semenjak pertemuan dua insan ini.


"Ingat. Hanya malam ini saja. Besok pagi kau harus segera pulang"


"Iya, Xavier. Kau sudah mengatakan itu berulang kali. Malam ini aku benar-benar belum siap menghadapi Lucien. Aku berjanji hanya sekali ini lagi saja aku meminta pertolonganmu" kata Laurine menatap Xavier yang lebih tinggi darinya sebelum mereka memasuki sebuah bangunan megah bergaya modern.


Pandangan Laurine berpendar pada sekitar memperhatikan tempat itu dengan terus mengikuti langkah kaki Xavier dari belakang.


"Apa ini rumahmu? Apa kau sudah diperbolehkan tinggal sendirian di usiamu yang masih sangat muda?"


"Hm. Aku sudah tinggal disini sejak umurku masih sebelas tahun. Ayahku menyuruhku tinggal di rumah ini sebagai salah satu bentuk didikannya agar aku hidup mandiri" ucap Xavier lalu menaiki tangga yang diikuti Laurine dibelakangnya.


"Woah. Kau hebat. Kita seumuran, tapi sepertinya pengalaman hidupmu sudah seribu kali lebih banyak dariku"


Laurine berdecak kagum.


"Oh ya, omong-omong kau bersekolah dimana? Kalau aku akan masuk perguruan tinggi tahun ini. Lalu bagaimana denganmu?"


Lantas Xavier menoleh sekilas dengan terus berjalan. "Aku tidak pernah bersekolah formal seperti itu. Selama ini aku tinggal di sebuah lingkungan keras yang sudah memberiku pendidikan melebihi sekolah formal pada umumnya" jelasnya dan Laurine hanya mengangguk paham tidak bertanya lebih banyak lagi.


Tidak lama setelah itu mereka sampai di sebuah kamar tidur. Kemudian Xavier menyalakan saklar lampu dinding hingga menerangi ruang kamar tidur yang awalnya penuh dengan kegelapan


"Ini kamar tidurmu. Kamar tidurku berada tepat di sisi kanan kamar tidur ini. Selain aku, ada seseorang lain lagi yang tinggal di sini dan mungkin dia akan datang sebentar lagi. Hanya saja ada sedikit masalah pada otaknya bila melihat wanita. Jika terjadi sesuatu, maka segera berteriaklah atau berlari padaku"


"Apa dia lelaki jahat yang mesum?" tanya Laurine dan raut wajahnya terlihat khawatir.


Xavier menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tidak. Bukan begitu. Dia tidak jahat. Hanya saja... Ah, lupakan. Lagipula aku berani menjamin dia tidak akan melakukan sesuatu padamu. Kau tenang saja"


Mendengarnya membuat Laurine tersenyum lebar. "Baiklah. Aku percaya padamu"


"Percaya padaku?"


Laurine mengangguk cepat. "Aku percaya padamu"


"Jangan terlalu naif. Kau tidak boleh percaya pada orang asing secepat ini. Lagipula bisa saja aku yang melakukan sesuatu padamu" ujar Xavier dengan lugas memberi nasihat.


"Aku tahu. Biasanya aku juga tidak bisa mempercayakan orang asing secepat ini. Hanya saja ini kau, Xavier"


Lalu Xavier menyerengit. "Memangnya ada apa denganku?"


"Kau orang baik. Aku tahu itu. Terlepas dari penampilanmu yang terkesan seram dengan berpakaian serba hitam dan aura dinginmu yang pada awalnya juga membuatku takut, rupanya kau memiliki hati yang baik. Kau membantuku kabur, kau menghajar para pengawal itu dengan kondisimu yang sedang tidak baik demi menolongku, dan terakhir kau juga memberiku tempat tinggal untuk malam ini. Aku sangat berterima kasih padamu"


Kembali senyum tercetak jelas di wajah Laurine. Seolah membuat kecantikan gadis itu terus bertambah setiap kali dia tersenyum.


Sesaat Xavier terpaku menatap Laurine dengan cukup lekat. Senyuman itu bagaikan candu yang berhasil membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


"Tapi aku hanya baik padamu saja, Laurine" balas Xavier berkata dalam hatinya.


...***...


08:03 PM. The Jung Manor House.



Entah sudah berapa lamanya Lucien berjalan mondar-mandir di ruangan tamu itu. Otaknya pusing memikirkan saudari kembarnya yang sekarang tengah menghilang entah kemana.


Lalu kembali teringat dengan sosok asing yang membantu Laurine kabur tadi. Andai saja tidak ada lelaki itu, mungkin Laurine sudah berhasil ditangkap olehnya.


"Kau butuh bantuanku? Paman memiliki banyak kenalan dalam kepolisian, militer, dan bahkan intelijen. Aku bisa meminta bantuan mereka untuk mencari Laurine" suara Anthony yang terduduk manis di atas sofa terdengar membuyarkan lamunan Lucien.


"Paman ini sedang menghina atau memang benar-benar ingin membantu?! Berlebihan sekali! Aku yakin orang-orangku sebentar lagi akan berhasil menemukannya!" ketus Lucien.


Anthony tertawa pelan. "Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Laurine, maka itu adalah salahmu. Selama ini kau terlalu keras padanya dengan terus memaksanya mengingat kejadian yang sangat menyakitinya itu. Ayolah. Sudah jelas hasil penyelidikan delapan tahun lalu menyatakan jika ayahmu tewas bunuh diri dengan cara menembakan pistol ke kepalanya sendiri, dan bukan pembunuhan"


Lucien menatap Anthony sinis seraya menyeringai. "Aku tidak percaya. Dengan kata-katamu tadi, justru semakin membuatku percaya jika dia mati dibunuh olehmu"


"Kau pikir aku tega membunuh kakakku sendiri?" timpal Anthony.


"Oh, tentu saja. Ayahku bukan kakak kandungmu. Kau hanya anak haram yang selalu berharap mendapatkan bagian besar dari warisan kakek. Untuk merebut semua usaha kepemilikan dari TJ Group, kau rela melakukan apapun. Termasuk dengan tega membunuh ayahku!"


Kali ini Anthony tidak bisa membalas perkataan Lucien lagi. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal kuat.


"Saat ingatan Laurine sudah kembali dan dia bersedia menjadi saksi untuk menceritakan detil peristiwa di malam itu, akan aku seret kau ke penjara dengan tanganku sendiri!"


Lalu Lucien menatap Anthony yang masih terdiam di tempatnya.


...***...


08:22 PM. Penthouse.



"Makanan sudah siap!" seru Laurine antusias seraya menyimpan sebuah piring berisikan pasta.


Lalu mendudukan diri tepat di hadapan Xavier yang sudah duduk sedari tadi menunggunya masak.


"Maaf. Aku hanya bisa membuatkan makanan ini. Sebab hanya ada bahan ini saja di lemari dapurmu"


"Tidak apa-apa. Tapi, sebenarnya akan lebih baik jika kau tidak memasak apapun. Ini merepotkanmu. Aku biasa makan malam di luar"


Laurine menggeleng dengan mulutnya yang sudah di isi oleh pasta lalu menelan makanan itu sebelum bersuara.


"Menurutku, makanan yang dibuat oleh tangan sendiri lebih enak. Lagipula ini juga sebagai bentuk terima kasihku padamu karena mengijinkanku menginap semalam di rumahmu ini. Sudah sepatutnya aku membalas kebaikanmu"


Xavier mengangguk-nganggukan kepalanya dan beralih menyuapkan pasta ke dalam mulutnya.


"Ini enak" puji Xavier bersungguh-sungguh menyukai makanan ini.

__ADS_1


Matanya berbinar terkejut akan hasil masakan Laurine. Padahal, sebelumnya ia sempat mengira jika ini akan sama dengan makanan hasil buatan Marcus.


"Benarkah? Menurutmu ini enak?" balas Laurine senang.


"Padahal Lucien selalu mengatakan jika masakanku lebih buruk dari makanan babi. Dasar saudara menyebalkan. Aku akan benar-benar menyuapi dia makanan babi jika dia berani menghina masakanku lagi" gerutu Laurine cerewet dengan mulut belepotan dan entah kenapa terlihat menggemaskan di mata Xavier.


Salah satu tangan Xavier terulur mengusap ujung bibir Laurine yang terdapat saus pasta.


"Lihat saja nan--"


Laurine terkejut tentu saja sehingga membuat dirinya yang sedang mendumel seraya mengunyah tadi menjadi terhenti.


"Kau ini kekanakan sekali" gumam Xavier dengan begitu telaten membersihkan saus pasti di ujung bibir Laurine. Tanpa sadar yang dilakukan Xavier ini membuat wajah Laurine memerah malu.


"Xavier! Brengsek! Akan aku memperparah luka-luka di tubuhmu itu!" suara Marcus tiba-tiba terdengar dan mengalihkan perhatian Laurine dan Xavier.


Keduanya menoleh dan menatap Marcus yang muncul dengan kondisi tubuh terlihat sangat berkeringat dengan pakaian acak-acakan.


"Tega-teganya kau meninggalkanku di rumah sakit! Panggilan dariku tidak ada satupun yang kau angkat dan dompetku tertinggal di mobilmu sehingga membuatku terpaksa harus berjalan kaki sejauh ini! Kau benar-benar sahabat sialan!"


"Berlebihan sekali. Sebelumnya kau pernah berlari lebih dari ini demi menemani kekasihmu saat itu yang berprofesi sebagai atlet" cibir Xavier.


Marcus hendak kembali membuka mulutnya, namun terhenti ketika matanya tidak sengaja menangkap sosok Laurine.


"Oh? Siapakah gadis cantik ini?" kata Marcus mengubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum lebar seraya meneliti Laurine dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Membuat Laurine merasa risih dan segera beranjak dari duduknya untuk berlari ke arah meja yang lain. Bersembunyi di belakang punggung Xavier karena takut pada Marcus.


"Apa dia temanmu yang mesum itu?" bisik Laurine.


Xavier berdiri untuk melindungi Laurine dari tatapan Marcus yang melihat Laurine bak hewan buas kelaparan yang baru menemukan mangsanya.


"Jangan sekalipun berusaha mendekatinya atau aku tidak segan-segan akan menghabisimu!" desis Xavier tajam.


Kemudian Marcus mendengus dengan pandangan menatap ke arah Laurine dan Xavier penuh selidik.


"Lalu siapa dia?"


"Temanku. Dia sedang ada masalah keluarga dan akan menginap di sini untuk satu malam ini"


Selanjutnya tawa keras Marcus terdengar. Xavier dan Laurine yang melihatnya mengerenyit bingung.


"Teman? Masalah keluarga? Menginap di sini?" ujar Marcus setelah mengakhiri tawaannya.


"Sejak kapan kau mau mempunyai teman wanita? Lalu seingatku kau tidak akan pernah mau campur dalam masalah orang lain. Juga aku pikir kau sangat menjaga tempat tinggalmu ini dan sangat tidak mau ada orang asing masuk ke dalam sini. Apa gadis ini sangat spesial untukmu?" lanjut Marcus melirik Laurine sembari tersenyum dan mengerling nakal.


Xavier menatap ke arah Laurine yang juga tengah menatapnya seperti sedang menunggu jawabannya. "A-apa maksudmu?!" ketusnya berusaha menutupi kegugupan karena perkataan Marcus tadi adalah sepenuhnya benar dan membuatnya sedikit malu pada Laurine.


Marcus membungkukan badannya sopan yang ditujukan pada Laurine. "Selamat, Nona. Kau sudah berhasil menempati posisi sebagai wanita spesial di hati pria ini. Aku sangat berterima kasih karena kehadiranmu ini membawa suatu berkah yang selama ini aku tunggu, yaitu membuat seorang Xavier Kim jatuh cinta. Padahal sebelumnya sahabatku ini begitu anti dengan romansa. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih"


Laurine termenung berusaha kembali mencerna ucapan Marcus dengan perasaan tidak karuan. "Apa Xavier menyukaiku? Secepat ini?!"

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...marcus memanglah marcus si mulut emberπŸ˜‚...


__ADS_2