
07:36 AM. Penthouse.
Pagi yang cerah datang. Matahari sudah keluar untuk menerangi beberapa bagian dunia. Tapi, tak membuat Xavier ingin terbangun dari tidurnya. Pria itu masih tidur meringkuk di atas ranjang dengan kondisi acak-acakan. Bukan Xavier saja yang berantakan. Namun, kondisi kamarnya juga.
Botol minuman keras, bantal, selimut, dan kemeja yang terakhir di pakai Xavier kemarin juga terserak diatas lantai. Ruangan besar nan mewah yang biasanya bersih itu menjadi tidak enak untuk di pandang.
"Tidak, Laurine. Jangan lakukan itu" gumam Xavier seraya bergerak gelisah kentara jika dirinya sedang bermimpi buruk.
DOR!!!
"TIDAK!!!"
Teriakan keras Xavier terdengar. Bersamaan dengan itu juga, matanya seketika terbuka dengan nafas terengah-engah.
Xavier mengusap wajahnya gusar seraya menggeram keras.
"Sial!" umpat Xavier.
Mimpi itu datang lagi. Selalu saja menghantui Xavier akhir-akhir ini. Di mana ilusi fana tadi menunjukkan sosok Laurine yang tengah membunuh jantung dari wanita itu sendiri lewat tembakan pistol.
"Kau tidak boleh mati di tangan orang lain maupun dirimu sendiri! Kau hanya boleh mati di tanganku saja!"
Kilasan-kilasan bunga tidur itu kembali tergambar jelas di otak Xavier. Entah memang buruk ataupun baik, yang pasti Xavier tidak menyukainya.
"Ya ya ya. Terserah apa katamu saja. Toh, pada akhirnya kau yang akan mati demi dirinya"
Suara lain tiba-tiba terdengar. Marcus muncul dan berjalan mendekat ke arah Xavier yang kini sudah beralih duduk di atas ranjang.
Xavier tidak berkata apapun lagi. Karena sebenarnya sindiran Marcus tadi memang ada benarnya.
Mana tega Xavier membunuh Laurine?
Ada ungkapan bahwa cinta yang berubah menjadi benci itu sangatlah berbahaya. Ketika seorang manusia sudah merasakan dua rasa yang menjadi satu itu, maka akan sulit untuk menghentikannya. Meskipun dirinya sendiri sudah berusaha keras beralih untuk melupakan dan memaafkan.
Hal yang menggambarkan baik Xavier ataupun Laurina sekarang ini.
"Kisah cintamu itu rumit. Dan sepertinya nasihat dari sang pakar ahli cinta kau butuhkan sekarang ini"
Lamunan Xavier kembali terbuyarkan. "Maksudmu? Siapa pakar ahli cinta?" tanyanya tidak mengerti dengan perkataan Marcus tadi.
"Ayahmu. Kau harus di beri nasihat olehnya. Kebetulan sekali, dia memang sedang memanggilmu untuk menemuinya di sana. Semua keamanan perjalananmu menuju ke sana sudah aku siapkan, Tuan muda"
Xavier berdecih seraya beranjak berdiri menuju kamar mandi.
"Pakar ahli cinta apanya? Jika dia memang benar mengerti arti cinta, seharusnya dia tidak dengan tega memisahkanku dengan ibuku. Semua ini tidak akan terjadi jika saja dulu aku tumbuh bersama dengan sosok ibu. Aku tidak akan haus kasih sayang dan mencari sosok pengganti Ibuku. Sayangnya saat aku sudah menemukan, tidak lama setelah itu dia malah berubah menjadi penyihir. Ayahku dan Laurine sama saja. Mereka sialan" kata Xavier pelan mengeluarkan keluhan hatinya selama ini.
BRAK!!!
Pintu kamar mandi tertutup dan tubuh Xavier sudah hilang dari pandangan.
Marcus menghela nafasnya pelan. Sebagai orang yang memiliki hubungan lumayan dekat dengan Xavier dan tahu apa saja yang pernah di lalui dalam hidup teman itu, memang patut Marcus akui jika jalan kehidupan Xavier tidaklah mudah.
Sosok iblis Xavier seperti ini terbentuk karena masa lalunya yang kelam. Xavier hidup tanpa sosok Ibu dan hanya tinggal bersama dengan Ayahnya yang merupakan seorang ketua mafia.
Hal itu diperparah lagi dengan Laurine yang menyakiti Xavier. Peristiwa menyakitkan yang membuat Xavier marah dan begitu membenci Laurine seperti sekarang ini.
"Hidup dengan menyimpan rasa dendam seperti itu sangat sulit, bukan?" gumam Marcus.
...***...
07:56 AM. Seoul City Street.
Mobil mewah berwarna putih itu melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota. Di dalamya ada Edmund, seorang sopir dan Laurine yang duduk di kursi belakang.
Edmund melirik lewat pantulan kaca pada Laurine. Wanita itu hanya melamun ke arah luar kaca sana dengan tatapan kosong.
"Presdir, Anda baik-baik saja?" tanya Edmund khawatir.
Pasalnya sejak pulang dari acara pesta TJ Group kemarin, Laurine menjadi lebih pendiam kentara tengah memikirkan banyak masalah.
"Iya, Tuan Lee. Aku baik-baik saja" jawab Laurine memaksakan bibirnya untuk tersenyum tipis.
"Apa maksud Anda dengan baik-baik saja, Presdir? Saya sudah mengenal Anda sejak dua puluh tahun yang lalu dan saya tahu betul jika sekarang Anda sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Saya benar, bukan?"
__ADS_1
Laurine menghela nafasnya kasar. Sia-sia saja jika dia ingin membohongi Edmund. Pria yang sudah Laurine anggap sebagai Ayah kandungnya sendiri itu memang sangat dekat dengannya.
"Baiklah. Aku mengaku. Aku sedang tidak baik-baik saja" kata Laurine pelan.
Edmund membalikkan badan untuk menatap Laurine lebih serius kali ini.
"Kenapa? Apa yang Xavier katakan pada Anda kemarin? Apa dia mengancam Anda?"
Lantas Laurine menggeleng. "Bukan karena itu. Aku sedang memikirkan sesuatu yang lain"
"Sesuatu yang lain? Apa?"
"Aku memikirkan Lucien. Kembalinya Xavier menandakan jika perang antara aku dan dia akan segera di mulai. Dibanding takut terjadi sesuatu yang buruk padakku, aku lebih takut Xavier melakukan sesuatu yang buruk pada saudara kembarku"
"Saya bisa meyakinkan Anda jika tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Anda dan Tuan Lucien. Tenanglah, Presdir"
Laurine menggeleng. "Tidak. Kau pun sudah tahu betul siapa yang sedang aku lawan sekarang ini. Dia Xavier Kim. Wanita biasa yang lemah sepertiku akan dengan mudah dia hancurkan"
"Ya ampun. Anda jangan berbicara seperti itu. Anda adalah wanita luar biasa yang kuat. Saya yakin, Anda akan keluar sebagai pemenang dari perang ini"
"Begitukah?"
Edmund mengangguk seraya tersenyum berusaha menyemangati Laurine.
"Tapi, bagaimana jika sebenarnya aku justru ingin menjadi pihak yang kalah? Terkadang kalah lebih baik daripada harus mengangkat pedang kembali karena lawan tak terima dengan kekalahan yang dia dapat. Sebuah siklus dendam yang tidak akan berakhir. Aku lelah"
Raut wajah Edmund berubah menjadi kebingungan. "Apa maksud Anda?"
Kemudian Laurine menghela nafasnya pelan seraya mengalihkan kepalanya untuk menatap jalanan lewat kaca mobil. "Lupakan. Tuan Lee, tolong batalkan semua jadwalku hari ini. Aku ingin beristirahat saja di rumah"
Tanpa menjawab pertanyaan Edmund tadi, Laurine mengalihkan pembicaraan dan Edmund hanya mampu mengiyakan saja. Walaupun sebenarnya seribu pertanyaan dalam benak Edmund tentang ucapan Laurine tadi.
"Baik, Presdir"
Sopir pun mengubah haluan mobil yang semula hendak menuju ke kantor TJ Group menjadi kembali berbalik menuju tempat sebelumnya setelah mendapat arahan dari Edmund.
...***...
01:10 PM. Black Clan Mansion.
Letaknya berada di tengah hutan. Sudah bisa di pastikan jika orang awam akan kesulitan untuk menemukan rumah ini.
Di depan pintu utama, beberapa pelayan sudah berdiri menyambut kedatangan Xavier dan membungkuk hormat.
"Senang bisa kembali bertemu dengan Anda, Tuan" sapa kepala pelayan yang kerap di sapa dengan Bibi Choi dan Xavier membalas tidak kalah ramah sapaan wanita paruh baya yang ikut menjadi saksi perjalanan hidupnya hingga sekarang ini.
"Senang juga bisa bertemu kembali denganmu, Bibi Choi" balas Xavier seraya tersenyum tipis.
Lalu Xavier kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan di mana ada sang Ayah yang memanggilnya kesini.
Orang tua menjadi sosok yang sangat berperan besar bagi anak mereka. Ibu diharapkan mampu memberikan kasih sayang yang bersifat kehangatan dan didikan ayah memberikan arah dan dorongan agar anak berani dalam menghadapi kehidupan.
Tapi untuk opsi terhadap Ibu, sepertinya Xavier tidak setuju. Sebab tidak ada sosok Ibu dalam hidupnya.
Selama ini Xavier hanya mengenal sosok Ayah. Mau seburuk apapun seorang Hans Kim, Xavier akan tetap menyayangi Ayahnya itu.
Xavier membuka pintu besar yang akan membawanya bertemu sang Ayah didalam sebuah ruangan sana. Kemudian Hans mengalihkan pandangan saat menyadari pintu ruangannya terbuka.
"Kau masih hidup, Nak?" Hans bertanya menatap Xavier yang lebih tinggi darinya lalu kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu memainkan sebuah senjata mematikan berjenis HK416.
"Ayah bisa melihatnya sendiri. Aku masih hidup" jawab Xavier seraya mendudukan diri.
"Baguslah. Aku pikir kau sudah mati di tangan Dominic. Karena mengingat jika dia begitu membencimu dan tak henti-hentinya terus melakukan usaha untuk membunuhmu"
"Yang benar saja!" Xavier berseru dengan menggebu-gebu tidak terima. "Ayah tahu sendiri jika aku tidak akan mati dengan mudah begitu saja! Perlu diingatkan lagi, aku ini anakmu! Hans Kim yang terkenal begitu bengis dan kejam! Bukan begitu?"
Hans terkekeh kecil mendengarnya. Di otaknya terputar jelas bagaimana didikan kerasnya pada Xavier dulu.
Xavier kecil yang malang. Dulu Xavier selalu menolak jika Hans menyuruhnya berlatih fisik, tembak, bergulat dan masih banyak lainnya.
Namun, Hans selalu punya cara agar Xavier menuruti perintahnya, termasuk menggunakan ancaman dan kekerasan. Didikan Hans yang membuat sosok dewasa Xavier menjadi seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Aku ingin segera menimang cucu dan mewariskan lagi segala kemampuan hebat yang aku punya. Jadi, kapan kau menikah?" tanya Hans tiba-tiba.
Xavier selalu merasa tidak nyaman ditanya perihal itu. Tentu ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan pertanyaan dari Hans tentang pernikahan.
"Entahlah. Aku tidak tertarik untuk menikah"
Hans berbalik menatap lekat Xavier yang tengah duduk di atas sebuah kursi dengan kepala bersandar dan pandangan menghadap ke arah atap-atap langit.
"Tunggu. Apa pria lebih menarik bagimu?"
Bukan sekedar lontaran candaan, tapi Hans memang sedang bertanya serius.
"Aku masih normal. Aku suka wanita" sanggah Xavier dengan nada tenang.
"Mau aku jodohkan dengan salah satu putri kenalanku?"
Dengan cepat Xavier kembali menatap Hans seraya menggeleng. "Tidak. Terima kasih. Rata-rata perempuan yang Ayah kenalkan padaku malah membuatku muak. Mereka palsu dengan wajah dan tubuh di operasi plastik itu. Berperilaku buruk dan bahkan ada yang langsung mengajakku bercinta di pertemuan pertama. Bukan tipeku sekali"
"Lalu bagaimana tipemu itu?"
Sesaat Xavier terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Seorang wanita yang seperti Ibuku"
Hans tertegun sesaat. "Kau sendiri bahkan belum pernah bertemu sekalipun dengan Ibumu"
"Tapi, Ayah sendiri yang pernah mengatakan padaku jika Laurine sangat mirip dengan Ibu"
Tanpa sadar, Xavier membawa masa lalu kembali dalam percakapan.
"Itu dulu sekali sebelum dia menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak ingatkah kau dosa-dosa yang dia lakukan padamu dulu?"
Xavier mengangguk. "Tentu. Aku masih ingat. Kejadian itu tidak akan pernah terlepas dari benakku"
"Lalu? Apa kau masih berharap bisa kembali bersamanya?"
"Aku kembali mendatangi kehidupannya untuk membalaskan dendam"
Detik selanjutnya tawa keras Hans terdengar yang membuat Xavier sedikit tersinggung karena merasa ditertawakan.
"Balas dendam katamu? Ha ha ha. Lucu sekali"
"Aku serius, Ayah" ucap Xavier ketus.
Tawa Hans perlahan sudah mulai tidak terdengar. "Aku sangat tahu dirimu. Kau bukan orang yang pendendam. Jika memang benar kau pendendam, mungkin aku juga sudah mati olehmu yang dendam karena dididik terlalu keras olehku saat kecil dulu"
Xavier terdiam. Memang benar jika dirinya marah pada Hans sebab masa kecilnya dulu lebih banyak dihabiskan untuk berlatih di banding bermain seperti kebanyakan anak lainnya. Tapi, sebetulnya Xavier tidaklah benar-benar marah hingga ingin membalaskan dendam.
"Tidak usah banyak bertele-tele. Segera serahkan saja Laurine pada Dominic. Cukup sudah kau melindungi pelaku pembunuhan Helena. Lagipula kau banyak dirugikan selama ini. Dominic selalu mengira jika kau yang membunuh sepupunya itu dan berakhir menganggu kelompok kita. Sudah sepantasnya Laurine menanggung apa yang dia perbuat"
"Menyerahkan Laurine pada Dominic sama saja dengan berbagi mangsa. Aku akan merelakan buruanku ketika aku sudah puas menyiksanya"
"Ck! Kau tidak akan mampu melakukannya. Dia adalah orang yang kau cintai. Bahkan sekedar menodongkan pistol kepadanya pun kau tidak akan tega. Jika kau memang membencinya, lalu kenapa dulu kau menghalangiku saat hendak membunuhnya?"
"Aku membencinya!" tandas Xavier yang sudah naik pitam seraya berdiri dengan kaki menghentak keras.
"Kenapa dia, Marcus, bahkan Ayah selalu mengatakan jika aku masih mencintainya?" suara Xavier kembali memelan.
"Karena memang seperti itu kenyataannya" balas Hans tenang.
"Mungkin siapapun tidak akan percaya jika aku mengatakannya. Tapi, aku memang benar-benar membencinya"
"Juga mencintainya secara bersamaan"
Dalam sesaat Hans terdiam. Menatap lekat mata sendu namun nyalang milik Xavier. Menyiratkan begitu penuh kekecewaan dan kemarahan yang melebur menjadi satu.
"Tidak masalah jika aku atau orang lain yang dia sakiti dan bunuh sekalipun. Namun, aku tidak akan terima jika orang tidak bersalah yang menjadi korban. Laurine menggugurkan janin kecil yang ada dalam perutnya. Seorang anak kecil perempuan yang seharusnya mungkin kini sedang aku temani bermain ceria dengan penuh canda tawa. Bahkan aku belum sempat melihatnya, tapi Laurine sudah terlebih dulu melenyapkannya. Hatiku sakit setiap kali memikirkan kejadian itu. Masihkah kau berpikir aku tidak memiliki dendam pada Laurine, Ayah?"
Hans berjalan mendekat lalu menepuk-nebuk bahu Xavier seolah berusaha memberi kekuatan pada anak semata wayangnya itu.
"Baiklah. Aku mengerti perasaanmu. Kau benar. Tuntaskan balas dendammu pada Laurine demi anakmu. Namun, entah kenapa aku yakin jika semua yang terjadi pasti ada alasan di baliknya. Tidak terkecuali yang di lakukan Laurine kepadamu. Alangkah baiknya kau mencari dulu alasan itu sebelum kau melakukan pembalasan dendam"
Xavier termenung. Ucapan ayahnya memang ada benarnya. Bahkan selama ini Xavier juga memikirkan suatu hal yang bersifat teka-teki sampai sekarang. Karena Xavier penasaran dengan alasan pasti Laurine melakukan serangkaian pengkhianatan kejam padanya.
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1