
09:26 PM. Alpha Familia Villa.
Marcus dan beberapa anak buah yang lain hanya menunggu di luar dengan perasaan was-was. Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain menjauh dari area villa itu. Sesuai perintah sang pemimpin mereka tadi sebelum masuk ke dalam.
Lalu Dominic dan anak buahnya sudah pergi dari sana sedari tadi. Dominic pergi dengan ekspresi kentara senang.
"Apa kita hanya akan berdiam saja sementara nyawa Bos Xavier sedang dalam bahaya di dalam sana?" kata salah seorang dari mereka.
"Tapi, Bos Xavier sendiri yang memerintahkan kita untuk jangan membantunya dan menjauh dari area berbahaya itu" timpal yang lainnya lagi.
"Walaupun kejam, dia tetap memikirkan kita sebagai anak buahnya. Aku memang tidak salah dengan masuk kelompok mafia Black Clan"
"Jika Bos Xavier tidak selamat, aku bersumpah akan melenyapkan seluruh anggota Alpha Familia! Tanpa tersisa sedikit pun!" desis seseorang yang lain berapi-api.
"Aku setuju!"
"Aku juga setuju!"
"Jangankan saat Bos Xavier tidak selamat, jika selamat pun aku akan tetap membalaskan dendam pada Dominic!"
Suara sahut menyahut para pria bertubuh besar dan berpakaian itu terus terdengar.
Sementara Marcus hanya terdiam tidak ikut masuk dalam pembicaraan orang-orang di belakangnya.
Sebab fokusnya hanya pada keselamatan nyawa Xavier dan Laurine. Pandangannya terus terarah pada bangunan besar nan tua itu.
"Tuhan terlampau kejam karena memberikan kisah cinta setragis ini pada kalian" gumam Marcus.
...***...
09:26 PM. Alpha Famiglia Villa.
Tapi, sebetulnya membiarkan Laurine mati tanpa benar-benar berusaha menyelamatkan wanita itu akan menjadi siksaan besar bagi Xavier.
Maka dari itu Xavier memutar balikan badannya dan berjalan kembali menuju ke arah Laurine. Begitu pun juga Laurine yang sadar akan hal itu lewat suara sontak terkejut akan yang dilakukan Xavier.
"Kau gila?!" jerit Laurine histeris seraya melirik waktu pada bom itu yang kini hanya tersisa 38 detik lagi.
"Seperti katamu, aku jauh lebih gila karena tergila-gila pada wanita gila sepertimu!" bentak Xavier.
"Pergi!"
Perintah Laurine tidak di gubris oleh Xavier dengan terus melangkahkan cepat untuk lebih mendekat.
Kemudian meskipun dalam keadaan ruangan yang gelap, Laurine dapat melihat jika Xavier sedang mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas hitamnya.
Laurine di buat tercengang ketika Xavier menodongkan pistol ke arahnya. Pemikiran-pemikiran buruk mulai muncul di benak Laurine.
Sebab Laurine akui jika dia memiliki banyak dosa pada Xavier. Juga kembali teringat pada perkataan Xavier beberapa hari lalu jika kedatangan pria itu kembali pada hidupnya adalah untuk membalaskan dendam.
"A-apa yang kau lakukan? K-kau akan membunuhku terlebih dahulu sebelum bom itu yang membunuhku?" tanya Laurine gugup.
Sementara itu Xavier tengah fokus menyiapkan arah pistol untuk membidik targetnya dengan tepat.
DOR!!!
"Akhhh!"
Jeritan Laurine terdengar. Bersamaan dengan Xavier yang menekan pelatuk dan peluru pun keluar.
"Bicara apa kau ini? Jangan berburuk sangka. Aku sedang menolongmu" jawab Xavier menyimpan pistolnya dan kembali berjalan lebih mendekat ke arah Laurine.
__ADS_1
Namun, sebetulnya Xavier menembak satu bagian utas rantai besi yang melilit tubuh Laurine dan bukan untuk menembak tubuh wanita itu.
Tepatnya di bagian rantai yang terletak di sisi kanan Laurine dan melilit bagian pilar.
Kemudian Laurine kembali membuka matanya perlahan seraya menatap lilitan rantai yang melonggar akibat salah satu bagian utasnya baru saja ditembak oleh Xavier.
"Semenjak bertemu denganmu, entah kenapa otakku selalu berjalan lebih lama dari biasanya. Seharusnya aku menembak rantainya sedari tadi" gumam Xavier sembari membantu Laurine terbebas dari rantai besi yang berat dan sangat panjang itu.
Dominic benar-benar keterlaluan karena mengikat Laurine dengan begitu kencang.
"Kau tetap menolongku. Terima kasih" ucap Laurine seraya mendongkak menatap Xavier yang jauh lebih tinggi darinya.
Xavier tersenyum dengan sedikit menunduk menatap tatapan Laurine dari jarak cukup dekat. "Sama-sama"
Aksi saling menatap mereka teralihkan ketika suara peringatan dari bom terdengar melengking.
Waktu yang tersisa tinggal 20 detik lagi.
"Tapi, sebenarnya aku belum berhasil menolongmu sepenuhnya" lanjut Xavier lalu menarik tangan Laurine agar segera berlari keluar dari tempat itu.
Tangan mereka saling bertaut dengan langkah kaki saling bersejajar. Berlari cepat pergi dari sana.
...***...
09:26 PM. Alpha Famiglia Villa.
"Itu mereka!" teriak Marcus yang berdiri paling depan.
Sontak kumpulan pria-pria tinggi nan bertubuh besar itu menegakan badan seraya menatap Xavier dan Laurine yang tengah berlari keluar dari gedung villa di kejauhan sana.
Terus berlari cepat sampai akhirnya sudah berada di jarak lumayan jauh dari area berbahaya itu.
BOM!!!
Efek dari keterkejutan akibat bom pun membuat Laurine jatuh seraya berteriak kencang histeris.
"Akhhh!" jerit Laurine ketakutan menunduk takut dengan semakin mengencangkan genggamannya pada tangan Xavier.
Xavier yang melihat itu pun segera berjongkok menyamakan tingginya dan membawa Laurine masuk ke dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa. Kita selamat" ucap Xavier menenangkan sembari mengusap-ngusap pelan punggung Laurine.
Sementara di belakang mereka, rumah besar itu sedang terbakar hangus dengan masih efek dari ledakan itu.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Marcus mendekat di ikuti anggota Black Clan yang lain.
"Aku baik-baik saja. Tapi, Laurine..." Sesaat Xavier melirik pergelangan tangan dan kaki Laurine yang terluka. "...tidak baik-baik saja"
Xavier menggeram dengan hari mencelos saat melihat wanita itu terluka. Di otaknya sudah mulai terancang pembalasan dendam pada Dominic karena membuat Laurine terluka seperti ini.
"Cepat ambilkan kotak P3K di dalam mobil!" teriak salah satu dari anak buah Xavier sebab tahu jika sang Tuan sedang dalam emosi marah karena terlukanya Laurine.
"Juga SS2-V4 yang ada dalam mobilku! Isi senjata itu dengan ratusan peluru! Akan aku tembakan seluruhnya pada kepala Dominic!"
Dua pria berpakaian serba hitam segera menuruti perintah Xavier.
Laurine yang seolah sudah dapat menebak jalan pikiran Xavier lalu berdiri untuk menggerak-gerakan pergelangan tangan dan kakinya seraya berkata. "Ini karena ulahku sendiri yang menggesek-gesekan pergelangan tangan dan kakiku ke tali untuk berusaha kabur. Sayangnya usahaku tidak membuahkan hasil dan malah membuatku terluka. Aku baik-baik saja. Tidak terasa sakit apapun. Sungguh"
"Benarkah?" cemas Xavier dengan nada lembut kembali memastikan dan Laurine mengangguk.
"Jangan khawatir. Ini hanya luka kecil. Sebentar lagi juga akan sembuh. Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya. Hm?" bujuk Laurine.
__ADS_1
Kemudian Xavier hanya bisa mengangguk patuh. Tapi, sebenarnya itu hanyalah agar bisa membuat Laurine tenang. Karena Xavier akan tetap membalaskan dendam atas luka yang berada di tubuh Laurine pada Dominic.
"Hiks...hiks...hiks..."
Tiba-tiba mereka semua yang berada di sana dikejutkan ketika mendengar suara tangisan dari seseorang.
Semuanya menoleh pada asal suara di mana rupanya yang sedang menangis itu adalah Marcus.
"Hey! Ada apa denganmu? Apa ledakan bom sekecil itu sangat menakutkan bagimu hingga menangis? Memalukan!" cecar Xavier.
"Kenapa kau menangis?" tanya Laurine yang khawatir.
"Aku terharu...Kisah cinta kalian begitu romantis...Sepertinya aku akan berhenti menjadi playboy...Lalu beralih mencari wanita yang benar-benar mencintaiku..." lirih Marcus di iringi isakan dan air mata yang terus mengalir.
Detik selanjutnya tawa semua orang yang berada di sana terdengar. Xavier dan Laurine juga tertawa.
Lantas para bawahan Xavier itu mendekat ke arah Marcus. Ada yang menenangkan dan ada juga yang melontarkan candaan.
"Sudahlah. Berhenti menangis"
"Para wanita itu akan jijik daripada terpesona jika melihatmu seperti ini!"
"Badanmu boleh saja otot kawat tulang besi, namun hatimu hello kitty"
"Ya ampun! Ini menggelikan!"
Sementara saat semua orang masih berfokus pada Marcus yang semakin mengencangkan tangisan, Laurine dan Xavier justru tengah asik pada kegiatan mereka yang saling memandang seraya tersenyum.
"Benarkah kisah kita seromantis itu hingga membuat Marcus menangis?" kata Xavier yang merupakan sebuah pertanyaan.
"Tidak secara keseluruhan romantis. Beberapa bagian dari kisah kita terkadang tragis" ucap Laurine.
Xavier mengangguk membenarkan. "Aku mencintaimu juga" ujarnya tiba-tiba.
"Apa?"
"Membalas ungkapan cintamu tadi. Aku belum membalasnya saat di dalam"
Kemudian Laurine menundukan kepalanya dengan wajah memerah malu. "Aku mengatakannya karena berpikir itu adalah pertemuan terakhir kita"
"Tidak ada pertemuan terakhir bagi kita. Kau dan aku akan tetap bersama. Selamanya"
Tepat saat Xavier mengakhiri perkataannya, pria itu mengangkat dagu Laurine agar menatapnya. Mereka saling menatap cukup lama.
Sampai akhirnya baik Laurine dan Xavier memajukan kepala secara bersamaan lalu bibir keduanya menyatu dalam ciuman hangat melepas kerinduan.
Marcus yang masih menangis dan tidak sengaja melihat yang sedang dilakukan Xavier dan Laurine pun mulai menghentikan tangisnya. Beralih mengusap air matanya kemudian bertepuk tangan bersorak.
Para pria bertubuh besar dan berpakaian serba hitam itu juga mengikuti pandangan Marcus. Beberapa di antaranya ada yang ikut bersorak, tersenyum dan menutup mata untuk menggoda.
Baik Xavier dan Laurine terlalu fokus pada kegiatan mereka berdua itu hingga melupakan perhatian orang-orang di sekeliling yang tengah memusatkan perhatian pada mereka.
Mereka berciuman dengan begitu dalam. Seolah melupakan ego tinggi dan peristiwa buruk yang pernah terjadi di antara keduanya.
Siapa sangka jika hari yang di kira akan menjadi saksi kejadian tragis ini, justru malah berakhir dengan romantis.
...TO BE CONTINUED...
...kebayang ga sih mereka awalnya cuma saling pandang doang terus ciuman dengan latar tempat ledakan bom di gelapnya malam, what a baddas coupleππ€...
...si marcus kocak bet dah nangis grgr terharu sana kisah cintanya xavier laurine. eh tapi aku juga sebenernya terharu sihπ...
__ADS_1
...entah laurine atau xavier sama-sama punya sifat yang keras, tapi mereka itu sebenernya punya hati yang lembut. kayanya bagus aja gitu aku bikin cerita antara dua orang yang punya ego tinggi terus saling bucin. mereka sama-sama sayang dan pinginnya terus bersama, tapi ya itu keadaan di sekitar mereka yang membuat hubungan dari keduanya ga selalu berjalan mulus....