Lex Talionis

Lex Talionis
Special Chapter — Perfect Day


__ADS_3

Flashback 10 Years Ago...


March 28th 2013.


21:32 PM. Incheon International Airport.



Tentu Xavier tidak akan menyerah begitu saja. Kali ini Xavier akan berusaha mengerahkan segala keberanian dan tenaganya untuk mendapatkan sang cinta pertama--Laurine.


Maka dari itu sekarang Xavier dengan dibantu Edmund sedang berlarian kesana kemari di bandara untuk mencari Laurine.


Entah sedang menunggu keberangkatan, sudah berada di dalam pesawat, atau bahkan kemungkinan buruk sudah pergi dari negara ini dan mungkin tidak akan kembali.


Terpikirkan kemungkinan terakhir membuat Xavier mengumpat sembari terus berusaha mencari Laurine di lingkungan bandara yang ramai itu.


Semoga saja tidak.


Gadis yang baru ditemuinya itu sudah berhasil memenuhi seluruh isi hati Xavier. Menempatkan segala rasa yang sebelumnya Xavier tolak itu seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus dia rasa.


Untuk pertama kalinya dalam seumur 19 tahun hidupnya, Xavier akhirnya merasakan jatuh cinta.


Xavier semakin khawatir ketika melihat papan pemberitahuan yang mengabarkan jika beberapa pesawat sudah lepas landas.


Namun tiba-tiba Edmund datang berlari ke arahnya dengan nafas terengah-engah. "Saya mendapatkan kabar dari supir yang mengantar Nona Laurine dan Tuan Lucien tadi, jika Tuan Lucien akan mengirim Nona Laurine ke Rusia" katanya.


Arah pandang keduanya terarah pada papan pemberitahuan untuk tujuan Rusia. Pesawat yang menuju negara itu rupanya akan berangkat sebentar lagi.


13 menit tersisa. Sementara pemeriksaan boarding saja ditutup 10 menit sebelum penerbangan.


Tanpa membuang waktu lagi, segera Xavier berlari ke arah dimana akan mengantarkannya ke pesawat tersebut.


Xavier menabrak beberapa orang dan tak memperdulikan mereka yang mengumpatinya. Karena tujuannya kini hanyalah satu, yaitu mencegah Laurine pergi ke luar negeri dan pergi darinya.


Bahkan kini Xavier menerobos masuk tempat boarding pesawat yang sontak membuat para petugas panik, termasuk Edmund.


Suasana menjadi ricuh. Edmund terkejut akan apa yang baru saja Xavier lakukan. Jika Xavier berhasil lolos dari kejaran petugas, maka Edmund tidak dan kini hanya bisa terdiam menatap kegilaan Xavier dengan ekspresi wajah terkejut.


Di dekat tempat boarding pesawat tersebut juga terlihat ada Lucien yang juga sama terkejutnya.


Xavier terus berlari dengan petugas-petugas bandara yang mengejarnya di belakang sembari meneriakinya untuk berhenti.


Siapapun juga tahu jika yang dilakukan Xavier ini adalah salah. Tapi semuanya berbuah manis ketika mata Xavier mendapati sosok Laurine di antara kerumunan orang yang terlihat tengah berjalan menuju ke arah jalan yang mengantarkan ke dalam pesawat.


"Laurine!" panggil Xavier berteriak sembari terus berlari.


Tepat saat Laurine membalikan badan, Xavier juga sudah berada di jarak dekat dan memeluk Laurine. Pelukan erat dengan helaan nafas lega.


Petugas-petugas bandara yang mengejar Xavier tadi juga mulai berhenti berlari. Hanya terdiam sembari menatap Laurine dan Xavier.


"Jangan pergi" kata Xavier dan mengeratkan pelukannya pda tubuh kecil Laurine.


Sementara itu Laurine hanya bisa terdiam menatap Xavier bingung dengan tubuh membeku dan bibir kelu.


...***...


21:55 PM. Incheon International Airport.



Sedari tadi genggaman tangan Xavier pada tangan Laurine tidak terlepas. Sementara itu pesawat yang harusnya dinaiki Laurine sudah pergi.


Keduanya sedang melarikan diri kembali. Langkah kecil Laurine mengikuti langkah besar Xavier.


Laurine masuk ke dalam mobil dengan kursi mobil yang dibukakan oleh Xaviet dan duduk di kursi penumpang. Kemudian Xavier berjalan memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Bahkan sedari tadi pandangan laki-laki itu juga tidak pernah terlepas untuk menatap Laurine. Hal yang membuat Laurine semakin bingung dan merasa tidak nyaman.


"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Laurine memberanikan diri sekaligus membuka pembicaraan dengan posisi duduk sedikit menyamping untuk lebih jelas menatap Xavier.

__ADS_1


"Mencegahmu untuk pergi" jawab Xavier tersenyum tipis.


Kening Laurine mengkerut. "Maksudmu?"


Lalu Xavier meraih kedua tangan Laurine. Membungkus jari-jemari gadis itu untuk digenggam dengan kedua tangannya pula.


"Kau mungkin lupa akan apa yang kau katakan kemarin malam karena efek mabuk, maka aku akan mengingatkanmu lagi sekarang. Kau bilang kau menyukaiku, Laurine"


Sontak wajah Laurine memerah mendengarnya. "B-benarkah aku sejujur itu saat mabuk?" cicitnya malu.


Xavier yang melihat itu merasa gemas dan semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Laurine.


"Iya, Laurine. Begitupun juga aku. Aku menyukaimu dan kau juga menyukaiku. Kau mengerti apa artinya itu?"


Mata Laurine membulat tidak percaya. "Kita bisa berkencan?" tebaknya dengan nada ragu.


Kemudian Xavier mengangguk. "Jangankan berkencan. Menikahimu saja sekarang pun aku siap"


Rasanya bagi Laurine hari ini penuh dengan kejutan. Sosok Xavier yang dihadapannya kini berbeda dengan sosok Xavier kemarin yang terkesan sombong dan irit bicara.


"Kau mabuk?" tanya Laurine polos.


Xavier menggeleng. "Tadi aku sempat minum, tapi tolerensi alkoholku tinggi. Aku sungguh-sungguh mengatakannya, Laurine"


Baik Laurine dan Xavier saling menatap lalu tersenyum. Tapi tak lama setelah itu Laurine terdiam dalam beberapa saat ketika terlintas beberapa hal. Membuat Xavier mengerenyit ikut merasa khawatir dan takut pada penolakan.


"Kenapa? Kau tidak mau? Aku tidak akan memaksamu. Tenanglah"


Lantas Laurine menggeleng. "Berkencan denganmu berarti aku harus tetap tinggal di negara ini karena tidak mungkin kita berkencan dengan jarak berjauhan. Tapi jika tetap tinggal di negara ini, aku harus melakukan sesuatu yang selama ini aku hindari"


"Maksudmu mengingat peristiwa buruk di masa lalu yang kau lupakan?"


"Kau tahu?"


"Sekretaris keluargamu itu yang memberitahukannya padaku"


Helaan nafas Laurine terdengar begitu berat. "Xavier, itu benar-benar menyeramkan. Aku takut" lirihnya membuat Xavier iba.


"Tidak apa-apa. Entah kau sedang berada di manapun, kita masih bisa menjalin hubungan. Aku akan sesekali mengunjungimu ke Rusia atau bahkan pindah ke sana" kata Xavier lembut.


"Lucien membenciku. Dia juga tidak akan membiarkanmu bertemu denganku. Aku akan diasingkan dan bukan sekedar dipindahkan. Saat di sana pasti aku akan dikurung seperti selama ini yang Paman Anthony lakukan padaku"


Xavier menghela nafasnya dengan posisi masih memeluk Laurine. Kemudian selintas ide gila itu muncul. Otak Xavier tengah memikirkan cara menyingkirkan beberapa kendala yang menghalangi hubungannya dengan Laurine ini.


Namun hatinya mengatakan tidak dan Xavier pun menggeleng pelan. Membunuh Lucien sama saja dengan membunuh Laurine.


Tak terbayang akan betapa hancurnya Laurine jika kembali ditinggalkan keluarganya untuk kesekian kali.


"Aku akan melawan ketakutan itu" kata Laurine tiba-tiba memecah keheningan.


"Aku akan membuka memori itu untuk melanjutkan kasus pembunuhan ayahku. Karena dengan begitu Lucien akan membiarkanku hidup tenang"


Perkataan Laurine membuat Xavier terkejut. Laki-laki itu melepaskan pelukan dan menatap Laurine terkejut.


"Kau yakin? Kau baru saja mengatakan itu sangat menakutkan, Laurine. Kau tidak perlu melakukan itu untukku. Kita pikirkan hal lain, tapi tidak dengan itu. Aku khawatir. Kesehatan mental bukanlah hal yang sepele. Itu tidak hanya menyakiti fisikmu saja, namun juga hatimu"


Laurine tersenyum dengan mata berbinar. "Itu tidak akan menyeramkan selagi ada kau. Aku yakin. Jadi Xavier, aku membutuhkanmu untuk membantuku keluar dari kehidupan menyeramkan itu"


Xavier membalas tatapan itu dengan sorot mata sendu. Untuk kesekian kali Laurine membuat hal yang tidak pernah Xavier rasakan.


Kali ini Xavier merasa benar-benar dibutuhkan. Ada seorang gadis rapuh yang membutuhkan pertolongannya dan itu membuat Xavier tersentuh.


Semenjak saat itu pula Xavier mendeklarasikan diri untuk memberikan, mengerahkan, dan melakukan apapun untuk membuat gadisnya bahagia.


Apapun itu. Bahkan jika nyawanya yang menjadi taruhannya pun akan Xavier jalankan demi sekedar bisa membuat Laurine hidup.


...***...


22:09 PM. Incheon International Airport.

__ADS_1


Tiba-tiba perhatian keduanya teralihkan ketika mendengar suara ketukan di kaca mobil bagian penumpang atau kaca yang berada di sebelah Laurine.


Rupanya itu adalah Lucien yang sudah berada di area parkir mobil. Tak ketinggalan juga ada Edmund yang mengikuti Lucien dengan kepala menunduk seperti ketakutan karena sadar akan apa yang dilakukannya beberapa saat lalu adalah salah.


Edmund yang membantu Xavier untuk mencegah Laurine pergi tentu bertentangan dengan Lucien.


Laurine melangkah keluar dari mobil terlebih dulu. Dengan berani memghadapi Lucien yang terlihat begitu marah.


Disusul Xavier yang juga keluar dari mobil dan berdiri di samping Laurine. Pandangan Lucien yang awalnya tertuju pada Laurine, menjadi teralihkan ke arah Xavier.


"Sebenarnya siapa kau? Kemarin kau membantu Laurine melarikan diri di rumah sakit, sekarang kau juga tiba-tiba datang dan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Kau ini siapa? Pahlawan? Pangeran berkuda putih Laurine?"


Belum sempat Xavier membuka mulut untuk menjawab, tangan Lucien sudah terangkat hendak melayangkan pukulan pada Xavier.


Namun sebelum itu benar-benar terjadi, Laurine terlebih dahulu mencekal Lucien dengan sekuat tenaga. Mencegah saudara kembarnya itu agar tidak menyakiti Xavier.


Kemudian Lucien menghempaskan tangannya sembari berdecak sinis. "Sepertinya laki-laki ini begitu spesial. Siapa dia? Kekasihmu?"


Lantas Laurine dan Xavier saling berbagi pandangan. Hal itu juga tidak luput dari perhatian Lucien dan Edmund.


Laurine beralih mengenggam tangan kanan Xavier. Membuat Xavier sedikit terkejut akan tindakan berani Laurine ini yang berani menganggam tangannya di hadapan saudara kembar gadis itu.


"Ya. Dia adalah kekasihku" kata Laurine tegas.


Tawa Lucien pecah seketika. Kemudian menatap sinis Xavier dan Laurine secara bergantian. "Kau yakin? Lihatlah penampilannya, Laurine. Wajah babak belur dan bau alkohol yang menyengat. Seperti preman kampungan!" cibir Lucien.


Yang dikatakan Lucien memanglah benar. Penampilan Xavier saat ini juga sedari tadi diperhatikan oleh Laurine. Terdapat memar kemerahan di wajah tampan Xavier dan juga bau alkohol tercium jelas.


Logika Laurine mengatakan jika Xavier adalah orang yang seolah sudah bersahabat dekat dengan kehidupan keras dan menantang. Atau layaknya preman seperti yang dikatakan Lucien.


Edmund pun yang sebelumnya sempat ditodongkan pistol oleh Xavier ikut menaruh curiga pada latar belakang Xavier.


"Bersikaplah sopan padanya" ucap Laurine beralih menatap Lucien tajam.


Lucien mengendikan bahunya acuh lalu menarik salah satu tangan Laurine. "Sekarang ikutlah aku. Gagal pergi ke Rusia bukan berarti kau akan gagal pergi ke negara lainnya. Aku akan mengirimkanmu ke negara yang lebih jauh dan memastikanmu tidak akan kembali lagi ke negara ini"


"Jangan melakukan itu pada Laurine! Dia saudari kembarmu yang seharusnya kau sayangi dan bukan kau jahati seperti ini!" kata Xavier dengan suara tinggi sembari melepaskan cekalan Lucien pada tangan Laurine.


Xavier menyembunyikan tubuh Laurine di balik tubuhnya. Berusaha melindungi Laurine dari Lucien.


"Aku tidak butuh pendapatmu!" bentak Lucien naik pitam.


"Aku berhak atas hidupku sendiri. Kumohon. Jangan mengirimku ke luar negeri, Lucien" mohon Laurine.


Lucien memutar bola matanya malas. "Kau ingat dengan perjanjian kita tadi siang? Kau boleh terus tinggal di sini dan tetap aku akui sebagai saudariku dengan syarat kau harus mau membuka memori yang kau lupakan itu, Laurine!"


Laurine menghela nafasnya. "Baiklah. Aku akan membuka kembali kenangan buruk itu untuk membantu memecahkan kasus pembunuhan ayah" ucap Laurine pada akhirnya yang membuat Lucien sedikit tidak percaya.


Begitupun juga Edmund yang sedari tadi hanya berdiam diri. "Nona, tapi Anda mengatakan jika itu sangat menyakitkan untuk Anda"


"Benarkah itu?" tanya Lucien memastikan dengan nada suara memelan dari sebelumnya.


Lantas Laurine mengangguk dan melirik sesaat Xavier yang juga tengah menatapnya. "Dengan syarat tambahan kau harus menyetujui juga hubunganku dengan Xavier"


Dalam beberapa saat Lucien terdiam dengan otak yang tengah menimbang-nimbang permintaan Laurine.


Xavier menunggu jawaban Lucien. Genggaman tangannya pada Laurine mengencang. Hatinya khawatir takut akan penolakan Lucien pada hubungan antara Laurine dan dirinya.


Laurine juga menunggu jawaban Lucien untuk permintaannya itu.


"Bisakah aku mempercayai saudari kembarku padamu, Xavier?" tanya Lucien yang ditujukan pada Xavier.


Tanpa ragu Xavier mengangguk mantap. Kemudian Lucien beralih menatap Laurine.


"Kau sepertinya sangat menyukainya. Kalau begitu aku tidak bisa menghalangi ini. Bagaimanapun juga kau manusia normal. Aku hanya berharap kalian menjaga batasan dalam berpacaran. Aku akan terus mengawasi kalian" kata Lucien memberi nasihat.


Lantas Laurine mengangguk dengan senyum lebar terpatri di wajahnya. Menoleh pada Xavier yang juga tengah tersenyum ke arahnya.


Hari itu adalah hari yang menyenangkan bagi mereka. Hari di mana akhirnya mereka bisa bersatu dan meleburkan rasa itu menjadi kesatuan utuh untuk mencari kebahagiaan lainnya.

__ADS_1


Saat itu Xavier dan Laurine hanyalah remaja yang sedang dimabuk cinta dan sedikit naif karena hanya berpikir jika hubungan mereka akan diisi dengan penuh kebahagiaan, tanpa tahu jika sebenarnya skenario buruk sedang Tuhan persiapkan dan akan terjadi di masa depan.


...TO BE CONTINUED...


__ADS_2