
05:36 PM. The Jung Manor House.
Sebetulnya bersantai bukanlah hal yang bisa Laurine lakukan sekarang ini. Karena kedatangan Xavier bagaikan bencana. Tapi, untuk sesaat biarkan Laurine mengistirahatkan otaknya.
Duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah taman indah luas yang menyegarkan di area belakang rumah manor. Memejamkan mata seraya menikmati senja dan merasakan hembusan angin yang cukup menenangkan.
Namun, nyatanya semua hanyalah memberikan kenyamanan sesaat. Pikiran Laurine tidak bisa di ajak bekerja sama dengan baik. Lalu Laurine kembali membuka mata dan menatap foto cetak hasil ultrasonografi kandungannya yang sedari tadi berada di tangannya.
Sebuah potret pertama dan terakhir seorang janin kecil yang sempat berada di perut Laurine dalam jangk waktu yang singkat. Dulu saat di gugurkan, usianya baru menginjak 4 bulan. Janin kecil yang malang.
Mata Laurine terus berpusat pada foto itu. Menghela nafasnya sebelum mulai bersuara.
"Maaf..." lirih Laurine seolah mengajak berbicara putrinya.
Wanita itu kembali terdiam. Mulutnya terasa sulit untuk berucap. Rasa bersalahnya terlampau besar. Semua kejadian buruk yang terjadi antara dirinya dan Xavier lagi-lagi terangkai jelas.
"Maaf... Tolong maafkan aku... Dulu aku begitu tega dengan melenyapkanmu... Tapi, semua itu akan terlalu menyakitkan untukmu jika aku tetap membiarkanmu hidup di tengah masalah kami..." lanjutnya dengan suara bergetar.
"Nak, Ibu takut pada Ayahmu... Apa yang harus Ibu lakukan?"
...***...
07:24 PM. Alpha Nightclub.
Seorang pria tengah melakukan kegiatan bersenang-senang bersama seorang wanita. Bercumbu mesra dengan keadaan sudah setengah telanjang di atas sofa. Hingga akhirnya kegiatan mereka terhenti ketika ada ponsel berdering.
Dominic berdecak kesal seraya meraih ponselnya. Sedangkan Patricia--wanita sewaanya yang posisinya duduk di pangkuannya itu terlihat kesal juga.
"Halo, Tuan?"
"Kau meneleponku di waktu yang tidak tepat, brengsek!"
"M-maaf, Tuan. T-tolong maafkan saya" kata seseorang di seberang sana dengan suara seperti ketakutan.
"Ada apa?! Cepat katakan apa yang ingin kau laporkan!"
"Begini, Tuan. Sebelumnya saya ingin minta maaf karena tidak berhasil mengikuti Xavier saat pagi tadi. Entah apa yang dia tuju, tapi sepertinya itu sebuah tempat penting yang sangat bersifat rahasa. Di tengah perjalanan saya yang sedang mengikutinya, anak-anak buahnya itu tiba-tiba datang dan menyergap saya"
"Hm. Kau sudah melaporkan itu tadi. Lalu apalagi?"
Dengan tetap mendengarkan informasi dari anak buahnya, Dominic mengecup-ngecup sensual leher Patricia.
"Tapi, beberapa menit lalu dia sudah kembali terlihat. Kali ini tanpa pengawalan, dia mengemudikan mobilnya dan masuk menerobos gerbang sebuah rumah manor"
"Manor? Rumah sebuah keluarga konglomerat?"
"Ya, Tuan. Itu adalah kediaman keluarga Jung yang juga merupakan pemilik TJ Group"
"TJ Group? Perusahaan besar yang sekarang sedang dipimpin oleh wanita cantik itu?" Patricia yang tidak berniat menguping pembicaraan mereka, tapi masih terdengar itu mulai bersuara.
"Kau tahu juga?" tanya Dominic seraya memutuskan panggilan ponsel itu dan beralih menatap Patricia yang masih duduk di pahanya itu dengan serius.
Lantas Patricia mengangguk. "Aku juga pernah bekerja di sana, Tuan. Itu sekitar tujuh tahun lalu. Maksudnya aku di panggil untuk melayani para investor di sana. Tapi, entah kenapa semenjak di pimpin oleh Laurine Jung, perusahaan itu sudah tidak pernah lagi menggunakan jasaku dan wanita penghibur lainnya lagi. Sebenarnya aku sedikit kecewa. Namun, aku juga kagum dengan yang di lakukan wanita itu. Mungkin pikirnya, menyenangkan para pemegang saham adalah dengan menunjukkan hasil kerja TJ Group yang bagus dan bukan menyediakan para wanita penghibur. Aku akui dia memang keren. Bahkan aku saja yang wanita menyukainya"
"Laurine Jung? Seperti apa sosoknya?" Dominic bertanya lagi dan lebih penasaran.
"Dia itu cantik, pintar dan sifatnya terlihat sedikit keras. Sejak Laurine Jung menjadi Direktur Utama, TJ Group mengalami peningkatan cukup besar meskipun pemberitaan buruk sering terjadi. Keuntungan diikuti dengan masalah bedar sudah seperti makanan pokok di keluarga kaya raya itu. Seperti kasus pembunuhan misterius Arthur Jung di tahun 2001 yang sampai sekarang belum terungkap. Lalu seringnya terjadi skandal-skandal kotor yang di lakukan Anthony Jung seperti pengunaan narkoba, pelecehan, penyuapan, dan masih banyak lagi. Terakhir adalah kasus kecelakaan besar lima tahun lalu yang menyebabkan Lucien Jung koma hingga saat ini. Mereka adalah ayah, paman dan saudara kembar dari Laurine Jung"
"Lalu apa wanita itu juga pernah terkena masalah besar?"
Patricia berusaha mengingat-ngingat dan kemudian menggeleng. "Tidak. Tapi, aku yakin jika Laurine Jung juga sebenarnya punya masalah. Hanya saja dia pandai menutupi demi citra perusahaan. Oh ya, kemarin sempat ada rumor yang beredar jika dia sudah mempunyai anak di luar nikah. Namun, itu hanya rumor belaka. Tidak ada bukti apapun. TJ Group juga sudah membuat pengumuman penting akan menuntut siapapun yang berani menyebarkan rumor tidak berdasar tentang Pimpinan Perusahaan mereka"
Dominic mengangguk-nganggukan kepalanya. "Xavier Kim, ada apa antara kau dengan Laurine Jung? Apa itu berarti anak mereka?" gumamnya.
"Omong-omong, apa yang akan aku dapatkan setelah memberikan informasi yang sepertinya sangat penting untuk kau ini, Tuan Hwang?" ucap Patricia dengan nada di buat-buat seperti menggoda.
Pikiran Dominic kembali teralihkan dan seringainya bermunculan. "Tentu saja memberimu bonus upah yang besar"
Kemudian mereka kembali melanjutkan kegiatan bersenang-senang meluapkan hasrat biologis qyang tadi sempat terhenti itu.
...***...
07:50 PM. The Jung Manor House.
__ADS_1
Mengabaikan rasa lapar, haus dan lelah. Dari sore hingga malam larut sekarang ini, Laurine masih berada di area belakang rumah manor. Duduk di sebuah kursi dengan otak yang tengah berpikir dan berpikir.
Dari kejauhan Laurine sudah menebak jika ada keributan di luar sana. Lalu tidak lama setelah itu, ada seseorang tengah berlari menuju ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Laurine tanpa membuka matanya.
"Presdir, ada Tuan Xavier datang dan ingin bertemu dengan Anda. Kami sudah berusaha untuk menghalanginya. Tapi, dia malah memukuli para pengawal bahkan saya. Dia juga mengancam akan melemparkan granat ke manor ini jika tidak di perbolehkan menemui Anda" lapor Edmund dengan nafas terengah-engah. Wajah pria itu terlihat babak belur.
Seketika mata Laurine terbuka lebar mendengar laporan dari Edmund tadi tentang Xavier yang entah kapan sudah tiba-tiba berada di kediamannya.
"Suruh dia ke sini"
"Tidak, Presdir. Saya takut dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya pada Anda"
"Tidak apa-apa, Tuan Lee. Persilahkan saja dia menemuiku"
"Tapi--"
"Dia masuk atau semua orang yang ada di sini akan mati dibunuh olehnya?!" desis Laurine penuh penekanan.
"Ya, Presdir"
Edmund membuang nafasnya kasar sebelum lalu kembali berjalan menuju Xavier yang berada area luar rumah manor sana.
Terlihat salah satu kaki pria yang merupakan biang kekacauan ini sedang menginjak perut seorang kepala keamanan Laurine dengan begitu santainya seraya berkacak pinggang.
Di sekitar tempat itu juga terdapat beberapa pengawal dan pelayan yang sudah terkapar tak berdaya akibat berusaha menahan Xavier tadi.
Untungnya hanya cedera dan ada juga yang pingsan. Tidak lebih.
"Silahkan masuk, Tuan Xavier Kim. Presdir sudah menunggu Anda di area belakang manor" kata Edmund sedikit enggan membiarkan Xavier bertemu dengan Laurine.
"Kenapa tidak sedari tadi? Dengan begitu aku tidak perlu mengeluarkan tenagaku untuk memberimu dan anak buahmu itu pelajaran karena berusaha menghalang-halangiku" sinis Xavier lalu mulai melangkahkan kakinya masuk.
Bangunan itu cukup besar. Untuk bisa ke area belakang seperti yang di katakan Edmund tadi, Xavier harus melewati ruangan tengah yang luas terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan arahan Edmund. Karena Xavier dulu sering menginjakkan kakinya di sini dan masih mengingat betul seluk beluk tempat ini.
Di sepanjang lorong rumah megah itu, terlihat tidak ada satu pun foto-foto keluarga seperti rumah lain pada umumnya.
Setelah terus berjalan, barulah kemudian Xavier sampai di area belakang di mana memang sudah ada Laurine di sana.
Terlihat wanita itu sedang duduk manis di sebuah kursi yang menghadap ke arah taman cantik dan air mancur di hadapannya.
"Kau mau kopi atau teh?" ujar Laurine memperlihatkan kesopanannya.
Bersandiwara untuk menutupi kepanikan dalam hatinya dengan baik agar terlihat seperti musuh yang kuat di hadapan Xavier.
"Darah segar manusia saja bagaimana? Apa ada?" balas Xavier dengan pandangan berpendar pada pemandangan cantik di sekitarnya.
"Kalau begitu kau harus membunuhku terlebih dahulu agar dapat meminum darah segarku"
Xavier membalikkan badannya seraya terkekeh. "Inginku juga seperti itu. Namun, sepertinya aku harus lebih bersabar dulu sekarang. Balas dendamku padamu tidak akan semudah itu. Bukankah kehidupan yang menyedihkan lebih buruk dari kematian yang menyakitkan?"
Akhirnya Laurine menatap Xavier dengan tatapan mencemooh. "Sepertinya kau sedang menceritakan kisah hidupmu sendiri. Benarkah kehidupan yang menyedihkan lebih buruk dari kematian yang menyakitkan? Jujur saja aku tidak pernah merasakannya. Jadi, aku tidak terlalu mengerti arti perkataanmu tadi"
Lantas Xavier menanggapinya dengan kekehan sinis. "Ya. Hidupku memang semenyedihkan itu"
Laurine bersidekap dada dan mengangkat dagunya dengan angkuh. "Kenapa? Apa aku juga termasuk penyebab di balik kehidupanmu yang menyedihkan itu? Kasihan sekali dirimu. Lalu kenapa kau tidak langsung mengakhiri hidupmu sendiri saja kalau begitu? Aku dengar kebanyakan para pengidap gangguan mental depresi melakukan hal itu"
"Sialan!" umpat Xavier dalam hati.
Laurine berhasil membuat Xavier naik pitam dan kesal. Lalu mata Xavier tidak sengaja melihat sebuah foto USG kehamilan Laurine dulu yang tengah di genggam oleh wanita itu.
"Sayangnya masih ada hal yang harus aku lakukan sebelum aku mati" Xavier bersuara pelan.
Jujur saja, mengingat mendiang putrinya itu membuat hati Xavier juga terasa sakit. Lantas Xavier mengambil foto yang sebelumnya tidak pernah sekalipun dia lihat itu dengan cekatan saat Laurine lengah.
Kemudian Laurine berusaha merebut kembali potret kenangan satu-satunya sang putri yang dia miliki itu.
"Kembalikan! Itu milikku!"
Renggut Laurine kesal dan Xavier semakin mengangkat foto itu tinggi-tinggi agar tidak bisa di raih oleh Laurine.
"Ada apa denganmu? Bukankah kau tidak menginginkannya? Tapi, kenapa kau masih menyimpan foto kenangan pertama dan terakhir bayi ini? Lihatlah. Kau bahkan marah saat aku merebut foto ini darimu. Apa kau tidak ingat dengan apa yang kau lakukan pada anakku dulu?"
Laurine mengerang gusar dan memutuskan untuk menyerah mengambil foto itu.
__ADS_1
"Dia juga anakku!" bentak Laurine nyaring.
"Kau tidak pantas menganggapnya sebagai anakmu! Jika kau memang seorang Ibu, maka kau tidak akan membunuh darah dagingmu sendiri! Kau adalah ibu terburuk di dunia ini!"
PAR!!!
Tepat saat Xavier mengakhiri ucapannya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Di dunia ini tidak ada yang berani melakukan tindakan berani itu selain Ayahnya dan tentu saja Laurine. Tamparan yang Laurine berikan pada Xavier sepertinya terlampau keras hingga membuat tangannya bahkan memerah.
Salah satu tangan Xavier terulur mengusap bagian wajahnya yang baru saja terkena tamparan Laurine. "Kau pikir kau siapa berani-beraninya menamparku?!" geram Xavier.
"Lalu kau pikir kau juga siapa berani-beraninya menghinaku?!"
"Kau memang pantas mendapatkannya!"
Perlahan tatapan Laurine menyendu dengan air mata yang sudah mengenang. "Apa aku seburuk itu di matamu?" kata Laurine yang merupakan sebuah pertanyaan.
"Memangnya sebaik apa kau di matamu sendiri sampai terkejut ketika tahu ada orang lain yang berpandangan buruk tentangmu?" timpal Xavier dengan suara memelan seraya menatap lekat mata bulat yang memerah kentara sedang menahan tangis itu.
Laurine tersenyum getir. "Butuh waktu lama hingga aku benar-benar memutuskan untuk mengugurkan kehamilanku. Lalu kau ingin tahu kenapa aku selalu memakai pakaian hitam selama tujuh tahun terakhir ini? Itu karena aku juga merasa kehilangan seperti dirimu!"
"Kehilangan? Kenapa? Apa kau baru menyesal setelah menghilangkan nyawanya? Sadarlah! Menyesal tidak akan merubah apapun! Anakku tetap sudah mati dibunuh olehmu!"
Mata Laurine mulai memerah karena mendengar perkataan tajam Xavier yang sangat menyakiti hatinya. "Ya. Aku memang membunuhnya. Aku bisa di katakan pembunuh karena tetap bersikeras melakukan aborsi pada bayi yang sedang ada di rahimku. Aku menentang keras keinginanmu untuk membesarkan bayi itu saja. Namun, aku tidak bisa melakukan apapun lagi karena bayi itu akan membahayakan dirimu. Aku berusaha melindungimu dengan rela mengorbankan kehidupanku sendiri. Tapi, sepertinya itu sia-sia saja. Kini kau bahkan sangat membenciku" seloroh Laurine menggebu-gebu.
Alis Xavier bertaut. "Apa maksudmu?" tanyanya penasaran dengan perkataan Laurine.
Namun, Laurine memilih untuk tidak menjawab dan beranjak pergi menjauh dari Xavier dengan langkah tergesa-gesa. Xavier mengikuti langkah Laurine dari belakang seraya terus mencecar pertanyaan.
"Melindungiku? Apa itu artinya kau terpaksa melakukannya? Kenapa, Laurine? Tolong katakan penyebab kau melakukannya!"
Tepat saat hendak menaiki tangga, tangan kiri Laurine berhasil Xavier raih dan di cekal. Pria itu membalikan tubuh Laurine untuk menghadap ke arahnya.
"Katakan alasannya!" bentak Xavier yang sudah mulai kembali terpancing emosinya.
Dengan menggunakan tenaga yang cukup besar, Laurine berhasil melepaskan cekalan Xavier pada pergelangan tangannya.
"Menjelaskan alasannya padamu tidak ada gunanya! Itu tidak akan menghidupkan nyawa anakmu yang sudah mati karenaku, bukan?! Hal yang seharusnya kau lakukan bukanlah mengampuni si pembunuh dengan mencari tahu alasannya melakukan itu! Tapi, bunuh dia juga dengan cara tak kalah sadis! Seperti itu lah sejatinya balas dendam!"
Lalu Laurine kembali melangkahkan kakinya menapaki tangga dan Xavier berjalan di belakang mengikuti.
"Dengar. Aku akan mengampunimu jika kau menjelaskan alasannya. Aku bersungguh-sungguh"
"Sudah aku bilang! Menjelaskannya tidak akan merubah apapun! Segera laksanakan saja rencana pembalasan dendammu itu padaku! Aku menunggu!"
BRAK!!!
Sayangnya, Xavier sedikit terlambat seperkian detik saja ketika Laurine masuk ke kamar tidur. Tidak lupa juga menutup dan mengunci pintunya.
"Laurine!" panggil Xavier lantang seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan cukup kasar hingga menimbulkan suara keras.
Menarik perhatian Edmund, para pengawal dan pelayan yang berada di lantai bawah sana.
"Buka pintunya, Laurine! Keluar dari kamar ini atau aku akan kembali menghabisi semua orang di sini!"
Pengawal dan pelayan seketika menundukkan kepalanya takut saat mendengar ancaman Xavier yang di tujukan pada Laurine itu. Tidak terkecuali Edgar.
"Jangan membawa-bawa orang yang tidak bersalah dalam masalah ini... Tidak... Jangan lagi... Cukup anakku saja..."
Kini Xavier sudah tidak lagi mengetuk-ngetuk keras pintu kamar itu. Tubuhnya menegang saat mendengar jika nada suara Laurine yang sedari tadi terus membentak mulai berubah menjadi lirih.
Tidak lama setelah itu tangisan Laurine mulai terdengar mengisi kekosongan malam.
"Jangan menangis. Itu juga tidak akan merubah apapun" ucap Xavier membujuk dengan lugas.
Tapi, tangisan Laurine dari arah dalam sana malah semakin keras dan terdengar pilu bagi siapapun mendengarnya.
Xavier menghela nafasnya kasar seraya mengusap wajahnya gusar. Frustasi mendengar isak tangis Laurine yang begitu menyiksanya.
Tanpa Laurine ketahui jika Xavier juga tengah menangis tanpa suara. Memang tidak ada isakan atau linangan air mata. Namun, hati Xavier tengah merasakan rasa sakit yang sama. Batin keduanya sama-sama menjerit pilu. Begitu sulitnya berada di posisi rumit seperti ini.
...TO BE CONTINUED...
...ngerahasiain apa si lo rine😌...
__ADS_1