
Flashback 10 Years Ago...
March 27th 2013.
08:36 PM. Penthouse
Suasana menjadi canggung setelahnya. Laurine menatap Xavier lekat seolah meminta penjelasan lebih lanjut, namun Xavier hanya terdiam sembari mengalihkan pandangan ke arah lain tidak mau menatap Laurine karena gugup.
Sementara itu Marcus tengah bersorak girang di antara kecanggungan antara dua orang itu.
"Kita harus bersenang-senang untuk merayakan ini! Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan minuman untuk kita semua!" kata Marcus berseru lalu melangkahkan kaki menuju lemari penyimpanan minuman dengan penuh semangat.
Meninggalkan hanya Xavier dan Laurine saja. Sepeninggalnya Marcus, suasana semakin terasa canggung saja.
"Jangan memikirkan perkataannya" ucap Xavier membuka suara.
"Bocah itu memang suka berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu"
Lalu Laurine tertegun. Perkataan Xavier tadi seolah membuktikan jika Laurine tidak boleh berharap lebih. Rasa kecewa menyelimuti hati gadis itu.
"Apa itu berarti kau tidak menyukaiku?" tanya Laurine.
Namun Xavier juga tidak bisa menjawab. Lelaki itu hanya terdiam membisu dan membuat Laurine bingung.
...***...
08:42 PM. Penthouse.
Marcus kembali datang sembari membawa setidaknya 4 buah botol minuman keras berisi rum.
Xavier menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu. Sedangkan Laurine menatap antusias botol-botol minuman yang sedang Marcus simpan di atas meja makan.
"Kau menyimpan semua ini di rumahku?!" sinis Xavier bersidekap dada.
Marcus berdecak seraya memutar bola matanya malas. "Sinis sekali. Lagipula jangan munafik. Kau juga menyukai minuman seperti ini, bukan? Bahkan ayahmu membelikanmu 5 buah botol wine berumur lebih tua darimu saat perayaan ulang tahunmu yang kau habiskan sendirian"
Saat Xavier sudah membuka mulut hendak membalas perkataan Marcus, suara Laurine menghentikannya.
"Ini apa?" tanya Laurine polos menatap binar botol-botol berisikan minuman keras itu.
Lalu Marcus menyenggol pelan tangan Xavier. "Woah! Apa dia adalah seorang Putri Kerajaan? Apa kau menemukannya setelah dia keluar dari buku dongeng? Manusia suci sepertinya ternyata masih ada di dunia ini" celetuk Marcus.
Xavier mengambil botol-botol itu untuk menjauhkannya dari pandangan Laurine. "Kau tidak boleh meminumnya"
"Tapi aku ingin!" kata Laurine sedikit meninggikan suaranya dengan berusaha menghalau Xavier agar tidak menyembunyikan botol-botol minuman keras itu darinya.
"Tapi sepertinya kau tidak pernah sekalipun meminum ini!"
"Karena itu sekarang aku ingin meminumnya untuk pertama kali!"
"Tidak boleh, Laurine! Kau bisa gila setelah meminum ini!"
"Kenapa kau melarangku?" Pertanyaan Laurine berhasil membuat Xavier bungkam.
"Tentu saja karena dia peduli padamu, Nona" Itu adalah Marcus yang menjawab sembari merenggut botol-botol itu dari Xavier.
Untuk kesekian kali Laurine dibuat tertegun dan menatap Xavier penuh harap.
"Abaikan saja dia. Mari bersenang-senang bersamaku" ajak Marcus lalu membuka botol rum dan menuangkannya ke gelas yang kemudian diberikan pada Laurine.
"Tepat sekali aku membawa rum. Karena jika dibandingkan dengan wiski dan vodka, setidaknya rum memiliki kandungan alkohol yang lebih rendah. Cocok untuk pemula sepertimu"
__ADS_1
Laurine duduk di kursi makan dan sejenak menatap sesaat Xavier yang sedang terdiam sembari menatapnya.
Kemudian tanpa berpikir panjang Laurine segera mengambil gelas dari Marcus dan meneguk isinya perlahan. Saat pertama kali merasakannya, lidah Laurine tidak terlalu terbiasa.
Dalam keterdiaman, Xavier dapat melihat jelas wajah mengerenyit nan menggemaskan Laurine ketika merasakan betapa anehnya rasa minuman keras.
"Rasanya aneh, tapi enak juga" ucap Laurine lalu kembali melanjutkan dan kini sudah meneguk habis rum yang ada di dalam gelas.
"Aku berdosa sekali mengajak gadis polos sepertinya untuk mabuk. Tapi, bukankah tugas setan memang seperti itu?" gumam Marcus mengendikan bahunya acuh dan kembali mengisi gelas milik Laurine dilanjut mengisi gelas miliknya.
Masih di tempatnya. Xavier hanya bisa terdiam melihat Laurine yang tampak senang dan menikmati momen di malam ini. Ketika Laurine berseru ceria seraya bersulang bersama Marcus, ketika Laurine meneguk habis segelas minuman keras rum, dan ketika Laurine menunjukan ekspresi mengerenyit aneh tidak lepas dari pandangan Xavier.
"Hey. Apa kau tidak mau bergabung?" ajak Marcus pada Xavier.
Lalu Xavier hanya berdiam dan tidak menjawab. Tidak ikut bergabung minum ataupun bergabung ke dalam pembicaraan Marcus dan Laurine.
"Apa ini benar-benar kali pertamamu minum minuman keras?" Marcus bertanya pada Laurine seraya mendudukan diri di atas kursi.
"Ya. Ini kali pertamaku"
"Kenapa bisa?"
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Aku pikir umur kita sama lalu kenapa kau sepertinya sudah hafal sekali kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa ini?"
"Ini bukan masalah dewasa atau tidak dewasa, tapi soal lingkungan. Sepertinya kau berasal dari keluarga terhormat yang sangat berpendidikan dan mengharuskannmu untuk menjaga sikap ya?"
"Bisa dikatakan seperti itu"
"Pantas. Sudah kuduga. Memangnya apa pekerjaan orang tuamu?"
Meskipun pembicaraan Laurine dan Marcus terdengar jelas di telinganya, namun fokus Xavier tidak tergoyahkan dengan terus memperhatikan lekat Laurine.
Marcus terbatuk mendengarnya. Lalu setelah batuknya mereda, Marcus menatap Laurine dengan mata membulat.
"TJ Group?! Perusahaan real estate terbesar di negara ini?! Benarkah?! Kau adalah keturunan dari pendiri TJ Group?!"
Laurine mengangguk pelan dan melirik sesaat Xavier. Pandangan mereka bertemu, tapi Laurine dengan buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke arah Marcus dan meneguk gelas berisi rum-nya.
Terlihat Marcus semakin antusias berbicara dengan Laurine. "Aku dengar harga 1% saham di TJ Group setara dengan harga 3 mobil mewah. Benarkah?"
"Keuntungan yang akan didapatkan pemegang saham bisa lebih dari itu"
"Bukankah aku sudah menjadi temanmu sekarang? Bagaimana jika kau memberi sedikit saham untukku sebagai balasan karena telah mengajakmu minum untuk pertama kalinya?"
Gelak tawa Laurine terdengar karena ucapan Marcus tadi. Hal itu juga tidak lepas dari pandangan Xavier. Entah kenapa hati Xavier menghangat melihatnya. Seolah kebahagiaan Laurine menular padanya.
Tidak ingin terlarut dalam opium yang diberikan oleh Laurine, dengan cepat Xavier membuyarkan lamunannya lalu beranjak berdiri dari kursi. "Aku akan tidur. Jangan membuat kegaduhan" ucapnya dingin dengan kedua tangan dimasukan ke saku celana lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Laurine memandang tubuh Xavier yang mulai berjalan menjauh dengan tatapan sendu. Marcus juga meliha Xavier dan berdecak.
"Dia memang tidak asik" gumam Marcus kemudian berteriak pada Xavier. "Hey, Brengsek! Perbaiki sikap membosankanmu itu atau kau akan menjomblo seumur hidupmu! Menjadi laki-laki sejati bukan hanya bermodal wajah tampan atau tubuh atletis saja, tapi kepribadian menyenangkan juga dibutuhkan!"
Sebelum menaiki tangga, Xavier sempat memandang Laurine untuk sesaat sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi. Marcus mengalihkan pandangan dan mandapati Laurine yang terlihat masih memandangi Xavier.
"Mau mendengar banyak info tentangnya?" tanya Marcus yang membuat Laurine sontak menoleh.
"A-apa maksudmu? L-lagipula untuk apa aku mengetahuinya?" balas Laurine setengah gugup dan menutupinya dengan meminum kembali rum.
"Kau terlihat jelas sangat tertarik padanya. Lalu aku di sini sebagai sahabatnya yang sudah berteman denganya selama 18 tahun, akan dengan senang hati membantumu untuk mendekatinya. Tidak banyak sih karena bagaimanapun juga kehidupannya bersifat misterius dan tidak boleh banyak orang yang tahu, jadi aku hanya akan memberitahu beberapa hal yang dia sukai dan tidak dia sukai. Setidaknya cukup untuk membuatmu lebih dekat dengannya"
"Apa aku terlihat jelas sangat tertarik padanya?! Aku tidak ingin mendengar apapun tentangnya!" ketus Laurine pelan dan kentara sedang membohongi perasaannya.
__ADS_1
Marcus memutar bola matanya malas seraya bersidekap dada. Lalu menatap sinis ke arah lantai atas di mana ada Xavier berada yang sudah masuk ke dalam kamar tidur dan Laurine di sampingnya yang tengah meminum rum secara bergantian. "Drama macam apa ini?!" gumamnya sinis.
...***...
09:47 PM. Penthouse.
Satu jam hampir berlalu, Marcus dan Laurine adalah dua orang cerewet yang tepat untuk mengobrol bersama sembari minum. Terbukti dengan 3 botol rum yang sudah habis tanpa mereka sadari.
Sementara itu, Xavier tidak sekalipun bergabung ke dalam pembicaraan atau ikut minum. Lelaki itu sedang berdiam sendirian di kamar tidurnya. Berusaha agar cepat tidur, namun nyatanya tetap tidak bisa.
Suara celotehan Laurine dan Marcus terus terdengar di telinga Xavier meskipun jarak antara dapur dan kamar tidur berada cukup jauh.
"Sialan!"
Xavier mengumpat sembari bangun dari rebahnya. Kemudian turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju ke arah dapur. Pikirannya tidak bisa tenang karena terus memikirkan Laurine yang tengah minum minuman keras bersama Marcus di bawah sana.
Jika menyangkut dengan Marcus, maka pasti selalu ada hal yang tidak beres. Lalu benar saja. Sesampainya di dapur, Xavier mendapati Laurine yang sudah mabuk berat dengan posisi kepala menelungkup di atas meja.
"Hai, Sobat" sapa Marcus melambai tangan dengan kondisi masih bugar yang berbeda jauh dengan keadaan Laurine.
Perlahan Xavier menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah Laurine. Gadis itu tertidur dengan wajah bersemu merah.
"Calon kekasihmu ini payah dalam minum. Dia hanya terhitung baru meminum 1 botol rum saja, tapi sudah mabuk berat seperti ini"
"Karena dia bukan iblis sepertimu!"
Marcus pun mengangguk-nganggukan kepalanya setuju sembari terkekeh. "Sebenarnya aku sedikit tertarik pada gadis ini. Hanya saja karena kau yang pertama kali menemukannya, jadi aku dengan berat hati mengikhlaskannya untukmu. Ditambah lagi aku sudah membuatnya mabuk dan kau bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Kau tidak mau mengucapkan terima kasih banyak padaku?"
"Kau dan segala pikiran kotormu itu memuakkan!" desis Xavier dan kembali beralih menatap Laurine.
Kemudian setelahnya Xavier menggendong tubuh kecil Laurine dengan penuh hati-hati dan beranjak pergi dari dapur menuju ke lantai atas.
"Selamat bersenang-senang kalian!" teriak Marcus melontarkan candaan lalu tertawa keras.
Xavier tidak menghiraukan dan terus melangkahkan kaki. Masuk ke dalam sebuah kamar tidur dan merebahkan tubuh Laurine perlahan di atas ranjang.
Kemudian setelah menutupi sebagian tubuh Laurine sebatas perut dengan selimut, Xavier hendak beranjak pergi. Namun langkah Xavier terhenti ketika suara igauan Laurine terdengar memanggil namanya.
"Xavier..." gumam Laurine masih dalam tidurnya.
"Hm?" Entah kenapa juga Xavier menjawab dengan gumaman pelan.
"Apa kau menyukaiku?"
Pertanyaan Laurine yang terlontar tanpa sadar di bawah pengaruh alkohol tidak dijawab oleh Xavier.
"Kenapa tidak menjawab? Apa kau tidak menyukaiku?" tanya Laurine lagi masih dengan mata tertutup.
"Apa aku harus menjawabnya?" Xavier balik bertanya ketus.
Lantas Laurine mengangguk. "Karena aku menyukaimu"
Seketika Xavier membeku, namun tak lama kemudian menggelengkan kepala. "Kau mabuk. Tidurlah"
"Aku bersungguh-sungguh..." lirih Laurine sebelum akhirnya rasa kantuk dicampur mabuk membuatnya hilang kesadaran dan perlahan tertidur.
Untuk kesekian kali Laurine membuat Xavier terdiam. Xavier berpikir jika ucapan Laurine hanyalah celotehan orang mabuk, tapi entah kenapa Xavier menyimpan harapan yang begitu tinggi.
"Aku juga menyukaimu" gumam Xavier pelan yang sayangnya tidak Laurine sadari karena sedang berada dalam keadaan mabuk.
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1