Lex Talionis

Lex Talionis
18. Dumb and Dumber


__ADS_3

12.30 PM. TJ Group Office.



Dua pasang manusia berbeda gender itu berjalan beriringan memasuki kantor utama The Jung Group dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.


Berjalan sembari sesekali melontarkan candaan yang membuat sudut bibir keduanya terangkat lebar.


Membuat beberapa pegawai di sekitar memperhatikan mereka. Begitu pun juga Edmund yang berjalan di belakang mereka terus memperhatikan keduanya.


Terlihat begitu mesra sekaligus aneh bagi siapapun melihatnya. Mesra karena mereka yang terlihat bahagia. Lalu aneh karena untuk pertama kalinya sang CEO perusahaan ini bermesraan dengan seorang pria yang diduga adalah kekasihnya.


Sebab sebelumnya seluruh orang-orang yang bekerja di The Jung Group mengetahui rumor jika Laurine selalu menolak pria yang mendekatinya.


Terlebih lagi pria yang sekarang saat ini bersama dengan Laurine bukan pria yang begitu dikenal di kalangan bisnis mereka.


Tepat setelah Laurine dan Xavier diikuti Edmund di belakang yang memasuki lift dan mulai menghilng dari pandangan, bisik-bisik yang membicarakan mulai terdengar.


"Siapa pria itu? Presdir dari perusahaan mana?"


"Aku sempat mengira jika Presdir Laurine Jung adalah lesbi karena selalu menolak pria yang mendekatinya selama ini"


"Pria itu Presdir dari perusahaan mana?"


"Aku pikir jika melihat perawakan dan wajahnya, pria itu adalah seorang model. Mungkin"


"Mereka cocok sekali. Yang satu cantik dan yang satu tampan"


"Apa mungkin pria itu adalah ayah dari anak Presdir?"


"Bukankah anak itu hanya rumor tidak jelas belaka?"


"Tapi rumor adalah fakta yang tertunda untuk diakui kebenarannya oleh yang bersangkutan"


"Kau benar. Aku jadi sangat penasaran dengan rupa anak itu sekarang"


"Apa mereka bercinta sampai tiga hari penuh hingga leher mereka seperti itu?"


Sementara itu, elevator sudah mengantarkan Xavier, Laurine, dan Edmund ke lantai paling atas.


Kemudian melanjutkan langkah menuju sebuah ruangan besar pribadi sang pemimpin perusahaan.


Xavier dan Laurine saling berhadapan dan tersenyum.


"Selamat bekerja, kekasihku" kata Xavier seraya mengelus puncak kepala Laurine penuh sayang.


Laurine mengangguk. "Terima kasih, kekasihku"


"Jangan terlalu bekerja keras. Kau harus tetap sehat. Makan teratur, berhenti saat sudah merasa lelah, dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu"

__ADS_1


Lantas Laurine terkekeh pelan. "Kau ini cerewet sekali"


Pandangan Xavier beralih pada Edmund. Sorot mata hangat itu berubah menjadi tajam. "Jaga Laurine dengan baik. Jika terjadi hal yang buruk padanya, maka kau yang pertama aku habisi" katanya dan Edmund hanya bisa mengangguk patuh.


"Jangan khawatir. Tuan Lee selalu berusaha keras untuk melindungiku" bela Laurine.


Xavier mengangguk-nganggukan kepalanya dan kembali menatap Laurine. Tersenyum sebelum akhirnya memberi kecupan singkat pada dahi wanita itu.


"Aku pergi dulu. Nanti malam aku akan kembali mengantarmu untuk pulang. Jangan dulu pulang sebelum aku yang menjemputmu" ucap Xavier dan Laurine mengangguk paham.


Perlahan genggaman mereka terlepas dengan perasaan hati yang berat. Dilanjut dengan Xavier yang mulai kembali melangkahkan kaki untuk pergi dari sana dengan Laurine yang terus memperhatikan sampai akhirnya pria itu menghilang dari pandangan.


"Dia terlihat seperti monster dari luar, namun sebenarnya dia adalah pangeran bukan?" ujar Laurine mengajak Edmund berbicara.


"Dia bersikap seperti pangeran kepada Anda saja. Karena kepada orang lain, dia tetaplah monster" balas Edmund tertawa pelan diikuti Laurine yang juga ikut tertawa.


"Anda beruntung memilikinya"


Laurine mengangguk setuju tanpa ragu. "Setelah serangkaian dosa yang telah aku lakukan, dia tetap memilih untuk mengampuniku. Aku beruntung memilikinya"


...***...


13:02 PM. Black Clan Headquarters.



Noah hampir saja menyemburkan air putih yang baru diteguknya. Dibuat cukup terkejut melihat Xavier dengan segala kondisi aneh anak sahabatnya itu.


Raut wajahnya berseri-seri. Rasanya Noah ingin siapapun mencubit atau bahkan menamparnya untuk membangunkannya dari mimpi ini.


Tapi di lain sisi siapapun tolong sadarkan pada Noah jika yang baru saja dia lihat dari sosok xavier memanglah kenyataan.


Sementara Xavier mengabaikan tatapan Noah dengan terus melangkahkan kaki sembari bersenandung ria. Kemudian mendudukan diri di kursi utama.


"Apa matahari sudah terbit dari barat? Atau hanya tanda-tanda akhir zaman yang sudah muncul? Jika iya, maka aku akan bertobat sekarang juga" gumam pria paruh baya terperangah.


Xavier menyerengit lalu terkekeh pelan. "Maksudmu, Paman?"


"Suasana hatimu adalah hal yang paling membingungkan di dunia ini. Jalan pikiranmu bagaikan misteri yang sulit terpecahkan. Sebelumnya kau terlihat seperti iblis yang siap menyambut manusia di neraka, tapi kenapa kau sekarang malah terlihat seperti malaikat bersayap yang baru saja turun dari langit?" seloroh Noah dan Xavier hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.


"Aku yang mengajarimu berjalan dan membantu ayahmu dalam membesarkanmu. Jadi, aku sangat mengenalmu dan bisa membedakan mana topeng kebahagiaan yang kau pakai untuk menutupi kesedihanmu dan mana topeng kebahagiaan yang sebenarnya"


"Lalu?" tanya Xavier menautkan alisnya.


"Yang ini kebahagiaan yang sebenarnya. Aku tebak, si singa betina pelaku gigitan di lehermu adalah alasannya" ujar Noah melirik sesaat tanda kemerahan yang mengintip sedikit dari kemeja hitam Xavier.


Xavier mengangguk sebagai jawaban. "Singa betina yang cantik dan berhasil membuatku menggila karenanya"


Noah menghela nafasnya pelan. "Dan kau singa jantan yang gila dan bodoh" lirihnya pelan tidak terdengar.

__ADS_1


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


Dengan cepat Noah menggelengkan kepala. "Lupakan"


"Langsung pada poin utamanya. Apa penjelasan masalah yang kau maksud dalam telepon tadi?" tanya Xavier memajukan tubuhnya dan memulai percakapan serius tentang organisasi Black Clan.


"Mereka sudah mengikuti perintahmu untuk menbuat keributan di beberapa bisnis diskotik milik Dominic. Tapi, di saat yang bersamaan Dominic juga berulah lagi. Kali ini dia membakar gudang senjatamu. Cukup parah sampai membuat gudang itu meledak dan menghanguskan semua senjata yang berada di dalamnya. Dua orang penjaga yang sedang bertugas di sana pun ikut menjadi korban"


Xavier menggertakan giginya setelah mendengar penuturan Noah tentang ulah Dominic si musuhnya yang seolah tak ada habisnya mencari masalah padanya.


"Bukankah menurutmu juga ini sudah keterlaluan? Kita harus segera menghabisinya atau kekacauan lain akan kembali terjadi. Aku bisa melenyapkannya sekarang juga dengan perintahmu"


Kemudian Xavier menggeleng dengan pikiran menerawang dan pandangan lurus menatap ke depan. "Aku juga sangat ingin melenyapkannya, tapi aku tidak bisa"


"Kenapa?"


"Laurine melarangku melakukan itu. Dia akan marah besar jika tahu aku melakukan kekerasan terhadap orang lain"


"Laurine lagi?! Karena wanita itu lagi?! Kau seperti ini karena dia lagi?!" teriak Noah.


"Sebenarnya kau ini gila atau apa?! Dominic adalah psikopat sinting yang bisa saja membunuh kita semua jika kita hanya berdiam saja layaknya benda mati yang tolol! Apa kau akan diam saja melihat Dominic hendak menembakmu dan orang-orang di sekitarmu?! Jawab aku!"


Kini Noah  sudah berdiri dan mencengkram kerah kemeja Xavier cukup erat. Sedangkan Xavier masih berdiam dengan tatapan tajamnya.


Noah tersenyum sinis. "Ah, sepertinya aku salah bertanya. Apa kau akan diam saja jika Dominic hendak menusuk jantung Laurine-mu?!"


"Sebelum dia membunuh Laurine, aku yang akan terlebih dulu membunuhnya!"


Perlahan cengkraman Marcus terlepas dan tawa keras terdengar. "Kau selalu memikirkan Laurine, tapi selalu mengabaikan orang-orang disekitarmu yang selama ini selalu ada untukmu! Henry sebagai ayahmu, Marcus sebagai sahabatmu, diriku sebagai pamanmu, dan ratusan orang lainnya sebagai anak buahmu! Kau akan membiarkan kami semua mati, tapi kau tidak akan membiarkan wanita ****** itu mati!"


Mendengar rangkaian akhir kalimat Noah berhasil membuat emosi Xavier tersulut. Dengan cepat sebuah pukulan keras hendak mendarat sempurna di pipi kanan Noah, tapi tidak jadi karena tangn Xavier akhirnya hanya melayang di udara. Lalu Noah hanya memandang tajam Xavier.


"Jaga ucapanmu, Paman!" bentak Xavier dengan tangan terkepal keras.


"Beruntung kau adalah orang terdekatku. Karena jika orang lain yang mengatakannya, sudah aku pastikan orang itu tidak akan hidup di dunia lagi!" kata Xavier kemudian mulai melangkahkan kakinya hendak beranjak pergi dari ruangan itu.


"Xavier..." panggil Noah pelan.


Lalu Xavier memberhentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah belakang.


"Aku tahu kau sangat mencintainya. Aku akui kisah cinta kalian juga sudah melalui banyak hal yang begitu rumitnya. Tapi, di lain sisi kau juga harus mampu menerima fakta. Sebuah fakta jika dengan tetap berada di sampingnya hanya akan mengundang marabahaya lainnya. Kalian tidak baik jika terus bersama. Kau boleh merasakan apa yang kau rasa, tapi kau tidak boleh melupakan logika. Tolong selalu ingat perkataanku ini"


"Urus saja urusanmu sendiri. Paman!" desis Xavier lalu kembali melanjutkan langkahnya pergi dari sana meninggalkan Noah.


"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi, tidak ada yang bisa dihentikan dari jatuh cinta. Aku ini memang bodoh, bukan?" batin Xavier dalam hati bermonolog pada dirinya sendiri.


...TO BE CONTINUED...


...cari cowok tuh yang pemaaf dan banyak effort kayak xavier👍🏻...

__ADS_1



__ADS_2