Lex Talionis

Lex Talionis
13. Let Them


__ADS_3

07:08 AM. Penthouse.



Pagi menjelang.


Sungguh Laurine merasa risih ketika Xavier terus memeluknya erat dengan posisi tubuh yang sama-sama tengah terbaring di atas ranjang ini.


Setelah kejadian tadi malam, Xavier tidak mengantarnya langsung pulang ke rumahnya dengan alasan keamanan Laurine.


Lalu Xavier membawa Laurine ke rumah pria itu untuk menginap semalaman ini. Masalahnya bukan hanya menginap saja, Laurine juga terkejut saat Xavier juga tidur satu ranjang dengannya.


Dari semalam Xavier terus memeluk Laurine dan tidak pernah sedetik pun melepaskan pelukan. Rasanya Laurine merasa kikuk karena berada di posisi intim seperti ini dengan Xavier setelah sekian lamanya.


Dahulu jika salah satu dari mereka memeluk atau saling berpelukan adalah hal yang biasa. Namun, tidak dengan sekarang. Sebab keadaan juga sudah berubah.


Laurine bisa melihat dengan jelas wajah tenang Xavier yang tengah tertidur ini dari jarak dekat. Begitu menenangkan hatinya dan kembali membuat wajah wanita itu memerah entah kenapa.


Xavier begitu erat memeluk Laurine dengan tetap terlelap. Begitu kencang sampai Laurine dapat merasakan kenyamanan dada Xavier untuk dijadikan sandaran.


Tentu baik Laurine dan Xavier tahu betul akan apa yang mereka lakukan kemarin malam. Ego dari keduanya masih tinggi dan sejujurnya peristiwa buruk tidak akan dengan mudah dilupakan begitu saja.


Tapi, rasa selalu saja bisa mengalahkan logika. Sampai akhirnya mereka saling mencium untuk meluapkan kerinduan yang sudah sedari lama ditahan selama 7 tahun lamanya.


Ah, mengingat itu kembali membuat Laurine malu!


"Lepaskan aku" kata Laurine pelan dengan suara parau.


"Diamlah" tegur Xavier kala merasa Laurine yang berusaha terlepas dari dekapannya.


"Aku tidak pernah tidur selelap ini dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, jangan pergi dan pinjamkan tubuhmu. Hanya sebentar lagi"


Laurine menyerengit kenapa Xavier menjadikan tubuhnya seolah sebagai obat tidur.


"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa tertidur nyenyak sampai selama itu?" tanya Laurine berbisik.


"Karena kau. Aku seperti ini karena dirimu"


"Kalau begitu lupakan saja aku. Kau tidak boleh terus hidup seperti itu. Itu tidak baik"


"Aku bukan kau yang bisa melupakan masa lalu dengan begitu mudahnya. Aku punya rasa bersalah. Meskipun itu sebenarnya bukan ulahku"


Helaan nafas kasar dari Laurine terdengar. Perkataan Xavier tadi menyinggungnya dan seolah berkata jika wanita itu tidak punya rasa bersalah.


Padahal Xavier tidak tahu saja bahwa Laurine sebenarnya juga tersiksa dengan hal-hal yang terjadi di masa lalu. Sebab Laurine tidaklah seburuk yang Xavier pikirkan.


"Tapi, aku harus segera pulang dan bekerja. Sudah 2 hari aku tidak masuk ke kantor. Pekerjaanku pasti sudah sangat menumpuk dan harus segera diselesaikan. Jadi, biarkan aku pergi!" kata Laurine sedikit ketus dengan suasana hati yang buruk.


"Hari sabtu kau tidak pergi ke kantor. Biasanya kau akan menjenguk kakak kembarmu. Lalu sebagai gantinya, kau akan masuk ke kantor saat hari minggu di saat para pegawaimu justru libur"


Sontak Laurine menyerengit seraya menjauhkan tubuhnya dari tubuh Xavier. "Kau tahu?"


Lantas Xavier mengangguk dengan mata masih terpejam. "Bahkan aku tahu semua detil kegiatan sehari-harimu. Tepat jam 7 pagi kau bangun dari tidurmu, selanjutnya jam 8 pagi menyantap sarapan, biasanya kau pergi ke kantor jam setengah 9 pagi dan akan berangkat lebih awal jika ada sesuatu yang penting atau pun berangkat lebih telat jika tidak ada hal yang terlalu penting , kemudian makan siangmu jam 1 siang, sekitar jam setengah 7 malam kau pulang, di lanjut membersihkan diri dan makan makan dari jam 8 hingga jam 9 malam, terakhir kau tidur saat jam 10 malam. Oh ya, selama tiga kali dalam seminggunya, kau juga akan menyempatkan mengunjungi Lucien di rumah sakit. Dua hari di antaranya saat hendak kembali ke rumah dari kantor, lalu satu harinya lagi di akhir pekan dan kau memang sengaja tidak bekerja di hari itu demi bisa menjenguk Lucien dengan waktu yang lebih lama" ucapnya panjang lebar, namun dengan begitu lancar dan entengnya.


Laurine terperangah tak percaya. "Apa kau mengikutiku?!" renggutnya tak suka.


"Tidak. Lebih tepatnya aku membayar orang untuk mengikutimu dan melaporkan kesehari-harianmu padaku. Satu orang pelayan di rumah, dua orang pegawai di kantor, satu orang perawat di rumah sakit, dan dua orang saat kau berada di luar"


"Kau keterlaluan! Ini pelanggaran privasi namanya!"


"Aku tidak peduli pelanggaran atau apapun itu. Karena yang terpenting bagiku adalah keselamatanmu" kata Xavier dan kembali menarik Laurine ke dalam pelukannya untuk didekap dengan erat.

__ADS_1


Kemudian Laurine tertegun. Ucapan Xavier menghangatkan hatinya. Kembali teringat dengan serangkaian kejadian kemarin.


"Xavier..." panggil Laurine pelan.


"Hm?" Xavier bergumam sebagai jawaban dan masih nyaman pada tidurnya yang tetap menutup mata.


"Tentang perkataan terakhirmu kemarin... apa maksudnya?" cicit Laurine penuh keraguan.


Tidak lama setelah itu Xavier membuka matanya dan menatap Laurine. "Tentang perkataanku yang mengatakan jika tidak akan ada pertemuan terakhir bagi kita?"


Lalu Laurine mengangguk. Menunggu jawaban Xavier yang terlihat sedang terdiam untuk berpikir.


"Aku hanya berpikir jika menjauhimu selama 7 tahun terakhir ini hanya menyakitiku. Dulu aku memang berpikir jika dengan tidak menemuimu lagi akan membuatku berhasil melupakanmu, tapi ternyata itu salah. Lukaku akan tetap ada dan jiwaku semakin menderita. Aku tidak ingin jauh darimu. Meskipun mungkin pertemuan kita hanya di isi konfrontasi juga tidak apa. Asalkan aku bisa melihatmu tanpa merasakan rindu lagi"


Melihat perubahan ekspresi Laurine yang terlihat murung membuat Xavier menyerengit. "Kenapa? Apa kau tidak mau? Apa kau ingin aku menjauh lagi seperti beberapa tahun terakhir ini? Apa kepergianku justru membuatmu bahagia?"


Laurine menggeleng cepat. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Memangnya kau mau bertemu denganku lagi? Walaupun aku sudah menyakitimu? Bukankah 3 hari lalu kau baru saja berkata sangat membenciku?"


"Aku hanya berkata membencimu dan bukan berhenti mencintaimu. Karena sebesar apapun rasa benciku, rasa cintaku akan jauh lebih besar. Sejak pertemuan pertama kita setelah sekian lamanya pada tiga hari lalu, aku sangat merasa senang. Sebuah kebohongan besar jika aku tidak pernah merindukanmu barang sedetik saja selama 7 tahun terakhir ini. Kau adalah seseorang yang paling penting dalam hidupku selain ayahku. Kau temanku, kekasihku dan ibu dari anakku. Kau sangat berharga bagiku. Aku merindukanmu. Sangat" ucap Xavier lalu untuk kesekian kali mengeratkan dekapannya pada Laurine dengan penuh kasih sayang.


"Aku juga merindukanmu" lirih Laurine menutup matanya merasakan kenyamanan yang tengah Xavier berikan padanya.


...***...


08:12 AM. Black Clan Mansion.



"Apa?!" pekik Hans sontak menyimpan gelas berisi kopi yang sedang diminumnya ke atas meja dengan kasar hingga menimbulkan suara khas benda kaca saling bersentuhan.


Pria paruh baya yang duduk di sampingnya dan tengah menemaninya bersantai meminum kopi di pagi hari itu kembali menoleh ke arahnya lalu mengangguk.


Kemudian Noah tertawa. "Entah apa yang terjadi disana. Namun, Marcus bercerita sembari menangis sesenggukan. Katanya dia terharu dengan kisah cinta Xavier dan Laurine. Ah, bocah nakal itu bisa tersentuh juga rupanya. Aku pikir, hubungan antara pria dan wanita baginya hanyalah sekedar ranjang"


Hans menautkan alisnya. "Laurine? Apa maksudmu Xavier menyelamatkan Laurine dari ledakan bom?"


Noah menghentikan tawanya dan mengangguk pelan. Ekspresi cerianya hilang karena tahu jika hal ini tidak di sukai oleh Hans.


"Pengaruh Laurine sangat berdampak besar dalam hidup Xavier. Entah di masa lalu ataupun sekarang, Laurine selalu membuat Xavier dalam bahaya. Kau ingin aku melenyapkannya demi kebaikan Xavier?"


Lantas Hans menggeleng seraya memandang jauh ke arah taman belakang di luar sana. "Melenyapkannya sudah terpikirkan sedari lama di otakku. Tapi, sepertinya itu hanya akan berakibat semakin buruk. Xavier mungkin akan sangat membenciku"


"Kau benar juga. Melihat betapa besarnya rasa cinta Xavier pada Laurine, pasti Xavier akan marah pada siapapun yang menyakiti wanita yang dicintainya"


"Karena itu aku tidak bisa melakukan apapun lagi dan membiarkan mereka yang mungkin sebentar lagi akan kembali bersama. Baik Laurine dan Xavier sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka" timpal Hans lalu kembali menyeruput kopinya.


"Kau yakin?" ujar Noah ingin benar-benar memastikan dan Hans hanya mengangguk acuh.


"Baiklah kalau menurutmu begitu"


Lalu Noah ikut menyeruput kopi dengan melirik sesaat Hans.


Dari luar Hans mungkin terlihat acuh, namun sebenarnya Noah tahu jika sahabatnya itu pasti khawatir memikirkan resiko-resiko yang akan timbul jika Xavier dan Laurine memang kembali bersama.


...***...


09:23 AM. Penthouse.


Pandangan Xavier beralih ke arah Laurine yang baru saja ke luar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe putih dan rambut sedikit basah.


"Bagaimana? Apa dari semua itu ada yang cocok denganmu?" ucap Xavier yang merupakan pertanyaan seraya menunjuk pada beberapa pakaian yang tadi diantarkan oleh salah satu bawahannya atas perintahnya untuk Laurine.

__ADS_1


Lantas Laurine mengangguk canggung seraya mengeratkan bathrobe yang menutupi tubuhnya sebatas lutut.


"Aku sudah menyiapkan keperluan yang mungkin kau butuhkan" tunjuk Xavier pada beberapa perlengkapan wanita mulai dari produk perawatan kulit, riasan wajah dan pakaian.


"Aku tidak terlalu mengerti keperluan riasan wanita, jadi aku membeli semua itu dan kau tinggal memilih"


Laurine mengangguk dan pilihannya jatuh pada body lotion, bedak, lipstick merah muda, dan parfum dengan masing-masing mengambil satu. Tidak lupa juga dengan pakaian. Dari pilihan banyaknya baju dengan berbagai macam warna, Laurine memilih gaun pendek di atas lutut dengan lengan panjang berwarna hitam. Kemudian melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar mandi.


"Laurine" panggil Xavier menghentikan langkah Laurine yang tengah tepat berada di depan pintu.


"Ya?" jawab Laurine membalikan badan menghadap Xavier.


"Aku sudah memperhatikanmu sejak lama dan kau selalu memakai pakaian hitam selama beberapa tahun terakhir ini. Kenapa selalu hitam? Tidakkah kau juga berpikir kau terlihat buruk karena selalu memakai warna gelap itu?"


"Sebelum menjawab, aku ingin tahu jawabanmu terlebih dahulu. Bagaimana denganmu? Kau juga selalu mengenakan pakaian berwarna hitam, dan apa alasannya?" timpal Laurine.


Xavier mengangkat bahunya acuh. "Karena aku hanya menyukai warna ini saja. Tidak mungkin juga aku memakai warna merah muda, kan? Lagipula warna hitam juga mencerminkan sosok diriku. Tapi, bukankah kau dulu sering memakai pakaian berwarna cerah, terutama putih?"


Lantas Laurine menghela nafas pelan dan menggeleng. "Aku sudah tidak menyukai warna putih. Karena aku pikir itu akan menyebabkan kesialan. Setiap kali orang lain memakai baju berwarna putih, mereka berakhir mati. Seperti mendiang anakku yang diberi kain putih untuk menutupi tubuh kecilnya sesaat setelah dia dikeluarkan secara paksa dari perutku, dan juga mendiang Helena yang tewas saat sedang memakai gaun pengantin putih. Bahkan kakak kembarku pun mengenakan baju khas pasien berwarna putih selama masa komanya ini"


Xavier sadar betul jika pertanyaannya tadi berakhir memancing kesedihan Laurine. Dari suara wanita itu yang terdengar bergetar sudah tersirat jelas.


"Dan karena itu lah aku lebih suka memakai pakaian hitam. Sebab hitam melambangkan suasana duka yang selama ini aku rasakan"


Sesaat setelah mengakhiri perkataannya, Laurine membuka kenop pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya seraya membawa perlengkapan wanita pemberian Xavier yang berada di tangannya.


Selama Laurine tengah bersiap di dalam merias diri dan berpakaian, Xavier masih tertegun di tempatnya. Otaknya tengah memikirkan perkataan Laurine.


Beberapa menit berselang, suara pintu kamar mandi sudah terbuka membuat Xavier terkesiap. Menampilkan Laurine yang keluar dengan sudah memakai pakaian lengkap dan tampilan rapih dan wangi.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Namun, aku ingin mendengarnya langsung darimu. Jadi, katakanlah" ucap Laurine seolah bisa menebak jalan pikiran Xavier seraya


Dengan berani Laurine menatap langsung mata Xavier yang terlihat mulai menajam.


"Warna putih tidak membawa kesialan. Mengenakan pakaian hitam sebagai lambang berduka juga tidak akan bisa menghapus dosa-dosamu. Sebab yang sepenuhnya murni bersalah disini adalah dirimu" ujar Xavier dingin.


Terdapat penuh penekanan dalam kata terakhir yang diucapkan Xavier. Kemudian Laurine mengangguk membenarkan dengan sorot mata menyendu.


"Aku tahu. Tanpa kau beritahu pun, aku sudah sadar sedari lama. Menyalahkan warna putih hanya alasan pelampiasanku agar tidak terlalu merasa bersalah. Selalu memakai baju warna hitam juga justru malah membuatku terlihat seperti sedang melawak, bukan? Aku sendiri yang mengugurkan anakku sendiri, menembak mati seorang wanita lugu, dan terakhir adalah menabrak saudara kandungku yang begitu aku sayangi hingga mengalami koma selama 5 tahun lamanya. Kau benar. Semua salahku. Selalu saja salahku"


Xavier mengusap-ngusap wajahnya gusar. "Demi Tuhan! Akan mudah di mengerti jika yang kau celakai adalah orang-orang jahat. Namun, kenapa harus orang-orang yang tidak bersalah seperti mereka?"


Kemudian Laurine hanya terdiam tidak merespon.


"Kau benar-benar membuatku bingung, Laurine!" geram Xavier dengan suara mulai meninggi.


Tidak ada balasan lagi dari Laurine. Wanita itu menutup mulutnya rapat-rapat enggan kembali melanjutkan pembicaraan.


"Baiklah. Aku tidak akan bertanya atau menyinggung atas apa yang terjadi di masa lalu karena nyatanya itu tidak akan merubah apapun. Namun, aku tidak bisa mengabulkan permintaan yang terakhir. Sekeras apapun usahaku selama ini untuk melupakanmu, hatiku selalu enggan berkompromi. Sebab kenyataannya aku hidup untuk dirimu" kata Xavier mengakhiri perdebatan mereka.


...TO BE CONTINUED...



...dengan menggambarkan karakter laurine dan xavier yang selalu memakai pakaian hitam, secara tidak langsung aku menyiratkan kondisi kehidupan dan psikologis mereka yang terkesan 'dark'. semoga kalian paham untuk apa yang aku jelaskan di cerita ini yaa...


...se-struggle itu emang ni couple😭...


...tapi percaya aja setiap masalah pasti akan...


...ada jalan keluarnya kok...

__ADS_1


__ADS_2