Lex Talionis

Lex Talionis
Special Chapter — How It All Began


__ADS_3

Flashback 10 years ago...


March 27th 2013.


03:16 PM. The Jung Hospital.


Orang-orang selalu berpikir jika kehidupan Laurine Jung itu sempurna. Terlahir dari keluarga yang sejahtera, memiliki wajah yang cantik, dan diberkati otak yang pandai. Padahal mereka tak tahu saja bahwa hidup Laurine tidaklah sesempurna itu. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitupun juga Laurine.


Dirinya memiliki penyakit mental yang disebut Post Traumatic Stress Disorder. Merupakan gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Pemicu yang dapat membawa Laurine kembali kenangan trauma disertai dengan reaksi emosional dan fisik yang intens. Membuat Laurine tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik.


Kaki-kaki mungil itu terus berlari keluar dari sebuah bangunan rumah sakit. Hari ini saudara kembarnya--Lucien kembali memaksanya untuk melakukan psikoterapi dengan Psikiater. Lalu untuk kesekian kalinya juga, Laurine dengan tegas menolak. Sungguh Laurine benci ketika ahli-ahli kejiwaan itu seperti menghipnotisnya dan membuatnya kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam.


Sebuah peristiwa pembunuhan sang ayah beberapa tahun lalu dimana Laurine menjadi satu-satunya saksi yang ada di lokasi kejadian. Sampai saat ini, sang pembunuh itu belum juga ditemukan karena kurangnya bukti dan kesaksian. Hal yang membuat Lucien merasa tidak adil dan marah besar.


"Berhenti, Laurine! Jika kau memang menyayangi ayah kita, kau harus menceritakan kejadian di malam itu dan membantu kepolisian untuk memecahkan kasus kematiannya!" teriak Lucien dengan terus berlari mengejar Laurine di depan sana.


Seorang dokter, dua orang perawat, dan beberapa pengawalpun ikut berlari mengejar Laurine.


"Tidak! Itu menyiksaku! Aku tidak mau!"


Laurine terus berlari kencang dengan sesekali tidak sengaja menabrak orang-orang yang ada di lorong rumah sakit itu.


Hingga akhirnya kini Laurine benar-benar menabrak seorang lelaki muda bertubuh tinggi.


BUKH!!!


Cukup membuat Laurine kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh jika saja seseorang itu tidak dengan cepat menahan tubuhnya.


...***...


03:16 PM. The Jung Hospital.



Menjadi seorang anak mafia atau pebisnis dunia bawah tanah adalah hal yang sulit dan Xavier sudah merasakannya sendiri. Ada begitu banyak pelatihan-pelatihan keras yang sudah Hans lakukan pada Xavier sedari kecil.


Bukan tanpa alasan memang. Xavier seolah diwajibkan melakukan itu sebagai bentuk persiapan untuk meneruskan tahta Ayahnya nanti saat dirinya tepat berusia dua puluh tahun.


Dengan dibantu oleh Marcus, perlahan Xavier melangkah di lorong rumah sakit itu.


"Paman Hans benar-benar kejam. Ayah mana yang tega memukuli anaknya sendiri?" decak Marcus menatap iba wajah Xavier yang babak belur penuh dengan bekas pukulan.


"Bukan dipukuli. Lebih tepatnya kami memang bergulat. Ini juga salahku yang belum juga memiliki kemampuan berkelahi setara dengannya" kata Xavier lalu meringis pelan kala merasakan sakit kembali pada kaki kirinya.


"Ya ya ya. Baiklah. Aku mengerti. Di saat anak lain seusiamu menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bermain, kau malah menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri menjadi ketua organisasi gelap"


Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah dengan pelan-pelan karena kondisi Xavier yang sebenarnya belum pulih sepenuhnya.


Mereka hendak pulang setelah sudah lima hari lamanya Xavier dirawat di rumah sakit ini. Namun saat di tengah perjalanan, langkah Marcus tiba-tiba terhenti yang membuat Xavier juga ikut menghentikan langkah dengan raut wajah bingung.


"Ada apa?"


"Aku baru tahu ada perawat secantik itu" ucap Marcus seraya memandang dari kejauhan seorang perawat wanita yang terlihat baru saja keluar dari sebuah kamar rawat.


Xavier mengikuti arah pandang Marcus. "Aku tebak, kau akan mengencaninya"


Marcus mengangguk cepat dan tanpa menunggu lama lagi segera melesatkan kakinya mendekat ke arah perawat wanita yang menjadi incarannya itu.


"Ini tidak akan lama. Lihat saja. Aku bisa membuatnya jauh cinta padaku dengan kurang lebih dari lima menit" ujar Marcus seraya terus berjalan menjauh.


Kemudian Xavier masih berdiri menunggu seraya menatap Marcus yang sedang beraksi merayu wanita.


Seperti dugaan Marcus. Perawat wanita itu juga terlihat seperti menyukai Marcus dan merespon sapaan manis Marcus dengan tidak kalah ramah.


Aksi seorang playboy kelas kakap seorang Marcus Hwang pun di mulai. Percakapan di mulai dengan hal yang berhubungan dengan kesehatan dan dilanjut dengan sesuatu yang berhubungan dengan romansa.

__ADS_1


Seperti bertanya apa obat yang tepat untuk mengobati patah hati dan disambung kata-kata bualan. Sedangkang, Xavier hanya menggelengkan kepalanya seraya mulut berdecak.


"Dasar penggila wanita" gumamnya.


Tapi, tidak bisa ditampik jika Xavier juga menginginkan cerita romansa dalam hidupnya seperti halnya Marcus. Beberapa kali Xavier sudah pernah mencoba untuk bertemu dengan beberapa wanita yang dikenalkan Henry atau Marcus. Namun, semuanya tidak berakhir baik.


Entah itu karena sikapnya yang terkesan dingin ataupun para wanita itu yang memang tidak menarik baginya. Tidak ada yang benar-benar bisa mengambil hati Xavier. Tidak sampai takdir membuatnya jatuh hati pada seorang wanita yang sebentar lagi akan dipertemukan dengannya.


BUKH!!!


Lamunan Xavier buyar saat seorang wanita muda yang terlihat seumuran dengannya menabraknya dan hampir terjatuh.


Membuat Xavier refleks menahan tubuh Laurine agar tidak tergeletak keras di atas lantai. Dalam beberapa saat, pandangan mereka bertemu. Saling memandang dengan sorot tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


Apakah ini yang disebut cinta pada pandangan pertama?


"Tuan, kau bisa melepaskanku?"


Suara Laurine membuat Xavier terkesiap dan segera melepaskan kedua tangannya yang semula menangkup erat pinggang Laurine.


"Ah, maaf"


Atmosfer canggung terasa begitu lekat di antara mereka. Laurine merasa malu, begitupun juga Xavier.


"Itu dia!"


"Tangkap segera!"


"Laurine, kau sialan!" umpat Lucien.


Keduanya sontak menoleh pada asal suara teriakan yang diperuntukkan untuk Laurine itu. Tidak ingin tertangkap, Laurine kembali berlari.


Detik selanjutnya Xavier sadar jika sesuatu yang buruk tengah terjadi pada Laurine. Tanpa berpikir panjang, Xavier ikut berlari menyusul dan menarik tangan Laurine untuk berlari lebih cepat.


Lalu suara-suara dari pria-pria berbaju hitam di belakang mereka masih terdengar. Juga Lucien yang berusaha berlari secepat mungkin seraya menyerengit bingung ketika ada seorang lelaki tak dikenal menolong saudari kembarnya untuk kabur darinya.


"Masuk ke sini"


Mereka memasuki sebuah lift. Pintunya tertutup tetap saat Lucien semakin mendekat dan jelas di pandangan.


Angkutan transportasi vertikal itu memang cukup membantu. Membawa Laurine dan Xavier menuju lantai bawah. Tapi, tetap saja mereka tidak boleh lengah.


Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya pintu lift terbuka. Segera Xavier menarik tangan Laurine untuk kembali berlari.


Sesampainya di pintu utama Rumah Sakit, tiga orang pengawal yang ditugaskan berada di lantai bawah sudah hendak menangkap mereka.


Namun, bukan Xavier namanya jika tidak pandai berkelahi. Dilepaskannya genggaman Laurine pada tangannya kemudian beralih memberi pukulan keras pada pria-pria yang berusaha menghalangi jalannya dan Laurine untuk kabur dari Lucien.


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


Satu persatu dari tiga orang itu berkelahi dengan Xavier. Hingga menarik perhatian orang-orang yang kebetulan berada di sana.


Begitupun juga Laurine yang terkejut bukan main melihat kelihaian Xavier dalam berkelahi melawan pengawal-pengawal yang dikenal kuat.


Waktunya hanya sedikit karena Lucien sudah terlihat kembali di belakang. Jadi, Xavier hanya setidaknya melemahkan orang-orang suruhan Lucien itu agar tidak mampu kembali mengejar.


Kemudian Xavier menarik tangan Laurine yang masih terdiam ditempatnya. Mereka kembali berlari kencang menuju area parkir bawah tanah dimana mobilnya berada.


Diperintahkannya Laurine oleh Xavier untuk segera masuk ke dalam mobil dengan tidak lupa memasangkan sabuk pengaman terlebih dahulu. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit itu.


Dari pantulan kaca spion mobil, Xavier dan Laurine bisa melihat jika Lucien tengah menggeram marah di belakang karena tidak berhasil menangkap Laurine.


Sementara itu, mobil yang dikendarai Xavier terus mengemudi kencang. Menembus jalanan dengan menyalip beberapa mobil hingga memancing kekesalan pengendara lain.

__ADS_1


Laurine yang berada di sampingnya, hanya duduk terdiam seraya mengenggam erat sabuk pengaman dengan wajah terlihat ketakutan.


Tapi, Xavier tetap memacu mobilnya semakin tinggi. Persetan dengan meninggalkan Marcus yang masih berada di Rumah Sakit dan akan memberinya seribu umpatan saat mereka bertemu nanti.


Ataupun seluruh tubuhnya yang masih terasa sakit akibat hasil dari pergulatannya dengan ayahnya beberapa hari lalu, tapi dipaksakan untuk melakukan hal ekstrem seperti ini.


Karena yang ada di pikiran Xavier sekarang adalah membantu Laurine saja.


...***...


05:37 PM. Beach.


Dua insan muda itu tengah duduk di atas kap mobil sembari menatap pemandangan indah matahari terbenam di tepi pantai. Duduk bersebelahan dengan tenang ditemani semilir angin.


"Terima kasih atas bantuannya" suara Laurine membuka pembicaraan.


Xavier hanya bergumam sebagai jawaban. Dan baru Laurine sadari jika lelaki di sebelahnya ini sangat minim ekspresi dan pelit berbicara.


"Laurine Jung" kata Laurine lagi seraya mengulurkan tangannya khas orang yang mengajak berkenalan.


"Xavier Kim" ucap Xavier tanpa membalas uluran tangan Laurine.


Laurine berdecak. "Bukan begitu caranya, Tuan. Kau harus memperkenalkan dirimu dengan etika yang baik"


Lantas Laurine meraih salah satu tangan Xavier agar membalas uluran tangannya. Mereka pun berjabat tangan. Atau lebih tepatnya Laurine yang memaksa Xavier untuk melakukan hal itu.


Jabatan tangan mereka terlepas karena Xavier yang merasa risih dan membuat Laurine menghela nafasnya pelan.


"Omong-omong, kenapa kau membantuku?" tanya Laurine bersuara lagi untuk mencairkan suasana kaku di antara mereka.


"Ingin saja" ujar Xavier singkat.


Meskipun sebenarnya Xavier sendiri tidak tahu alasan pasti dirinya mau membantu Laurine tadi. Padahal sebelumnya membantu orang lain adalah hal yang tidak pernah Xavier lakukan.


"Kau keren sekali. Langkah kakimu panjang dan kemampuan berkelahimu sangat luar biasa. Ah, andai saja aku juga sepertimu. Mungkin aku bisa mengalahkan Lucien. Akan aku hajar lelaki itu setiap kali memaksaku untuk pergi menemui Psikiater" keluh Laurine sedikit memajukan bibirnya.


Perkataan Laurine tadi cukup menarik perhatian Xavier. Menoleh dan menatap serius gadis di sampingnya itu. "Psikiater?"


Laurine mengangguk. "Mentalku sakit. Kejadian buruk menimpaku delapan tahun lalu. Sejak itu aku sering mengalami gangguan panik. Namun, seiring berjalannya waktu aku sudah mulai bisa mengendalikan diriku sendiri. Lelaki yang mengejar kita tadi adalah saudara kembarku dan akhir-akhir ini dia selalu menyeretku ke Psikiater. Tapi, ternyata pengobatan mental itu malah membuatku semakin sakit. Aku selalu diperintahkan untuk mengingat kembali kejadian buruk yang sepenuhnya sudah aku lupakan"


Xavier hanya menganggukan kepalanya paham tanpa ingin bertanya lebih jauh lagi karena tahu itu adalah masalah pribadi dan sedikit khawatir akan memancing emosional Laurine.


"Lalu apa yang sedang kau lakukan di rumah sakit tadi? Apa kau sedang sakit?"


"Hanya tidak sadarkan diri selama dua hari akibat kalah bergulat" kata Xavier enteng dan membuat Laurine sontak terkejut.


"Tidak sadarkan diri selama dua hari?! Dan itu 'hanya', katamu?!" pekik Laurine menekankan kata 'hanya' seraya beranjak dan beralih untuk berdiri tepat di hadapan Xavier.


Laurine menangkup wajah Xavier yang memang terlihat penuh memar.


"Siapa yang melakukan ini padamu? Apa sangat sakit sekali? Kau berkelahi dengan siapa? Tadi kau sempat dipukul oleh salah satu pengawal itu. Bagaimana jika keadaanmu kebih parah? Ah, bagaimana ini? Aku merasa bersalah sekali"


Xavier berusaha menolak karena merasa tidak nyaman dengan perlakuan Laurine dan jarak antara wajahnya dengan wajah Laurine.


"Aku baik-baik saja"


"Ini sudah jelas tidak baik-baik saja!" ucap Laurine sedikit membentak karena khawatir.


Kemudian Laurine semakin mendekatkan wajahnya pada Xavier agar semakin bisa melihat jelas luka di wajah Xavier. Laurine mengusap dan meniup memar-memar di wajah Xavier dengan harap bisa setidaknya mengurangi rasa sakit.


Selanjutnya tidak ada penolakan lagi dari Xavier. Perlakuan manis Laurine ini membuat hatinya menghangat. Entah kenapa, sosok Laurine seolah menjadi pengganti sosok ibu yang selama ini Xavier inginkan untuk hadir dalam hidupnya.


Begitupun juga bagi Laurine, pertolongan Xavier seolah mengingatkannya pada perlindungan mendiang ayahnya dulu yang akan selalu ia ingat dalam hidupnya. Mereka saling membutuhkan dan dibutuhkan. Oleh karena itu, semesta mempertemukan.


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2