Lex Talionis

Lex Talionis
14. High Minded


__ADS_3

10:00 AM. Penthouse.



"Makan, Laurine!" suara perintah Xavier membuat Laurine dengan terpaksa kembali menyuapkan bacon ke dalam mulutnya.


Xavier bersidekap dada seraya menatap lekat Laurine yang duduk di hadapannya dan terlihat jelas jika wanita itu sangat tidak berselera untuk makan.


"Aku sudah kenyang" ucap Laurine.


"Kau baru memakan sedikit"


"Tapi, aku memang sedang tidak lapar"


"Aku tidak peduli. Habiskan makananmu!"


Lalu karena terpaksa lagi, Laurine melahap makanan-makanan yang dibuat oleh Xavier itu. Mulutnya lama mengunyah dan hidungnya sesekali mendengus.


"Lihatlah. Tubuhmu kurus seperti ini. Aku mendapat laporan jika porsi makananmu sangat sedikit. Kau juga terkadang melewatkan makan siangmu karena sibuk bekerja. Bahkan kau pernah pingsan. Mulai sekarang jangan seperti itu lagi. Aku sendiri yang akan memastikan kau makan dengan benar" cerocos Xavier.


"Jangan seperti itu. Sikap perhatianmu membuatku semakin berharap" cicit Laurine pelan, namun gumamannya masih bisa di dengar oleh Xavier.


"Apa katamu?" tanya Xavier butuh pengulangan.


Buru-buru Laurine mendongkak dan menggeleng. "Tidak. Lupakan"


Kemudian Xavier hanya mengangguk dan menatap fokus Laurine yang sedang menyantap sarapan sesuai perintahnya tanpa bantahan lagi. Diikuti Xavier yang juga mulai memakan sepiring telur mata sapi, bacon, dan roti panggang hasil masakannya tadi.


"Makanan buatanmu enak" puji Laurine.


"Tentu saja. Seorang wanita dari masa lalu yang mengajarkannya padaku"


Sesaat Laurine tertegun dan kunyahannya terhenti. Sadar betul jika seseorang yang dimaksud Xavier tadi adalah dirinya. "Benarkah? Lantas apa saja yang dia ajarkan padamu lagi?"


Rupanya Laurine ingin bermain-main dengan mengajak Xavier bernostalgia kenangan mereka dulu.


Xavier mendongkak dan membalas tatapan Laurine. Setelahnya tersenyum tipis. "Banyak sekali yang dia ajarkan padaku. Terutama aku masih ingat ketika dia mengajari wajah kakuku untuk tersenyum lebar dan mengajari hati dinginku untuk merasakan cinta. Dia orang yang baik. Karena itu aku sangat tidak percaya ketika dia tiba-tiba berubah menjadi orang jahat"


Laurine mengangguk membenarkan dengan sedikit menunduk. Kedatangan dirinya dulu dalam kehidupan Xavier bagaikan timbulnya pelangi di gelapnya langit malam. Kemudian Laurine juga tahu jika akibat atas masalah yang dia lakukan membuat hidup Xavier yang semula sudah cerah menjadi gelap kembali.


Namun, Laurine juga tidak bisa melakukan apapun lagi. Sebab pelangi yang dibawanya seperti dulu juga sudah tidak ada lagi. Bahkan kehidupan Laurine yang sekarang jauh lebih gelap. Hanya ada kesepian, ketakutan, dan rasa bersalah yang melingkupi hatinya.


Suasana hati Laurine memburuk. Kepalanya menunduk dan tangannya hanya menatap makanan yang membuat Xavier merasa kesal.


"Makan dengan benar atau aku sendiri yang akan menyuapimu dengan paksa!" ancam Xavier.


"Bagaimana jika aku menyerahkan diri pada Dominic?" sela Laurine mengubah topik pembicaraan.


PRANG!!!


Suara sendok yang diletakan ke atas piring secara kasar terdengar menggema. Baru saja Xavier hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tapi ucapan Laurine seketika membuat niatnya itu menjadi terhenti dengan hati emosi.


"Serahkan aku pada Dominic!"


Laurine mengulang perkataannya dengan lugas sembari menyimpan sendok yang semula berada di genggamannya dan beralih menatap Xavier berani.


"Apa maksudmu?!" geram Xavier melemparkan tatapan tajam.


"Kejadian kemarin menunjukan jika Dominic sangatlah marah pada pembunuh sepupunya. Aku yakin jika semenjak kejadian itu juga dia selalu mengganggumu karena mengira dirimu adalah pembunuh Helena" ucap Laurine dengan suara lebih tenang kali ini.


Laurine menghela nafasnya pelan sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku mendengar percakapanmu tadi dengan Marcus. Malam ini kau dan anak buahmu berencana akan menyerang Dominic atas apa yang terjadi padaku kemarin. Daripada melakukan sesuatu yang berbahaya lagi, lebih baik kau serahkan saja aku dan permusuhan kalian akan berakhir"


"Permasalahan antara aku dan Dominic disebabkan persaingan bisnis saja. Klub malam milikku berdiri bersebrangan dengan klub malam miliknya. Hanya itu saja. Jangan memikirkan apapun!!"


"Kau pikir aku tidak tahu? Penyebab permasalahan antara kau dan Dominic adalah aku. Sebenarnya aku juga sudah tidak tahan terus bersembunyi di belakangmu seperti ini. Aku tidak mau terus hidup dengan dihantui rasa bersalah. Jadi, biarkan aku menebus dosaku pada mendiang Helena dengan menyerahkan diri. Demi melindungi dirimu dari Dominic juga"


Kemudian Xavier beranjak dari duduknya. Menghentakan kaki sebelum akhirnya menendang kursi makan hingga berbenturan dengan meja.

__ADS_1


"Sebelum Dominic yang membunuhmu, aku akan terlebih dulu membunuhnya! Kau sendiri yang semalam bercerita jika dia kemarin mengikat tubuhmu, mencekikmu, bahkan melontarkan kata yang sarat akan pelecehan! Aku tidak terima kau diperlakukan seperti itu, Laurine! Cobalah mengerti! Ini tentang perasaanku!"


"Dia tidak salah apapun, Xavier. Aku yang salah disini karena membunuh sepupunya. Sudah sepatutnya dia marah dan ingin balas dendam"


Helaan nafas kasar keluar dari mulut Xavier. "Tapi, kau melakukannya untuk menyelamatkanku" suara Xavier memelan sembari mendudukan diri dan pandangan tetap terarah pada Laurine.


"Walaupun aku masih juga tidak paham karena kau yang selalu menyembunyikan alasan itu, aku akan membalas dengan melindungimu juga sebagai bentuk terima kasihku padamu. Aku sangat berterima kasih" lanjut pria itu.


Lantas Laurine mengulum senyum. "Baiklah. Aku hargai rasa terima kasihmu padaku. Namun, kau bisa berterima kasih padaku dengan cara lain. Yaitu tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Batalkan rencanamu yang ingin membalaskan dendam pada Dominic. Sebab siklus peristiwa ini tidak akan berakhir jika salah satu dari kita tidak ada yang mau mengakhirinya. Balas dendam hanya akan menghasilkan balas dendam lainnya, Xavier"


...***...


04:21 PM. Black Clan Headquarters.


Puluhan pria berbadan kekar itu terlihat berjejer dan terlihat sedang bersiap di sebuah ruangan markas Black Clan. Ada yang tengah meregangkan tubuh dan ada juga yang tengah menyiapkan kembali perlengkapan untuk perburuan mereka kali ini. Semuanya lengkap memakai rompi anti peluru, walkie talkie, sarung tangan dan pelindung sikut. Tentunya tak lupa juga senjata pistol dan pisau.


"Aku sudah tidak siap melihat tubuh tak bernyawa Dominic" ujar salah satu dari mereka.


"Aku juga"


"Bos Xavier terlalu baik karena selalu membiarkannya selama ini. Menurutku, kejadian penculikan Nona Laurine kemarin ada untungnya juga. Bos Xavier akhirnya benar-benar marah dan memutuskan untuk melenyapkannya malam ini"


"Habis kau, Dominic!" balas yang lain.


"Tidak ada yang lebih menakutkan dari kemarahan Bos Xavier"


"Omong-omong, siapa sebenarnya wanita hilang yang sedari tadi kita cari ini?" celetuk seseorang.


"Dia Nona Laurine. Mantan kekasih Bos Xavier. Sepertinya Dominic menculiknya karena tahu jika dia adalah kelemahan Bos Xavier"


"Mantan kekasih? Lalu kenapa Bos Xavier masih peduli? Jika aku yang berada di posisinya, aku akan lebih memilih untuk tidak peduli. Lagipula itu hanya mantan kekasih. Justru aku akan senang jika mantan kekasihku mati" kata yang lain lagi menimpali.


"Mungkin Bos Xavier masih menyimpan rasa padanya"


Seorang pria yang merupakan salah satu orang kepercayaan Xavier mengangguk setuju. "Aku sudah mengabdi pada kelompok Black Clan lebih semenjak 15 tahun lalu dan aku sudah mengenal Bos Xavier semenjak dia remaja. Bos Xavier bertemu dengan Nona Laurine saat umur keduanya sekitar 18 tahun. Setahuku Tuan besar Henry pun mengetahui tentang hubungan mereka dan merestui. Tapi, kira-kira 6 atau 7 tahun yang lalu sepertinya mereka sudah tidak terlihat lagi bersama"


Kemudian seorang pria lain memekik seraya menjentikan jari. "Ah, benar sekarang aku ingat. Bos Xavier juga pernah sekali menyuruhku untuk mengawasi Nona Laurine saat wanita itu melakukan perjalanan bisnis ke Amerika. Asal kalian tahu saja, dia merupakan Presdir dari sebuah perusahaan besar. Wajahnya juga sering tertampang pada majalah, televisi dan koran. Selain pintar, wanita itu juga cantik. Wajar saja jika kepopulerannya hampir menyamai selebriti. Bahkan dulu aku sempat berpikir jika Nona Laurine adalah aktris atau anggota girlgroup"


"Sekitar 2 tahun lalu, aku juga pernah diperintahkan Bos Xavier agar mencari tahu pelaku yang meracuni makanan Nona Laurine sehingga di rawat selama beberapa hari. Dan ternyata pelakunya itu adalah Paman dari Nona Laurine sendiri. Seingatku namanya adalah Anthony Jung"


"Pasti alasannya karena perebutan tahta. Peperangan orang seperti mereka tidak akan jauh dari harta"


"Kau benar. Pamannya itu memang gila akan jabatan. Lalu setelahnya, aku diperintahkan oleh Bos Xavier untuk memberi surat berisi ancaman pada pria tua itu. Kalian harus melihat wajah pucat pasinya saat aku baru saja mengenalkan diri sebagai anggota Black Clan"


Kemudian tawa pria-pria berbadan kekar itu terdengar. "Ha ha ha"


"Benarkah? Ah, aku jadi ingin mendapatkan tugas untuk mengancam pria tua itu juga. Akan aku tatap tajam sampai membuat rambutnya rontok sebagai balasan karena berani mencelakai wanita milik Bos Xavier"


"Sepertinya Bos Xavier masih begitu mencintai Nona Laurine"


"Wow! Kalau begitu Bos Xavier adalah pria sejati. Pantas saja dia selalu menolak saat para wanita di kelab menggodanya. Ternyata itu karena dia setia pada Nona Laurine"


"Orang yang dilindungi pemimpin kita, berarti harus kita lindungi juga!" seru salah satu dari mereka menggebu-gebu.


"Tentu saja. Aku ingin membalas bantuan Tuan besar Henry yang membayar hutang-hutang keluargaku dulu"


"Aku juga ingin membalas pertolongan Bos Xavier dari pembunuh berantai yang saat itu hampir saja membuat nyawaku melayang"


"Kebaikan dibalas dengan kebaikan pula, dan kejahatan dibalas dengan kejahatan juga"


Semua orang mengangguk setuju. Dibalik sosok Henry dan Xavier yang sama-sama terlihat dingin dan kejam, ayah dan putranya itu tetaplah manusia yang memiliki hati nurani.


Hampir setengah dari anggota Black Clan juga merupakan orang-orang yang masuk dengan senang hati menerima pelatihan keras demi bisa mengabdi untuk membalas kebaikan sang pemimpin mereka.


"Ada pengumuman penting!"


Tiba-tiba suara Marcus terdengar. Pria itu masuk  dengan ekspresi wajah lesu.


"Xavier membatalkan rencana penyerangan markas Alpha Familia, dan sebagai gantinya kalian diperintahkan untuk membuat keributan di beberapa kelab milik Dominic"

__ADS_1


Semua orang yang berada disana terkejut dan kecewa secara bersamaan.


"Hanya membuat keributan? Yang benar saja! Dominic seharusnya sudah tinggal nama sekarang ini!" keluh salah satu dari mereka.


Marcus menggeleng pelan. "Aku juga ingin seperti itu. Tapi, ini adalah perintah mutlak dari Xavier"


"Ini aneh sekali. Tidak biasanya Bos Xavier mengubah keputusannya"


Lalu Marcus mengangguk setuju dan termenung dalam beberapa detik. "Hanya ada dua orang yang bisa mengubah keputusan Xavier. Yaitu Ayahnya... dan Laurine" gumamnya kemudian berdecih dan memutar bola matanya malas.


"Dasar budak cinta!"


...***...


04:38 PM. Penthouse.


"Hanya sekali ini saja. Jika Dominic mengganggumu lagi, aku benar-benar tidak akan mengampuninya!" kata Xavier dan Laurine mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.


Wanita itu menggenggam salah satu tangan Xavier begitu erat dan lembut seolah ingin meredakan emosi Xavier. Sementara tangan Xavier yang satunya lagi sedang memegang ponselnya yang tengah berusaha menghubungi seseorang seraya melirik ke arah Laurine yang duduk di sampingnya.


Siapapun tahu jika Xavier adalah seseorang yang lebih suka mengatur daripada diatur. Tapi, tentu itu tidak berlaku bagi semua orang. Sebab faktanya ada orang yang mampu mengatur Xavier, yaitu Henry dan Laurine.


Setelah mengancam akan menyerahkan diri pada Dominic dan mengatakan fakta pembunuh Helena yang sebenarnya, akhirnya Xavier mau mengikuti keinginan Laurine untuk mengagalkan rencananya yang akan menyerang Dominic. Sementara itu Dominic belum juga mau mengangkat panggilan. Kemudian Xavier tidak gentar dengan terus berusaha menghubungi beberapa kali.


Butuh beberapa kali panggilan sampai akhirnya Dominic mau mengangkat panggilan.


"Halo?" suara Dominic dari seberang sana mulai terdengar dan membuat Xavier segera mendekatkan ponsel ke telinga.


"Ini aku" jawab Xavier dan sudah bisa menebak jika Dominic sangat terkejut karena Xavier tahu nomor ponselnya.


Tentu saja karena status mereka yang masing-masing berasal dari organisasi gelap, maka informasi kehidupan pribadi sangatlah bersifat privasi.


"Xavier? Dari mana kau mengetahui nomor ponselku?"


"Dari orang yang kau perintahkan untuk menguntitku dan melaporkannya padamu. Dengan sedikit mengancamnya, dia dengan berbaik hati memberikan nomor ponselmu ini. Anak buahmu kurang pintar dan berani. Persis seperti pemimpinnya" ejek Xavier di selingi seringai dan tawa pelan.


Dominic meresponnya dengan tawaan juga. "Jadi, ada apa Bos besar Black Clan ini menghubungiku? Oh ya, bagaimana dengan bom itu? Kekuatan ledakannya benar-benar luar biasa, bukan? Asal kau tahu saja aku memesannya jauh-jauh dari Jerman. Apa kau masih bisa mengenali jasad wanita cantik itu?"


Rahang Xavier mengeras. Mengingat lontaran canda Dominic perihal nyawa Laurine membuat ego nya kembali terusik.


Lantas Laurine merebut ponsel itu dari Xavier. "Tentu saja dia masih tetap cantik, walaupun kini auranya sangat gelap" kata Laurine.


Dalam beberapa detik tidak ada respon dari Dominic lewat telepon sana. Tapi, tidak lama setelah itu kekehan pelan terdengar.


"Kau masih hidup ternyata, Nona Laurine Jung. Sudah aku duga sebelumnya memang. Kekasihmu itu Xavier Kim. Badai peluru pun sepertinya akan dia terjang demi menyelamatkanmu. Ah, andai saja sepupuku yang berada di posisimu. Melihat Xavier yang terlihat begitu melindungimu, justru membuatku semakin ingin menyakitimu"


Saat Laurine hendak berbicara kembali, ponsel sudah kembali direbut oleh Xavier.


"Sialan! Menyakiti Laurine lagi, berarti kau sedang menyerahkan nyawa seluruh anggota keluargamu padaku untuk aku bantai! Kau bisa selamat kali ini, tapi tidak jika kau berani melakukan sesuatu yang berbahaya pada Laurine lagi!"


Bip!


Lalu Xavier memutus panggilan secara sepihak dan melemparkan ponselnya ke kolam renang.


"Kendalikan emosimu" tegur Laurine sembari meraih kedua tangan Xavier untuk dia usap dengan penuh kelembutan.


"Kau lihat sendiri, bukan?! Dia itu gila! Menganggap nyawamu seolah mainan, tapi kau malah menolongnya dengan memohon padaku untuk tidak membunuhnya!" bentak Xavier.


"Aku mengerti perasaanmu" Laurine membalas dengan suara pelan dan memeluk Xavier dari samping yang langsung Xavier balas dengan tidak kalah hangat.


Mereka berpelukan seolah saling memberi dukungan berupa rasa yang menenangkan ditemani pangit senja dan angin berhembus di sore hari itu.


"Dominic sama seperti kita. Dia juga memiliki perasaan. Karena itu dia marah melihat keluarganya bersedih karena kejadian pembunuhan Helena" ucap Laurine.


"Saat kau membunuhnya, maka kau akan membuat beberapa orang lainnya berduka. Kesedihan keluarga Hwang akan kepergian Helena belum hilang sepenuhnya. Lalu jika dengan menghilangkan nyawa Dominic, kau akan membuat mereka semakin bersedih. Bukan hanya satu orang saja yang kau sakiti. Pikirkan hal itu juga, Xavier"


Xavier hanya bergumam sebagai jawaban lalu Laurine semakin mengeratkan pelukan.


"Dan bagaimana mungkin wanita berhati baik seperti dirimu melakukan hal-hal keji seperti itu, Laurine?" ujar Xavier dalam hati bertanya-tanya.

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


__ADS_2