Lex Talionis

Lex Talionis
05. Love or Hate


__ADS_3

10:01 PM. The Jung Hotel.



Dua manusia berbeda gender itu terhitung sudah sekitar lima menit hanya berdiri di sebuah balkon hotel dengan jarak tidak terlalu dekat dan juga posisi tubuh tidak saling berpandangan.


Sebuah gelas berisikan cairan minuman wine masing-masing mereka pegang dan minum.



"Jangan salah paham. Aku mau menemanimu di sini karena kau adalah investor penting yang harus aku layani dengan baik. Ini tentang bisnis dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi" kata Laurine memecah keheningan seraya menuangkan kembali wine dari botol ke gelas miliknya dan Xavier.


"Apa seperti itu caramu menyapaku setelah sekian lama kita tidak bertemu? Kau kasar sekali, Nona"


"Lalu apa menurutmu kita harus berpelukan untuk meluapkan rindu? Ayolah. Aku yakin kau juga tidak akan mau memeluk orang yang kau benci"


Itu terdengar seperti sindiran dan Xavier pun setuju akan perkataan Laurine tadi. Terlihat Xavier meneguk segelas wine sekaligus lalu menyimpannya di atas tembok balkon secara kasar. Membuat Laurine tersenyum samar karena merasa sudah berhasil memancing emosi Xavier di awal percakapan mereka.


Xavier memang masih menyayangi Laurine. Tapi, Xavier juga tidak akan semudah itu melupakan hal menyakitkan yang Laurine lakukan padanya dulu. Tentu Laurine sudah tahu betul hal itu.


Masing-masing dari ego mereka begitu tinggi. Tidak baik untuk satu sama lain. Semoga saja pertemuan mereka untuk pertama kalinya dalam 5 tahun terakhir ini juga akan berakhir buruk seperti dulu. Oh tidak. Itu hanya akan semakin memperumit semuanya jika benar-benar terjadi.


Malam semakin larut dan keduanya kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Entah itu teringat dengan kenangan baik atau kenangan buruk di masa lampau. Rasa canggung kembali mengisi suasana. Jangan lupakan angin yang berhembus kuat. Udara terasa sangat dingin seiring waktu yang terus berjalan.


Lamunan Laurine terbuyarkan ketika mendapati sebuah jas hitam milik Xavier yang tiba-tiba tersampir di bahunya. Tak perlu ada kata yang terucap, Xavier melakukan hal sederhana namun manis pada Laurine. Menyampirkan jas hitam miliknya untuk sedikit menghangatkan tubuh Laurine yang sedang memakai gaun hitam tidak berlengan.


Awalnya Laurine menolak dan hendak melepas jas hitam Xavier. Namun, Xavier menyampirkannya kembali di bahu Laurine. Dalam beberapa saat pandangan mereka kembali bertemu dalam jarak cukup dekat. Hingga akhirnya Laurine yang terlebih dulu mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Jangan menolak dan jangan salah paham. Aku bukan memberi perhatian. Tapi, aku hanya tidak suka dengan model pakaianmu yang menganggu penglihatanku" desis Xavier lalu kembali ke posisi semulanya.


Laurine memutar bola matanya malas mendengar alasan Xavier yang sebenarnya sudah dia tahu sendiri jika pria itu tidak mau dirinya sakit karena angin dingin di malam hari. Pun Laurine yang juga tidak bisa menolak sebab angin memang berhembus cukup kuat dan juga dirinya sedang memakai pakaian cukup terbuka dan membuatnya sedikit kedinginan.


Perlahan Laurine semakin mengeratkan jas hitam itu untuk menghangatkannya. Tapi, ada sesuatu yang aneh terdapat di jas itu dan menarik perhatiannya.


"Bagaimana bisa kau membawa sebuah pistol padahal keamanan di tempat ini sangat ketat?" tanya Laurine yang sudah memegang sebuah pistol.


"Tentu saja aku masuk lewat jalur khusus tanpa pemeriksaan yang diberikan oleh Pamanmu"


Laurine mendengus seraya menyimpan gelas berisi wine yang semula berada di genggamannya dan beralih fokus memegang pistol itu dengan cara terlihat seperti mempermainkan.


Xavier menoleh sesaat. "Jangan bermain-main. Pistol itu berbahaya. Daya tembaknya luar biasa dan bisa membuat target hancur seketika"


Mendengarnya membuat Laurine justru seperti tertantang. Detik selanjutnya Laurine menyeringai seraya menodongkan pistol ke arah Xavier. "Apa ini bisa menghancurkanmu juga?"


"Ya" jawab Xavier enteng. Tidak ada ketakutan sama sekali dalam dirinya meskipun pistol sudah di arahkan Laurine ke kepalanya.


DOR!!!

__ADS_1


Pelatuk sudah Laurine tekan, peluru timah panas juga keluar dan diikuti suara tembakan yang menggema.


Namun, bukanlah Xavier yang Laurine tembak. Melainkan langit di atas sana. Laurine hanya melakukan tembakan udara. Sedangkan Xavier masih di tempatnya. Berdiri tenang seraya memasukkan kedua tangan ke saku. Tanpa menoleh pada Laurine sekali pun.


"Sepertinya tembakanmu melesat, ya? Seingatku saat terakhir kali kau memegang pistol, seseorang kau bunuh dengan begitu mudahnya" sindir Xavier.


Laurine terkekeh dengan matanya yang terus menatap moncong pistol yang mengeluarkan asap setelah pelurunya melesat keluar tadi. "Entahlah. Itu terjadi 5 tahun yang lalu dan sepertinya sekarang kemampuan menembakku berkurang"


"Kau butuh pelatihan dari penembak jitu sepertiku?"


"Boleh juga" jawab Laurine seraya kembali menyimpan kembali pistol di balik jas hitam milik Xavier yang tersampir di pundaknya lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi, aku berjiwa pengkhianat. Bagaimana jika nantinya aku menggunakan kemampuan menembak yang hebat itu untuk melenyapkanmu nantinya?"


Xavier mengangguk-nganggukan kepalanya. "Lakukan saja jika kau ingin. Dan sekiranya berkhianat memang akan membuatmu bahagia"


"Kau masih orang yang sama rupanya. Xavier Kim si pria romantis yang bersedia akan melakukan apapun untukku" ungkap Laurine menyeringai.


"Lain halnya denganmu. Kau bukan orang yang sama dengan Laurine Jung yang aku kenal 10 tahun lalu. Kalian seperti dua sosok yang sangat berbeda" balas Xavier seperti cibiran dan Laurine mengangkat bahu acuh.


"Hanya teori klasik kehidupan. Semua akan berubah seiring berjalannya waktu dan berubahnya keadaan. Namun, entah sosok diriku yang dulu ataupun sosok diriku yang sekarang, kau akan tetap mencintaiku. Bukan begitu?"


Kali ini Xavier menoleh dan menatap Laurine yang juga sedang beralih menatapnya. Untuk kesekian kali mereka saling melemparkan tatapan tajam. "Percaya dirimu tinggi sekali. Kau tidak tahu saja bahwa rasa menjijikan yang mengatasnamakan cinta itu sudah tidak ada dan digantikan dengan kebencian luar biasa!" suara Xavier mulai meninggi.


Laurine tertawa pelan. "Benarkah? Apa itu berarti kau datang untuk membalaskan dendam?"


"Omong-omong, balas dendam yang mana? Dosa yang aku lakukan padamu dulu terlalu banyak. Ini tentang aku yang mencampakanmu? Tentang aku yang mengugurkan anakmu yang berada dalam kandunganku? Atau tentang aku yang menembak mati tunanganmu sesaat sebelum kalian menikah? Apa mungkin kau akan membalaskan semua kebencianmu padaku sekaligus, Tuan? Kedengarannya seram sekali. Aku tidak sabar menantikan pertempuran balas dendam yang hebat itu"


Rahang Xavier mengeras dengan tangan mengepal keras. Rupanya Laurine benar-benar mempermainkan emosi Xavier dengan mengatakan serangkaian kata-kata itu begitu santainya. Seolah jika yang Laurine lakukan di masa lalu adalah hal biasa.


"Wanita gila!"


"Dan kau lebih gila karena tergila-gila pada wanita gila ini" timpal Laurine sinis.


...***...


11:11 PM. Black Clan Headquarters.



BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


Di sebuah ruangan gelap, Xavier sedang fokus memukul samsak tinju di hadapannya.


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


Keringat Xavier terus bercucuran tiap kali dia melayangkan pukulan keras, entah itu oleh tangan maupun kakinya.

__ADS_1


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


Tidak peduli di tengahnya malam yang sunyi, sendirian, ataupun gelap. Pikiran Xavier tengah kalut dan fokusnya hanya satu, yaitu terus memukul dan memukul. Mengabaikan tangan dan kakinya yang memerah. Hingga pada akhirnya kegiatan Xavier itu terhenti sesaat.


Geraman keras terdengar. Pertanda kemarahannya memang bukan main-main. Api neraka seolah membakar kepalanya. Kemarahan yang sudah benar di puncak.


Benar saja, bukan? Pertemuan mereka hanya akan berakhir buruk. Kembali bertemunya Xavier dan Laurine tidaklah baik.


"Laurine!" teriak pria itu seraya kembali melayangkan pukulan keras pada samsak.


BUGH!!!


"Aku membencimu!"


BUGH!!!


"Sialan!"


BUGH!!!


"Aku akan membuatmu menyesali atas semua dosa yang pernah kau lakukan padaku!"


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


...***...


11:20 PM. The Jung Manor House.



Dengan langkah cepat, Laurine memasuki kamar tidurnya dan merebahkan tubuhnya secara kasar di atas ranjang. Pikirannya kacau seketika saat kembali bertemu Xavier. Kenangan yang sudah lama Laurine coba lupakan, kembali muncul begitu mudahnya. Laurine tidak akan pernah melupakan serangkaian kejadian manis dan juga sekaligus tragis yang pernah terjadi pada dirinya dan Xavier dulu.


Untuk kesekian kali, wanita itu menghela nafasnya gusar. Menggeleng pelan berusaha mengusir kenangan-kenangan masa lampau yang memenuhi kepalanya. Tapi, tidak berhasil. Bayangan wajah Xavier malah semakin terus terbayang dan terasa jelas. Kemudian Laurine beralih melepas jas hitam Xavier yang di pinjamkan padanya saat di hotel.


Tadi Xavier tidak kembali meminta jas miliknya dan langsung pergi begitu saja. Tidak berkata apapun lagi sesaat setelah Laurine mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat egonya terusik. Jadi, jas hitam itu masih berada di Laurine dan juga beserta sebuah pistol di dalamnya. Di dekapnya jas milik Xavier oleh Laurine sangat erat.


Menghirup dalam-dalam aroma khas maskulin yang begitu Laurine rindukan selama beberapa tahun terakhir ini dengan posisi tubuh yang menyamping.


"Kau pikir aku percaya saat kau mengatakan jika kau sangat membenciku?" kata Laurine angkuh lalu berdecih dan seolah menganggap jika jas yang berada dalam pelukannya itu adalah Xavier.


"Aku sangat mengenal dirimu. Kau tidak akan mampu membenciku, sekalipun bahkan aku membunuhmu"


Kemudian tidak lama setelah itu sorot tatapan mata Laurine menyendu dan mulai memerah kentara sedang menahan tangis.


"Aku akui aku jahat. Tapi, jangan membenciku hm" suara Laurine terdengar lirih.


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2