
Flashback 10 Years Ago...
March 28th 2013.
07:43 AM. Penthouse.
Laurine bangun dengan kepala terasa berat. Sakit kepalanya disebabkan karena efek minuman keras bernama rum yang dia minum semalam bersama Marcus.
Mata Laurine berpendar ke arah sekitar dan baru menyadari jika dirinya sedang diamati oleh sepasang mata elang tajam. Rupanya itu adalah Xavier yang sedang duduk di sofa ujung ruangan kamar tidur dengan arah pandangan mengamati Laurine lekat.
"X-xavier..." gumam Laurine sembari bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk dengan susah payah.
"Kenapa kau di sini?" Kemudian Laurine bertanya bingung.
"Ini kamarku" jawab Xavier singkat.
Sontak Laurine kembali berpendar mengamati arah sekitar dan matanya membulat terkejut ketika mendapati dirinya bangun di kamar tidur Xavier dan bukan kamar tidur yang kemarin Xavier tunjukan padanya untuk ditempati.
Selanjutnya Laurine segera bangkit berdiri dengan wajah panik. "M-maaf... Sepertinya aku mabuk parah kemarin sampai berani tidur di kamarmu. Aku benar-benar minta ma--"
"Bersihkan dirimu, sarapan, dan cepatlah pergi dari sini"
Tiba-tiba suara Xavier menyela dengan suara dingin. Nyali Laurine pun menciut dibuatnya dan seketika terdiam.
Kemudian Xavier beranjak dari duduknya dan melangkah pergi dari kamar tidur itu. Meninggalkan Laurine sendirian dengan perasaan khawatir luar biasa.
"Apa yang sudah aku lakukan semalam hingga membuatnya marah seperti itu?" gumam Laurine cemas.
...***...
11:11 AM. The Jung Manor House.
Mobil yang dikendarai Marcus berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi.
"Ini seperti istana" ucap Marcus memandang kagum bangunan mewah yang sedikit terlihat di hadapannya.
Sementara itu Laurine yang berada di kursi penumpang terlihat tengah menghela nafasnya berulang kali seperti sedang menenangkan diri dari pemikiran buruk.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Marcus yang menyadari jika sedari tadi Laurine sedang gelisah.
"Aku memiliki hubungan yang buruk dengan saudara kembarku dan aku sedang malas bertemu dengannya. Bolehkah aku tinggal di tempat tinggalmu selama beberapa hari ke depan?"
Marcus menggeleng cepat. "Kekasihku bisa salah paham jika ada gadis lain yang tinggal di rumahku. Lagipula aku masih tinggal dengan orang tuaku. Kau bisa dikira kekasihku yang akan aku perkenalkan dan tanpa basa-basi langsung dinikahkan oleh ibuku. Oh tidak. Kau memang cantik, tapi aku masih ingin mengencani banyak wanita cantik juga di luar sana"
Untuk kesekian kali Laurine menghela nafas resah. Bahkan lelucon Marcus tidak membuatnya tertawa. "Haruskah aku kabur lagi?"
"Bagaimana dengan tinggal lagi saja di tempat tinggal Xavier. Dia mungkin akan siap menampungmu. Bahkan selama 10 tahun ke depan pun dia akan siap"
Laurine berdecak. "Kau ini bicara apa sih?! Dia kan membenciku. Jangankan selama beberapa hari atau 10 tahun seperti katamu, 1 menit saja dia tidak akan mau menampungku lagi"
Lalu Marcus mengerenyit aneh setelah mendengar perkataan Laurine tadi.
"Omong-omong mengenai Xavier. Tadi pagi aku tiba-tiba terbangun di kamar tidurnya dan bukan di kamar tidur tamu yang sudah dia tunjukkan padaku untuk aku tempati. Lalu sepertinya dia juga marah dengan terus menatapku tajam dan berbicara ketus. Apa semalam aku mengalami efek mabuk yang aneh? Apa aku melakukan sesuatu yang memalukan? Huft. Aku menyesal meminum rum bersamamu jika tahu akan berakhir seperti ini. Aku malu sekali padanya. Jika tidak sengaja bertemu dengannya lagi, aku akan memilih untuk menenggelamkan diriku di sungai"
"Pfffttt"
Selanjutnya Marcus terdengar seperti sedang menahan tawa yang membuat Laurine bingung.
"Seharusnya dia yang malu padamu, Nona. Kau pasti tidak akan percaya akan apa yang dia lakukan padamu semalaman ini"
"Efek mabukmu tidak terlalu parah. Kau hanya tertidur lelah dengan sesekali mengingau. Xavier sendiri yang menggendongmu untuk tertidur di kamar tidurnya, dan bukan kau yang tertidur di kanar tidur Xavier seperti pemikiranmu itu. Aneh sekali, bukan? Bahkan pada sahabatnya saja dia tidak pernah mengizinkanku untuk tidur di kamar tidurnya yang sangat nyaman itu"
Tentu saja Laurine terkejut. "Benarkah Xavier melakukan itu?!"
Marcus mengangguk. "Tidak hanya itu saja. Semalaman dia tidak tidur demi hanya memperhatikanmu selama kau tertidur. Saat ditanya alasannya, dia beralasan sedang mengalami insomnia dan sedang berusaha mencegahku melakukan hal yang aneh padamu. Namun aku tahu jika sebenarnya dia memang ingin memperhatikanmu sepuasnya. Sesekali dia juga akan tersenyum seperti orang gila saat sedang memandangmu itu. Lalu untuk sup penghilang pengar yang aku berikan tadi, sebenarnya itu adalah sup buatannya yang dia perintahkan padaku untuk diberikan padamu. Bahkan dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak mengantarkanmu dengan selamat. Xavier itu benar-benar luar biasa, bukan? Perlakuannya padamu berada di level yang berbeda"
Laurine hanya tertegun mendengar penjelasan Marcus.
"Oh ya satu lagi. Semalam aku sempat terbangun ketika mendengar igauan keras seperti sedang bermimpi buruk yang berasal darimu. Kemudian saat aku pergi ke kamar tidur Xavier secara diam-diam, aku bisa melihat jika Xavier sedang menenangkanmu dengan bernyanyi pelan sembari mengusap-ngusap kepalamu. Tak lama dari itu, kau pun berhenti mengigau dan kembali tertidur nyenyak. Tapi tenang saja. Selama semalaman tadi dia tidak melakukan sesuatu yang aneh padamu. Aku bisa jamin itu. Dia memperlakukanmu seolah kau adalah wanita paling berharga di dunia ini"
"Kau tidak sedang berbohong, kan? Apa kau sedang membodohiku?"
Marcus memutar bola matanya malas. "Rontokan seluruh gigiku jika aku berbohong"
Lalu Laurine termenung memikirkan dengan logika masih sedikit tidak percaya jika Xavier melakukan hal-hal yang Marcus katakan tadi padanya.
Pandangan Marcus beralih ke arah depan dengan pikiran berkelana mengingat sosok sahabatnya. "Xavier itu mungkin terlihat seperti manusia dingin tanpa perasaan, tapi sejatinya dia adalah pria berhati lembut. Dia cuek dari luar, tapi sebenarnya dia sangat peduli padamu. Mungkin efek besar tanpa seorang Ibu yang membuatnya begitu"
Laurine menggelengkan kepala karena menolak tidak percaya lalu membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah mengantarku dan mengajariku minum" kata Laurine seraya melambaikan tangan dan mulai melangkah masuk memasuki area rumahnya.
Marcus hanya terkekeh pelan. "Kisah Romeo dan Juliet di zaman modern yang menarik"
...***...
11:34 AM. The Jung Manor House.
Butuh perjuangan keras bagi Laurine untuk bisa masuk ke dalam rumahnya dengan cara menyelinap. Terlihat Laurine sedang mengendap-ngendap menaiki tangga dengan langkah penuh hati-hati. Namun, sepertinya itu sia-sia saja. Karena kini Lucien sudah tahu lewat kamera pengawas dan kini sudah menghampirinya dengan sorot mata marah.
"Darimana saja kau?!"
Suara dingin Lucien tiba-tiba saja terdengar menggema memenuhi isi ruangan luas itu. Langkah Laurine pun sontak berhenti dan wajahnya terkejut. Kemudian Laurine berbalik dan mendapati Lucien yang berjalan menaiki tangga. Mendekat ke arahnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku dan ekspresi ketus. Cukup menjelaskan jika saudara kembarnya itu sedang marah.
"Kau sudah kabur sebanyak 8 kali. Kau pikir ini lelucon? Apa kau gila?" seloroh Lucien dingin.
"Aku tidak mau mengingat kejadian itu. Kepalaku sakit saat mengingatnya" cicit Laurine dengan kepala menunduk takut.
"Tapi, ini demi ayah kita. Kita harus membalaskan dendam pada pembunuh itu. Bagaimana bisa kita mau membalaskan dendam jika wajahnya saja tidak kita ketahui? Jadi, kumohon. Hanya kau saksi kejadian malam itu. Bantu aku. Demi mendiang ayah kita"
Laurine menggeleng pelan. "Sebenarnya aku juga ingin membalaskan dendam, namun aku tidak bisa mengingat apapun. Jangan paksa aku. Lagipula apa kau pikir mendiang ayah akan bahagia di sana jika tahu kita hidup dalam kebencian?"
"Ya. Ayah pasti akan senang jika kita membalaskan dendam atas ketidakadilan yang dia dapat. Ayah dibunuh secara tragis dan kita harus membalaskan dendam untuknya" balas Lucien lantang.
Helaan nafas gusar keluar dari mulut Laurine. "Terserah kau saja. Tapi, aku tidak mau mengingat kejadian menyakitkan itu lagi. Fisik dan jiwaku benar-benar sakit, Lucien"
Lalu Lucien tersenyum getir. "Kau egois, Laurine"
"Ini adalah upayaku untuk bertahan hidup. Aku harus hidup dengan jangka panjang. Karena dengan begitu mendiang ayah pasti akan merasa bahagia"
Lucien menggeram marah yang membuat Laurine semakin menundukkan kepala takut. "Tidak ada bantahan! Kau akan menemui Psikiater hebat yang sudah aku bayar mahal untuk membantumu mengembalikan ingatan itu!" suara Lucien meninggi dan amarah mulai pecah.
"Aku tidak mau!" teriak Laurine tidak kalah nyaring.
"Kau tidak punya hak untuk membantah! Turuti perkataanku atau aku akan memasukanmu ke rumah sakit jiwa!"
Laurine pun terdiam kali ini. "Aku tidak gila" lirihnya pelan.
"Kau gila, Laurine. Jika saja aku tidak mampu mengurusmu, kau mungkin sudah dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa oleh Paman Anthony. Semua orang juga sudah tahu jika kau gila! Semenjak kejadian malam itu, tingkahmu aneh dan semakin aneh setiap harinya! Kau gila dan terima saja kenyataan itu!"
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1