
Tring...
Aldan mengambil hpnya dari dalam saku celana dan langsung membuka pesan WhatsApp.
Cih, Aldan tersenyum melihat gambar yang baru saja di kirim oleh adik perempuan nya.
Aldan melihat jam di layar hp menunjukan pukul 15:03 artinya sang adik sudah mendarat tiga menit yang lalu.
"Baiklah jika kau masih ingin bermain petak umpat dengan ku di usia kita sudah sedewasa ini."
Aldan berdiri dari kursi tunggu dan menghampiri orang orang yang baru saja turun dari pesawat yang berlalu lalang di dalam bandara.
Aldan memperhatikan dan mencari wanita berjaket ping seperti gambar yang adiknya kirim tadi, walaupun gamabar yang di kirim sang adik hanya bagian samping dan tidak menunjukan wajahnya tapi Aldan terlihat bersemangat mencari sebab sudah hampir sembilan tahun mereka tidak pernah bertemu secara langsung melainkan hanya lewat Vidio call saja.
Tring...Tring..tring.. Hp Aldan mendapat panggilan WhatsApp. Aldan menganggkat.
"Ya, tunggu sebentar lagi aku sedang menunggunya di bandara."
Suara dari dalam telphone terdengar mengomel karena selalu mendapat jawaban yang sama dari Aldan setelah beberapa kali menelphone.
Aldan menjauhkan hp dari telinganya sambil menyeringit telinganya terasa sakit mendengar suara dari dalam hp tersebut. "Baiklah, aku sudah menemukannya." Aldan langsung mematikan panggilan ketika melihat seorang gadis berjaket ping lewat di depannya.
Rasa rindu yang menggebu terhadap sang adik membuat Aldan kehilangan fokus.Dia mengejar gadis berjaket ping lalu memeluknya sambil mengangkat dan berputar sambil tertawa bahagia.
Setelah beberapa putaran, tawa Aldan terhenti di saat gadis lain yang berjaket ping berdiri dari kejauhan menatapnya heran.
Walaupun sudah lama tidak bertemu tapi Aldan ingat betul bagaimana rupa wajah adiknya.
Aldan buru buru melepas pelukannya dan melihat wajah gadis yang sedang dia peluk. Ternyata Aldan tidak mengenalnya tapi wajah gadis itu anggun dan sangat cantik. Itu bukan adiknya dan ternyata dia memeluk orang yang salah.
Aldan merasa malu dan beberapa kali menundukkan kepala meminta maaf pada gadis itu karena telah melakukan hal yang ceroboh dan tidak bermaksud untuk melcehkan.
Gadis itu tidak menjawab, dia memandangi Aldan dengan heran sepertinya dia sedang syok.
__ADS_1
Aldan pergi dengan perasaan malu menuju arah adik perempuannya berada.
Sang adik mengulurkan kedua tangannya agar Aldan melakukan hal yang sama padanya seperti yang Aldan lakukan pada gadis tadi tapi Aldan malah menurunkan tangan itu dan menyambar koper lalu menyeretnya menuju pintu keluar bandara.
Aldan menoleh sekali lagi ke gadis tadi dan menundukan kepalanya sekali lagi pertanda meminta maaf lagi tapi gadis itu masih di ekspresi yang sama yaitu masih dalam keterkejutan.
"Kak Al, siapa gadis cantik itu? pacarmu ya?"
Aldan tidak menjawab, karena merasa malu dia mempercepat langkahnya sambil menyeret koper besar. Adiknya juga setengah berlari menyesuaikan langkah sang kakak.
Aldan membuka pintu mobil dan menyuruh adiknya masuk lalu dia menuju bagasi mobil dan membereskan barang bawaan.
Setelah selesai, Aldan duduk sejenak di bagasi dan menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Dia berfikir kejadian tadi benar benar memalukan. Aldan menoleh keadiknya. Gadis itu tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun padahal semua itu bermula dari foto konyol yang dia kirim pada kakaknya.
Hp Aldan berdering lagi, Aldan mengangkat dan beranjak masuk kedalam mobil lalu memberikan hp itu kepada adik.
"Bicaralah padanya dan beritahu dia jika kau baik2 saja jika tidak dia akan menelphone ku sepanjang sepanjang hari."
"Kakak" jawab Aldin sambil menyalakan mesin mobil.
hah, memiliki dua saudara perempuan terkadang menyebalkan juga.
gadis itu menjadi kegirangan dan langsung mendekatkan hp di daun telinganya. ekspresi bahagianya terlihat sangat jelas ketika Aldan menyebut kakak.
"Hana aku merindukanmu, Aww...."
Gadis itu mengusap kepalanya dan sedikit menjauh dari Aldan hingga seperti menempel di jendela mobil.
"Dasar tidak sopan, seumur hidupku aku tidak pernah memanggil nama kakak ketika sedang berbicara padanya". Aldan mengarahkan jari telunjuknya lagi dan ingin mendorong kepala itu sekali kali.
"Hana, kak Al menyiksaku di dalam mobil, kepalaku menjadi sakit atas penganiayaan nya" gadis itu mengadu pada kakak tertua mereka dengan nada manja.
entah apa jawaban dari dalam panggilan tapi gadis itu berlahan mengembalikan hp milik Aldan sambil senyum senyum caper.
__ADS_1
"Kenapa begitu, apa kakak tidak membelamu?" Aldan membalas senyuman adiknya dengan senyuman jahat yang mengejek.
"Siapa bilang" Sang adik tak mau kalah.
"Sini" Aldan menarik kepala sang adik dengan pelan agar melihat kearahnya dan sedikit memeriksa. "Di bagian yang mana yang sakit?"
Sang adik tergelak dengan perhatian Aldan yg ternyata tidak berubah sejak sembilan tahun lalu ketika dia meninggalkanya.
"Di sini" tunjuknya di bagian yang Aldan dorong tadi.
"kenapa bisa sakit, perasaan tadi aku hanya menyentuhnya dan bukan memukul" sambil mengusap bagian kepala yang di bilang sang adik sakit.
Adik mengambil tangan Aldan yang sedang mengusap kepalanya. Dia mengangkat tangan itu dan menekan nekan jarinya.
"Lihatlah, sekarang tangan dan jari jari ini telah berubah menjadi kekar dan berotot"
"tentu saja begitu, ini efek dari latihan militer yang setiap hari kulakukan.
"Ya ya ya, apa kak Al tau betapa bahagianya aku karena memiliki saudara seorang tentara jadi aku akan selalu merasa aman jika sedang bersamamu."
Aldan tertawa kecil mendengar pertanyaan adik bungsunya itu. "Aku juga merasa aman ketika bersamamu karena adikku seorang dokter jadi aku bebas melakukan apapun dan tidak kawatir menjadi sakit atau terluka karena ada adik ku yang akan siap, sigap dan tanggap untuk mengobatiku."
"Tentu saja jangan khawatir"
Percakapan mereka yang sangat panjang terasa sangat singkat ketika mobil yang mereka kendarai sudah masuk di area parkir kediaman keluarga mereka.
Bersambung...
......................
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1