
"Kak Danar" Mihika memeluk pria yang berada di hadapannya setelah memastikan jika dia tidak salah mengenali orang.
Danar terdiam, tangan kanannya masih menggantung memegangi gelas yang hampir melukai Mihika. Dia juga bingung harus melakukan apa saat Mihika memeluknya. Tangan kirinya ingin bergerak untuk membalas pelukan hangat itu tapi pikirannya melarang untuk melakukannya.
Mihika melepaskan pelukannya.
"Maaf kak, aku melakukanya hanya karena terlalu senang bisa melihatmu lagi." Mihika sangat gembira.
"Ya tidak apa apa." Danar sedikit tersenyum tapi senyumannya terlihat kaku antara grogi dan tidak enak hati.
"Lama tidak bertemu apa kak Danar tidak merindukanku?"
Pertanyaan Mihika yang tidak tau malu membuat Danar semakin kaku dan serba salah.
"Ee.. aku...tentu saja juga begitu"
entah jawaban seperti apa itu Danar juga tidak tau tapi dia merasa udara di dapur ini sangat panas.
Danar memberikan gelas yang dia pegang kepada Mihika "Aku akan meminta Hana dan Aldan untuk mengatur barang barang di rumah ini agar sesuai dengan tinggi badanmu. Aku akan keluar dan menyelesaikan pekerjaanku"
Setelah mengatakan itu Danar pergi meninggalkan Mihika yang masih berusaha untuk mengajaknya mengobrol.
__ADS_1
Dia sudah dewasa dan terlihat sangat cantik. Ah, pikiran apa ini ! Danar mengelap keringat yang terasa mengalir di dahinya dengan mengunakan bagian punggung tanganya sambil melangkah menuju ruang tamu dimana dia meninggalkan rekan rekanya tadi.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Kedatangan Danar membuat rekan rekanya melihat dirinya dengan cara yang aneh termasuk Hana.
Danar mencoba menguasai dirinya dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa di dapur tadi.
"Hai guys aku membuatkan minuman untuk kalian"
Danar yang sudah tenang menepuk jidat ketika melihat Mihika membawa nampan berisikan banyak minuman.
"Hah minuman lagi?"
"Eits ini rasanya berbeda minuman ini rasanya lebih manis" Mihika menaruh minuman yang di buatnya di depan masing masing orang.
Mereka mengintip gelas minuman yang Mihika berikan lalu membandingkannya dengan minuman buatan Hana.
"Terlihat sama saja apa yang membuatnya berbeda?" beberapa rekan masih protes.
Danar mengambil gelas di depannya lalu meneguk sampai habis membuat semua orang melihat kearahnya.
"Benar rasnya lebih manis" Danar mencoba mencairkan suasana agar Mihika tidak kecewa dengan minuman buatannya.
__ADS_1
Hati Mihika menjadi berbunga bunga. Dia memeluk nampan ditangannya. Dia juga merasa Danar sangat sweet terhadapnya. Merasa rencananya berhasil, Mihika pergi dengan senang meninggalkan mereka semua yang sedang berkumpul.
Hana juga mengambil minuman yang di buat Mihika dan mencoba meneguknya. Baru sekali tegukan Hana merasa giginya ngilu dan matanya reflek terpejam lalu memperhatikan Danar yang terlihat fokus terhadap rekannya.
"minuman apa ini? rasanya asam sekali gigiku tidak tahan." Seorang rekan ternyata juga meneguk minuman yang di buat Mihika.
Danar tertawa kecil dan tidak menyadari jika Hana sedang menatap kearahnya.
Setelah memastikan Mihika sudah benar benar tidak berada di ruangan itu mereka mulai membahas tentang pekerjaan yang sesungguhnya.
Siapa yang menyangka jika semua orang yang berada di ruangan itu semuanya adalah agen khusus yang di ketuai oleh Hana.
Mereka semua adalah agen bayaran yang siap melakukan apa saja demi uang.
Mereka beranggotakan Lima orang yang masing masing memiliki peran penting dalam keanggotaan. Dunia Mafia mengenal tim mereka dengan nama The night karena mereka selalu beraksi di malam hari.
Hana menggeluti pekerjaan ini sudah lama sekali tapi kedua adiknya tidak tau. Yang mereka tau Hana bekerja di bidang properti jadi mereka tidak curiga jika Hana memiliki banyak uang dan mampu membiayai pendidikan mereka hingga selesai.
Satu hal yang Hana takutkan. Dia sangat takut jika kedua adiknya tau tentang pekerjaanya lalu dia jadi di benci dan di tinggalkan apalagi kedua adiknya adalah abdi negara sedangkan dia adalah penghianatnya.
Sebenarnya ada rasa dari lubuk hati Hana yang paling dalam untuk berhenti dari pekerjaannya tapi dia bertekad untuk tidak akan berhenti sebelum ambisinya tercapai. Ternyata menjadikan adik adiknya sukses saja belum cukup jika dendam di hatinya belum terbalaskan.
__ADS_1