
"Aku akan kembali bertugas hari ini"
Aldan sudah memakai kembali seragamnya.
Hana memeluk Aldan. Di situ rasnya dia ingin menangis. Dia tidak mengerti mengapa perasaan sedih ini tiba tiba muncul ketika dia melihat kedua adiknya menggunakan seragam dokter dan tentara di hadapannya.
"Apa kau di tugaskan di berbatasan lagi?" Hana berbicara dalam pelukan Aldan. Tidak pernah sebelumya Hana melakukan itu. Aldan juga heran dengan sikapnya. Mungkin itu salah satu cara dirinya mengungkapkan rasa sayang terhadap adiknya.
"Tidak, Kali ini aku di kirim ke negara konflik. Jadi berdoalah jika aku akan aman berada di sana. Jangan kawatir aku akan menjaga diriku dengan baik dan berjanji akan tetap hidup."
Mihika yang dari tadi berdiri di belakang Aldan juga ikut memeluk.
"Kami akan menyimpan janji itu" Mihika menjadi menangis.
"Hei kenapa kalian jadi cengeng begini" Aldan mengusap air mata Hana dan Mihika. "Aku pergi untuk perdamaian jadi tolong beri aku semangat" Aldan menyemangati kedua saudarinya.
"Hem Baiklah semangat" Mihika dan Hana memberi hormat pada Aldan sebagai bentuk penyemangat dari mereka.
"Ini lebih baik" Aldan lalu tersenyum agar kedua saudarinya tidak menjadi khawatir.
Aldan naik ke sebuah kendaraan yang di dalamnya juga ada beberapa anggota tentara. Hana dan Mihika melambaikan tangan pada mobil yang sudah melaju itu.
Mihika menarik napas panjang mencoba mengumpulkan tenaga agar bisa melanjutkan hidup dengan suka cita seperti sedia kala.
Dia mengulurkan tangannya. "Aku juga akan mengabdi pada negara ini. Mulai hari ini aku akan bekerja keras" Mihika setengah berteriak.
Hana mengusap rambut Mihika, "Semangat ya !"
"Kakak, aku sudah merapikan rambutku tolong jangan merusaknya. Ini hari pertamaku bekerja di negaraku"
Hana mengangguk dan juga tersenyum menyemangati semangat Mihika." Baiklah aku tidak akan merusaknya"
__ADS_1
"Em tapi bagaimana aku akan pergi bahakan aku tidak tau di mana letak Rumah sakit tempat ku bekerja"
"Tenang lah seseorang akan mengantarmu. Itu dia." Hana menunjuk sebuah mobil biru yang baru saja samapi di depan rumah mereka.
"Aaa Kak Danar" Mihika cepat cepat memperbaiki letak jatuh rambutnya.
Hana yang melihat itu mengerutkan alis dan menaikan sedikit bibirnya. Dia melihat jijik tingkah Mihika.
"Antar dia ke rumah sakit XXX. Jika sudah selesai cepat kembali karena akan ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan hari ini. Ingat antar dia sampai ke dalam gedung dan pastikan dia baik baik saja sebelum kamu kembali" Hana sedikit memelankan suaranya seperti berbisik pada Danar.
"Kenapa tidak sekalian kamu memintaku menunggunya sampai dia selesai bekerja jika kamu khawatir padanya."
Hana menatap Danar tajam
"Aish wanita ini. Perbaiki dirimu tatapanmu menakutiku." Danar berjalan lunglai mau tidak mau dia harus mengikuti perintah Hana.
Bagaimana ini? suhu di dalam mobil ini rasanya meningkat sehingga tubuhku terasa berkeringat. Ini alasannya kenapa aku tidak bisa terlalu dekat dengan gadis ini. Terasa sulit untuk mengontrol tubuh ini lihat saja tangan ku sampai gemetar saat memegang kendali mobil.
Danar sesekali menoleh tapi dia tetap memfokuskan pandangannya kearah depan. Jantungnya terasa ingin melepaskan diri saat ini juga saat menyadari Mihika masih memperhatikannya.
"Mihika, tolong jangan melihatku seperti itu. Lihat saja kearah jendelamu pemandangan di sana lebih indah dari wajahku."
"Tidak mau. Bagiku Kak Danar lebih indah dari apapun". Mihika masih ngeyel.
Aish aku menjadi seperti terbakar.
"Perbaiki pandanganmu atau aku tidak bisa berkonsentrasi"
Mihika tergelak. Tawanya memenuhi ruangan mobil.
Danar melihat kearahnya. Kenapa tawanya terdengar manis begitu.
__ADS_1
Danar kembali melihat lurus saat Mihika kembali melihat ke arahnya.
"Apa kak Danar sedang salting sekarang? Lihatlah wajah kakak memerah" Mihika kembali tergelak.
Buat Mihika itu sangat lucu tapi dia tidak tau bagaimana usaha Danar untuk tetap tidak terpengaruh terhadapnya.
"Em itu tandanya kakak juga menyukaiku. Benarkan? Ayo mengaku saja. Bahkan aku saja berani mengakui perasanku kepada kakak."
Oh Tuhan selamatkan aku dari gadis ini
"kenapa kakak diam saja ayo katakan jika kakak juga menyukaiku" Mihika mendekat memaksa Danar untuk mengakui perasaannya.
"Sudah sampai" Danar turun dari mobil dan berjalan ke sisi sebelah mobilnya untuk membukakan Mihika pintu mobil.
"Sudah sampai? baiklah aku akan memulai dan akan banyak menghabiskan waktu ku disini"
"Mihika melangkah untuk berjalan masuk kedalam rumah sakit. Tapi sebelumnya dia membisikan sesuatu kepada Danar yang membuat Danar tidak bisa berkata apa apa.
'aku akan menunggu jawaban cinta dari kakak'
Mihika berjalan dengan percaya diri sambil mengibaskan rambutnya. Dia merasa dirinya sangat keren.
Mihika mengentikan langkahnya, dia merasa seseorang mengikutinya. Benar saja itu Danar yang juga berjalan searah dengannya.
"Apa kakak sedang mengikutiku? Apa kakak ingin menjawabnya sekarang. Baiklah aku menunggu?"
"Ti tidak, aku ada janji dengan kepala rumah sakit disini jadi aku berniat menemuinya sekarang."
Mihika bertepuk tangan, "Wah sepertinya kita benar benar berjodoh aku juga akan pergi keruangan kepala, ayo kita pergi bersama. Lagi pula aku juga belum tau dimana letak ruangannya"
Danar memanggil seorang perawat yang kebetulan sedang lewat. Dia meminta perawat itu mengantar Mihika keruangan kepala rumah sakit sedangkan dia beralasan akan ke toilet dan nanti akan menyusul.
__ADS_1
Rasanya Danar ingin bersembunyi saja di lubang yang paling kecil di muka bumi ini untuk menghindar sementara dari Mihika. Dia takut akan mati mendadak jika Mihika terus terusan memancing dan menggodanya karena dia sadar akan jarak usia dirinya dan juga Mihika.