Little Sister

Little Sister
Membunuh tanpa menyentuh


__ADS_3

Aku patah hati di tinggal kekasih


untuk apa hidup lagi ayo bunuh diri


cinta.. cinta..


"Diamlah suaramu menyakiti telingaku bahkan liriknya juga menyakiti hatiku bukannya menyemangati malah memotivasi ku untuk mati" Aldan meminta agar adiknya berhenti bernyanyi sementara dirinya sedang fokus menyetir mobil.


"hahaha aku teringat nona tadi siapa namanya emm.. Selin ya. Dia cantik, elegan, modis dan.."


"Dan keras kepala" Aldan menambahkan.


"Kakak, jika dia pacarmu lalu siapa gadis yang kau temui di bandara kemarin? Kalian terlihat akrab bahkan kau juga memeluknya. Apa kau berselingkuh sehingga Selin marah padamu dan meninggalkanmu?. Aish laki laki ini. Aku akui kau tampan tapi jangan gunakan ketampanan mu itu untuk menyakiti hati wanita. Aku juga wanita aku menjadi paham dengan perasaan Selin sekarang bahkan aku setuju dan mendukungnya untuk meninggalkanmu."


Aldan melirik adiknya lalu menggeleng pelan.


"Kenapa reaksi kakak begitu, aku rasa perkataan ku benar"


Aldan tertawa kecil, "Itu lah uniknya kalian wahai para wanita. Haruskah aku mengatakan aku menyukainya. Ternyata beberapa dari kalian memiliki sifat dan cara berfikir yang sama yaitu membunuh tanpa menyentuh"


"Membunuh tanpa menyentuh?, apa maksudnya aku tidak mengerti?"


"Baiklah aku akan mencoba menjelaskannya padamu. pertama aku akan menceritakan tentang Selin !"


Aldan menceritakan awal permasalahanya dengan Selin.


Aldan berpacaran dengan Selin selama dua tahun lebih lalu alasan Selin meninggalkannya adalah karena dia seorang tentara. Alasan tersebut membuat Aldan sedikit kebingungan karena dari awal mereka berpacaran, Selin sudah mengetahui jika dia adalah tentara bahkan Selin mengatakan menjadi pacar seorang tentara itu sangat keren tapi baru baru ini Selin mempermasalahkannya. Selin bilang berpacaran dengan seorang tentara sangat menyakitkan selain jarang bertemu, tentara juga lebih mementingkan tugas dan tanggung jawab untuk negaranya daripada pasangannya. Selin memutuskan keputusan sepihak padahal berulangkali Aldan ingin menjelaskan dan mengatakan akan melakukan waktu untuknya jika dia tidak sedang bertugas tapi sampai detik ini Selin tetap tidak ingin mendengar penjelasan apapun darinya. Bukankah perilaku seperti itu bisa dikatakan membunuh telak perasan nya.

__ADS_1


Aldan kembali menoleh Mihika yang sedang serius melihat kearahnya untuk mendengarkan ceritanya lebih jauh.


"Lalu yang kedua ada pada dirimu"


"Aku?" Mihika menunjuk dirinya sendiri


"Kau menuduhku berselingkuh harusnya yang menuduhku itu Selin bukan kamu. Andai saja kamu tidak mengirim foto jaket merah mudamu itu mungkin aku tidak akan melakukan kesalahan"


"Aaa ternyata seperti itu. Maafkan aku" Mihika menggaruk kepalanya membuang canggung.


"Kurasa Selin juga berfikir begitu saat melihat kita bersama"


"Mungkin saja tapi itu tidak masuk dalam hitungan karena dia lebih dulu meninggalkanku sebelum aku berkencan denganmu"


"Hah kencan?" Mihika menaikan bibirnya. Lebih tepatnya ini di katakan penyanderaan karena hanya boleh berpergian dengan dirinya saja.


"Pasti dia sudah berada di rumah jika dia sedang khawatir" Aldan membaca isi pesan dari Hana kemudian membalasnya dengan pesan suara. "Kami akan tiba 10 menit lagi"


Di kediaman Hana


"Cepat bereskan semua ini, dalam sepuluh menit adik adikku akan kembali" Hana memerintah.


Beberapa orang rekan bergegas membereskan berbagai macam senjata dan dokumen kerja kemudian membawanya ke ruang kerja Hana. Mereka menyimpan semua itu di sebuah ruangan rahasia yang berada di dalam ruangan kerja.


Tak lama kemudian sebuah mobil terdengar masuk di area perumahan milik mereka.


"Itu pasti Aldan dan Mihika. Ingat jangan melakukan hal yang mencurigakan. Kalian tau jika adik lelakiku adalah seorang tentara dan dia juga merupakan pasukan khusus yang cinta tanah air" Rekan Hana mengangguk lalu duduk di posisi masing masing seperti layaknya rekan kerja kantoran yang sedang bertamu.

__ADS_1


Mihika dan Aldan masuk. Tak lupa mereka juga menyapa tamu yang sedang duduk menikmati hidangan di ruang tamu.


"Kak Al apa mereka semua teman teman kak Hana?"


Aldan mengangguk.


"Ah sepertinya menyenangkan punya banyak teman"


Aldan mendekat dan mengusap kepala Mihika sambil mengacak acak rambut adiknya. "Memangnya kamu tidak memiliki teman?"


"Di tempat pendidikan kedokteran punya tapi di sini tidak. Hanya kak Al seorang temanku"


"Besok kamu akan punya banyak teman !"


"Hah, bagaimana mungkin?" Mihika menghadap kakaknya.


"Aku sudah memasukan berkasmu di sebuah rumah sakit XXX dan kau di terima untuk kerja di sana. Mulai besok kamu sudah bisa langsung bekerja"


"Hah, semudah itu. Bagaiman kak Al melakukanya?"


Aldan tertawa kecil lalu mencuil hidung mungil Mihika "Berkat bantuan orang dalam" Jelasnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Mihika yang masih tampak tak percaya.


"Seperti nya aku perlu minum untuk mencerna ini semua" Mihika mencoba mengambil gelas yang berada di rak lemari tapi tinggi badannya tidak memadai sehingga dia perlu berjinjit dan menggeser gelas itu dengan ujung jarinya secara hati hati.


"Aaww" Mihika menunduk dan memegang bagian kepalanya karena gelas itu hampir terjatuh dan menimpanya. Untung saja seseorang lebih dulu menyambut gelas itu sebelum benar benar terjatuh dan mengenai Mihika.


Mihika membuka mata perlahan dan betapa terkejutnya dia jika seseorang yang selama ini dia sukai berada tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2