Love At School (Love Yourself)

Love At School (Love Yourself)
Berawal Dari Sini


__ADS_3

Hari kamis di bulan Juli tahun 2022


"Pagi, Pap, Mam, Abang." Sapa seorang gadis remaja saat kakinya menapaki undakan tangga terakhir. Di hampirinya tiga sosok yang sedang menunggunya di meja makan.


"Pagi sayang."


"Pagi Dek."


Sapa mereka bersamaan setelahnya pelukan dan morning kiss di pipi masing masing yang memang sudah menjadi ritual pagi bagi keluarga itu.


"Sayang, hari ini jadi daftar ulang ke sekolahan?" Tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat masih awet muda tanpa ada kerutan di wajahnya setelah mengambilkan sarapan bagi lelaki di sampingnya dan untuknya sendiri.


Yang di tanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban tanpa mengeluarkan sepatah kata karena sedang mengunyah roti lapis.


"Sama Mamih kan, Nak?" Tanya seorang pria paruh baya di depannya.


Si gadis mengangguk. "Iya. Kita udah buat appointment ya Mam?" Tanya si gadis pada seorang wanita di hadapannya.


Yang di tanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Gayanya appointment." Cibir suara barithone di sampingnya membuat si gadis mengalihkan pandangannya seraya menjulurkan lidahnya.


"Wah, ngeledek nih? Hmm berani iya?" Si gadis tertawa terpingkal pingkal masih di atas dudukkan meja makan.


"Hahaha ampun Bang ampuun gak lagii aaah Abaaaaaang, Pap, Maaaam tolongiiiin.. hahahaaa."


"Bang sudah, tuh muka adekmu sudah merah gitu." Ucap wanita yang di panggil Mamih melerai anak anaknya.


"Beraninya aduan. Ihh." Cibir remaj lelaki dengan tubuh tinggi tegap atletis pada gadis di sampingnya.


"Biarin, wleeek." Jawab si gadis dengan menjulurkan lidahnya kembali.


Si pria dewasa hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Kalian ini, abang adek gak pernah akur sih tiap sarapn. Sudah sudah habiskan susunya, lalu kita berangkat sama sama." Titah sang pimpinan di keluarga tersebut pada kedua anaknya.

__ADS_1


Merekapun melanjutkan sarapan tanpa sisa. Selepas itu, sang ibu negara berlalu ke kamar utama yang berada di lantai satu untuk mengambil tas dan dokumen yang diperlukan saat di sekolah puterinya nanti.


"Mbo, titip rumah yah! Saya tinggal ke sekolah anak anak dulu." Ucap wanita dua anak itu ramah pasa wanita paruh baya 50 an di depannya.


Yang di panggil mbo mengangguk patuh pada titah sang majikan.


"Baik nyonya. Hati hati di jalan." Ucap si mbok dengan membungkukkan badannya. Wanita yang di panggil nyonya menjawab dengan anggukkan kepala dan senyum ramhnya.


"Maaf Mamih lama, sayang. Yuk, berangkat!" Si gadis menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil di kursi penumpang di susul sang mamih.


Mobil sedan hitam melesat keluar dari kediaman mereka. Dengan supir pribadi sang mamih kendaraan tersebut mengantarkan dua wanita cantik beda generasi yang sedang mengobrol ringan di kursi penumpang. Setelah 45 menit perjalanan yang di tempuh sebab mereka terjebak macet meski tak lama, sang supir turun dari kursi driver dan membukakan pintu penumpang untuk nyonya dan nona mudanya.


"Silahkan, Nyonya, Nona muda." Ucap sang supir saat membukakan pintu dengan membungkukkan badannya sedikit tanda hormatnya pada sang majikan dan puteri bungsunya.


Sang majikan dan puterinya tersenyum ramah pada sang supir. "Terima kasih, Pak Jo." Ucap dua wanita cantik beda generasi itu ramah dengan senyum manisnya. Sang supir menjawb dengan anggukkan kepala dan senyum lebarnya.


Ketika sang majikan dan puterinya telah memasuki loby sekolah. Sang supir kembali memasuki kendaraan pribadi sang nyonya menuju area parkir gedung sekolah elit itu.


"Ah ya, saya mau menyerahkan dokumen untuk pendaftaran ulang. Dimana ya, dek?" Tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


Si siswi yang bertugas menjaga meja resepsionis itu tersenyum seraya memberikan arahan pada wanita tadi dimna letak ruang tata usaha sekolah. Setelahnya wanita dan seorang gadis cantik jelita dengan seragam smp itu mengucapkan terima kasih dan berlalu menuju ruang tata usaha sesuai arahan dari siswi tadi.


"Terima kasih, dek."


"Terima kasih, kak."


Ucap dua wanita beda generasi tersebut di jawabl anggukkan kepala dan balas tersenyum.


"Cantik banget, ibu dan anak tapi kaya kakak adek." Gumamnya seraya kembali duduk di hadapan meja resepsionis.


"Siapa?" Tanya seorang gadis yang sepertinya teman bertugas siswi resepsionis tadi.

__ADS_1


"Astagaaaa. Kamu ngagetin aja tau." Ucapnya mengelus dada karena terkejut. Yang menjadi tersangka hanya menyengir kuda dengan wajah tanpa dosa.


"Siapa?" Tanyanya lagi pada temannya setelah duduk di depan meja resepsionis.


"Itu, tadi ada ibu dan anak yang mau kasih dokumen pendaftaran ulang. Tapi ibunya beeeuh cantik awet muda banget, jadi keliatan kaya kakak adek sama anaknya. Apalagi pakaian yang dipakainya jauh dari kata mode emak emak." Ceroso si gadis pertama dengan menggebu gebu.


"Masa? Perawatin kali tuh." Ucap teman satunya. Saat akan kembali menimpali ucapan temannya, mereka dikagetkan oleh sebuah suara maskulin nan tegas yang sangat mereka kenal.


"Kalian masih bertugas?" Tanya si lelaki maskulin nan cool itu namun terdengar seperti pernyataan.


Kedua gadis yang tadi sedang mengobrol ria tersentak dan langsung memberikan cengiran pada seorang laki laki di depannya. "Hehe iya kak." Jawab mereka kompak dengan dada bergemuruh karena gugup.


"Lanjutkan!" Titahnya terdengar mutlak dan tak ingin di bantah. Lagi. Kedua gadis yang berada di meja resepsionis itu menganggukkan kepala bersamaan.


Si lelaki maskulin nan cool berlalu dari area loby di susul denyan kedua lelaki di belakangnya yang tak kalah cool. "Neng, gak usah tegang gitu juga kali. Ketiban duren runtuh tahu rasa kalian." Ucap salah satu dari kedua lelaki tadi membuat dua gadis yang masih berdiri di depan meja resepsionis tersebut sebagai rasa hormat pada lelaki maskulin tadi.


"Hiilliiih gak apa kali ketiban duren, duda keren, daripada ketiban laki pete iiihhh." Ucap salah satu gadis ketus pada lelaki yang mencibir mereka tadi.


"Eh pete itu vitamin meski bau yaa.. dasar cewek judes. Awas ya lo nt..." Belum sempat si lelaki tadi menyelesaikan ucapannya, sebuah suata maskulin membuat mereka mau tak mau pergi dari sana.


"Kalian!" Hanya satu kata tapi dengan nada tegas dan lantang membuat bulu kuduk si lelaki tadi merinding. Masih berdiam di tempatnya berdiri, akhirnya si lelaki lainnya menarik kerah seragam temannya itu.


"Dasar, konyol nyebelin." Cibir si gadis tadi dengan suara lantang. Membuat si lelaki yang di katai konyol melotot ke arahnya.


Namun tak ada lagi perang mulut. Karena ketiga lelaki tadi sudah pergi berlalu dari area loby san si gadis pun tengah sibuk melayani tamu tamu yang datang ke sekolahnya. Terlebih tamu tamu mereka saat ini adalah wali dan siswa baru sekolahnya.


Bersambung ...


_______________________________________


Selamat membaca geeeeengs. Jangan pelit jempolnya yaj buat like, komen sama vote, okeh!

__ADS_1


__ADS_2