
Masa masa MPS dan Mata Cakap telah berlalu. Ini minggu pertama bagi Elsa duduk di bangku kelas 10 atau 1 menengah atas. Tepatnya menengah kejuruan.
Seorang gadis tengah bersiap siap dengan buku bukunya. Menyiapkan beberapa buku untuk materi esok hari yang akan menjadi awal dirinya mengenyam ilmu pendidikan kejuruan. Setelah semua siap, dan seragam pun telah digantungkannya di hanger pojok kamar sebelah cermin besar. Elsa bersiap untuk tidur.
"Oke. Semoga hari esok menjadi hari yang paaaling menyenangkan dan semua aktifitasku dan keluargaku lancar. Aamiin." Itulah kata kata yang selalu diucapkan Elsa saat dirinya selesai membaca do'a tidur.
U'U'U'UUUUUU
(anggap aja suara ayam yah uthor gak bisa niruin dengan kata kata hahaha)
Secercah cahaya sang fajar masuk melewati sela sela gorden kamar seorang gadis. Menembus hingga menyentuh bed cover biru muda yang tersingkap dengan posisi bantal guling yang sudah tak bertuan.
Jangan ketipu yeeeeh, bukan menganggu si empunya yang sedang tidur canthiikk hahaha
Tak mengganggu seorang gadis yang tengah bersiap di depan cermin besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya.
Hahahaaaa orang die udah bangun sebelum subuh wleeeee
Next
Meski masih remaja namun postur tubuh si gadis itu sungguh ideal. Tinggi 162 berat badan 48 kg. Mantap kan.
Siap dengan seragam putih dan rok selutut abu abu kotak. Tas ransel yang berukuran tidak besar dan kecil yang ia sampirkan di bahu kanan, juga pentofel hitam dengan kaus kaki putih sedikit di atas lutut menghiasi kaki jenjang putih mulusnya. Tak lupa rambut yang ia gerai dengan bando hitam kecil yang bertengger di atas puncuk kepalanya dengan sedikit poni yang di biarkan tergerai di setiap sisi dahinya.
"Eh anak gadis mamih udah siap?" Si gadis tersenyum ceria pada seseorang yang menyapanya.
"Harus selalu siap, Mih." Jawabnya pada seorang wanita paruh baya cantik setelah memeluknya.
"Cantik amat dek." Ucap salah seorang lelaki remaja tampan yang duduk di kursi depan wanita cantik tadi.
"Cantik gini juga alami. Emang gebetan abang itu, cantik hasil dempulan." Cibir si gadis pada lelaki tadi yang di panggilnya abang.
Uhuk
__ADS_1
Uhuk
"Abaang." Si lelaki remaja tampan tadi tampak menegang di tempatnya saat mendengar suara tenang nan santai namun bermakna mengerikan untuknya.
"Ee-eh Pap, Mam. Ga gak ada, a apaan mana ada abang punya gebetan, masih sekolah juga." Ucapnya terbata. Namun memang itu kenyataannya.
Ekhem
Dehem seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan. "Papih dan Mamih tidak melarangmu untuk berteman dengan siapapun. Baik perempuan atau laki laki. Tapi ingat bang, kamu. Dan kamu juga dek, kalian masih sekolah. Harus tahu batasan. Jika kalian memang memiliki seseorang yang dekat dengan kalian. Hm?" Baik remaja laki laki dan gadis itu mengangguk patuh.
"Baik Pap." Jawab keduanya patuh.
"Sudah sudah, lanjut sarapannya. Nanti kesiangan. Sayang, mau bareng mamih berangkatnya? Kebetulan mamih ada perlu di sekolahan." Ucap wanita paruh baya cantik yang di panggil mamih.
Si gadis yang dimaksudkan menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak ah mih, ntar banyak yang gosipin El lagi di sekolah gegara dateng bareng mamih." Jawab si gadis membuat sang mamih heran.
"Loh kenapa?" Tanya sang mamih penasaran.
"Soalnya, nanti pasti banyak yang tanyain mamih ke aku. Dan ngiranya mamih itu kakak aku. Katanya "cantik yah, itu kakak kamu kenalin dong" . "" Jawab si gadis dengan menirukan suara lelaki di akhir kalimatnya membuat sang mamih terkekeh pelan.
Uhuk
Uhuk
(Demen amat batuk ya padaaa)
"Ee-eeh Mam, astagaa Mamih itu cantik. Selalu cantik. Tanpa make up pun Mamih cantik, apalagi perawatan gini. Duuh isteriku memang terbaik." Ucap tiba tiba pria paruh baya tampan seraya mendekati sang isteri. Namun belum sempat tangannya menggapai pundak wanitanya, sang isteri justru tiba tiba berdiri dari duduknya.
"Sayang, yuk bareng ke depannya. Telinga mamih udah gak tahan denger kata kata gombal ghaib." Si pria menelan ludahnya susah payah sedangkan dua remaja berbeda gendre terlihat menahan tawanya.
"Pih sabar yah harus puasa." Ucap remaja lelaki meledek sang papih yang masih terdengar di telinga kedua wanita beda generasi.
Kikikikikk
__ADS_1
"Mamih kesian ih, tuh muka Papih udah pucet." Gumam si gadis pada sang mamih saat sudah beberapa langkah jauh dari sang papih dan abangnya.
"Biarin sekali kali, biar peka." Jawab sang mamih seraya merangkul pundak anak keduanya.
"Oya, beneran kamu gak bareng mamih?" Si gadis mengangguk mantap.
"Aku di antar Pak Jo aja mih." Jawab si gadis saat sudah berada di halaman depan rumah.
"Okelah kalau begitu. Hati hati yah. Kamu juga bang." Si gadis dan lelaki remaja yang baru saja sampai di halaman depan mengacungkan jempolnya pada sang mamih.
"Aku gak di kasih wejangan ni sayang?" Ucap si pria paruh baya tampan yang juga baru sampai di halaman depan.
Namun naas. Sang permaisyuri hatinya tak menanggapi ucapannya sedikitpun. Justru pemandangan di depannya membuatnya berkali kali menelan ludahnya susah payah.
"Alamat puasa nih." Gumam si pria yang masih terdengar di kedua telinga remaja beda gendre.
"Sabar Pih. Ini ujian." Ucap kedua remaja itu bersamaan.
Sedangkan sang papih masih menatap kepergian sang istri yang berjalan mendekati mobil pribadinya tanpa menoleh sekejap ke arahnya.
Namun seketika wajahnya berbinar saat melihat gelagat sang isteri akan menolehkan kepalanya.
"Abang, Adek. Jangan lupa di makan bekalnya yah!"
DUAR
Bukan padanya tujuan sang isteri berbalik arah. Dugaannya salah. Dan siap siap nanti malam akan berselimut dinginnya malam.
"Siap Mih. Bye Piiiihh." Seru kedua remaja beda gendre tersebut langsung menuju kendaraan masing masing menyusul sang mamih yang sudah terlebih dahulu keluar dengan kendaraannya dan meninggalkan sang papih yang masih gegana di tempatnya.
"Nasib nasiiibbb lain kali harus belajar peka sama si abang." Ucap sang papih.
Bersambung ...
__ADS_1
Yah si papih pilih target guru salah. Gak tau apa anak sulungnya lebih dingin dan cuek dari andah?