Love Disaster

Love Disaster
Naja is sick


__ADS_3

...----------------...


"eum mau tidur kan? udah malem juga" ajak Naja


"ah baiklah...aku akan pergi ke kamar ku" ucap Aira bangkit dari duduknya.


"pergi lah. aku masih ada sedikit kerjaan"


"bukannya tadi kau pergi untuk kerja?" tanya Aira


"ya......emang aku ke kantor cuma belum kelar aja" jelas Naja


"baiklah kau jangan tidur terlalu larut" balas Aira pergi melangkah meninggalkan Naja.


"eh...." Aira membalikan badan nya kembali ke arah Naja.


"Ada apa Naja?"sahut Aira.


"eum....have a nice dream " ucap Naja membuat Aira salah tingkah. ini kali pertama Naja mengatakan hal seperti itu.


tanpa balasan Aira hanya tersenyum dan mengangguk setelah itu dia pergi dari pandangan Naja.


setelah membereskan meja makan Naja pergi meninggalkan dapur.


tringgg..... suara ponsel Naja kembali berdering. seraya berjalan Naja mengangkat telepon itu.


"siapa si yang nelpon jam 02.00 malam gini" ia menatap layar ponselnya yang menyala. tertera nama Arka kembali menghubungi nya.


"hallo? apaan lagi sih?" kesal Naja menjawab telpon.


"udah kelar kan date lu? ini ada kerjaan yang belum kelar sedangkan besok kita udah harus nyerahin itu ke klien Jak" jelas Arka yang sedikit panik


"kok lu baru ngabarin sekarang si ka? udah jam 2 gini"


"gua juga ga tau. karyawan lu pada gajelas. jadi gimana ini?" tanya Arka.


"yaudah ayo kita ketemu di kantor" ajak Naja


"oke gua otw"


"definisi omongan itu adalah doa" decak Naja.


...----------------...


Pagi hari telah tiba, Aira perlahan membuka matanya. ia bangkit dan membuka jendela kamarnya. suasana amat menenangkan.


segera Aira pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


setelah itu dia bersiap merias wajah. sesekali dia menatapi kalung yang berada di lehernya.


"Tah ada apa dengan Naja sampai dia memberikan aku kalung ini" ucap Aira sambil memegang liontin berlian di lehernya.


Aira keluar dari kamar nya untuk sarapan. seperti biasa dia melihat para pelayan sedang sibuk membersihkan rumah. Aira menuju meja makan dan menunggu Naja.


"ini menu sarapan hari ini non" ucap pelayan wanita bernama bi Imah.


"baik lah, terimakasih bi" jawab Aira.


ia mengambil selembar roti lalu mengolesnya dengan selai cokelat di atas meja.


"Bi Naja belum bangun?" tanya Aira.


"Tuan? tuan tidak berada dirumah nona"


"Hah? ga mungkin bi, tadi malam Naja masih sama saya kok" jelas Aira


"tapi tuan tidak berada di kamar nya non"

__ADS_1


"bibi tau kemana tuan?"


"engga non. mungkin tuan ada kerjaan"


"tapi....gimana bibi tau kalo Naja tidak berada di kamar? kan ga ada yang boleh masuk" tanya Aira


" emang ga harus masuk non. tapi bibi tau karena biasanya pintu kamar tuan selalu terkunci dari dalam, kalau sudah di buka berarti tuan tidak berada di kamar. nah kali ini pintu kamar tuan tidak di kunci" jelas bi Imah


"yasudah biar aku periksa dulu bi" ucap Aira bangkit dari duduk nya dan melangkah ke kamar Naja.


"tapi non..."


langkah Aira di percepat dan tanpa aba-aba dia membuka pintu kamar Naja. dia menyusuri ruangan kamar itu tapi dia tidak menemukan Naja.


"ternyata benar dia tidak di rumah......oh ya aku lupa kan tadi malam dia bilang ke aku kalo ada kerja. eh kenapa aku khawatir ke dia?" decak Aira keluar dari kamar Naja.


setelah itu Aira kembali lagi ke area meja makan.


"betulkan non kata bi Imah kalo tuan lagi ga di rumah" ucap Bi Imah sambil membersihkan piring.


"iya bi maaf aku ga tau"


"eh ngapain minta maaf non. kan wajar nona khawatir dengan tuan"


"Nona terlihat lebih cantik hari ini" sambung bi Imah memuji Aira.


"ah bibi bisa aja. baik lah bi saya sarapan dulu"


"iya nona silahkan"


Beberapa menit Aira siap menghabiskan sepotong roti miliknya.


"Bi saya boleh bantu-bantu ga? saya ga ada kesibukan ni" pinta Aira kepada bi Imah yang masih sibuk membereskan dapur.


"jangan non, nanti kalo tuan lihat pasti tuan marah. lagian sudah banyak pelayan non jadi nona tidak usah repot-repot" larang bi Imah. tapi Aira tetap memaksa untuk membantu. ia bangkit dari duduknya dan mengambil lap untuk mengelap meja makan.


"wah saya kira nona keturunan bangsawan, soalnya sangat cantik. pasti tuan sangat beruntung mendapatkan wanita seperti nona" puji bi Imah membuat Aira tersenyum lebar.


"bukan bi, saya cuma anak seorang pengusaha kecil. saya yatim piatu"


"nona dengan tuan sama. yang sabar ya nona"


"ah bibi kenapa kita jadi bahas itu" tawa kecil keluar dari mulut Aira.


"nona tuan sudah kembali" ucap pelayan wanita lain yang menghampiri Aira. Dengan sigap Aira melepaskan lap yang ada di genggamannya.


"benarkah?" tanya Aira


"iya nona. tampaknya tuan terlihat kurang sehat" jelas pelayan itu


"baiklah saya akan menghampiri nya. saya tinggal dulu ya bik". kata Aira yang langsung pergi meninggalkan Bi Imah di dapur


"iya nona".


Langkah Aira semakin cepat karena dia khawatir dengan keadaan suaminya itu. setelah sampai di ruang tamu dia melihat Naja menjatuhkan tubuh nya di sofa. lelaki itu tampak sangat lelah.



Aira menghampiri Naja.


"Apa kau kurang sehat?" tanya Aira dari balik kursi.


"hem?" sahut Naja dengan sedikit mendongakkan kepalanya ke arah Aira.


"kau pergi kemana semalam? aku mencari mu"


"aku pergi ke kantor karena ada urusan mendadak. ada apa kau mencari ku?" tanya Naja

__ADS_1


"jadi kau tidak tidur?" tanya Aira


"tidak". singkat Naja dengan tersenyum.


"apa kau mau sarapan dulu sebelum tidur?". tanya Aira kembali


"Hem? tidak, aku tidak lapar. aku akan ke kamar" ucap Naja bangkit dari duduk nya. belum selangkah dia pergi meninggalkan Aira, badan nya terasa lemas dan hampir jatuh ke lantai. lelaki itu tampak sangat pucat dan sempoyongan.


"eh Naja!" kata Aira menangkap pria itu.


"Naja ?!! Naja?! ". gadis itu memanggil nama Naja berulang kali sambil menepuk-nepuk pipi naja untuk menyadarkan pria itu yang hampir pingsan.


"apa kau masih sadar? ayo bangkit, aku akan membantumu ke kamar". kata gadis itu menawarkan bantuan.


tangan Naja di letakan di atas bahu kecil gadis itu. dengan sekuat tenaga Aira berusaha membangkitkan tubuh kekar Naja.


"ayo bantu angkat badan mu sendiri. berat" keluh gadis itu sedikit merengek.


Akhirnya Aira berhasil membangkitkan Naja, perlahan Aira membawa Naja menuju kamar nya dan menidurkan Naja di ranjang. Aira membantu melepaskan sepatu dari kaki suaminya itu dan menyelimuti nya.


"apa kita tidak kerumah sakit saja?". tanya Aira


"ga...gausah panggil Hans aja" perintah Naja menolak untuk kerumah sakit.


"aku tidak memiliki nomornya Naja, bagaimana aku menghubungi nya" decak Aira sedikit panik


"handphone ku di saku celana" ucap pria itu yang memejamkan matanya.


"ha? ya tolong ambilin sini" pinta gadis itu


"ga.....kuat" desis Naja terlihat lemas


"ckkkk" decak gadis itu yang ragu untuk mencari handphone di saku celana yang masih dikenakan Naja. ia meraba ke arah saku sebelah kanan, dan di sana handphone nya. "apa password nya?" tanya Aira yang sudah mengambil ponsel tersebut.


"satu nya empat kali" jawab Naja


Aira dengan sigap mengotak-atik handphone itu, dan mencari kontak Hans si dokter muda yang tampan.


tutt..... suara panggilan masuk


"hallo Naja?" suara berat menyambut panggilan itu .


"hallo? selamat pagi dok, ini saya Aira istri Naja"


"iya ada apa nona?" tanya Hans


"Dok, Naja sakit. bisa tolong kerumah ga?" pinta gadis itu.


"sakit? kok tumben. yasudah saya akan segera kesana" jawab Hans mematikan telepon nya.


"sakit kok tumben? aneh" cibir Aira.


Aira meletakan ponsel Naja di atas kabinet sebelah ranjang.


"Naja, Hans sebentar lagi akan datang usahakan dirimu jangan tidur ya. aku keluar sebentar untuk memasakan mu bubur" ucap gadis itu yang duduk di sebelah Naja. baru mau melangkah keluar, tangan Aira di tahan oleh suaminya itu, seakan menghalangi.


" jangan....pergi" pinta pria itu


"ha? kalau aku tidak pergi, siapa yang akan memasakan bubur untuk mu?" tanya lembut Aira.


"kan ada bi Imah"


"baiklah, aku akan ke dapur untuk memberitahu bi Imah, dan sekalian aku mengambil air hangat untuk mengompres mu, badan mu panas"


"Hem" sahut pria itu seraya melepaskan tangan nya dari pergelangan Aira.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2