Love Disaster

Love Disaster
spoiled


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mematikan telepon, Aira kembali ke ruang kamar Naja. dia berjalan dengan perlahan agar tidak membangunkan Naja.


ternyata pria itu sudah membuka mata, dan melirik Sepanjang Aira berjalan.


"kau sudah bangun?" tanya Aira memastikan


"siapa yang menelpon?" sahut Naja


"Ohh...Luna"


"kenapa dia menghubungi mu?" tanya Naja


"menanyakan kabar seperti biasa. maaf mengganggu tidur mu" sambung Aira yang duduk di sebelah Naja. Gadis itu mengulurkan tangan nya ke arah dahi Naja untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"sudah tidak panas....mau makan?" tawar Aira


"hem" jawab Naja menggeleng kan wajahnya


"tadi nanya bisa, kok ngejawab cuma hemm" cibir Aira sedikit menekuk wajahnya


"cuacanya panas" kata pria itu yang sudah bercucuran keringat


"hah panas? kau tidak boleh pakai ac dulu yah, tunggu sampai suhu mu stabil" balas Aira sambil membenarkan posisi selimutnya agar menutupi penuh tubuh Naja


"kok malah diselimuti?" tanya Naja kebingungan


"ya biar kau makin berkeringat tuan, jadi suhu mu cepat turun" balas gadis itu


Mata Naja terbelalak kebingungan dengan pernyataan dari Aira. dia memandangi wajah gadis itu yang terlihat sangat cantik dan anggun. seperti keberuntungan mendapatkan sosok istri seperti Aira, sudah cantik dan perhatian.


"aku siap kan makan ya tuan? biar kau meminum obatnya lagi" sambung Aira


"ckk...aku tak selera"


"aku akan memasak untuk mu, aku yakin kau menyukainya" kata Aira.


"biar bi Imah aja yang masak, kau cukup disini menemaniku" ucap Naja memalingkan wajahnya


" hah? kau kenapa tuan? bukan nya kau tak terbiasa satu ruangan dengan orang asing seperti ku" ketus Aira membuat Naja menatap nya dengan penuh fokus


"sekarang kau bukan orang asing bagi ku" balas Naja


"eum? oke lah jadi biar kan aku pergi" Aira langsung bangkit dari duduk nya dan meninggalkan Naja di kamarnya.


"hei apa kau tidak mengerti ucapan ku?" ucap Naja dengan keras. tanpa menoleh Aira tetap melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan itu.


" padahal cuma kesehatan nya yang sakit kok malah ke pola pikirnya " cibir Aira pelan di balik pintu kamar.


Aira berjalan menuju dapur untuk memasak, tampak masih ada bik Imah lagi yang sibuk membereskan dapur.


"bik kok dari tadi di dapur Mulu. emang ga ada yang bantu?" tanya Aira menyapa bi Imah


"iya nona? ah tidak lah, bibik hanya membereskan sisa kerjaan tadi saja" sahut bi Imah yang masih sibuk mencuci beberapa buah.


"nona ada perlu apa?" sambung bi Imah


"saya mau memasak" singkat mengambil celemek dan menggantung kan di tubuhnya.


"hah? jangan nona biar saya saja" larang bi Imah


"saya lagi pengen masak bik. bibik istirahat aja. gapapa kalo sama saya aman" ucap Aira sambil tersenyum.


"nona kalau misal nya tuan melihat pasti tuan akan marah"


"saya sudah izin bik. tenang saja " sambung Aira


"ah yasudah kalau begitu nona. apa nona butuh bantuan saya?" tawar bik Imah


"gausah bik, biar saya sendiri aja. bibik istirahat yah" kata Aira sambil mengikat rambutnya.


"yaudah kalau gitu saya kedepan dulu ya non"


"iya bik" sahut Aira yang sedang sibuk mencari bahan masakan di dalam freezer. Setelah Aira menemukan bahannya, dia mulai membersihkan dan memasaknya.



selang beberapa menit, masakan Aira siap di hidangkan. ia meletakan makanannya di atas nampan dan di tambah dengan beberapa buah. setelah selesai, Aira membuka celemek nya dan merapikan rambutnya. dengan segera ia berjalan kembali ke kamar Naja.


saat memasuki kamar itu, Aira mendapati suami nya sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


"kenapa bangun tuan? kau harus berkeringat" perintah Aira


"jangan mengaturku, kau saja tidak mau di atur" balas Naja dengan wajah kesal


"kau marah pada ku? kan aku memasak untuk mu tuan" balas Aira sambil meletakan nampan di atas kabinet sebelah ranjang.


"tidak" singkat Naja membuat Aira terkekeh pelan. Aira duduk di sebelah Naja dan saling berhadapan.


"hampir saja aku mengungkit janji mu yang mengatakan tidak akan pernah marah kalaupun aku salah" kata Aira yang sibuk mengaduk makanan di dalam mangkuk


"kau....kenapa pengungkit sekali?" tanya Naja dengan tertawa kecil


"ya karena kau sudah berjanji dengan ku" balas Aira.


"dan aku tidak pernah melanggar janji ku" kata Naja


"oh ya? benarkah itu" balas Aira kembali dengan nada sedikit meledek


"ya" ucap pria itu dengan memandangi wajaah Aira. Aira tampak sangat serius walau hanya mengaduk makanan.


serasa masakan nya sudah tidak terlalu panas, Aira menyendok kan sedikit lalu menyuapkan ke mulut Naja. Naja membuka mulutnya dan mengunyah apa yang istrinya berikan padanya.

__ADS_1


"emmmm" kata itu keluar dari mulut Naja yang sedang mengunyah


"kenapa? tidak enak? panas? atau apa?" tanya Aira dengan cepat. setelah Naja menghabiskan makanan yang di mulutnya, ia pun membalas


"kau yang memasak?" tanya Naja


"iya aku. kenapa?"


"emm lumayan lah" jawab Naja memberikan komentar dan di lanjutkan dengan membuka mulutnya kembali


"kau suka?" tanya Aira


"tidak" singkat Naja yang masih saja mengunyah


"yasudah jangan di makan lagi" ucap Aira yang langsung melepaskan sendok dari tangan nya.


"ehhhh" Naja langsung sigap menahan tangan Aira agar tidak meletakan mangkuk itu kembali ke nampan.


"apa? " ketus Aira menjawab


"suapin aku lagi" balas Naja dengan membuka mulut nya.


"ckk katanya tidak suka" cibir Aira dengan wajah ditekuk


"tidak suka bukan berarti tidak enak" balas Naja yang masih menentang


"tapi kau sudah makan?" sambung Naja bertanya


"belum" ucap gadis itu dengan menggelengkan kepalanya.


" makan lah" perintah Naja


"setelah kau makan, aku akan makan" jawab Aira


"tidak....makan makanan ku" decak Naja


"tidak, ini punya mu" balas Aira


"punya ku berarti punya mu juga"


"kali ini tidak"


"aku tidak akan lanjut makan jika kau tidak ikut makan" ancam Naja yang langsung memalingkan wajahnya


"baik lah baik lah" Jawab Aira yang langsung menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"nah gitu dong......aaakkkk" Naja lagi lagi membuka mulutnya, sepertinya dia suka dengan masakan Aira.


Aira dan Naja bergantian membalas senyum.


makanan yang di mangkuk akhirnya habis.


"mau lagi?" tanya Aira


"ga" singkat Naja dengan menggelengkan kepalanya.


"Hem" sahut Naja


Aira membuka kan obat-obat nya dari masing-masing kemasan dan menyuap kan ke mulut Naja.


"sekarang jam berapa?" tanya Naja.


Aira langsung menoleh ke arah jam yang ada di kabinet kamar.


"18.45 ada apa?" jawab Aira


"kau sudah mandi Ra?" tanya Naja


"sudah lah"


"ya ampun aku belum mandi" keluh Naja yang langsung mencium sekitar lengan nya


"jangan mandi dulu tuan kondisi mu masih belum sehat"


"aku tidak bisa tidak mandi Ra. badan ku terasa bau sekali sudah gitu lengket" dengan ekspresi memelas yang di pasang oleh Naja


"jadi aku harus bagaimana?" tanya Aira dengan sedikit terkekeh.


"bantu aku mandi" Naja mengeluarkan kata itu dengan wajah merasa tak bersalah


"apaa??! bagaimana bisa?" tanya Aira dengan mata yang terbelalak


"bisa pasti bisa"


"tidak!" jawab Aira menolak


"yasudah biarkan aku mandi sendiri, jika aku nanti kenapa-kenapa di sana ya berarti istri ku tidak peduli" sindir Naja membuka selimutnya an menurunkan kedua kaki nya ke lantai.


"ckkkk....aku akan menuntun mu sampai ke kamar mandi, tapi kau mandi sendiri" pinta Aira


"nah itu maksud ku" sahut Naja dengan menjulurkan tangan nya agar Aira segera memapahnya ke kamar mandi.


"manja sekali" ledek Aira


"Aduh aduh pusing" keluh Naja


"sudah ku bilang jangan mandi" kesal Aira saat akan membangkitkan badan suaminya itu


"engga jadi pusing nya kok. ayo"


Aira menuntun Naja sampai ke kamar mandi dan mendudukkan lelaki itu di kursi kecil di bawah shower. sesaat Aira ingin pergi keluar dari kamar mandi, tiba-tiba langkah nya terhenti karena Naja memanggilnya lagi


"eh Aira ". panggil Naja

__ADS_1


"apa lagi?" shut Aira


"bantu buka baju" pinta Naja dengan wajah di tekuk


"aku tidak bertenaga" sambung Naja


"kau?..…" perlahan Aira menarik nafas dan mengeluarkan nya. " baiklah" sambung Aira.


Dengan senyum yang menyeringai di bibir Naja, ia mengangkat tangan nya ke atas dan Gadis itu pun meraih kaos yang di kenakan Naja dan menariknya ke atas. Naja sekarang bertelanjang dada sehingga terlihat badan nya yang bugar dan otot-otot di perut.


"yasudah aku keluar". ucap Aira yang langsung membalikkan badan nya dan keluar dari pintu kamar mandi.


Lagi dan lagi Naja memanggil namanya.


"Aira". panggil nya


"APA LAGI?!". decak Aira sangat kesal


"ambilkan baju ganti ku di lemari. terserah yang mana dan jangan lupa pakaian dalam ku". perintah Naja


"Hah?!" tidak habis pikir Naja menyuruhnya seperti itu


"ada apa? apa salah? cuma pakaian doang kan" jawab Naja


"ck...." decak Aira


"kalau di suruh suami nya itu yang ikhlas" ledek Naja.


Dengan ekspresi yang kesal Aira terpaksa mengambil kan pakaian untuk suaminya itu.


ia membuka lemari dan mencari piayama tidur serta pakaian dalam nya. setelah itu Aira pun menyusul kembali ke kamar mandi.


"letakan disitu" kata Naja sambil menunjuk meja depan cermin saat melihat Aira di depan pintu kamar mandi membawakan bajunya.


"Hem" *sahut Aira dengan senyum terpaksa dan singkat.


setelah meletakan bajunya, Aira dengan cepat keluar dari kamar mandi dan menutup pintu nya.


......................


setelah beberapa menit Aira menunggu. akhirnya Naja memanggil namanya lagi yang ke sekian kali*.


"Aira? Airaa? Aira....asylla....renjana....". nama lengkap yang di keluarkan Naja semakin membuat gadis itu kesal. barang kali dia mengucap sekali saja Aira sudah mendengar nya.


Aira yang mendengarnya langsung menuju ke kamar mandi dan membuka pintu nya.


terlihat Naja yang masih duduk tetapi sudah memakai piayamanya.


Naja menyambut Aira dengan senyum lebar di bibirnya hingga matanya hampir tertutup.


"apa itu? kenapa dia terlihat bahagia sekali, apa penyakit nya parah?". batin Aira


"ayo bantu aku keluar nona" pinta Naja


"Hem" sahut Aira yang langsung berjalan ke arah nya dan meraih tangan Naja lalu di letakan di pundak Aira.


Aira menuntun dengan perlahan hingga sampai di ujung ranjang. ia mendudukkan lelaki itu disitu.


"keringkan rambut ku tolong". pinta Naja


"baik lah" sahut Aira yang langsung mengusap rambut Naja dengan handuk kecil.


Dengan sedikit pijatan di kepala, itu membuat Naja merasakan ketenangan.


"sudah" kata Aira yang langsung menghentikan tangan nya


"bantu rapihin lah"


Aira langsung mengambil sisir dan menyisirkan rambut Naja.


"sudah. sekarang pergi berbaring lah" perintah Aira


"Hem" sahut Naja yang langsung menaikan kedua kaki nya dan merebahkan badan nya di ranjang.


"istirahat ya, aku keluar" ucap Aira


"jangan lah". larang Naja


" apa maksud mu lagi tuan? aku sudah hampir 20 jam disini" keluh Aira


" baik aku akan membuat mu 24 jam disini. jangan pergi, tetap lah disini" balas Naja sambil menepuk-nepuk bagian ranjang disebelah nya.


"ah aku tidak mau". tolak Aira


"jika nanti aku panas lagi gimana? " tanya Naja dengan wajah menekuk


"tidak mungkin karena kau sudah minum obat kali ini" balas Aira dengan smirk di bibir nya


"aaaaaa ...... ayo lah". rengek Naja seperti bocah ingusan yang meminta permen


" tidak" singkat Aira yang sudah mengambil ponsel nya dari kabinet.


"ayolah......setidak nya sampai aku tertidur" sambung Naja, kata itu membuat Aira berhenti tidak jadi mengambil ponsel nya.


" baiklah sampai kau tidur" balas Aira yang langsung duduk di sebelah nya.


"nah gitu dong" Naja langsung menyelimuti dirinya dan Aira hanya duduk bersandar di kepala ranjang.


"pijatan mu di kepala ku tadi sangat membuat ku tenang. bisa kau pijat lagi?". tanya Naja


"kau kenapa banyak maunya" cibir Aira


"iya iya jangan deh nanti aku malah cepet tidur" *balas Naja, setelah mendengar itu Aira langsung meletakan tangan di kepala Naja dan memijatnya perlahan.

__ADS_1



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


__ADS_2