Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 10. Luka lama terulang kembali


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat, disaat sore begini, Emelly istirahat dengan didampingi berbagai makanan, tubuhnya terasa lelah karena beberapa adegan yang menguras energi. Mata coklatnya menelusuri setiap sudut, mencari seseorang, namun tak ia temukan. "Kemana dia?" lirihnya pelan, disela makannya.


"Permisi."


Emelly menoleh, terdapat seorang gadis cantik yang berdiri di sampingnya, matanya yang sipit semakin tidak terlihat karena gadis itu tersenyum lebar.


"Iya, kenapa?" sahut Emelly berusaha ramah.


"Apa, aku boleh duduk di sini, Kak?" tanyanya sopan. Emelly yang melihatnya langsung gemas, wajahnya yang lucu, membuat Emelly ingin mencubit pipi gadis itu.


"Iya, silahkan."


"Terima kasih," ujarnya. Gadis itu duduk, dia mengeluarkan buku dan pulpen dari tasnya, Emelly yang melihat itu, langsung membersihkan tangannya.


"Apa, aku boleh meminta tanda tangan, Kakak?" tanyanya, sambil menyerahkan buku dengan pulpen.


Emelly menerimanya, dia pun menjawab. "Tentu saja," sahut Emelly sambil menandatangi, setelah itu, ia menyerahkan kembali pada gadis itu.


"Terimakasih, Kak."


Emelly, tersenyum lebar. "Iya, sama-sama."


"Aku fans berat Kakak loh, aku selalu liat film, drama, bahkan movie yang Kakak bintangi."


Emelly terharu mendengarnya, ia merasa tersentuh. "Oh ya?"


Gadis itu mengangguk. "Tapi, aku tidak tahu, kalau rasa kagumku, akan berubah menjadi rasa kesal dan iri," jawabnya dengan ekspresi dingin,  gadis itu pintar sekali menggantikkan ekspresi wajah.


Emelly mengedipkan matanya berkali-kali, ia pikir ini mimpi. Apa dia, haters yang menyamar jadi fansnya? Batinnya. "Kalau, kamu membenciku. Untuk apa, kamu meminta tanda tanganku?" tanyanya dengan nada sopan.


Gadis itu menghembuskan nafas sekilas, lalu menatap buku yang ia pegang. "Aku meminta ini karena hari ini adalah hari terakhir, aku menjadi penggemarmu dan tanda tangan ini adalah yang pertama kalinya dan untuk yang terakhir."

__ADS_1


Emelly terkekeh, dia sungguh tak mengerti. "Mengapa, kau berhenti menjadi penggemarku, gadis manis?" tanyanya yang sedikit merasa aneh.


Gadis, itu berdiri dari duduknya, mata coklatnya, menatap Emelly dengan dalam. "Mengagumi Kakak, adalah sesuatu hal yang tak akan pernah kusesali."  Gadis itu pergi dari hadapan Emelly, wanita itu tak mengerti, pemikirannya yang lambat tak bisa menebak situasi ini.


Emelly menggelengkan kepalanya, dari pada memikirkan hal yang tak jelas, lebih baik ia melanjutkan makannya saja.


***


"Rapat hari ini, kita tutup. Sekian dan terimakasih." Setelah mengucapkan itu, Morgan langsung pergi dari ruangan. Pria itu berjalan ke arah lift, namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang. Dia wanita yang selalu ia kagumi, namun hal yang menyakitkan adalah melihat wanita itu bersama pria lain. Dia tertawa bebas, bersama seorang pria, berbeda ketika Claudia bersamanya, wanita itu tak pernah tertawa lepas seperti itu.


Karena tak mau, terlalu sakit. Morgan cepat-cepat pergi dari sana, lagipula ada seseorang yang sudah menunggunya.


"Mengapa, kau lama sekali?!" Baru saja membuka pintu, seseorang yang tak lain adalah Bryan sudah marah-marah.


"Langsung, saja. Kapan orang tuamu merencanakan pertunangan? Apa kalian, akan langsung menikah atau bagaimana? Dan apa kau akan setuju, jika harus hidup dengan si ular?" tanya Bryan dengan serius.


Pertanyaan beruntun, itu membuat Morgan menghela nafas, keningnya tiba-tiba berdenyut, rasanya pusing jika harus memikirkan masalah ini. Morgan duduk di sofa, pria itu memijat keningnya, mengacuhkan Bryan yang sudah menunggu jawabannya.


"Aku, tidak tahu apapun," sahutnya dengan nada rendah. Bryan yang mendengarnya melongo di tempat, bagaimana pria itu tak tahu apapun mengenai sesuatu hal yang menyangkut masa depannya, Morgan seperti, bukan dirinya, pria itu selalu menyelesaikan masalah sebesar apapun dengan cepat, ketika putus dengan Claudia pun, Morgan tak pernah terlihat lelah seperti saat ini.


"Mengapa, kau tak tahu apapun?" tanya Bryan, kali ini pria itu bertanya dengan nada rendah, ia tak mau membuat singa yang kesal itu semakin marah.


"Aku, hanya diberitahu sekali tentang perjodohan, setelah itu tak ada lagi percakapan, jika Emelly tak memberitahuku, mungkin sampai saat ini, aku tak tahu dijodohkan dengan siapa."


Bryan menundukkan kepalanya, rupanya masalah itu masih berlanjut, ia tak tahu jika dampaknya akan sebesar ini. "Jadi, apa rencanamu?"


"Mengikuti, alur saja," jawab Morgan dengan cepat.


Bryan tak setuju. "Jangan, lakukan itu! Karena mengikuti kemauan orang tuamu, kau dan Claudia putus. Apa kau, akan menyerah begitu saja? Apa kau, akan mengorbankan perasaanmu lagi? Ayolah! Aku benci kau yang seperti ini!"


Morgan tak menjawab, dirinya juga bingung dengan apa yang ia mau.

__ADS_1


***


Emelly, menggengkan kepalanya, kejadian tadi pagi terus terekam di ingatannya, dari wajahnya, senyumannya, bahkan suaranya pun Emelly masih terbayang-bayang, rasanya aneh dan menjengkelkan, apalagi saat itu, orang-orang langsung menatapnya dengan pandangan menganga.


Malam ini, Emelly tidur di dalam mobilnya, karena jika pulang terlebih dahulu, akan memakan waktu yang sangat lama. Apalagi jarak lokasi syuting dan rumahnya sangat jauh, ia tak bisa berangkat-pulang.


Sendiri, sunyi, dan sepi. Tidak ada yang menemaninya, tak ada satu orang pun, sang supir atau Bima, dia tidur di dalam mobil yang satunya, entah berfikiran bagaimana, Violet malah menghilang, dia mengirimkan satu mobil yang berisi beberapa, bodyguard untuk menjaganya.


"Mengapa dia pergi, dan meninggalkanku bersama pria-pria kekar itu? Violet benar-benar tak bertanggung jawab!" seru Emelly. Tiba-tiba angin malam yang dingin, menyentuh kulitnya, tubuh Emelly pun sedikit kedinginan.


Emelly, membuka ponselnya untuk membuang rasa bosan. Namun tiba-tiba, ada panggilan yang masuk, nomornya tak dikenal, tetapi Emelly adalah seseorang yang memiliki jiwa penasaran yang sangat tinggi, ia langsung menjawabnya tanpa memikirkan dampaknya.


Tak, ada suara apapun. Sepi. Emelly, ingin menutupnya namun tiba-tiba ada suara yang membuatnya kaget.


"AAAAAA!"


Emelly, langsung menutup sambungan, ponselnya langsung ia lepas, kedua tangannya memegang telinga, menutup rapat seolah takut akan mendengar sesuatu.


"Tidak! Itu, bukan dia! BUKAN DIA!" teriak Emelly kencang, wanita itu menutup matanya, ia merasa takut, namun tak ada satu orang pun yang menemaninya. Suara jeritan itu terus terulang di pikirannya, ia ketakutan, dadanya terasa sangat sesak, siapa, itu? Siapa yang berteriak kencang seperti itu? Mengapa suara jeritannya masih terngiang-ngiang di pikirannya?


Satu, nama! Hanya dia yang tahu tentang masalah ini! Dan hanya dia, yang bisa menolongnya. Emelly dengan cepat mencari ponsel, ia mencari sebuah nomor dan langsung menghubunginya. Panggilan pertama ditolak, kedua begitupun ketiga.


"Mengapa, dia tak menjawabnya?!" seru Emelly, dia masih ketakutan, namun dengan beraninya orang itu menolak panggilannya? 


Emelly tak menyerah, dia terus memanggil nomor itu, sampai akhirnya orang itu menjawab panggilannya. Dengan cepat, Emelly berkata. "T--tolong! Tolong dia!" teriak Emelly.


Brak! Brak!


Emelly refleks, melemparkan ponselnya, dia melihat ke arah kaca, ada seseorang yang menggedor kaca mobilnya, bagaimana ini? Siapa dia? Mengapa dia menggedor kaca mobilnya?


Emelly langsung menutup matanya, ia juga memegang kedua telinganya, ia tak mau mendengarnya! Suara jeritan dan gebrakan itu membuatnya kesakitan!

__ADS_1


Matanya yang tertutup, mengeluarkan air mata, dia tak datang! Seharusnya Emelly tak memanggilnya, takut, kecewa hanya itu yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2