
Emelly, berjalan pelan, rasanya tak ada tenaga untuk berjalan jauh lagi. Ia memikirkan kejadian tadi, apa perempuan itu memanggil Claudia yang ia kenal? Emelly memijat keningnya pelan, wanita itu keluar dari lift, berjalan ke apartemen Violet.
Emelly masuk ke dalam, matanya membulat sempurna, ia tak menyangka hari membahagiakan ini akan tiba.
"Emelly!"
Emelly membuka kedua tangannya lebar, meminta pelukkan, seseorang langsuk memeluknya erat, seolah tak ingin kehilangan lagi.
"Bagaimana, kabarmu? Apa, kau memiliki banyak pasien?" ujar Emelly bercanda.
Seyra Gevio, dokter spesialis mata. Dia adalah sahabat Emelly dan Violet waktu dibangku kuliah,
Seyra, melepaskan pelukannya, dengan kesal ia menjawab. "Tentu aja! Aku adalah dokter yang terbaik!"
Emelly terkekeh, wanita itu duduk di sofa panjang. Tangannya mengambil minuman, meneguknya hingga tuntas.
"Bagaimana kabar Morgan, apa kau masih mencintainya?" tanya Seyra. Seyra memang tipe orang yang blak-blakkan. Violet hanya bisa menghela nafas berat. "Mengapa, kau bertanya seperti itu? Kita, baru saja bertemu setelah sekian lama, mengapa langsung membicakan topik seperti itu?"
Seyra menatap Violet. "Aku, tak akan bisa melupakan pria itu! Karena dia, Emelly tak bisa menerima ketulusan Jevano!"
Violet terkekeh kecil, ia tak menyangka jika Seyra akan membahas masa lalu. "Mengapa, sekarang kau membahas si kutu buku itu?!"
"Kenapa, kau tak suka jika aku membahas seseorang yang selalu mengalahkan Bima?!" seru Seyra.
Violet mengepalkan tangannya kuat, tatapan kerinduan berubah menjadi amarah. "KAU... "
"Sudahlah! Ada dengan kalian?!" tegur Emelly. Dia tak suka, jika membahas Morgan selalu berujung begini. Violet dan Seyra saling tatap, mereka akhirnya diam.
__ADS_1
Emelly menoleh ke arah, Seyra. "Untuk, Jevano. Aku memang tidak mencintainya, itu tidak ada sangkut pautnya dengan Morgan."
Ingin menjawab lagi, namun ia tak mau membuat masalah menjadi jauh lagi.
"Dan, masalah Morgan. Aku akan segera bertunangan dengannya, dan mungkin, aku juga menginginkannya untuk menjadi suamiku."
"APA?!" teriak Seyra yang tak terima, mau sampai kapanpun, ia tak mau lelaki itu terus menggangu Emelly. Dirinya tak mau, jika Emelly dan Morgan bersama, Seyra tak mau melihat Emelly hancur lagi.
"APA MAKSUDMU?!" sentak Violet yang marah. "Kau bilang itu hanya pormalitas! Aku tak mengira, jika semua itu memang keinginanmu!"
Sesuai dugaannya. Violet tak terima, ia juga tak mengira bahwa Seyra akan datang malam ini.
"Apa kau sudah tahu sebelumnya?!" sentak Seyra pada Violet.
"Aku, tak tahu! Emelly hanya memberitahu, jika itu hanya sandiwara untuk menutupi skandal! Aku tak tahu, jika Emelly masih mencintai Morgan!"
Seyra menatap Emelly. "Apa kau memang masih mencintainya? Kau mencintai seseorang yang jelas-jelas sudah menolakmu? Kau, tak ingat bagaimana, dia mempermalukanmu di hari kelulusan?!" jelas Seyra dengan ekspresi marah.
Violet pun berucap. "Kau juga harusnya tahu. Bahwa Morgan masih mencintai mantan kekasihnya saat waktu kuliah. Dia tidak bisa melupakan mantan kekasihnya, yang sekarang adalah sekretaris di kantornya sendiri!"
Emelly masih terdiam. Dia pura-pura tak mendengarkan apapun.
Seyra terkekeh sinis. Ia lupa jika Emelly keras kepala. Wanita itu, memandang Emelly. Sekarang, ia akan mengeluarkan unek-unek yang selalu menggangu pikirannya. "Semuanya berawal, karena Morgan mencintai seorang gadis. Saat masa putih abu-abu, Morgan adalah sahabatmu. Lalu, kau tiba-tiba menjadi seseorang yang egois ketika melihatnya bersama gadis lain. Dan sekarang, apa semua itu akan terulang kembali?"
Emelly menundukkan kepalanya, ia sedikit menyesal pernah bercerita tentang masa SMA. Dengan pelan, Emelly berkata. "Mengapa, kau mengungkitnya?"
"Kau, yang mulai! Mengapa kau bertingkah begini, apa kau mau menjadikan seseorang sebagai, Ana yang kedua!" sahut Seyra.
__ADS_1
"APA MAKSUDMU!" Emelly berdiri dari duduknya, ia hampir hilang kendali. Violet dengan cepat menahan Emelly.
Seyra tersenyum sinis. "Aku mendengarnya dari Violet. Saat kau berada di dalam mobil sendirian, seseorang meneleponmu, dan bahkan ada suara teriakkan. Apa kau tak mengerti, jika Ana mulai mengganggumu?"
"Tak, mungkin! Dia sudah mati!" teriak Violet. Dia yang tadi memegangi lengan Emelly, berubah menjadi memeluknya erat.
"Mungkin, itu bukan dia. Tetapi saudaranya, sahabatnya, atau orang terdekatnya yang mencoba meneror?!" tanya Seyra yang semakin kalut dengan emosinya.
Emelly berusaha mengendalikan diri, ia tak boleh gegabah. "Aku tak paham. Aku hanya ingin ke jenjang yang lebih serius dengan Morgan. Mengapa kau membahas yang lain? Ana, dia hanya teman waktu SMA. Aku tak ada kaitannya dengan kematiannya."
"Yah! Aku setuju, Emelly tak ada kaitannya dengan Ana. Jadi, mengapa dia harus takut?"
Seyra melirik kesal ke arah Violet, bisa-bisanya wanita itu tak mendukungnya. "Yah, terserah saja. Tetapi, aku mohon, jangan berbuat onar seperti dulu, sekarang kau bukan gadis remaja lagi."
"Tetapi, sejauh mana kau tahu aku pembuat onar. Dan mengapa reaksimu itu, sangat berlebihan?!"
Seyra memutar matanya malas. "Siapa yang tak kenal, Emelly Carolyn? Bahkan, sebelum menjadi aktris pun. Kau sudah terkenal di banyak sekolah!"
Emelly tersenyum, merasa bangga. Mendengar pujian dari Seyra, adalah sesuatu yang sangat langka.
"Apa, rencanamu?" Senyuman tipis, itu luntur. Emelly menatap jengkel ke arah Viole yang menggangu kesenangannya.
"Iya, apa rencanamu. Kau tak akan melakukan hal ekstrim bukan?" tanya Seyra yang sedikit ketakutan.
Emelly malah tersenyum. Senyuman yang menyeramkan bagi Violet dan Seyra.
"Aku tak akan melepaskan sesuatu, yang ingin kumiliki," lirih Emelly pelan.
__ADS_1