
"Aku, pergi." Tanpa menunggu jawaban Emelly, pria itu berdiri dari duduknya lalu pergi. Emelly tersenyum pahit. Lelaki itu memang tak bisa ia harapkan.
Emelly dengan cepat, menaruh beberapa uang lembar di meja, lalu pergi menyusul Morgan. Kemana lelaki itu pergi? Apa, Morgan pergi untuk menemui wanita yang kemarin datang bersamanya? Namun tunggu, sepertinya wajah wanita yang kemarin terlihat, tak asing, tetapi Emelly tak bisa mengingatnya, tiba-tiba,otaknya berhenti memikirkan itu, ada yang lebih penting!
Di sana! Mata tajam Emelly, melihat Morgan bersama perempuan lain! Namun yang lebih mengejutkan lagi, perempuan itu mengenakkan pakaian putih abu! Siapa dia? Mengapa, Morgan menemuinya?
Karena terlalu penasaran, Emelly datang menghampiri mereka berdua.
"Kamu, sedang apa?" cecar Emelly dengan wajah penuh intimidasi.
Morgan dan gadis SMA itu terkjut melihat kedatangan Emelly yang secara tiba-tiba, Morgan refleks sedikit menjauh dari gadis putih abu itu.
Emelly, membulatkan matanya, wajah yang polos itu! Gadis cantik yang tiga hari yang lalu meminta tanda tangannya. Mengapa dia bersama Morgan?
"Apa yang kau lakukan dengan gadis SMA ini?!" tanya Emelly dengan nada yang tidak bersahabat.
Morgan menelan salivanya, ia tiba-tiba merasa tak nyaman dengan situasi ini. "Aku, hanya menteraktirnya makan. Tidak lebih," jawab Morgan seadanya.
Jawaban Morgan, kurang memuaskan. Emelly beralih menatap gadis itu, untuk bertanya. "Apa, hubunganmu dengan calon tunanganku?"
Gadis, cantik itu menjawab. "Dia, sugar dady ku."
"APA!" Emelly langsung tersadar dengan teriakannya, dengan cepat Emelly menetralkan ucapannya, dia harus bisa mengendalikan diri, tak boleh berapi-api.
Morgan kewalahan, jika dua manusia ini berdebat, akan terjadi masalah besar. Morgan menggenggam tangan Emelly, lalu berucap. "Maaf. Saya permisi. Lain kali, saya akan membalas kebaikan kamu."
Gadis itu terlihat sedikit cemberut, dia terlihat tak rela jika Morgan pergi bersama perempuan lain, namun gadis itu tetap menjawabnya. "Iya, Kak. Tidak papa."
"KAKAK? Seharusnya, kau memanggilnya dengan sebutan OM! Dia sangat berbeda usia denganmu!" seru Emelly yang merasa tak terima.
Morgan dengan cepat, menarik Emelly untuk pergi dari sana. Pria itu tidak akan membiarkan Emelly membuat masalah yang akan merugikannya. Emelly tak membrontak, dia pasrah saat Morgan menariknya masuk ke dalam mobil.
"Aku, akan mengantarmu." Hanya itu yang diucapkan Morgan. Emelly tak menjawabnya, dia terdiam. Pikirannya tiba-tiba melayang pada saat masa putih abu-abu, saat itu ia selalu ingin duduk di kursi ini. Namun, Morgan tak pernah membiarkannya, lelaki itu selalu mempunyai banyak cara, agar tak pulang bersama.
__ADS_1
"Mengapa, kau terdiam? Kau terharu, bisa duduk di kursi yang selalu kau anggap kursi singgasana? Bagaimana, rasanya? Senang? Bahagia? Terharu?"
Emelly memutar matanya malas, wanita itu merasa lelah jka terus disindir begini. "BIASA SAJA, kursi ini tak begitu istimewa."
Morgan menganggukkan kepalanya, merasa setuju. "Memang tak istimewa karena yang istimewa nya, adalah seseorang yang duduk di samping kursi itu, itulah jawabanmu ketika memohon untuk diantar jemput."
SUNGGUH! Emelly sangat kesal. Mengapa Morgan terus mengungkit masa lalunya? Itu sangat membuatnya malu. Dengan nada panik, Emelly mengalihkan pembicaraan. "Aku ingin ke kantormu."
"Untuk, apa?" tanya Morgan sambil menyalakan mesin mobilnya, mobil itu melaju meninggalkan area Cafe.
"Aku, hanya ingin berkunjung," sahut Emelly.
Morgan menarik nafasnya panjang, lalu dihembuskan. "Kita tak sedekat itu, mengapa repot-repot datang ke kantorku?"
Sakit? Tentu saja! Apalagi pria itu berbicara dengan santai, seolah perkataannya tak berarti apa-apa.
"Lantas, mengapa kau kemarin datang ke tempat kerjaku?" tanya Emelly yang merasa aneh, perasaannya jadi tak tenang begini.
Emelly terlihat bingung, wajahnya yang polos membuat Morgan sedikit tertawa.
"Jika, bukan aku, lalu siapa?"tanyanya dengan wajah yang lucu.
Morgan terkekeh melihatnya, wajah yang konyol itu masin terlihat sama.
"Sudahlah."
Emellya tak bertanya, dia hanya bingung untuk siapa Morgan berkunjung? Emelly sedikit menyesal karena langsung pergi begitu saja, ia tak tahu jika Morgan menemui seseorang yang berada di tempat pemotretan.
Mobil melaju dengan cepat, Emelly menganga tak percaya jika Morgan benar-benar membawanya ke kantor.
"Mengapa, kau diam saja? Ini termasuk dalam rencanaku. Kita harus berpura-pura mesra."
Senyuman kecil itu luntur, entah mengapa, Emelly tak suka jika Morgan membahas tentang rencananya, Emelly sudah pusing dengan jadwal syutingnya, lalu di kehidupan nyata pun dirinya harus berakting juga? Apa ini terlalu memuakkan?
__ADS_1
Morgan, membuka pintu mobilnya, Emelly keluar, dia langsung menatap pria itu dengan tajam. "Tak usah terlalu drama. Cukup seperti biasa saja."
Emelly berjalan terlebih dahulu, membuat Morgan menganga tak percaya. "Wah! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu? Ini adalah rencanaku. Aku bebas melakukan apapun," jelasnya merasa dongkol, apalagi melihat Emelly berjalan di depannya membuat harga dirinya turun. "Apa-apaan wanita itu? Mengapa dia, mendahului sang pemimpin perusahaan? Aku salah, karena membawanya kemari," lanjutnya dengan pasrah, ia merasa menyesal karena menuruti keinginan Emelly.
Morgan sedikit berlari untuk menyusul Emelly, saat tepat di sampingnya, lelaki itu langsung berucap. "Ada, apa denganmu? Kau sengaja membuatmu malu?!"
Emelly tak menoleh, dia hanya tersenyum manis saja. "Kau duluan saja, aku ada perlu."
Morgan menhentikan langkah kakinya, dia menatap Emelly dengan seksama. "Ada,keperluan apa kau di kantorku?"
Emelly memijat peningnya, merasa kesal. Dia ini calon tunangannya, walaupun Morgan tak akan membiarkannya, setidaknya lelaki ini tak terlalu bertanya dengan tingkah lakunya.
"Aku, tak akan membuat masalah. Tenang saja."
Morgan memincingkan matanya. "Jika kau membuat masalah. Aku tak akan memaafkanmu!"
Emelly menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mengerti! Sebaiknya kau pergi saja!" ujar Emelly sambil mengangkat tangannya, seperti menyuruhya untuk segera pergi.
Morgan yang melihatnya, langsung membatin. "Dia, seperti sedang mengusirku, di kantorku sendiri."
Morgan dengan setengah hati, lansung pergi dari sana. Walaupun tal sepenuhnya percaya, tetapi dia juga bingung apa yang bisa ia kacaukan di kantornya?
Emelly tersenyum, dia harus cepat menemukan wanita itu! Wanita yang kemarin datang bersama Morgan? Emelly ingat, di hari pertama ia masuk ke sini dan melihat wanita itu, berarti dia juga mungkin salah satu pekerja di sini, siapapun dia, Emelly harus bisa menemukannya.
Namun bagaimana caranya? Namanya saja ia tak kenal atau mungkin lupa, Emelly benar-benar tak mengingat percakapan pada saat membrontak untuk masuk ke ruangan Morgan.
Namun sepertinya, dewi keberuntungan sedang berfihak kepadanya, Emelly melihat wanita itu! Dia berjalan dengan membawa beberapa dokumen.
"Akhirnya," lirih Emelly, dia mengikuti wanita itu, ketika semakin dekat, Emelly langsung menepuk pundaknya dengan pelan.
Wanita itu berbalik, matanya membulat sempurna melihatnya, dia terkejut, namun bisakah tidak terlalu berlebihan? Emelly jadi merasa sedikit sombong.
"Bisakah, kita berbicara sebentar?" tanya Emelly dengan wajah yang ramah, berbeda dengan batinnya yang ingin memberinya banyak pertanyaan.
__ADS_1