Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 17. Rasa tidak suka


__ADS_3

Bryan, maupun Theo terkejut. Emelly langsung menarik telinga adiknya dengan sekuat tenaga. Emelly membuka maskernya sebelah, lalu siap menyerang adiknya.


"Aaa! Ampun, Kak! Ampun!" seru Theo yang kesakitan, jeweran Kakaknya terasa sakit, apalagi Emelly sedang emosi, jadi kupingnya menjadi korban keganasannya.


"Apa yang kalian lakukan di sini!" sentak Emelly dengan mata yang melotot. Bryan saja sampai merindung melihatnya. Emelly melepaskan tangannya, dia berjalan ke arah Bryan yang mulai berjalan mundur.


"Apa, yang kau lalukan pada adikku? Mengapa kau tadi berjongkok di depannya? Apa, kau tak waras?!" teriak Emelly, wanita itu menarik rambut Bryan, Theo tak langsung menolong, dia malah menonton aksi Kakaknya itu.


"Aw! Aku tak melakukan apapun!" jerit Bryan yang kesakitan. Demi apapun, tarikan Emelly sangat kencang, sama seperti ibunya.


Theo menghembuskan nafasnya, ini sangat menguras energinya. Dia mendekati Kakaknya. "Udah, Kak. Jangan malu-maluin!" seru Theo, dia berusaha melepaskan tangan Emelly dari rambut Bryan.


Tak disangka, Emelly melepaskan tarikannya, wanita itu mengambil nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan. Ia harus sabar, tak boleh bertindak gegabah. Mata coklat Emelly memperhatikan sekitar, untungnya, tak ada seseorang pun.


"Lalu, mengapa kau berjongkok di depan adikku? Apa, kau menyatakan cinta?!"


Bryan dan Theo saling tatap, mereka terkejut sekaligus kaget. Pemikiran macam apa itu! Batin mereka.


"Kau, gila? Aku, tak mungkin begitu!" sentak Bryan. Dirinya tak terima dibilang begitu.


mengapa kau bertindak seperti itu, jika bukan untuk menyatakan cinta?" sentaknya yang tak mau kalah, matanya menatap sinis ke arah Bryan. "Aku, jadi merasa takut."


Bryan melototkan matanya, ia tak menyangkan akan mendengar ini. "Aku tak, melakukan apapun! Aku, hanya membantunya!" elaknya.


Emelly menoleh pada Theo, meminta penjelasan. "Membantu, apa?!"


Theo menatap ke arah lain, ia malu untuk menjawabnya.


Mata Emelly, semakin membulat. "Mengapa telingamu, memerah?!"


Theo mengusap telinganya, merasa gugup.


Bryan menghela nafas. Merasa jengkel dengan Theo.

__ADS_1


"Biar, aku saja yang menjelaskan!"


Emelly maupun Theo, langsung menatap Bryan.


"Begini, aku hanya memperaktikkan apa yang dikatakan Theo pada teman perempuannya. Dia hanya penasaran, apa yang akan kukatakan ketika menjadi dirinya."


Otak Emelly masih loding. Belum paham sepenuhnya. "Mengapa?"


"Tadi gadis itu langsung pergi setelah Theo mengucapkan 'selama ini! Aku selalu menganggapmu pelangi! Tetapi kenapa, kau bertindak seperti petir' Theo penasaran dengan balasannya, jadi dia memintaku untuk mengulangi kejadian itu."


Emelly menganggukkan kepalanya, otaknya mulai meresapi apa yang dijelaskan Bryan. "Tetapi, mengapa kau bisa tahu tentang kejadiannya?"


Bryan melihay ke arah lain. "Sebenarnya, tadi aku melihat mereka. Aku tak sengaja mendengar apa yang mereka ucapkan. Tetapi aku ketahuan oleh Theo saat temannya pergi. Theo untuk memintaku berakting jadi gadis itu.


Emelly, memincingkan matanya. Menatap curiga ke arah Bryan. "Apa, kau benar tak menyukai sesama pria?!" selidik Emelly memastikkan.


"Pertanyaan, macam apa itu?! Tentu saja aku tak menyukai laki-laki!" sewotnya. Setelah mengucapkan itu, Bryan pergi meninggalkan Emelly yang melongo.


"Tuh, Kak Bryan marah! Kakak sih, main menuduh saja!" gerutu Theo yang semakin membuat Emelly kesal. Namun matanya semakin tajam saat mengingat sesuatu. "Apa benar, kau menyukai seseorang?!"


***


Beberapa saat kemudian, rapat selesai, Emelly berjalan keluar dari gedung, ia mencari Theo dan Rion, namun masih tak menemukannya. Karena terlalu fokus mencari, Emelly sampai tak sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh. Emelly terkejut, dengan cepat ia membantunya. "Maaf, saya tak sengaja. Kamu, tidak apa-apa kan?"


Murid itu mendongakkan kepalanya! Emelly terpaku sesaat, namun kembali tersadar dan segera membantunya berdiri. "Kamu, bisa berdiri kan?"


"Kakak, tak sengaja kan?" Gadis itu berdiri, dia menatap Emelly dengan wajah yang meminta penjelasan.


Emelly, tersenyum tipis. "Tentu saja, aku tak sengaja. Tetapi kau tak apa-apa kan, Glory?" tanya Emelly khawatir. Benar, gadis itu adalah Glory. Emelly kaget saat mengetahui jika gadis itu satu sekolah dengan adik-adiknya.


Glory tak menjawab, gadis itu mencari tempat duduk, setelah dapat, ia berjalan ke arah bangku yang tak begitu jauh, Emelly mengikutinya, dia juga duduk di samping Glory.


"Apa, kakimu itu tak apa-apa? Jika kesakitan, aku bisa mengatarmu ke rumah sakit," terang Emelly.

__ADS_1


"Aku tak apa-apa, Kak. Aku baik-baik saja."


Emelly merasa lega, mendengarnya. Walaupun perkataan Glory selalu membuatnya kesal, ia juga tak mau membuat gadis itu kesakitan karenanya.


"Apa, Kakak merindukan sekolah ini Kenangan apa saja, yang Kak Melly rindukan?"


"Kau tahu, aku alumni sekolah ini?" tanya Emelly sedikit kaget. Bagaimana bisa, gadis itu mengetahuinya.


Glory tersenyum. "Aku, tahu dari Kak Morgan."


Emelly gelisah, apa saja yang dikatakan lelaki itu? Mengapa juga, Morgan memberitahunya. Emelly sedikit khawatir, Morgan, tidak menceritakan hal yang aneh kan? Batinnya.


"Glory?"


Keduanya menoleh, terlihat Rion yang memanggil gadis itu, Emelly ingin menyapanya, namun Rion lebih dulu berucap. "Mengapa, kau masih di sini? Jam pelajaran akan segera dimulai!"


Glory berdiri, ia akan kembali ke kelasnya. Namun, sebelum pergi, ia menyempatkan untuk melihat Emelly. Wajah yang kecewa, tersirat di wajah aktris terkenal itu, seutas senyum pun terbit di bibirnya 'ini baru permulaan,' batin Glory, lalu pergi meninggalkan Kakak beradik itu.


Rion ingin pergi, namun Emelly lebih dulu menarik tangannya. Emelly berdiri, berjalan ke arah adiknya.


"Mengapa, kamu bersikap seperti tak mengenaliku?" ungkap Emelly dengan nada yang kecewa.


Rion melepaskan tarikan tangan Emelly, cowok itu tersenyum sinis, ia terlihat jengkel. "Apa, maumu? Kau ingin, kupanggil Kakak?"


Dadanya terasa sesak, namun wanita itu berpura-pura baik-baik saja. Emelly juga tak menyangka, jika Rion akan bertindak seperti ini. "Semakin kesini, sikapmu semakin terlihat."


Rion terkekeh, merasa geli. "Jangan bersikap seperti mengenal, karena faktanya, kau hanyalah orang asing."


Walaupun sakit, Emelly tak menjawabnya, ia penasaran dengan Rion yang ingin mengatakan sesuatu.


"Kita hidup, masing-masing saja. Tak usah saling peduli dalam hal apapun. Tetapi, awas saja jika kau mendekati Glory! Aku tak akan diam saja seperti, saat kau mencari perhatian ibuku! Kali ini, aku tak akan membiarkan kau, mencuri lagi orang yang kusayangi!"


Rion pergi. Lelaki itu pergi setelah memberi sebuah goresan luka. "Mengapa, kata-katanya kejam sekali?" lirih Emelly yang hampir menangis. Namun ada sesuatu yang mengganjal.

__ADS_1


"Ada hubungan apa, antara Rion dan Glory? Sampai dia menganggapnya sebagai orang yang disayang?" tanyanya prustasi. Mengapa gadis itu, selalu ada dimana-mana? Siapa dia? Sampai membuatnya lelah untuk berfikir lagi.


__ADS_2