Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 9. Kedekatan yang meresahkan


__ADS_3


Kedekatan yang meresahkan.



"Jalani saja. Siapa tahu, dia sudah berubah. Lakukan apa yang kamu sukai dan sukai apa yang kamu lakukan." Begitulah perkataan terakhir Violet sebelum pulang.


Hari pertama, setelah Morgan menyetujui perjodohan. Emelly memandang pantulan cermin. Satu kata yang terlintas, CANTIK. Namun mengapa, dulu Morgan menolak cintanya? Dulu, di hari yang paling membahagiakan, bisa-bisanya lelaki itu membuat hari itu menjadi hari yang paling ia benci.


"Sebenarnya, apa yang salah dengan diriku? Bahkan dulu, kami sangat dekat, dia selalu ada di sampingku. Tapi..." Emelly tak melanjutkan perkataannya, merasa lelah jika harus dijelaskan dengan kata-kata, hari ini jadwalnya sangat padat, mengapa juga dirinya memulai hari dengan memikirkan masa lalu? Ini hanya akan membuat perasaannya tak karuan.


Emelly bergegas keluar, berangkat mengendarai mobil, ia sengaja tak menemui siapapun, karena orang-orang rumah mungkin masih tidur. Dirinya memang terlalu pagi.


Emelly memakai riasan di mobil, bahkan sarapan pagi pun di dalam mobil. Beberapa saat kemudian, Emelly sampai di tempat syuting yang sudah terdapat banyak orang. Emelly dan Violet tersenyum ke beberapa orang yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka berdua menemui Sang Sutradara.


"Mengapa, kau datang pagi-pagi sekali?" tanya Sang Sutradara dengan nada candaan.


"Emelly, ingin beristirahat sambil mempejari naskahnya," sahut Violet dengan cepat.


"Kau, memang ditakdirkan dengannya. Kedua pemeran utama kita, memang sangat serasi!"


Emelly menyeringit bingung, apa maksudnya? Apa si penjilat itu sudah datang? Emelly menutup matanya, meredakan emosi, ia tak boleh marah-marah, apalagi ini adalah hari pertamanya syuting setelah hiatus tiga bulan.


Violet hanya tersenyum paksa ke arah Sang produser, sebelum akhirnya membawa Emelly yang masih tersulut emosi, ke tempat yang sepi. Violet dan Emelly duduk berhadapan, wanita itu memberi Emelly botol air untuk membuatnya tenang.


"Aku mohon, bersabarlah. Aku percaya, dia tidak akan membuat masalah lagi."


Emelly meneguk airnya dengan cepat, ia menaruh botol itu ke meja dengan sedikit emosi. "Apa, maksudmu? Mendengar namanya saja, sudah menjadi masalah besar! Aku, tak akan sanggup jika harus bekerja dengannya!"


"Tapi, mungkin dia tak akan membuat masalah, Em. Yang terpenting, kau harus bisa mengontrol emosimu."


Emelly menggelengkan kepalanya. "Kau pikir selama ini, aku tak berusaha sabar? Aku sudah berusaha! Bahkan, aku mengacuhkannya, disaat dia membuat masalah. Dan dengan santainya, kau bilang, aku harus mengontrol emosi?"


"Maaf, aku salah. Tapi bisakah, kau bertindak sedikit dewasa, Em?"

__ADS_1


Emelly tertawa sumbang. Dia merasa sangat kesal. "Apa, maksudmu! Kau tahu bukan, betapa aku membencinya?! Kau, juga tahu, disaat aku, harus menahan sabar saat orang-orang membandingkan prestasiku dengan dirinya?! Aku sangat benci dia, Violet. Bahkan. Aku tak suka jika hanya mendengar namanya saja!"


Violet memijat keningnya, pagi-pagi begini sudah timbul masalah saja. Sepertinya, Emelly harus diberi sedikit tamparan. "Kenapa kau menyetujui, jika akhirnya kau menyesal?!" Nada Violet yang sewot, membuat Emelly bungkam. Ia mendadak terdiam.


Violet, kembali berbicara. "Sejak awal, kau sudah setuju mengambil proyek ini! Kau, juga tahu bahwa dia lawan mainnya! Lalu, mengapa kau marah-marah? Seolah-olah, kau dipaksa untuk mengambil peran dalam film ini?!"


Emelly menunduk, merasa bersalah, seharusnya ia tak begini, seharusnya, ia tidak mengatakan sesuatu yang membuat Violet marah.


Violet berdiri dari duduknya, menghela nafas panjang, menutup mata, meredakan emosi yang masih terkumpul di tubuhnya. "Mengapa, kau, jadi mudah tersulut emosi begini, Em? Kau seperti orang yang berbeda," ungkapnya dengan suara yang rendah, tanpa berkata apapun lagi, Violet pergi meninggalkan Emelly yang masih terdiam.


Emelly menghembuskan nafasnya, ingin rasanya menangis, Emelly sangat merasa bersalah, dirinya juga tidak tahu, mengapa jadi mudah marah. Emelly kembali meminum airnya, setelah itu membuka selebaran kertas untuk dipelajari.


Beberapa saat kemudian, Emelly sudah bersiap-siap dengan pakaian yang diberikan staf, pakaian modis yang sedikit terbuka di belahan dadanya. Emelly memperhatikan arahan dari sang sutradara, namun ia merasa sedikit tak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan.


"Pakailah." Emelly menoleh, seseorang memberinya jaket. Emelly tentu saja, akan menolaknya. "Tidak usah," ujarnya sedikit cuek.


Bryan menghela nafas, bisa-bisanya wanita ini, menolak kebaikannya disaat para fansnya meminta perhatiannya. Bryan mendekatkan mulutnya pada telinga Emelly.


"Pakailah! Ini masih terlalu pagi, jika kau sakit. Kau akan menyulitkan banyak orang," bisiknya pelan.


"Oke, Emelly, Bryan sekarang, coba lakukan adegan yang saya jelaskan di bab ini," ujar Pak Sutradara sambil menunjuk naskahnya.


Emelly mengangguk, melepaskan jaketnya dan menitipkan pada seorang staf, Emelly mencoba menenangkan diri, walaupun adegan ini, sangat menyebalkan, dia berdiri tegap memandang punggung pria yang tak lain adalah Bryan.


"Oke, kamera roll on action!" Adegan pun dimulai.


"Kevin!" teriak Emelly, wanita itu berlari dan langsung memeluk Bryan, yang berperan sebagai Kevin.


"Aku tahu, aku memang sangat egois. Tetapi bisakah, kau menemaniku sebentar? Aku sangat membutuhkanmu," ungkap Emelly dengan tulus, ia berperan sebagai Maudy.


Kevin, langsung melepaskan pelukannya. Pria itu langsung berbalik badan, menatap tajam ke arah Maudy. "Aku jelas-jelas tidak mencintaimu. Tak bisakah kau pergi?!"


Maudy kembali memeluk Kevin, wanita itu mengeratkan pelukannya seolah tak mau kehilangan.


"Bersamamu adalah sesuatu yang tidak ingin ku akhiri," ungkapnya pelan.

__ADS_1


"Oke, Cut!"


Emelly dengan cepat melepaskan pelukannya, ia tak berani menatap Bryan.


Bryan, lelaki itu berdehem kecil, ia tiba-tiba merasa panas. Pria itu menghampiri managernya. "Kak Amel? Bisakah kau memberiku kipas? Aku, sedikit gerah."


Wanita, yang ia bernama Amel langsung memberinya kipas. "Mengapa, kau kegerahan? Padahal in masih pagi."


Bryan menoleh ke arah lain. "Aku, tidak tahu," jawabnya seadanya.


Amel tersenyum simpul. "Apa kau gerah, karena melihat pakaian Em--"


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Bryan sudah lebih dulu memukulnya dengan kipas. "Jangan berbicara aneh!"


"Baiklah," jawab Amel.


Beberapa saat kemudian, jam istirahat tiba, Emelly duduk sambil meneguk air botolnya, matanya terus mencari keberadaan Violet. Walaupun, merasa bersalah, Emelly tak hentinya mengumpat Violet di dalam hatinya.


"Seharusnya, dia menemaniku? Mengapa malah menghilang?!" cerocosnya tak jelas. Emelly ingin berbicara lagi, namun kedatangan seseorang membuatnya mengurungkan niat.


Bryan duduk di sampingnya, pria itu memperhatikan aktor lain yang sedang syuting. Emelly medumel kesal, mengapa pria ini duduk di kursi yang berada di sampingnya?


"Dimana, managermu?" tanya Bryan pada Emelly, tatapannya tak beralih, pria itu tetap memperhatikan adegan syuting yang sedang berlangsung.


Mendapatkan pertanyaan singkat, Emelly pun menjawabnya juga dengan singkat. "Bukan urusanmu!"


"Apa, dia lari karena tak sanggup menghadapimu?"


Emelly menoleh, Pertayaan yang menjurus itu membuatnya sedikit terganggu. "Urus, saja urusanmu!"


Bryan terkekeh pelan, tanpa mengalihkan pandangan. "Baiklah, aku tak akan mengganggumu."


Emelly tersenyum tipis, dia senang jika Bryan tak menanyai lagi.


Namun tak di sangka, Bryan malah mendekatkan wajahnya pada Emelly, wanita itu tentu saja terkejut, dia mematung memandang wajah Bryan yang begitu dekat dengannya.

__ADS_1


Bryan tersenyum, melihat wajah Emelly yang terkejut, bahkan kedua bola matanya seperti akan keluar dari tempatnya. "Namun, jika kau mengusikku. Aku tak akan membiarkanmu lepas," lirih Bryan pelan.


__ADS_2