Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 16. Hari istimewa


__ADS_3

Hari ini, hari yang begitu istimewa. Karena hari ini, Emelly harus rapat ke sekolah Theo dan Rion, kedua adiknya. Ibunya maupun ayahnya tak bisa datang karena ada keperluan. Ayahnya yang sibuk kerja, dan ibunya yang menjenguk sahabatnya yang sedang sakit, mau tau mau, Emelly harus menjadi wali untuk kedua adiknya.


"Bagaimana, image kalian di sekolah?" tanya Emelly.


Theo dan Rion yang sedang makan pun berhenti mengunyah, mereka berdua saling tatap, merasa heran.


"Apa maksud Kak Melly?" tanya Theo.


Emelly tersenyum manis. "Maksudku, bagaimana sikap kalian di sekolah? Apa kalian terkenal dengan siswa yang baik dan berprestasi?"


Mendengar itu, membuat Theo memutar matanya malas, menurutnya, Kakaknya ini sedikit ambis dalam popularitas. Lalu Rion, cowok itu memasang wajah yang dingin, ia tak menyangka jika Kakak tirinya akan bertanya seperti itu. "Mengapa bertanya? Bukankah harusnya, anda yang mencari tahu sendiri? Apa anda tak begitu peduli, sampai tak tahu sikap kami di sekolah?"


"Jaga, ucapanmu!" sentak Theo, yang tak suka dengan perkataan Rion. Cowok itu berniat menghampiri Rion, namun Emelly lebih dulu mencegahnya, wanita itu menggelengkan kepalanya saat Theo menatapnya.


Rion hanya tersenyum sinis, lalu berdiri dari duduknya, meninggalkan rumah yang menurutnya penuh dengan drama.


Emelly menatap kepergian adiknya, ia merasa bersalah. Emelly merasa mejadi Kakak yang tak baik, yang tak bisa mengawasi adik-adiknya.


"Kak, Theo berangkat ya?" ujar Theo, dengan hati-hati. Emelly menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, hati-hati. Yang bener. Belajarnya!"


"Pasti!" seru Theo yang sudah menjauh dari meja makan. Senyuman Emelly luntur, hatinya merasa sakit mendengar fakta itu. Bagaimana pun, dukungan keluarga sangat penting. Dirinya bahkan tak bisa pulang setiap hari, sekarang pun Emelly meminta cuti satu hari untuk datang ke undangan rapat sekolah.

__ADS_1


Untung saja, pagi ini, ibu dan ayahnya tak ada. Jika mereka mendengar apa yang Rion katakan, pasti Rion akan mendapatkan ceramah yang membuatnya semakin jauh dari Emelly. Mulai saat ini, ia tak boleh egois, dirinya tak boleh memikirkan tentang dirinya sendiri.


"Semoga saja, aku bisa menjadi seorang Kakak dan anak yang baik."


***


Tepat pukul 08.00 WIB. Emell berangkat, dia memakai mobil hitamnya. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian jika memakai mobil merah. Emelly juga sudah memberi pesan pada Violet untuk tidak mengirimkannya bodyguard. Emelly masuk ke dalam mobil, tak lupa kaca mata hitam untuk menambah saja. Dirinya merasa sudah cantik, namun jika tak memakai kaca mata, ia merasa seperti ada yang kurang.


Mobilnya melaju dengan sempurna, melaju cepat meninggalkan rumah megah orangtuanya. Di perjanan, Emelly yang sedang fokus menyetir, Emelly terkejut saat mobil kuning tiba-tiba menikungnya. Emelly mematikkan mesinnya, wanita itu menghembuskan nafas, mnghilangkan rasa keterkejutannya.


"Berani, sekali orang itu! Dia, beraninya dia membuatku terkejut. Bagaimana, jika aku terluka?! Ibu dan ayahku pasti akan sedih! Violet pun, pasti akan menangis jika sahabat manisnya ini terluka!" oceh Emelly. Siapapun Emelly, dia tetaplah seorang calon ibu, sesosok yang selalu mengoceh.


Akhirnya, Emelly sampai di tempat tujuan. Garuda High Scool. Sekolah elit yang terkenal dengan murid-muridnya yang pintar dan berprestasi. Emelly tersenyum, sekolah ini memiliki kenangan tersendiri untuknya, di sini menjadi awal pertemanannya dengan para sahabatnya, di sini juga, Emelly kenal dengan cinta pertamanya.


"Ah! Aku rindu, dengan sekolah ini! Apa waktu, bisa terulang kembali? Aku ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan," lirihnya pelan. Saat ingin mengenang masa lalu... Suara klakson membuatnya tersadar, Emelly memajukkan bibirnya, ia kesal.


Emell dengan cepat menyalakan mesinnya, ia menelusuri tempat untuk memakirkan mobilnya. Tempat parkirnya memang besar, namun mengapa sudah penuh begini.


"Sekolah elit, cari tempat parkir sulit," gerutu Emelly.


Setelah usahanya mencari parkir, Emelly keluar dari sekolah, ia berjalan ke arah aula, dimana tempat rapat diadakan. Emelly menatap jam yang terpasang indah di tangannya, waktu rapat masih tersisa beberapa menit, sebelum itu Emelly ingin mencari kedua adiknya, ia ingin menyapa mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


Emelly terus menelusuri sekolah, dia juga menanyakan pada beberapa murid yang melewatinya, mereka bilang tak tahu. Untung saja hari ini, ia memakai masker dan berpakaian seperti ibu-ibu sosialita lainnya, jadi tak ada yang mencurigainya.


Kerena tak menemukan Theo ataupun Rion, Emelly memutuskan untuk pergi ke tempat favoritnya, tempat sunyi yang selalu menangkan pikirannya, taman sekolah.


Mata Emelly bersinar, mata indahnya menelusuri taman sekolah yang sedikit berubah, menjadi semakin indah. Bibir indahnya terukir sempurna, ia merasa terharu bisa datang ke sini lagi.


"Aku mencintaimu!"


Teriakan itu membuat Emelly sangat terkejut, Emelly mengelus dadanya sabar, dia ingin merasakan kerinduan dengan taman ini, namun suara teriakan itu membuatnya jengkel.


'Siapa yang berteriak sekencang itu?!' tanyanya dalam hati, Emelly menajamkan matanya mencari sumber suara.


"Tak, usah berteriak! Suaramu itu, sangat jelek!"


Emell menajamkan pendengarannya, sepertinya suara itu berasal di belakang pohon yang besar itu. Kaki Emelly perlahan maju mendekati pohon itu, ia merasa penasaran.


"Selama ini! Aku selalu menganggapmu pelangi! Tetapi kenapa kau bertindak seperti petir?!"


Tapi tunggu! Emelly seperti kenal dengan suara itu. Wanita segera mempercepat langkahnya.


Nafasnya tercekat, matanya pun membulat sempurna. Dengan amarah, Emelly menghampirinya sambil berteriak. "Apa yang kau lakukan, Bryan!"

__ADS_1


__ADS_2