
"Emelly!"
Emelly, membuka matanya, wajahnya yang pucat membuat Bima khwatir.
"Apa, kau sakit?" tanyanya.
Emellly menggelengkan kepalanya, dia berusaha sadar, kepalaya terasa berat, namun ia harus tetap sadar, jadwal kerjanya masih terlalu banyak.
Bima menghela nafas, ini sudah pagi, wajah Emelly terlihata pucat, Bima tentu saja khawatir, ditambah pacanya sudah memepercayakannya untuk menjaga Emelly, bagaimana jika dia tahu tentang kondisi Emelly?
"Sekarang, aku antarkan ke penginapan. Di sana kau bisa istirahat dulu."
Emelly ingin memprotes, namun Bima, teman kuliahnya dulu sekaligus supirnya, langsung menyelanya. "Nanti siang, ada pemotretan. Sekarang, kau beristirat saja dulu."
Emelly, akhirnya mengiyakan. Dia tak mau protes, lagipun ia harus menjernihkan pikirannya.
***
Seorang, pria dengan stelan jasnya, menunduk. Pagi yang cerah ini, menjadi awal hari yang menyebalkan. Baru bangun tidur, ia sudah mendapatkan kejutan.
"Bagaimana, pendapatmu?"
Morgan mengehmbuskan nafas, merasa gusar. Yap! Orang tuanya datang tanpa diundang, terlebih mereka tahu password apartemennya.
"Pendapat?" tanya Morgan yang mengulang pertanyaan Papanya. Sebenarnya dia paham, namun pura-pura tak mengerti saja.
Mark, memutar matanya malas, putra tunggalnya ini memang ingin memancing emosinya. "Kau, tahu maksudku! Jangan, banyak tingkah!"
Maina terlihat khawatir, ia memegang tangan suaminya. "Pah. Jangan emosi, Morgan hanya bertanya saja."
Mark mengangguk, menatap sekikas istrinya, kemudian beralih menatap Morgan. "Kau, dan Emelly harus bertunangan. Hanya dia, yang pantas untukmu. Dia akan menjagamu dan membahagiakanmu."
Morgan, tersenyum sinis. "Kau tahu apa, tentang kebahagianku? Namun, tenang saja. Seperti biasa, aku akan patuh."
Mark tersenyum. Dia tak peduli apapun, yang terpenting Morgan harus bertunangan dengan Emelly. Itu harus terjadi! Walaupun, putranya sendiri tak menginginkannya.
Maina, tersenyum hangat ke arah putranya. "Mama yakin, seiring berjalannya waktu, kamu bisa membalas perasaan Emelly."
__ADS_1
Morgan tak menjawab, ia memikirkan sesuatu.
"Dan jangan lupakan, soal perjuangan Emelly! Dia selalu perhatian padamu, dia selalu menjagamu, bahkan dia dengan terang-terangan mengakui perasaannya pada hari kelulusan. Namun, kau mengecewakanku."
Morgan menelan salivanya kuat-kuat, dadanya terasa sakit mendengar penjelasan dari Papanya. "Apa, menolaknya adalah sebuah kesalahan?" sahut Morgan dengan nada yang rendah, namun matanya terlihat menajam, seolah tak suka saat perilakunya dianggap salah.
Morgan, melanjutkan. "Kau tidak, tahu betapa menyebalkan sikapnya, yang selalu mengikutiku?! Dia egois! Dia selalu, ingin diperlakukan seperti seorang putri! Apa, kau mau? Perempuan yang memiliki sikap angkuh dan sombong menjadi menantumu?!"
"Jaga ucapanmu!"
Morgan, terdiam sejenak, berusaha mengontrol emosinya.
Mark menatapnya tajam, Emelly sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, ia tak suka Emelly dikatakan seperti itu. "Dia, seperti itu karena terlalu menyayangimu. Gadis itu terlalu sayang padamu, hingga membuat kesalahan yang tak dia sadari! Seharusnya, kau tahu tentang itu! Namun, kau malah memperburuk keadaan!"
Morgan tersenyum sinis, rasanya ingin tertawa. "Mengapa, anda memperlakukan saya seperti ini? Sampai kapan, saya terus menjadi tempat pelampiasan?"
"Morgan." Panggilan dari Maina, membuat Morgan, mau tak mau harus diam.
Maina ikut beridiri ketika suaminya bangkit dari duduknya, pria berdarah campuran eropa itu menatap Morgan dengan serius. "Sampai, keinginan saya terwujud. Ini juga demi kebaikanmu. Jika, kau melanggar, aku tak akan segan memberimu hukuman."
Sebelum Morgan menjawab, Maina sudah pergi. Wanita itu berlari keluar dari apartemennya.
"Entah, siapa yang salah. Papa yang ingin memiliki sesuatu yang pernah hilang dari kehidupannya, Mama yang tidak bisa mewujudkannya, atau malah aku yang belum sempurna untuk mengisi rasa kehilangan itu?" lirih Morgan dengan tatapan kosongnya.
***
Emelly, keluar dari kamar Hotel, hanya Hotel ini yang dekat dengan tempat kerjanya.
Emelly sudah rapi dengan pakaian simpelnya, kaca hitam yang terpasang di matanya membuatnya terlihat lebih berkelas. Pakaiannya sudah sempurna, begitupun dengan kondisinya. Pikirannya sudah tenang, ia tak mau memikirkan apapun lagi.
"Mengapa, kau di sini?!" Pertanyaan itu membuat langkahnya terhenti, dia menoleh ke samping, di mana seseorang berdiri dengan tampang melongo. Emelly terlalu fokus ke depan, sampai tak melihat tubuh si penjilat.
"Bukan urusanmu!" jawab Emelly dengan cuek. Wanita itu kembali berjalan, mengacuhkan keberadaannya. Bryan langsung berlari, dia menyusul Emelly berjalan dengan cepat.
"Apa kau tahu, wanita idaman Morgan?"
Langkah Emelly kembali terhenti, wanita itu menatap Bryan yang sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Melihat, wajah Emelly yang terlihat penasaran, membuat Bryan tersenyum senang, pria itu mendekatkan mulutnya pada telinga Emelly. "Yang pasti, bukan dirimu."
Morgan langsung lari, ia tak mau terkena amukan dari wanita yang selalu ia panggil si ular.
Emelly, tersenyum kecut, seharusnya ia tak percaya! Seharusnya tubuhnya tak otomatis terhenti, ketika mendengar nama Morgan!
***
Emelly, sampai di tempat pemotretan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Bryan melambaikan tangannya menyuruhnya ke sana. Emelly lupa, mahluk jangkung itu pasti ada tempat ini karena akan melakukan pemotretan juga! Karena ini pemotretan, untuk promosi film yang mereka bintangi.
Emelly tak menuruti ajakan Bryan, wanita itu langsung ke tempat rias untuk menganggati pakaian dan make up.
Beberapa, saat kemudian, Emelly keluar dari ruangan. Baru satu langkah saja, pesonanya sudah menjadi sorotan, beberapa orang terlihat menganga dan mengagumi kecantikkannya. Emelly yang diperlakukan seperti itu tentu saja percaya diri, kaki jenjangnya melangkah menuju tempat sesi foto.
Emelly membalas sapaan para aktis dan aktor, ia tersenyum ramah. Namun senyuman manis itu luntur ketika melihat mata Bryan yang sedang menatapnya. Pria itu berjalan ke arahnya, lalu berdidi di sampingnya.
Hal itu, membuat Emelly mengumpatinya dalam hati, yang lebih menjengkelkan lagi, Bryan kembali membisikkan sesuatu yang membuatnya semakin kesal.
"Melihatmu, seperti ini. Aku yakin, Morgan lebih memilih wanita lain, dari pada dirimu."
Emelly menatap Bryan yang tersenyum lebar. Senyuman itu sangat meyebalkan! Pria yang berdiri di sampingnya saat ini, selalu membuat perasaannya menjadi ber api-api. Jika teringat dengan perilaku Bryan, Emelly selalu berfikir, jika saja membunuh tidak dosa, mungkin Bryan akan menjadi orang pertama untuk ia bunuh.
Sesi pemotretan dimulai, pertama-tama semua pemeran di poto bersama, lalu selanjutnya, kedua pemeran utama yaitu, Emelly dan Morgan.
Kedua manusia itu, tampak profesional di depan kamera, bahkan saat bertatapan pun mereka terlihat sepasang kekasih yang saling menyangi.
Emelly memegang pipi kiri Morgan dengan tangan kanannya, mata coklat Emelly menatap mata hitam Bryan dengan tatapan dalam.
"Oke, ganti!"
Selanjutnya, Bryan yang memeluk kedua pinggang Emelly. Emelly langsung terdiam mematung. Ia menahan nafas ketika Bryan mendekatkan wajahnya, yang lebih membuatnya frustasi, Bryan malah memiringkan wajahnya seolah-olah akan menciumnya.
"KENAPA DIA SEPERTI INI!" batin Emelly. Saat ini, ia ingin sekali menendang Bryan agar menjauh darinya.
Emelly mengganti posisinya menjadi melihat ke depan, ia tak mau menatap wajah Bryan, namun matanya malah menangkap sosok yang sedang memperhatikannya. Pria itu berdiri yang tak begitu jauh darinya, yang lebih menarik lagi ialah seseorang yang berdiri di sampingnya. Sesekali, mereka mengobrol bahkan tertawa satu sama lain, hal itu membuat hati Emell terasa nyeri.
"Ternyata, melihat dia tersenyum bersama wanita lain, masih sakit ya? Aku belum bisa terbiasa," batin Emelly.
__ADS_1