Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 19. Rencana?


__ADS_3

Satu hari sebelum kejadian...


"Bagaimana, apa besok saja?" tanya Morgan pada sahabatnya.


Bryan terdiam untuk beberapa menit, dia kurang nenyetujuinya. "Apa, kau tak terlalu cepat? Menurutku rencanamu, juga tak terlalu bagus. Kau berpura-pura membuat perjanjian, dengannya lalu mencapakannya, apa itu akan membuatnya mundur?"


"Apa, kau meragukan rencanaku?" tanya Morgan, yang tak suka dengan maksud Bryan.


"Tidak, hanya saja itu terlalu mudah. Menurutku, dia tidak akan mundur, dia pasti akan bersikap biasa saja. Seharusnya, kau berusaha membuatnya jatuh cinta, setelah itu baru kau mencapakannya."


"Kau, tidak mengenalnya, kau tidak tahu, apapun tentang Emelly!" sahut Morgan dengan cepat. Lelaki itu, memasang wajah yang merah padam.


Sebelum singa semakin marah, Bryan harus berhati-hati. "Baiklah, aku percaya."


***


Deringan ponsel, terus membuatnya tak konsen. Begitu, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Namun pria itu tak suka membuat hidupnya nyaman.


Dengan marah, Claudia mengangkat panggilan itu. "APA MAUMU?!" sentaknya keras. Persetan, dengan sopan santun, ia sudah sangat kesal.


["Ayo, kita lakukan, aku berjanji, setelah itu, kita akan bersama, Clau. Kau masih mencintaiku, kan?"] Suara dari telepon, itu membuatnya ragu. Ia ingin melakukannya, namun juga tak mau. Claudia sendiri sangat bingung.


["Ayolah. Clau. Bukankah, kau ingin bertemu dengan orangtuaku? Sejak dulu, kau selalu ingin menemui mereka?"] Yap, dulu dirinya sangat mendabakan itu. Namun sekarang, ia bukan siapa-siapa, dirinya hanyalah seorang sekretarisnya di kantor.


"Sekarang, aku bukan siapa-siapamu. Kita hanya sebatas atasan dan sekretaris," jawab Claudia dengan wajah yang murung.


["Apa, kau tak lagi mencintaiku?"]


Claudia,terdiam seribu bahasa. Wanita itu menghela nafas panjang, ini terlalu berat, dirinya seprti dipaksa untuk memilih. Apa yang akan terjadi, jika dirinya menyetujui ide Morgan, apa semuanya akan berubah? Dengan ragu, Claudia menjawab. "B-bagimana, dengan Emelly?"

__ADS_1


Tak ada jawaban, namun tiga detik kemudian, lelaki itu langsung menjawabnya. ["Aku, tak pernah mencintainya, sampai kapanpun, tak akan pernah bisa."]


Tanpa, Claudia sadari, bibirnya terangkat membentuk ssenyuman yang sangat tipis. "Baiklah, aku akan lakukan."


Hari, esoknya...


Hari yang menurut Emelly istimewa, adalah hari yang paling membuat Claudia gugup, setengah mati. Sekarang, ia berada di depan pintu rumah megah milik orangtua Morgan. Bertahun-tahun yang lalu, ia selalu menginginkan untuk masuk ke rumah ini, namun siapa sangka, harapan itu akan terwujud hari ini juga.


"Kamu, baik-baik saja?"


Claudia, menoleh ke samping. Ia tersenyum, menyakinkan Morgan. Claudia tak pernah menyangka, jika lelaki itu memiliki kejutan yang paling indah seperti ini. Lelaki itu sepertinya berpura-pura tak mencintai, padahal sangat peduli.


Morgan dan Claudia masuk ke dalam, ruang tamu sepi, tak ada siapapun. Ketika memasuki ruangan kedua, barulah ada seseorang yang menatap keduanya dengan tatapan tajam. "Mengapa, kau membawanya kemari!"


Morgan semakin mengeratkan, tangannya pada genggaman Claudia. Dengan yakin, Morgan berkata. "Aku, membawa calon menantumu, sesuai dengan keinginanmu, Mah."


Maina, semakin melototkan matanya, dirinya tak menyangka jika Morgan akan senekat ini. "Sudah, kubilang jangan pernah membawanya kemari!"


Naina menyilangkan tangannya, dirinya harus bertindak lebih tegas lagi. "Tak, usah banyak drama, Morgan! Cukup patuhi, perintahku saja!"


Morgan pura-pura tak mendengar, pria itu menarik tangan Claudia untuk ikut bersamanya.


"Kalian, mau kemana?!" teriaknya kencang, Maina mengikuti keduanya, dia tak akan membiarkan wanita itu berkeliaran di rumahnya.


Hingga, Morgan dan Claudia masuk ke dalam ruangan kerja. Maina ingin mencegahnya, namun tak sempat, ia berdoa didalam hatinya, agar semua baik-baik saja.


"Pah!"


Satu panggilan itu menyadarkan Mark dari pekerjaanya, pria itu mendongakkan kepalanya, mata hitamnya menatap bingung ke arah Morgan dengan wanita yang berada di sampingnya. Mark mengusap matanya, dirinya salah melihatkan?

__ADS_1


Setelah, sekian detik, Mark paham dengan situasi ini. Dia menatap Morgan dengan tatapan dingin. Maina, baru saja masuk. Ia mengawasi suaminya, apabila suaminya bertindak gegabah, dirinya harus bisa mencegahnya.


"Apa, kau bisa menghasilkan uang, tanpa campur tanganku?"


"A-aku.. ." Morgan bingung ingin menjawab apa. Dia sendiri, tak yakin apa bisa dirinya hidup tanpa keluarganya?


Mark, tersenyum tipis. "Seharusnya, kau sadar akan posisimu. Namun, kau malah membangkang, seolah aku tak bisa membuat hidupmu hancur."


Keadaan mulai memanas, Morgan dengan berani langsung menyahutnya. "Aku, tak mau menikah dengan seseorang yang tak kucintai. Papa dan Mama juga, sebenarnya tak saling mencintaikan? Kaliam, hanya bersandiwara, layaknya keluarga harmonis!"


Kedua tangan Mark, spontan melemparkan barang yang berada di sekitarnya. Lelaki paruh baya itu dengan cepat berdiri dari duduknya.


"Kau, memang butuh dihajar!" Mark mendekati Morgan dan langsung menarik kerah bajunya. "Sampai, kapan kau seperti ini?!"


Maina dan Claudia menjerit, Maina berusaha melepaskan tangan suaminya, dengan sekuat tenaga.


Mark melepaskan tarikannya, beliau menatap Morgan dengan tatapan kekecewaan.


Maina hanya bisa menangis, dia tak mau salah satu dari mereka terluka.


***


Emelly hanya bisa terdiam, mendengarkan cerita Maina. Wanita itu menceritakan kejadian sebelum Emelly datang.


"Tenang saja, kamu akan selalu menjadi menantuku, sekaligus putriku," jelas Maina, wanita itu mengelus rambut Emelly denga sayang.


Emelly yang berbaring di pangkuan Maina, pun menjawabnya. "Tante, apa bisa pertunangan ini dipercepat saja?" tanya Emelly tiba-tiba.


Maina tertegun untuk beberapa saat, kemudian dia tersenyum. "Baiklah, jika itu maumu. Kita akan mempercepat pertunangannya."

__ADS_1


Emelly yang medengarnya tersenyum misterius. Rasanya jiwa dulunya telah kembali, namun Emelly pastikan jika kali ini rencananya akan berbeda. Tunggu, saja!


__ADS_2