Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 12. Mengubur rasa ingin


__ADS_3

Emelly buru-buru masuk ke dalam mobil, setelah pemotretan perempuan itu pura-pura tak melihat Morgan dan langsung kabur.


"Jika, aku menyapanya, dan dia tak membalas sapaanku. Itu akan sangat memalukan." Emelly terus menghembuskan nafasnya yang terengah-engah. Istirahat sebentar, namun pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadia tadi. Apa, Morgan sengaja membuatnya malu, dengan membawa wanita lain ke tempat kerjanya?! Emelly menggelengkan kepalanya pelan, pria itu memang licik, mulai sekarang dirinya harus berhati-hati.


Tiba-tiba, seseorang masuk, ia langsung memeluk Emelly dengan erat. "Maafkanku, Em. Aku tidak tahu kau akan sakit. Maaf karena aku tak menjagamu."


Emelly tersenyum, tangannya mengelus punggung Violet. "Tak apa."


Violet melepaskan pelukannya, dia menatap Emelly dengan tatapan sedih. "Apa karena aku meninggalkanmu, kau jadi sakit?" tanyabta dengan wajah polos.


Emelly, melongo ditempat. "Bukan karena itu. Tapi karena sebuah panggilan."


"Panggilan dari para haters?!" seru Violet.


Seseorang masuk ke dalam mobil dengan membawa bebebrapa cemilan, ia dapat merasakan hawa menegangkan yang aneh. Bima memperhatikan Emelly dan Violet yang sedang serius.


"Semalam, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Aku mengangkatnya, sepi, aku tidak mendengar apapun. Namun tiba-tiba ada sebuah jeritan yang sangat kencang, hingga membuatku kaget," jelas Emelly. Emelly dan Bima saling pandang sekilas.


"Kenapa, kau mengangkatnya?!" cecar Violet, ia takut jika penelepon itu akan menggangu Emelly lagi.


Emelly tersenyum lebar. "Kau tahu kan, aku ini tipe yang selalu penasaran."


Violet melototkan matanya, Emelly terlihat santai tak takut apapun, dia lupa jika dulu ada seorang penelepon yang hampir menipunya. Violet beralih menatap pacarnya dengan tajam. "Mengapa, kau tak menemaninya?! Dan kenapa Emelly harus tidur di dalam mobil? Apa kau tak peduli, jika Emelly kedinginan?!" hardik Violet, suaranya yang sedikit tinggi membuat telinga Emelly dan Bima sedikit kesakitan.


"Lantas mengapa, kau meninggalkannya?" tanya Bima membalikkan pertanyaan. Violet menatapnya tajam.


"Sudalah, jangan bertengkar! Aku begini, karena salahku juga. Aku yang meminta Bima untuk membiarkanku tidur di mobil, aku juga yang mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal itu. Sekarang, sudah jelas bukan?"


Bima mengkerutkan alisnya, merasa ada yang mengganjal. "Lalu mengapa, kau ketakutan saat aku menggedor kaca mobil?" tanya Bima dengan wajah polosnya.


Emelly refleks menampar lengan Bima. Dia menatapnya tajam. "Jadi, kau yang menggedor kaca mobil?! Kau tahu? Karena kelakuanmu, aku hampir saja mati karena katakutan!"


Bima, memegang lengannya yang terkena tamparan, selain jago akting, Emelly juga pandai memberi tamparan. "Aku, hanya ingin memastikkan saja. Namun kau malah ketakutan, lalu tertidur begitu saja."


Bima kembali mendapatkan tamparan, namun kali ini dari Violet, sang kekasih. "Kau memang tak bisa dipercaya!"

__ADS_1


"Sudahlah. Sekarang aku akan siap-siap."


"Untuk apa? Hari tak ada jadwal syuting kan?" tanya Violet.


Emell hanya tersenyum saja, dia tak menjawab apapun.


***


Setelah sekian lama bersiap-siap, Emelly masuk ke dalam Cafe. Ia ke sini hanya ingin bersantai saja, pakaiannya yang serba tertutup itu membuatnya tak dikenali. Emelly duduk di paling pojok ruangan, ia ingin menyendiri dari orang-orang.


Emelly memainkan ponselnya setelah memesan makanan pada karyawan. Wanita itu terlihat sibuk, dengan ponselnya sampai tak menyadari seseorang yang baru saja duduk di seberangnya.


"Mengapa, kau mengikutiku?"


Merasa ada yang berbicara, Emelly mendongakkan kepalanya. Matanya membulat sempurna melihat wajah Morgan yang tepat di hadapannya.


Morgan tersenyum sinis, melihat tingkah Emelly yang pura-pura terkejut. "Kau memang, pandai dalam berakting. Tetapi aku tak akan tertipu dengan trik kuno mu itu!"


Emelly semakin heran, apa maksudnya? Mengapa pria ini duduk di depannya? Tidakkah dia tahu, jika melihat wajahnya saja sudah bisa membuatnya kesal.


"Mengapa, kau duduk di sini? Aku sama sekali tak mengizinkannya!" seru Emelly.


MASA ITU! Masa yang sangat dibenci Emelly, sepertinya Emelly menyesal karena pernah menyukai pria ini! Emelly tak tahu jika Morgan sama meyebalkannya dengan si penjilat!


Emelly tersenyum paksa. "Apa kau bisa, tidak menceritakan masa lalu?"


Rasanya Morgan ingin tertawa. "Mengapa? Kau, muak mendengarnya? Apa, kau sudah sadar, akan perbuatanmu itu?!"


Emelly tak mengerti. Mengapa sikap pria ini berubah-ubah, kemarin ia tampak seperti lelaki yang sangat keren. Namun sekarang? Ia sangat berbeda.


"Sebenarnya, apa maumu?! Kenapa, kau kemarin, berlagak ingin menerimaku? Namun sekarang, kau malah bersikap seperti membenciku?!"


Morgan tertawa kecil, ia merasa prustasi. "KAU! Karena, engkaulah aku menjadi seperti ini! Karenamu aku sulit mengendalikkan diriku sendiri!"


Emelly terdiam. Ia mengedipkan matanya beberapa kali.

__ADS_1


"Mendengar namamu, mendengar suaramu, mengingat wajahmu! Selalu saja membuatku bingung. Kau, sosok yang sulit dijelaskan! Kau, seperti sosok penting sekaligus luka bagiku!"


Jantung Emelly berdetak lebih cepat, rasanya seperti mimpi, ia tak percaya bisa mendengarnya dari mulut Morgan.


"Apa maksudmu?" tanya Emelly dengan nada rendah, ia butuh penjelasan! Sosok, penting seperti apa? Apa maksud, dari dua kata itu?


Morgan menundukkan kepalanya, ia merasa salah mengucapkan kata.


"Mungkin, hidupku kurang menderita, jika kau tak ada didalamnya. Kau sosok penting, yang Tuhan kirimkan untuk memberiku luka."


Dadanya seperti tertancap sesuatu, tenggorokannya terasa kering, ia haus, rasanya sakit mendengarnya secara langsung, penjelasan itu membuat Emelly sesak sekaligus kecewa? Ia pun tak tahu pasti.


"Apa, aku memang seburuk itu? Hanya itu yang bisa ia katakan. Ia tak bisa mengatakan seberapa sakitnya mendengarnya. Seharusnya dari awal, ia tak percaya diri begini, seperti pepatah 'Tak ada yang menyakiti, kamu terluka dengan ekspestasimu sendiri' memang benar, Emelly terluka karena sedikit berharap.


"Aku tak bisa menilai keburukannmu. Yang jelas, kita tak bisa bersama! Aku akan membatalkannya! Maaf, karena membuatmu bingung."


Emelly tertawa hambar, merasa dipermainkan. "Dua hari yang lalu, kau bilang akan mencobanya, lalu kemarin dengan santainya, kau sengaja membawa seorang wanita, untuk mempermalukanku? Lalu hari ini, kau ingin membatalkan pertunangan? Kau bercanda?!"


Melihat Emelly yang marah. Morgan mengehela nafas, dia mencoba menjelaskannya dengan baik-baik.


"Aku tahu, kau memanfaatkanku untuk menutupi skandalmu, kan?"


Emelly terdiam, pertanyaan yang tepat sasaran. "A-apa yang kau bicarakan?!"


Morgan, tersenyum tipis. "Aku akan membantumu. Aku tahu, kau pasti sudah berubah, kau bukan Emelly yang kekanakkanakan, kau adalah Emelly Carolyn, seorang aktis yang memiliki banyak bakat."


Emelly tak menyahut. Ia diam mendengarkan.


"Aku, akan membantumu. Namun tidak sampai bertunangan. Aku tak bisa. Kita, bisa mengulur waktu dengan berpura-pura pacaran, sampai filmmu selesai, hubungan kita pun akan ikut selesai."


"Mengapa, sampai filmku selesai?" tanya Emelly yang kurang paham dengan maksud Morgan.


"Karena ketika filmmu selesai, kau tak akan membutuhkanku. Tanpa berita bertunangan pun, filmmu akan sukses, begitupun dengan karirmu," terang Morgan dengan senyuman.


"Mengapa, kau bisa seyakin itu?" .

__ADS_1


Morgan melebarkan senyumannya. Lalu menjelaskan. "Sudah kubilang, kau bukan Emelly yang labil lagi, kau adalah Emelly Carolyn yang selalu berkarya tanpa henti. Kau sosok yang selalu bersemangat dalam mengerjar mimpi."


Tanpa sadar, Emelly tersenyum. Perkataan Morgan menyentuh hatinya, ia merasa senang. Namun mengingat, rencana Morgan yang nanti akan membatalkan pertuangan, apa itu juga membuat dirinya senang, apa Emelly benar-benar menginginkannya juga?


__ADS_2